
Abdy merasa sangat takut terjadi sesuatu yang buruk dengan
Lisa, oleh karna itu tampa berpikir lagi Abdy lansung menggendong tubuh Lisa
keluar dari dalam mobil ketika mesin mobil yang di tumpanginya mati.
Aby dan Becca yang melihat kepanikan Abdy dengan segera ikut
keluar dari mobil dan mengikuti arah langkah Abdy yang berlari masuk ke dalam
rumah sakit.
Sementara Doni,
Nabila dan kedua orang tua Lisa ikut di mobil Doni.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit Clarisa tidak
berhenti memarahi Rendi, karna menurunya semua ini terjadi akibat Rendi yang
tidak memberikan restu untuk Abdy dan Lisa.
“Semua ini karnamu. Hiks, hiks, hiks.” Menangis sesegukan “Kalau
bukan karna dirimu putriku tidak akan melakukan hal nekat seperti ini, ayah
macam paa kamu? Yang ingin menikahkan putrinya dengan pemuda yang telah
menghianati putrimu sendiri.” Clarisa tidak berhenti mencaci maki Rendi, karna
semua ini terjadi karnanya.
Rendi yang mendengar semua ucapan istrinya, memeluk dan
mencoba menenangkan Clarisa yang kini tidak berhenti memukul dadanya.
“Maafkan Papa Ma.” Kata utama yang keluar dari dari dalam
mulut Rendi, karna jujur ia merasa sangat bersalah dengan semua yang telah Lisa
lakukan.
Jujur Rendi tidak pernah menyangka kalau putrinya akan
melakukan hal nekat seperti ini, hal yang membuat nyawanya dalam bahaya.
“Kalau sampai putriku kenapa-napa, aku bersumpah atas
namanya aku akan menceraikanmu dan meninggalkanmu untuk selamanya.”
Clarisa nampak sangat
marah, karna kemarahannya ia sampai mengatakan hal yang membuat seluruh isi
mobil yang di tumpanginya terkejut.
“Clarisa kamu jangan berbicara seperti itu, itu tidak baik.”
Nabila berusaha menenangkan Clarisa yang kini tidak berhenti mencaci maki Rendi
suaminya.
Sebagai seoarang ibu
Nabila sangat mengerti dengan apa yang tengah di rasakan Clarisa saat ini rasa
sedih yang tengahClraisa raskan sangat dalam, ibu mana yang tidak sedih melihat
keadaan putrinya seperti itu.
Melihat keadaan putri semata wayangnya di ujung kematian
Clarisa mengeluarkan semua yang ingin katakan selama ini.
“Sudah ku bilang jangan paksakan keinginanmu, untuk
menikahkan putri kita dengan Romi ******** itu. Tapi kamu tidak pernah
mendengarkan aku, karna yang kamu pikir hanya egomu saja dan tidak memikirkan
kebahagian putrimu sendiri. Aku kecewa Ren, sangat kecewa.”
Clarisa masih tidak berhenti mencaci maki Rendi, dan bahkan
saat ini Clarisa mulai menyebut nama Rendi nama yang tidak pernah ia sebut
setelah kelahiran Lisa. Mungkin karna terlalu sedih dan kecewa kepada suaminya
hingga akhirnya kata-kata itu lepas begitu saja dari dalam mulut Clarisa.
Rendi yang mendengar semua caci maki istrinya tidak berhenti
memeluk erat tubuh Clarisa, bahkan saat ini Rendi ikut meneteskan air mata
menyesal dengan semua yang telah ia lakukan kepada Lisa.
Menyesal itulah yang terjadi ketika seseorang telah
melakukannya sesuatu yang tidak di inginkan oleh semua anggota keluarga, dan kini
semua itu berbalik menjadi sebuah malah petaka untuknya dan untuk seluruh
anggota keluarganya.
Doni yang mendengar semua itu, merasa kasian kepada Clarisa,
karna menurutnya tidak seharusnya Rendi melakukan semua itu kepada istrinya.
Berungtung Nabila bukanlah istri Rendi, seandainya ia,
mungkin Nabila yang ada di posisi Clarisa saat ini, tiba-tiba sesbuah kata
terlintas dalam kepala Doni ketika mendengar semua apa yang Clarisa katakan
kepada suaminya.
Di dalam rumah sakit Abdy berlari kesana kemari sambil
memanggil nama dokter.
“Dokter!!” suara teriakan Abdy menggema di dalam ruangan
depan rumah sakit, Abdy berteriak kencang ketika ia mulai memasuki ruangan
depan rumah sakit.
Semua pasien yang ada di dalam ruangan yang mendengar suara
teriakan tersebut berbalik melihat ke arah Abdy yang kini tengah menggendong
tubuh Lisa menuju arah berangka yang telah di siapkan oleh pihak rumah sakit.
__ADS_1
Seluruh dokter dan para perawat berlari ke arah Abdy yang
kini tengah mengusap bibir Lisa yang kembali memuntahkan darah.
