Cinta Aby

Cinta Aby
Eps.193


__ADS_3

Abdy membuka pintu lalu melihat sekelilin dalam kamar Lisa


dan mendapatkan Lisa kini tengah tertidur dalam balutan selimut, Abdy yang


melihat Lisa tersenyum sambil berjalan masuk dan mendekat ke arah Lisa yang


kini tengah terlelap menurut Abdy.


Abdy merasa ada yang aneh dengan Lisa saat ini, karna


melihat selimut yang Lisa gunakan seperti terus bergoyang dan itu membuat Abdy


merasa sangat penasaran, hingga ia berjalan mendekat ke arah tempat tidur yang


Lisa gunakan.


Pelan-pelan Abdy duduk di pinggir tempat tidur dan melihat


wajah Lisa dalam ke adaan pucat, Abdy merasa terkejut melihat wajah pucat Lisa


dan lansung menyentuh dahi dan leher Lisa yang terasa sangat panas sambil


mengeluarkan banyak keringat.


“Ya, ampun Lis, suhu badan kamu panas banget.” Abdy tidak


berhenti memegan seluruh wajah Lisa yang kini tidak berhenti mengeluarkan


keringat.


Abdy merasa sangat khwatir dengan suhu panas yang terlalu


tinggi di tubuh Lisa, hingga akhirnya ia memilih untuk keluar dari dalam kamar


Lisa dan menemui Rendi dan Clarisa yang kini tengah mengatur semua yang di


perlukan besok.


Rendi yang melihat Abdy berlari menurungi anak tangga dengan


wajah yang cemas, merasa sangat heran kenapa Abdy berlari seperti itu turun


dari atas dari kamar Lisa.


“Kamu kenapa Abdy?” tanya Rendi pelan.


Rendi merasa agak aneh melihat ke arah Abdy, hingga akhirnya


ia bertanya kepada apa yang tengah terjadi, dan apa yang telah membuatnya terlihat


cemas seperti itu.


Clarisa yang melihat Abdy berlari menurungi anak tangga


dengan wajah yang cemas, berhenti melakukan apa yang saat ini ia kerjakan.


“Li--Lisa, Pa, ma.” Gugup “Lisa demam, suhu badannya sangat


panas.” Ucap Abdy dengan wajah paniknya.


Rendi dan Clarisa yang mendengar ucapan Abdy, berlari, Rendi


naik ke lantai atas di mana letak kamar putrinya, sementara Clarisa berjalan


masuk ke dalam dapur untuk mengambil baskon dan juga kain kompres untuk


mengompres dahi putriny.


Abdy mengikuti arah langkah kaki Clarisa, karna ia juga


ingin menanyakan apa mama Lisa memiliki obat penurun panas.


“Ma, apa mama memiliki obat penurun panas?” tanya Abdy


melihat ke arah Clarisa yang kini tengah sibuk memasukkan air dingin ke dalam


baskom.


“Di kamar Lisa ada kotak obat, coba kamu cari di laci meja


yang ada di dalam kamar Lisa” Clarisa menjelaskan.


Abdy berlari keluar dari dalam dapur, lalu menaiki anak


tangga setelah mendengar apa yang Mama Lisa katakan kalau di dalam kamar Lisa


ada kotak obat.


Abdy membuka pintu kamar, lalu masuk ke dalam kamar Lisa dan


melihat Rendi tengah memegan dahi putrinya yang sangat kepanasan, Abdy mulai


mencari kotak obat di semua laci yang ada di dalam kamar Lisa, karna ia tidak


tau di mana laci mana yang Lisa tempati menaruh kotak obat tersebut.


Rendi yang melihat Abdy mencari sesuatu berkata, “Kamu cari


apa Abdy?” tanya Rendi pelan.


“Aku mencari kotak obat Lisa, Yah” membuka laci “Kata Mama


kotak obatnya ada di dalam laci kamar Lisa, namun aku tidak tau di laci yang


mana Lisa menaruh kotak obatnya.” Jawab Abdy.


Abdy berdiri sambil memegan dahi melihat ke arah Lisa yang


kini tengah menggigil kedinginan di dalam selimut, ia nampak sangat panik


melihat Lisa dalam keadaan sakit seperti itu.


Rendi yang melihat kepanikan di wajah Abdy dengan segera


berkata. “Coba kamu lihat di laci itu,” ucap Rendi sambil menunjuk ke arah laci


yang ada tepat di sampin tempat tidur Lisa.


Abdy yang mendengar ucapan Calon ayah mertuanya dengan


segera membuka laci tepat di sampin tempat tidur Lisa dan memang benar adanya


kotak obat itu ada di sampin tempat tidur Lisa.


