
Dan memang semua yang Aby katakan semua yang ada pada
dirinya, hanya milik Becca seorang.
Berpelukan dan berpelukan seolah keduanya tidak pernah
merasa bosan dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini, mungkin karna
terlalu saling mencintai jadi hari keduanya tidak akan pernah sempurna jika
tidak saling berpelukan.
Setelah merasa cukup berpelukan, Aby dan Becca berjalan
keluar dari dari dalam kamar mereka, untuk segera turun ke lantai dasar di mana
Nabila telah menanti kedatangan mereka berdua.
Sambil menunggu kedatangan tamu sekaigus teman masa
remajanya, Nabila menghabiskan waktunya duduk di ruangan keluarga sambil
menanti kedatangan anak dan menantunyan.
Nabila tersenyum melihat ke arah anak dan menantunya ketika
melihatnya berjalan ke arahnya.
“Becca, bagaimana dengan rasa sakit di perutmu Nak?” tanya
Nabila pelan dan lembut.
Becca yang mendengar ucapan Ibu mertuanya dengan segera
berkata “Udah ngak sakit lagi Ma.”
Becca duduk di sampin ibu mertunya ketika selesai mengatakan
itu, sementara Aby duduk di hadapan keduanya, sambil melihat ke arah jam yang
melingkar sempurna di pergelangan tangannya.
“Sudah hampir jam 7 malam.” Menatap mamanya “Ayah belum
pulang Ma?” tanya Aby karna ia belum melihat Doni ayahnya.
“Ayah belum pulang, Abdy juga belum pulang.”
“Mungkin Abdy terlambat pulang karna menyelesaikan semua
pekerjaanku.”
Setelah mengatakan itu Aby, mengeluarkan hapenya dari dalam
saku celananya, dan mulai menghubungi nomor Abdy, namun hasil Abdy tidak
mengankat telponnya.
“Kenapa Abdy tidak menjawab telponku? Menatap layar hape “Apa
ia masih sibuk di kantor?”
Sementara depan rumah mewah Atmaja, mobil Rendi memasuki
halaman rumah Atmaja, begitupun dengan mobil yang Abdy gunakan.
Rendi turun dari mobilnya, begitupun dengan Clarisa
istrinya.
“Abdy.” Clarisa memanggil Abdy yang baru saja turun dari
mobilnya.
Rendi yang mendengar nama pemuda yang selalu membuatnya
kesal, berbalik melihat ke arah Abdy yang baru saja turun dari mobilnya dengan
membawa jas yang ia kenakan.
“Anak ini untuk apa datang kemari?” menatap tajam “Apa bosmu
memanggilmu datang ke rumahnya?” Rendi menatap sinis ke arah abdy yang kini
tengah tersenyum melihat ke arah mereka.
“Malam Om, malam Tante.” Sapa Abdy ramah kepada ke dua calon
mertuanya, meskipun ia mendengar semua yang baru saja Rendi katakan Abdy hanya
menanggapinya dengan senyuman.
“Untuk apa kamu datang ke mari? Apa bosmu menyuruhmu untuk
datang membersikan rumahnya?” tanya Rendi dengan nada sinisnya.
Lagi-lagi Rendi mengeluarkan nada sindiran pedas untuk Abdy,
karna menurut Rendi, pemuda yang ada di hadapannya sungguh tidak tau malu
menurutnya.
Abdy yang mendengar
itu, tersenyum sambil berkata. “Iya,Om” berbohong “Aku datang kemari untuk
membersikan rumahnya sekaligus menginap, karna aku tidak memiliki tempat
tinggal selain rumah ini.”
Setelah mengatakan itu Abdy berlalu masuk ke dalam rumahnya,
dengan senyuman yang ia sungginkn di bibirnya. Abdy tidak menanggapi ucapan ke
dua orang tua Lisa, karna menurutnya biar bagaimana pun kelak mereka berdua
akan segera menjadi ayah mertuanya dan restu keduanya sangatlah berarti dengan
hubungan yang akan ia jalani bersama Lisa kelak.
Rendi yang tidak mengerti dengan apa yang baru saja Abdy
katakan, kembali mengumpat kesal, karna kekesalannya ia tidak menyadri Doni
telah berjalan ke arahnya karna ia baru saja kembali dari kantornya.