Dan itu membuat wajah Abdy memucat seketika, karna takut
melihat Lisa memuntahkan darah yang begitu sangat banyak.
“Lis, kamu harus tahan, kamu tidak boleh kenapa-napa” Abdy
mengatakan itu sambil mendorong berangka yang di tempati Lisa yang kembali
tidak sadarkan diri.
Baju yang Abdy kenakan penuh dengan darah muntahan Lisa, dan
itu membuat bajunya menjadi merah.
Berangka yang di tempati Lisa tidak sadarkan diri, kini
tengah masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, dan anggota keluarga yang lain di
larang masuk, kecuali hanya para perawat dan juga dokter yang tengah memeriksa
keadaan Lisa.
Di luar ruangan semuanya nampak sangat panik, dan yang lebih
panik dari pada semuanya Abdy. Mungkin orang taunya juga sangat panik laya,
namun di sini yang lebih terlihat kepanikannya cuman Abdy.
Abdy tidak berhenti mondar-mandir di depan pintu ruangan
pemeriksaan Lisa sesekali ia melihat ke arah cermin pembatas.
“Earr, apa yang di lakukan para dokter itu di dalam?” Abdy
nampak sangat khawatir dengan keadaan dan kondisi Lisa saat ini.
Abdy tidak berhenti merasa sangat takuk, kwatir, cemas,
cemas dan takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Lisa. Perasaan yang Abdy
rasakan saat ini tidak bisa di artikan karna semua rasa telah bersatu menjadi
ketakutan besar baginya.
Nabila yang melihat kecemasan putranya melepas pelukan dari
tubuh suaminya lalu berjalan menhampiri Abdy yang kini tengah berdiri di depan
pintu ruangan pemeriksaan dan melihat apa yang tengah di lakukan dokter di dalam
ruangan pemeriksaan yang di tempati Lisa tidak sadarkan diri.
“Dy,” memegan pelan bahu putranya “Kamu sabar dan berdoa ya
Nak.” Ucap Nabila pelan dan lembut kepada putranya.
Abdy yang mendengar ucapan mamanya dengan segera berbalik
dan memeluk erat tubuh Nabila, Nabila pun membalas pelukan putranya dengan
sangat hangat, pelukan yang membuat Abdy merasa sangat nyaman dan membuat bebannya
sedikit berkurang.
memeluk erat tubuh Nabila “Aku sangat takut terjadi sesuatu yang buruk dengan
Lisa, semua ini karna aku yang tidak mengatakan kabar baik ini, jika saja Lisa
mengetahui yang sebenarnya Lisa tidak akan pernah melakukan hal nekat ini.”
Abdy merasa sangat menyesal dengan apa yang terjdi saat ini,
karna kejutan yang ingin ia berikan untuk Lisa kini berujung dengan sangat
mengerikan menurutnya. Melihat Lisa memuntahkan darah sebanyak itu membuat
seluruh tubuh Abdy bergetar hebat karna merasa sangat sedih dan tidak tahan
melihat penderitaan yang tengah Lisa rasakan.
Rasa sakit yang Lisa rasakan sama dengan rasa sakit yang
tengah Abdy rasakan saat ini, niat ingin memberi kejutan, justru ia yang
mendapat kejutan besar dari Lisa.
“Sabar dan berdoa ya nak, semuanya pasti akan baik-baik
saja.” Nabila mengusap lembut kepala putranya ketika mengatakan itu.
Karna hanya kata dukungan yang Abdy perlukan saat ini, Becca
pun ikut memeluk adik ipar dan juga ibu mertuamya.
“Sabar dan berdoa ya Dy, semuanya pasti akan baik-baik saja.”
Becca ikut mengutkan Abdy.
Setelah beberapa saat pintu ruangan yang di tempati Lisa melakukan
pemeriksaan terbuka lalu keluarlah salah satu perawat dengan wajah panik sambil
berlari pelan. Dan itu membuat seluruh anggota keluarga Lisa yang menunggunya
di luar merasa sangat panik.
Dan lebih panik tentu Abdy. “Suster apa yang terjadi dengan
Lisaku?” tanya Abdy sambil memegan bahu perawat tersebut.
“Maaf tuan, saya sangat terburu-buru untuk segera ke ban
darah, karna pasien memerlukan banyak darah karna tidak berhenti memuntahkan
darah keluar dari dalam mulutnya.”
Setelah mengatakan itu perawat itu kembali berlari dan
meninggalkan Abdy yang kini berdiri mematung tampa mengatakan apapun karna
merasa sangat syok dan juga terkejut mendengar ucapan perawat tersebut.
Kaki Abdy mulai bergetar dan rasa dingin mulai menyerang seluruh
tubuhnya, ia merasa tidak bertenaga lagi untuk berdiri di atas kakinya, karna
perasaan takut dan khwatir untuk Lisa.
__ADS_1
Dan tampa Abdy rasa tiba-tiba cairan bening keluar dari
dalam kelopak matanya begitu saja, ya Abdy menangis, menangis karna tidak bisa
menahan lagi rasa sakit yang ada di dalam hatinya ketika mendengar apa yang
perawat itu katakan.