Abdy mengambil kotak obat tersebut dan dengan segera mecari


obat penurun rasa panas, karna ia ingin agar Lisa segera meminum obat penurun


panas tersebut.


Pintu kamar Lisa terbuka, Clarisa masuk dengan membawa


baskom yang berisi air dan juga kain untuk mengompres dahi Lisa, Clarisa


mengambil itu karna ia tau, mengompres dahi Lisa adalah cara yang sangat baik


untuk segera menurunkan panas.


Ketiga orang di dalam kamar Lisa nampak sangat khawatir,


setelah memberi obat penurun panas Abdy tidak berhenti menganti kompres di dahi


Lisa agar panasnya segera turun.


“Akan lebih baik kalau Mama dan Papa istirahat. Lisa biar


aku yang mengurusnya.” Ucap Abdy pelan.


Abdy melihat ke arah kedua calon mertuanya yang tidak


berhenti menguap, hingga akhirnya ia mengatakan itu.


“Apa kamu yakin Abdy?” tanya Clarisa pelan  melihat ke arah Lisa yang kini telah berhenti


mengigil.


“Tentu saja Ma, karna Lisa adalah tanggun jawabku, aku tidak


akan pernah membiarkannya kenapa-napa.” Ucap Abdy lantang.


Rendi dan Clarisa yang mendengar ucapan Abdy percaya kalau


Abdy bisa menjaga putri mereka dengan baik, dan bukan kali ini saja Abdy


menjaga putri mereka namun sebelumnya Abdy juga pernah merawat Lisa ketika ia


meminum racun dan Abdy yang merawatnya hingga Lisa benar-benar sembuh.


“Baiklah kalau begitu kami berdua istirahat ya Abdy, kalau


ada sesuatu tolong kamu kabari kabari kami berdua.” Ucap Clarisa pelan.


“Baik Ma, aku akan pasti akan mengabari kalian.” Jawab Abdy


dengan senyuman melihat ke arah ke dua calon mertuanya.


“Ayo ma, kita istirahat, karna seharian mama juga sangat


sibuk hingga lupa untuk istirahat.” Rendi mengajak istrinya keluar dari dalam


kamar putrinya dan membiarkan Abdy merawat Lisa.


Rendi juga ingin agar istrinya segera istirahat mengingat


seharian ini Clarisa di sibukkan mengurus semua pernikahan Lisa yang tinggal


dua hari lagi.


Setelah kepergian kedua calon ibu mertunya, Abdy tidak


berhenti menganti kompres Lisa jika telah kering, Abdy mulai membuka jaket dan


juga sepetu yang ia kenakan lalu naik di atas tempat tidur Lisa lalu


menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur, melihat ke arah Lisa.


Abdy juga memindahkan baskom air yang ia gunakan untuk mengompres


dahi Lisa ke meja yang ada tepat di sampinnya agar ia lebih leluasa menganti


kompres Lisa jika telah kering.


Malam semakin larut, suhu panas di seluruh tubuh  Lisa kini telah mereda, dan itu membuat Abdy


tersenyum senang karna saat ini badan Lisa tidak penas lagi, rasa takut dan


rasa khawatirnya kini telah menghilang seketika.


“Akhirnya Lis, panas kamu mereda juga.” Abdy mengusap dan


mengecup lembut dahi Lisa ketika selesai mengatakan itu.


Abdy menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur Lisa


dan mulai mencoba untuk memejamkan kedua matanya, karna waktu sudah menunjukkan

__ADS_1


pukul 3 pagi, ia ingin terlelap sejenak karna setelah pagi ia akan di sibukkan


dengan semua ritual yang akan di lakukan sebelum pernikahan, hingga akhirnya ia


tertidur sambil memegan dahi Lisa.


Matahari telah menampakkan sinarnya menyinari seluruh alam


semesta ini, dan mulai memasuki cela-cela tirai jendela kamar Lisa.


Pelan-pelan Lisa membuka ke dua matanya, lalu melihat kalau


saat ini ie telah memeluk paha seseorang, mungkin karna merasa terkejut dengan


apa yang telah ia lakukan, dan tampa melihat pemilik paha yang ia peluk hingga


ia berteriak kencan.


Aaaa.


Lisa melepas pelukannya di paha Abdy, namun ia belum


menyadari kalau paha yang tengah ia peluk adalah paha calon suaminya sendiri.