“Dasar gembel! tidak tau malu! Orang seperti itu ingin kamu
jadikan menantu?” melihat ke arah Clarisa “Orang yang tidak memiliki masa depan
cerah ingin bersama dengan putriku, cuii. Sampai matipun aku tidak akan
menerimanya.”
Doni yang baru saja keluar dari dalam mobilnya, melihat ke
arah ke dua orang yang tidak asing baginya, karn ia merasa seperti pernah
melihat ke dua orang yang tengah berdiri di halaman rumahnya.
Doni berjalan ke arah kedua orang tersebut, dengan mata yang
tidak lepas.
“Rendi? Apa itu kamu?”
Rendi yang mendengar seseorang memanggil namanya, berbalik
lalu melihat ke arah Doni yang kini tengah berdiri di belakangnya.
“Doni.” Memeluk “Apa kabar” melepas pelukan sambil berjabat
tangan.
“Baik, aku dan seluruh keluargaku sangat baik.”
Ada perasaan senang dan bahagia, ketika mereka berdua
__ADS_1
bertemu, karna mereka berpisah dan tidak pernah bertemu lagi, setelah hari
pernikahan Rendi dan Clarisa, hingga akhirnya Rendi pindah, dan baru saat ini
mereka kembali bertemu.
“Claris, apa kabar.” Doni menjabat tangan Clarisa dengan
senyuman hangat.
“Baik juga Doni, oya bagaimana dengan Nabila dan putramu Aby
pasti saat ini sudah dewasa.”
“Mereka semua baik, dan akan lebih baik kalau kita
membicarakan semua ini di dalam rumah, ayo, ayo.”
Doni mengajak ke duanya masuk ke dalam rumahnya, dan di
sambut ramah oleh Nabila dan juga Becca.
“Akhirnya yang aku tunggu datang juga.” Nabila berjalan ke
arah Rendi dan lansung menarik telinga Rendi dengan sangat kuat.
Dan itu membuat Rendi meringgis kesakitan. “Ao, ao, ao, Bila
lepas, sakit,” Rendi memegan tangan Nabila yang ada di telinganya.
“Sakit, atau kurang sakit? Sudah lama menetap di kota ini
tapi tidak pernah sekalipun mengunjungiku.” Dengan nada tinggi “Kamu sangat
jahat Ren, dari dulu kamu mengangapku sebagai adikmu tapi sekarang kamu tidak
pernah mengangap aku lagi sebagai adikmu.” Nabila melepas tangannya dari kuping
Rendi, dengan wajah yang sedih.
Rendi yang mendengar ucapan Nabila, melihat ke arah Doni,
karna ia ingin menyentuh bahu Nabila karna saat ini Nabila telah membelakanginya,
dan setelah melihat tanda dari Doni kalau ia boleh melakukannya.
Rendi tidak mau menyentuh Nabila jika ia tidak mendapatkan
persetujuan dari Doni, karna Rendi tau kalau Doni terlalu sangat posesif dengan
istrinya, tidak ingin ada yang menyentuhnya selain dirinya.
“Maafkan aku Bila.” Menyentuh bahu Nabila dengan kedua
tangannya “Bukan maksud aku tidak ingin menemuimu dan seluruh anggota
keluargamu” Rendi melepas tangannya dari bahu Nabila. “Tapi karna aku merasa
sangat malu Bil, malu dengan keadaanku yang sekarang.” Rendi menundukkan
wajahnya ketika selesai mengatakan itu.
Karna jujur ia merasa sangat malu dengan keadaan yang
sekarang, karna dulu Rendi juga terkenal dengan semua kekayaan yang ia miliki
dan sekarang ia harus kehilangan semua itu.
Nabila yang mendengar semua yang di ucapakan Rendi, berbalik
badan dan menatap wajah Rendi sambil berkata.
“Aku ini masih adikmu kan? Adik yang ingin selalu kamu
lindungi, adik yang selalu kamu tolong sewaktu ia dalam masalah dan apa kamu
masih ingat? kamu adalah orang pertama yang mengetahui kalau aku sedang
mengandung Aby, karna di saat kamu menolongku Aku tengah mengandung Aby keponakanmu.”