“Ma, Lisa.” Abdy kembali memeluk erat tubuh Nabila karna merasa
tidak berdaya lagi dengan apa yang di rasakannya saat ini.
“Semuanya pasti akan baik-baik saja nak.” Nabila berusaha
menenangkan hati putranya yang kini tengah memeluknya dengan sangat erat.
“Aku takut, takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Lisa.” Ucap
pelan Abdy dan itu membuat Doni dan Aby berjalan mendekat ke arah mereka
bertiga.
“Semua pasti akan baik-baik saja Dy.” Aby menepuk pelan bahu
Abdy yang kini merasa sangat sedih.
Aby bisa merasakan penderiataan yang kini tegah di alami
oleh adiknya, karna ia pernah berada di posisi di mana istrinya meninggalkannya
di saat kecelakaan yang di alami Becca beberapa bulan lalu.
Rasa sakit, sedih semua bercampur menjadi satu dan tidak
bisa dikatakan lagi dengan apa yang tengah di rasakannya saat itu. Dan kini
Abdy juga mengalami hal yang hampir sama dengan apa yang pernah di laluinya.
Perawat yang tadi berlari keluar dari dalam ruangan
pemeriksaan Lisa, kini tengah kembali dengan membawa beberapa kanton darah yang
Lisa butuhkan. Dan itu membuat Calrisa berteriak karna merasa sangat takut,
tekut terjadi sesuatu yang buruk dengan putrinya.
“Huaaa. Putriku. Hiks, hiks, hiks” Clarisa berteriak sambil
menangis memanggil-manggil nama Lisa karna ia sangat takut terjadi sesuatu yang
buruk dengan putrinya. Sesuatu yang akan membuat semuanya kehilangan untuk
selamanya.
“Semua ini karnamu! Apa sekarang kamu puas! Mha!, huhuhu.”
Clarisa menampar wajah Rendi dengan sangat kerasnya di hadapan seluruh anggota
keluarga Atamaja. Sementara Rendi yang mendapat tamparan di wajahnya, hanya
terdiam sambil meraih tubuh Clarisa masuk dalam pelukannya.
Sementara Rendi yang mendapat tamparan di wajahnya, hanya
terdiam sambil meraih tubuh Clarisa masuk dalam pelukannya.
Nabila yang melihat itu melepas pelukannya kepada putranya
lalu berjalan ke arah mereka berdua.
“Sabar, Clarisa.” Nabila mengusap lembut bahu Clarisa dan
itu membuatnya beralih memeluk erat tubuh Nabila.
“Aku sangat takut terjadi sesuatu yang buruk dengan putriku.
Hiks, hiks, hiks.” Clarisa memeluk erat tubuh Nabila sambil menangis.
Suasana sedih mulai menyelimuti seluru ruangan yang mereka
tempati berkumpul saat ini. Abdy tidak berhenti melihat ke arah Lisa melalui
kaca pembatas yang ada di pintu, di sana Abdy melihat para dokter memompa dan
mengeluarkan cairan dari dalam tubuh Lisa dan itu membuat Abdy meneteskan air
mata karna tidak tega melihat orang yang sangat di cintainya kini tengah
menderita seperti itu.
“Maafkan aku Lisa.” Abdy menyimpan tangannya di pintu kaca
pembatas ketika selesai mengatakan itu
“kamu harus kuar, harus, demi aku dan demi cinta kita.” Abdy
tidak berhenti berbicara sendiri, menguatkan hatinya yang kini tengah terluka
oleh ulahnya sendiri yang menyembunyikan hal bahagia itu dari Lisa.
Pintu ruangan pemeriksaan yang Lisa tempati kini tengah
terbuka, dan keluarlah dokter yang menangani Lisa.
Semua keluarga dan juga Abdy yang melihat itu, dengan segera
menanyakan keadaan Lisa kepada dokter.
“Bagaimana keadaan Lisa Dokter?” ucapa mereka serentak. Karna
mereka semua ingin tau kondisi Lisa saat ini.
“Keadaan pasien dalam keadaan keritis. Kami telah berusaha
sebisa kami untuk menyelematkan pasien dan juga telah mengeluarkan seluruh racun yag telah menyebar
di dalam tubuhnya, Namun untuk saat ini kondisinya masih sangat kritis” ucap
dokter menjelaskan kondisi Lisa saat ini.
*
*
Ok, para Readers maaf ya untuk saat ini Autor tidak bisa up lebih dari satu ya, karna pekerjaan Autor di dunia nyata banyak. dan bahkan untuk besok Autor juga mungkin ngak Up.
Meski tangan tidak bisa berjabat tangan, 👏👏 namun hati tetap saling memaafkan. Bila ada kata yang tidak berkenang mohon di maafkan
Selamat Hari raya Idul Adha 1441 Hijria, Mohon maaf lahir dan bathin.
Untukmu para Readerku yang muslim dan Non muslim😊😊.
__ADS_1
Terimakasih...