Lisa sangat terkejut sekaligus merasa sangat ketakukan mengingat pakaian yang


ia kenakan saat ini hanya gaun tidur yang sangat tipis tampa lengan dan


panjangnya hanya sebatas paha saja, dan itu membuat bentuk tubuhnya terlihat


jelas.


Abdy yang mendengar suara teriakan Lisa yang sedikit membuat


telinganya terasa sakit, membuka mata karna ia terkejut sekaligus takut terjadi


sesuatu dengan Lisa mengingat semalam Lisa demam tinggi.


Abdy melompat turun dari atas tempat tidur, dengan jantung


agak sedikit bergetar karna terkejut mendengar suara teriakan Lisa.


“Kamu kenapa Lis? Apa yang ada yang sakit?” Abdy melihat ke


arah Lisa yang kini tengah menutup seluruh tubuh dan wajahnya dengan selimut


yang ia gunakan.


 Abdy terlihat sangat


panik dan khawatir, Lisa yang mendengar suara orang yang sangat di cintainya


bertanya kepadanya membuka selimut yang menutupi seluruh wajahnya.


“Abdy” bangun lalu duduk “Kamu kesini? Kenapa aku tidak


mengetahui kalau kamu ke sini? Apa kamu menginap? Perasaan semalam kita


berbicara lewat penggilan Vidio”


Itulah pertanyaan-pertanyaan yang Lisa lontarkan untuk Abdy


jawab, namun yang di tanya malah kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat


tidur, mungkin karna masih merasa sangat mengantuk hingga ia tidak menjawab


pertanyaan Lisa.


“Abdy, jawab donk! Kenapa kamu bisa berada di sini?” Lisa


mengambil bantal lalu memukul pelan bahu Abdy, namun Abdy tidak menjawab justru


ia merasa sangat nyaman Lisa memukul belakannya dengan bantal Abdy merasa kalau


saat ini Lisa tengah memijat bagian belakang.


Rendi dan Clarisa membuka pintu kamar putrinya, dan


mendapati putrinya kini tengah memukul belakang calon suaminya dengan bantal.


Clarisa yang melihat itu masuk kemudian berjalan mendekat ke


arah tempat tidur Lisa sambil berkata.


“He-he-he. Apa yang kamu lakukan Lisa? Apa kamu tau ? Abdy


telah merawatmu semalaman karna kamu deman tinggi, Mama dan Papa tidak akan tau


kalau kamu sakit kalau bukan Abdy yang mengatakan hal ini kepada Mama dan papa.”


Clarisa menjelaskan semua dengan apa dan apa yang membuat Abdy berada di dalam


kamarnya semalaman.


“Biarkan Abdy tertidur hingga siang, kasian ia menjagamu


semalaman.” Timpal Randi.


Lisa yang mendengar penjelasan kedua orang tuanya, terkejut


sekaligus merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia lakukan kepada Abdy.


Dengan wajah menyesal Lisa melihat ke arah Abdy yang kini


tengah terlelap di atas tempat tidur sambil memeluk bantal guling.


Kedua orang tuanya telah keluar dari dalam kamar, Lisa


berangjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah pintu untuk mengunci pintu


kamarnya dari dalam, karna ia tidak ingin ada seseorang masuk ke dalam kamarnya


Karna ia tau kalau hari ini semua kerabat kedua orang tuanya


pasti akan datang, mengingat besok adalah hari pernikahannya dengan Abdy, Lisa


tidak ingin di gangu dengan apa yang akan ia lakukan kepada calon suaminya itu.


Dengan senyuman Lisa berjalan ke arah tempat tidurnya,


melihat di mana saat ini Abdy tengah terlela, Lisa merangkak naik ke atas


tempat tidur, kemudian merebahkan tubuhnya sambil melihat ke arah wajah Abdy,


yang kini masih setia menutup kedua matanya.


“Emm, calon suamiku, kamu pasti sangat mengantuk ya? Karna semalaman


talah menjagaku? Maaf ya calon suamiku, calon imamku, karna aku telah memukulmu


dengan bantal” Lisa mengusap lembut wajah Abdy lalu mengecupnya dengan sangat


lembut.


Abdy yang merasa wajahnya telah di usap lembut bahkan


mendapat kecupan lembut membuka matanya secara perkahan dan melihat ke arah


wajah Lisa yang kini tengah tersenyum melihat ke arahnya.


 Abdy mengelus lembut


wajah Lisa dengan penuh kasih sayang yang kini tengah tersenyum melihat ke


arahnya, lalu menarik Lisa masuk ke dalam pelukannya.