Nabila melihat ke arah Aby yang kini tengah berdiri di
“Ini adalah keponakanmu, keponakan yang dulu aku kandung
ketika kamu menolongku.” Nabila meraih tangan Aby agar Aby berdiri di sampinya.
Aby yang mendengar ucapan mamanya merasa sangat terharu,
terharu karna ternyata Ayah Lisa bukan hanya teman sekaligus Mamanya justru ia
juga pernah menolongnya bersama Mamanya meskipun saat itu ia masih dalam
kandungan.
“Maafkan aku Om.” Aby memeluk Rendi “Karna berlaku kasar
terhadapmu.”
Rendi yang mendengar ucapan Aby berkata “Maafkan aku juga
Aby, jika aku memiliki salah kepadamu.” Rendi menepuk pelan bahu Aby ketika
mengatakan itu.
Haru biru mulai mengelilingi isi ruangan tamu, terharu
sekaligus merasa bahagia karna perpisahan yang sekian lama kini akhirnya mereka
di pertemukan dengan jalan yang sangat indah dengan adanya ikatan besan yang akan
menyatukan kedua keluarga.
Setelah haru birunya selesai Nabila mempersilahan Rendi dan
Clarisa duduk di ruangan tamunya dan mulai menyuguhkan makanan dan minuman yang
telah di siapkan oleh Bi Lastri.
Canda tawa kedua keluarga mulai terdengar, Abdy yang
mendengar suara itu dari dapur tersenyum senang, karna sebentar lagi ia dan
Lisa akan segera bersatu, itulah yang ada di dalam pikiran Abdy saat ini.
Di dalam dapur Abdy tengah sibuk berbicara dengan Lisa, Lisa
tidak berhenti membahas soal pernikahannya dengan Romi yang tinggal hanya 5
hari.
“Abdy, hiks, hiks” menangis “Apa yang harus kita lakukan
sekarang? Hingga saat ini kita belum menemukan solusi.”
“Tenang ya Lis, kamu bersabar.”
“Tenang! Tenang! Bagaimana aku bisa tenang kalau dalam
situasi seperti ini.” Lisa sedikit meninggikan suaranya membuat Abdy menjauhkan
telponnya dari telinganya.
“Auuu.” Ucap pelan Abdy memegan telinganya dari balik telpon.
“Dengan ya Dy” kesal “Kalau sampai malam pernikahan kamu
tidak memberikan aku kabar yang baik, maka kamu bersiap-siap mendengarkan kabar
kematian aku.” Lisa mematikan sambungan telponnya secara sepihak ketika selesai
mengatakan itu, karna ia merasa sangat kesal mendengar nada suara santai Abdy
dari balik telpon.
“Sebenarnya Abdy serius ngak sih mencintaiku? hiks, hiks, hiks.”
Lisa melempar hapenya ketika selesai mengatakan itu karna merasa sangat kesal.
__ADS_1
Sementara Abdy tidak berhenti tersenyum mendengar nada kesal
itu keluar dari dalam mulut Lisa.
“Kamu tenang saja Lis” tersenyum sambil melihat layar
hapenya “Cepat atau lambat kita akan segera bersama dan tidak akan ada yang
bisa memisahkan kita lagi.”
Dengan perasaan senang abdy mengatakan itu, karna sebentar
lagi semuanya akan terjadi, dan abdy juga sengaja tidak mengatakan hal itu
kepada Lisa, karna ia ingin memberikan Lisa sebuah kejutan dengan tidak
mengatakan hal ini kepadanya.
Di ruangan tamu.
Rendi mulai membahas soal lamaran pernikahan untuk putrinya,
yang Aby katakan sewaktu masih berada di kantor.
“Oya Aby bagaimana dengan lamaran pernikahan yang kamu
ajukan padaku?”
Rendi menatap wajah Aby ketika selesai mengatakan, karna ia
ingin mengetahui kejelasan dari lamaran yang Aby katakan padanya sewaktu ia
berada di perusahaannya.
Aby yang mendengar ucapan Rendi melihat ke arah Mama dan
Papanya, karna ia ingin agar Mamanya yang menjawab pertanyaan Rendi tersebut.
Sementara Doni yang belum mengetahui apa-apa, soal lamaran
tersebut melihat ke arah istrinya sambil berakata.
