Cinta Aby

Cinta Aby
Eps.183


__ADS_3

Dan memang semua yang Aby katakan semua yang ada pada


dirinya, hanya milik Becca seorang.


Berpelukan dan berpelukan seolah keduanya tidak pernah


merasa bosan dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini, mungkin karna


terlalu saling mencintai jadi hari keduanya tidak akan pernah sempurna jika


tidak saling berpelukan.


Setelah merasa cukup berpelukan, Aby dan Becca berjalan


keluar dari dari dalam kamar mereka, untuk segera turun ke lantai dasar di mana


Nabila telah menanti kedatangan mereka berdua.


Sambil menunggu kedatangan tamu sekaigus teman masa


remajanya, Nabila menghabiskan waktunya duduk di ruangan keluarga sambil


menanti kedatangan anak dan menantunyan.


Nabila tersenyum melihat ke arah anak dan menantunya ketika


melihatnya berjalan ke arahnya.


“Becca, bagaimana dengan rasa sakit di perutmu Nak?” tanya


Nabila pelan dan lembut.


Becca yang mendengar ucapan Ibu mertuanya dengan segera


berkata “Udah ngak sakit lagi Ma.”


Becca duduk di sampin ibu mertunya ketika selesai mengatakan


itu, sementara Aby duduk di hadapan keduanya, sambil melihat ke arah jam yang


melingkar sempurna di pergelangan tangannya.


“Sudah hampir jam 7 malam.” Menatap mamanya “Ayah belum


pulang Ma?” tanya Aby karna ia belum melihat Doni ayahnya.


“Ayah belum pulang, Abdy juga belum pulang.”


“Mungkin Abdy terlambat pulang karna menyelesaikan semua


pekerjaanku.”


Setelah mengatakan itu Aby, mengeluarkan hapenya dari dalam


saku celananya, dan mulai menghubungi nomor Abdy, namun hasil Abdy tidak


mengankat telponnya.


“Kenapa Abdy tidak menjawab telponku? Menatap layar hape “Apa


ia masih sibuk di kantor?”


Sementara depan rumah mewah Atmaja, mobil Rendi memasuki


halaman rumah Atmaja, begitupun dengan mobil yang Abdy gunakan.


Rendi turun dari mobilnya, begitupun dengan Clarisa


istrinya.


“Abdy.” Clarisa memanggil Abdy yang baru saja turun dari


mobilnya.


Rendi yang mendengar nama pemuda yang selalu membuatnya


kesal, berbalik melihat ke arah Abdy yang baru saja turun dari mobilnya dengan


membawa jas yang ia kenakan.


“Anak ini untuk apa datang kemari?” menatap tajam “Apa bosmu


memanggilmu datang ke rumahnya?” Rendi menatap sinis ke arah abdy yang kini


tengah tersenyum melihat ke arah mereka.


“Malam Om, malam Tante.” Sapa Abdy ramah kepada ke dua calon


mertuanya, meskipun ia mendengar semua yang baru saja Rendi katakan Abdy hanya


menanggapinya dengan senyuman.


“Untuk apa kamu datang ke mari? Apa bosmu menyuruhmu untuk


datang membersikan rumahnya?” tanya Rendi dengan nada sinisnya.


Lagi-lagi Rendi mengeluarkan nada sindiran pedas untuk Abdy,


karna menurut Rendi, pemuda yang ada di hadapannya sungguh tidak tau malu


menurutnya.


Abdy yang  mendengar


itu, tersenyum sambil berkata. “Iya,Om” berbohong “Aku datang kemari untuk


membersikan rumahnya sekaligus menginap, karna aku tidak memiliki tempat


tinggal selain rumah ini.”


Setelah mengatakan itu Abdy berlalu masuk ke dalam rumahnya,


dengan senyuman yang ia sungginkn di bibirnya. Abdy tidak menanggapi ucapan ke


dua orang tua Lisa, karna menurutnya biar bagaimana pun kelak mereka berdua


akan segera menjadi ayah mertuanya dan restu keduanya sangatlah berarti dengan


hubungan yang akan ia jalani bersama Lisa kelak.


Rendi yang tidak mengerti dengan apa yang baru saja Abdy


katakan, kembali mengumpat kesal, karna kekesalannya ia tidak menyadri Doni


telah berjalan ke arahnya karna ia baru saja kembali dari kantornya.