Abdy memeluk erat tubuh Lisa sambil berkata. “Aku sangat


takut Lis” mengecup dahi Lisa “Melihatmu sakit semalaman membuatku merasa


sangat panik” mengeratkan pelukannya di tubuh Lisa “Kamu sakit seperti itu,


namun tidak mengetakan kepadaku, justru kamu dengan santainya tersenyum melihat


ke arahku ketika kite melakukan pangilan vidio, beruntung aku sangat mecintaimu


dan aku mengetahui kalau kamu sakit dari kata hatiku.”


Semua yang Abdy katakan kepada Lisa memang benar, ia


mengetahui kalau Lisa sakit dari kata hatinya, mungkin karna terlalu sangat


mencintai Lisa hingga akhirnya ia merasakan hal itu, hal yang membawanya untuk


datang dan merawat calon istrinya yang lagi sakit.


Lisa yang mendengarkan semua kata yang keluar dari dalam


mulut calon suaminya tersenyum, sambil mengecup lembut dada bidang Abdy karna


saat ini Abdy telah memelukknya dengan sangat erat.


“Terimakasih Dy, karna kamu terlalu mencintaiku seperti ini.”


Lisa menestkan air mata karna merasa sangat terharu melihat cinta yang di


beriakn Abdy untuknya, namun dengan segera ia mengusap air matanya karna ia


tidak ingin Abdy mengetahui kalau saat ini ia tengah menangis.


Lisa membalas erat pelukan Abdy seakan ia tidak ingin


melepas pelukannya hingga acara pernikahan mereka berdua esok hari.


Abdy mengankat tubuh Lisa menaikkannya di atas tubuhnya,


lalu kembali memeluknya dengan sangat erat, Lisa yang melihat itu hanya


tersenyum sambil merebahkan kepalanya di dada bidang Abdy.


Abdy tidak berhenti mengecup lembut dahi Lisa, sementara


Lisa masih setia menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.


“Lis.”


“Hem.”


Lisa hanya menjawab panggilan Abdy dengan dehemannya saja


karna ia merasa sangat nyaman ketika melakukan hal ini.


“Setelah menikah kita akan bulan madu kemana?” tanya Abdy


pelan.


“Aku tidak ingin kemana-mana Dy.” Mengamkat wajah melihat ke


arah Abdy “Aku hanya ingin tinggal di rumah kita menghabis waktu bersamamu”


tersenyum sambil bertopang dagu di atas dada bidang Abdy “Akan sangat


menyenankang jika kita menhabiskan waktu seharian di rumah dengan memasak,


membersikan rumah, berenang di belakang rumah kita, eummm” membayankan  “Pasti akan sangat indah, tidak akan membuat

__ADS_1


kita merasa sangat kelelahan ketika melakukan bulan madu dengan melakukan


perjalanan panjang. Huf aku sungguh tidak ingin itu.”


Lisa mengatakan semuanya kepada Abdy jika ia tidak ingin


melakukan perjalanan bulan madu yang akan membuatnya merasa sangat kelelahan,


yang Lisa inginkan hanya tinggal di rumah sendiri menikmati kebersaamaan mereka


berdua itulah yang Lisa inginkan.


Abdy yang mendengar semua curahan Lisa tersenyum lalu


berkata sedikit menggoada “Apa kamu hanya ingin mengabiskan waktu hanya dengan


memasak, membersikan rumah dan berenag?” tersenyum jail “Dan tidak ingi


menghabiskan waktu di dalam kamar bersamaku?” Abdy menaikkan kedua alisnya


ketika mengatakan hal itu kepada Abdy.


Dan ucapan Abdy barusan membuat wajah Lisa memerah seketika


karna merasa sangat malu dengan apa yang baru saja Abdy katakan padanya. Lisa


menundukkan wajahnya karna merasa sangat malu dengan apa yang baru saja Abdy


katakan padanya, karna ia mengerti dari ucapan Abdy yang ingin menghabiskan


waktu bersamanya di dalam kamar.


“Apaan sih Dy.” Lisa memukul pelan dada bidang Abdy karna


merasa sangat malu mendengar pertanyaan Abdy.


 Abdy yang melihat


tingkah Lisa yang menurutnya sangat lucu terkekeh pelan, lalu ia membalikkan


tubuhnya dan kini Abdy telah menindih tubuh Lisa.


“Kenapa? Apa kamu masih malu denganku?” tanya Abdy pelan.


“Tidak aku tidak malu lagi denganmu.” Ucap Lisa menantang


sambil mengalunkan tangannya di leher Abdy.


“Baiklah sekarang kita akan melakukannya.”


“Melakukan apa?” Lisa membulatkan matanya terkejut ketika


mendengar ucapan Abdy yang ingin melakukan sesuatu dengannya.