“Lamaran? Lamaran siapa? Dan untuk siapa?” tanya Doni dengan
wajah yang sangat bingun karna ia belum tau apa-apa soal lamaran apa yang
tengah di bahas Rendi.
Nabila yang mendengar pertanyaan Doni tersenyum lalu berkata
“Ma, apa mas tau? Kalau Lisa adalah putrinya Rendi orang yang di cintai putra
kita. Dan Aby sudah mengajukan lamaran untuknya.” Nabila sedikit menjelaskan
karna ia tidak ingin membuat Doni merasa bingun dengan acara lamaran yang di
bahasnya saat ini.
“Oh, jadi Lisa putrimu? Astaga aku tidak pernah menduga
kalau kita akan menjadi besanan.” Doni terlihat sangat senang ketika mengatakan
hal itu.
Karna memang benar, ia tidak pernah menduga, kalau sahabat
dari istrinya akan menjadi menantunya, dan begitupun dengan dirinya yang tidak
pernah menduga akan menjadikan putri dari mantan kekasihnya sebagai menantunya
juga.
Rendi yang melihat ke bahagian yang terlihat di wajah Doni
merasa sangat bingun, karna ia tidak mengerti kenapa Doni terlihat sangat
senang.
Apakah mereka telah mengenal Lisa sebelumnya? Dan orang yang
di cintai putra mereka siapa? Itulah pertanyaan yang ada di kepala Rendi saat
ini karna ia tidak tau kenapa keluarga Atmaja terlihat sangat senang mendengar
nama putrinya.
Karna merasa sangat bingun dengan ucapan Nabila, Rendi pun
memberanikan diri bertanya “Apakah putramu sangat mencintai putriku?” itulah
pertanyaan yang Rendi lontarkan.
“Tentu saja putraku sangat mencintai putrimu, bahkan aku
sudah sering kali ingin melamarnya Lisa untuknya, mungkin karna merasa malu
mengakui perasaannya, hingga kami tidak melamar Lisa secepat mungkin.” Doni
menjelaskan dengan apa yang selalu ia katakan untuk putranya.
Rendi semakin penasaran dengan apa yang baru saja Doni
katakan padanya, karna merasa sangat penasaran ia pun bertanya.
“Siapa nama putramu? Dan dimana dia saat ini?”
“Aku di sini Om.” Abdy tiba-tiba keluar lalu berjalan ke
arah mereka semua.
Rendi yang mendengar sekaligus melihat ke arah pemuda yang
kini tengah berjalan ke arah mereka semua merasa sangat terkejut, begitupun
dengan Clarisa istri Rendi yang tidak percaya dengan apa yang baru saja ia
dengar dan juga lihat.
Pemuda yang mengaku sebagai putra dari keluarga Atmaja,
adalah pemuda yang selalu ia hina pemuda yang selalu membuatnya merasa sangat
kesal, dan selalu ia sindir dengan kata-kata pedas dan bahkan ia sampai memenjarakannya yang
tidak lain adalah pemuda yang sangat mencintai putrinya.
Karna merasa terkejut
Rendi pun berakata. “Kamu!” berdiri dari duduknya, karna merasa sangat terkejut
sekaligus tidak percaya dengan apa yang di dengar dan juga di lihatnya.
“Iya Om, ini aku, Abdy orang yang sangat mencintai putri Om
yang selalu rela melakukan apa saja demi untuk bersama dengan putri om.”
Abdy duduk di sampin Aby dengan senyuman ketika selesai
mengatakan itu.
Dengan perasaan malu dan juga menyesal Rendi menundukkan
wajahnya di hadapan seluru anggota keluarga Abdy, iya tidak pernah menyangka
kalau ternyata Abdy adalah putra kedua dari Nabila dan Doni Atmaja karna yang
ia tau hanya anak pertamanya saja yang tidak lain adalan Aby Atmaja.
Nabila yang melihat Rendi menundukkan wajahnya hanya
tersenyum, karna ia tau pasti saat ini Rendi telah menyesali semua perbuatan
yang telah ia lakukan pada Abdy putranya.
“Maafkan Om, Abdy.” Kata pertama yang terucap yang dari
mulut Rendi ketika mengetahui kalau Abdy adalah putra Atmaja.
__ADS_1
Rendi merasa benar-benar sangat malu dan juga sangat
menyesal dengan semua yang telah ia lakukan kepada Abdy.