“Dasar gembel! tidak tau malu! Orang seperti itu ingin kamu


jadikan menantu?” melihat ke arah Clarisa “Orang yang tidak memiliki masa depan


cerah ingin bersama dengan putriku, cuii. Sampai matipun aku tidak akan


menerimanya.”


Doni yang baru saja keluar dari dalam mobilnya, melihat ke


arah ke dua orang yang tidak asing baginya, karn ia merasa seperti pernah


melihat ke dua orang yang tengah berdiri di halaman rumahnya.


Doni berjalan ke arah kedua orang tersebut, dengan mata yang


tidak lepas.


“Rendi? Apa itu kamu?”


Rendi yang mendengar seseorang memanggil namanya, berbalik


lalu melihat ke arah Doni yang kini tengah berdiri di belakangnya.


“Doni.” Memeluk “Apa kabar” melepas pelukan sambil berjabat


tangan.


“Baik, aku dan seluruh keluargaku sangat baik.”


Ada perasaan senang dan bahagia, ketika mereka berdua

__ADS_1


bertemu, karna mereka berpisah dan tidak pernah bertemu lagi, setelah hari


pernikahan Rendi dan Clarisa, hingga akhirnya Rendi pindah, dan baru saat ini


mereka kembali bertemu.


“Claris, apa kabar.” Doni menjabat tangan Clarisa dengan


senyuman hangat.


“Baik juga Doni, oya bagaimana dengan Nabila dan putramu Aby


pasti saat ini sudah dewasa.”


“Mereka semua baik, dan akan lebih baik kalau kita


membicarakan semua ini di dalam rumah, ayo, ayo.”


Doni mengajak ke duanya masuk ke dalam rumahnya, dan di


sambut ramah oleh Nabila dan juga Becca.


“Akhirnya yang aku tunggu datang juga.” Nabila berjalan ke


arah Rendi dan lansung menarik telinga Rendi dengan sangat kuat.


Dan itu membuat Rendi meringgis kesakitan. “Ao, ao, ao, Bila


lepas, sakit,” Rendi memegan tangan Nabila yang ada di telinganya.


“Sakit, atau kurang sakit? Sudah lama menetap di kota ini


tapi tidak pernah sekalipun mengunjungiku.” Dengan nada tinggi “Kamu sangat


jahat Ren, dari dulu kamu mengangapku sebagai adikmu tapi sekarang kamu tidak


pernah mengangap aku lagi sebagai adikmu.” Nabila melepas tangannya dari kuping


Rendi, dengan wajah yang sedih.


Rendi yang mendengar ucapan Nabila, melihat ke arah Doni,


karna ia ingin menyentuh bahu Nabila karna saat ini Nabila telah membelakanginya,


dan setelah melihat tanda dari Doni kalau ia boleh melakukannya.


Rendi tidak mau menyentuh Nabila jika ia tidak mendapatkan


persetujuan dari Doni, karna Rendi tau kalau Doni terlalu sangat posesif dengan


istrinya, tidak ingin ada yang menyentuhnya selain dirinya.


“Maafkan aku Bila.” Menyentuh bahu Nabila dengan kedua


tangannya “Bukan maksud aku tidak ingin menemuimu dan seluruh anggota


keluargamu” Rendi melepas tangannya dari bahu Nabila. “Tapi karna aku merasa


sangat malu Bil, malu dengan keadaanku yang sekarang.” Rendi menundukkan


wajahnya ketika selesai mengatakan itu.


Karna jujur ia merasa sangat malu dengan keadaan yang


sekarang, karna dulu Rendi juga terkenal dengan semua kekayaan yang ia miliki


dan sekarang ia harus kehilangan semua itu.


Nabila yang mendengar semua yang di ucapakan Rendi, berbalik


badan dan menatap wajah Rendi sambil berkata.


“Aku ini masih adikmu kan? Adik yang ingin selalu kamu


lindungi, adik yang selalu kamu tolong sewaktu ia dalam masalah dan apa kamu


masih ingat? kamu adalah orang pertama yang mengetahui kalau aku sedang


mengandung Aby, karna di saat kamu menolongku Aku tengah mengandung Aby keponakanmu.”


Nabila melihat ke arah Aby yang kini tengah berdiri di


“Ini adalah keponakanmu, keponakan yang dulu aku kandung


ketika kamu menolongku.” Nabila meraih tangan Aby agar Aby berdiri di sampinya.


Aby yang mendengar ucapan mamanya merasa sangat terharu,


terharu karna ternyata Ayah Lisa bukan hanya teman sekaligus Mamanya justru ia


juga pernah menolongnya bersama Mamanya meskipun saat itu ia masih dalam


kandungan.


“Maafkan aku Om.” Aby memeluk Rendi “Karna berlaku kasar


terhadapmu.”


Rendi yang mendengar ucapan Aby berkata “Maafkan aku juga


Aby, jika aku memiliki salah kepadamu.” Rendi menepuk pelan bahu Aby ketika


mengatakan itu.


Haru biru mulai mengelilingi isi ruangan tamu, terharu


sekaligus merasa bahagia karna perpisahan yang sekian lama kini akhirnya mereka


di pertemukan dengan jalan yang sangat indah dengan adanya ikatan besan yang akan


menyatukan kedua keluarga.


Setelah haru birunya selesai Nabila mempersilahan Rendi dan


Clarisa duduk di ruangan tamunya dan mulai menyuguhkan makanan dan minuman yang


telah di siapkan oleh Bi Lastri.


Canda tawa kedua keluarga mulai terdengar, Abdy yang


mendengar suara itu dari dapur tersenyum senang, karna sebentar lagi ia dan


Lisa akan segera bersatu, itulah yang ada di dalam pikiran Abdy saat ini.


Di dalam dapur Abdy tengah sibuk berbicara dengan Lisa, Lisa


tidak berhenti membahas soal pernikahannya dengan Romi yang tinggal hanya 5


hari.


“Abdy, hiks, hiks” menangis “Apa yang harus kita lakukan


sekarang? Hingga saat ini kita belum menemukan solusi.”


“Tenang ya Lis, kamu bersabar.”


“Tenang! Tenang! Bagaimana aku bisa tenang kalau dalam


situasi seperti ini.” Lisa sedikit meninggikan suaranya membuat Abdy menjauhkan


telponnya dari telinganya.


“Auuu.” Ucap pelan Abdy memegan telinganya dari balik telpon.


“Dengan ya Dy” kesal “Kalau sampai malam pernikahan kamu


tidak memberikan aku kabar yang baik, maka kamu bersiap-siap mendengarkan kabar


kematian aku.” Lisa mematikan sambungan telponnya secara sepihak ketika selesai


mengatakan itu, karna ia merasa sangat kesal mendengar nada suara santai Abdy


dari balik telpon.


“Sebenarnya Abdy serius ngak sih mencintaiku? hiks, hiks, hiks.”


Lisa melempar hapenya ketika selesai mengatakan itu karna merasa sangat kesal.

__ADS_1


Sementara Abdy tidak berhenti tersenyum mendengar nada kesal


itu keluar dari dalam mulut Lisa.


“Kamu tenang saja Lis” tersenyum sambil melihat layar


hapenya “Cepat atau lambat kita akan segera bersama dan tidak akan ada yang


bisa memisahkan kita lagi.”


Dengan perasaan senang abdy mengatakan itu, karna sebentar


lagi semuanya akan terjadi, dan abdy juga sengaja tidak mengatakan hal itu


kepada Lisa, karna ia ingin memberikan Lisa sebuah kejutan dengan tidak


mengatakan hal ini kepadanya.


Di ruangan tamu.


Rendi mulai membahas soal lamaran pernikahan untuk putrinya,


yang Aby katakan sewaktu masih berada di kantor.


“Oya Aby bagaimana dengan lamaran pernikahan yang kamu


ajukan padaku?”


Rendi menatap wajah Aby ketika selesai mengatakan, karna ia


ingin mengetahui kejelasan dari lamaran yang Aby katakan padanya sewaktu ia


berada di perusahaannya.


Aby yang mendengar ucapan Rendi melihat ke arah Mama dan


Papanya, karna ia ingin agar Mamanya yang menjawab pertanyaan Rendi tersebut.


Sementara Doni yang belum mengetahui apa-apa, soal lamaran


tersebut melihat ke arah istrinya sambil berakata.


“Lamaran? Lamaran siapa? Dan untuk siapa?” tanya Doni dengan


wajah yang sangat bingun karna ia belum tau apa-apa soal lamaran apa yang


tengah di bahas Rendi.


Nabila yang mendengar pertanyaan Doni tersenyum lalu berkata


“Ma, apa mas tau? Kalau Lisa adalah putrinya Rendi orang yang di cintai putra


kita. Dan Aby sudah mengajukan lamaran untuknya.” Nabila sedikit menjelaskan


karna ia tidak ingin membuat Doni merasa bingun dengan acara lamaran yang di


bahasnya saat ini.


“Oh, jadi Lisa putrimu? Astaga aku tidak pernah menduga


kalau kita akan menjadi besanan.” Doni terlihat sangat senang ketika mengatakan


hal itu.


Karna memang benar, ia tidak pernah menduga, kalau sahabat


dari istrinya akan menjadi menantunya, dan begitupun dengan dirinya yang tidak


pernah menduga akan menjadikan putri dari mantan kekasihnya sebagai menantunya


juga.


Rendi yang melihat ke bahagian yang terlihat di wajah Doni


merasa sangat bingun, karna ia tidak mengerti kenapa Doni terlihat sangat


senang.


Apakah mereka telah mengenal Lisa sebelumnya? Dan orang yang


di cintai putra mereka siapa? Itulah pertanyaan yang ada di kepala Rendi saat


ini karna ia tidak tau kenapa keluarga Atmaja terlihat sangat senang mendengar


nama putrinya.


Karna merasa sangat bingun dengan ucapan Nabila, Rendi pun


memberanikan diri bertanya “Apakah putramu sangat mencintai putriku?” itulah


pertanyaan yang Rendi lontarkan.


“Tentu saja putraku sangat mencintai putrimu, bahkan aku


sudah sering kali ingin melamarnya Lisa untuknya, mungkin karna merasa malu


mengakui perasaannya, hingga kami tidak melamar Lisa secepat mungkin.” Doni


menjelaskan dengan apa yang selalu ia katakan untuk putranya.


Rendi semakin penasaran dengan apa yang baru saja Doni


katakan padanya, karna merasa sangat penasaran ia pun bertanya.


“Siapa nama putramu? Dan dimana dia saat ini?”


“Aku di sini Om.” Abdy tiba-tiba keluar lalu berjalan ke


arah mereka semua.


Rendi yang mendengar sekaligus melihat ke arah pemuda yang


kini tengah berjalan ke arah mereka semua merasa sangat terkejut, begitupun


dengan Clarisa istri Rendi yang tidak percaya dengan apa yang baru saja ia


dengar dan juga lihat.


Pemuda yang mengaku sebagai putra dari keluarga Atmaja,


adalah pemuda yang selalu ia hina pemuda yang selalu membuatnya merasa sangat


kesal, dan selalu ia sindir dengan kata-kata pedas  dan bahkan ia sampai memenjarakannya yang


tidak lain adalah pemuda yang sangat mencintai putrinya.


 Karna merasa terkejut


Rendi pun berakata. “Kamu!” berdiri dari duduknya, karna merasa sangat terkejut


sekaligus tidak percaya dengan apa yang di dengar dan juga di lihatnya.


“Iya Om, ini aku, Abdy orang yang sangat mencintai putri Om


yang selalu rela melakukan apa saja demi untuk bersama dengan putri om.”


Abdy duduk di sampin Aby dengan senyuman ketika selesai


mengatakan itu.


Dengan perasaan malu dan juga menyesal Rendi menundukkan


wajahnya di hadapan seluru anggota keluarga Abdy, iya tidak pernah menyangka


kalau ternyata Abdy adalah putra kedua dari Nabila dan Doni Atmaja karna yang


ia tau hanya anak pertamanya saja yang tidak lain adalan Aby Atmaja.


Nabila yang melihat Rendi menundukkan wajahnya hanya


tersenyum, karna ia tau pasti saat ini Rendi telah menyesali semua perbuatan


yang telah ia lakukan pada Abdy putranya.


“Maafkan Om, Abdy.” Kata pertama yang terucap yang dari


mulut Rendi ketika mengetahui kalau Abdy adalah putra Atmaja.

__ADS_1


Rendi merasa benar-benar sangat malu dan juga sangat


menyesal dengan semua yang telah ia lakukan kepada Abdy.


__ADS_2