Lisa mulai berpikir kalau Abdy ingin melakukannya sekarang,


sebelum mereka menjalani ijob qobul besok.


“Melakukan ini.” Abdy terkekeh ketika melihat wajah Lisa


yang nampak sangat terkejut menedengar apa yang baru saja ia katakan.


Mungkin Lisa berpikir kalau Abdy ingin melakukan hal indah


itu sekarang, itulah yang ada di dalam pikiran Abdy saat ini, namun Abdy hanya


ingin melakukan yang tidak melanggar batasannya.


Abdy mulai mengecup lembut bibir Lisa, dan Lisa pun membalas


kecupan lembut bibir Abdy mereka saling berkecupan menikmati setiap sentuhan


yang di berikan Abdy begitupu dengan Lisa yang ikut menikmati semua sentuhan


yang Abdy lakukan kepadanya.


Tangan Abdy tidak tinggal diam, tangannya mulai menyusup


masuk ke dalam gaun tidur sangat tipis yang Lisa kenakan, dan mulai melakukan


semua yang ingin ia lakukan.


Lisa yang mendapat sentuhan di sekujur tubuhnya menikmati


semua yang Abdy lakukan, menyentuh semua bagian tubuh Lisa, mengecup


meninggalkan jejak di bagian kenyal Lisa itulah yang Abdy lakukan saat ini.


Ia merasa saat ini ia ingin sekali melakukan hal indah itu


bersama dengan Lisa, namun ia masih berusaha untuk menahannya karna mengngat besok


adalah hari pernikahannya dengan Lisa.


Setelah menjalani ijab qobul besok dengan Lisa, ia tidak ada


batasan lagi, karna Lisa akan resmi menjadi miliknya seorang dan ia akan bebas


melakukan apapun ia mau, tampa harus menahannya lagi, itulah yang ada di dalam


pikiran Abdy saat ini.


Mereka berdua menghentikan apa yang tengah mereka berdua


lakukan, ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar Lisa.


Abdy mengankat wajahnya karna dari tadi ia menegelamkan


wajahnya di bagian kenyal Lisa, melihat ke arah pintu lalu melihat ke arah


wajah Lisa yang kini tengah melihat ke arahnya, ketika mendengar suara ketukan


pintu.


“Abdy angkat telpon dar mama kamu.” Suara teriak Clarisa


dari balik pintu “Karna dari tadi ia menghubungi hapemu, namun kamu tidak


mengankatnya.” Clarisa menjelaskan.


“Baik Ma.” Sahut Abdy dari dalam kamar.


Clarisa yang mendengar suara sahutan Abdy dari dalam kamar


putrinya, berlalu dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda


karna menerima panggilan telpon dari Nabila yang menanyakan keberadaan putrany


yang hingga saat ini belum kembali ke rumahnya.


Abdy meraih hapenya yang ia letakkan semalam di atas meja


tepat sampin tempat tidur Lisa, lalu melihatnya, Abdy melihat 18 panggilan


tidak terjawab dari Mamanya.


Abdy tidak mengetahui kalau mamanya telah menelpon untuk


kesekian kalinya karna ia mengaktipkan nada sunyi pada hapenya, hingga ia tidak


mengetahui  kalau Mamanya dari tadi


mencoba menghubungi hapenya karna merasa sangat khawatir putranya belum pulang


kerumah hingga saat ini.


Abdy yang melihat panggilan mamanya menghubungi balik agar


tidak membuat mamanya khawatir. namun ia tidak mengankat tubuhnya dari atas


tubuh Lisa, setelah sambungan telponnya tersambun dengan segera Abdy berkata.


“Iya ma, ada apa?” tanya Abdy pelan.


“Iya sebentar lagi aku akan segera pulang.”


Setelah sambungan telpon terputus dari mamanya Abdy melihat


ke arah wajah Lisa lalu berkata, “Aku harus segera kembali ke rumah mama.” Mengecup


lembut bibir Lisa, lalu melepasnya “Karna aku harus melakukan ritual sebelum


pernikahan kata mama.” Abdy sedikit menjelaskan agar Lisa tau.


“Baiklah.” Melinkarkan tangan di leher Abdy “Sepertinya aku


juga akan melakukannya.” Lisa tersenyum manis melihat ke arah wajah Abdy ketika


selesai mengatakan itu.


“Boleh aku pergi?” tanya Abdy, karna ia melihat tangan Lisa


melingkar sempurna di lehernya.


“Tentu saja, kamu boleh pergi.” Ucap santai Lisa tidak menyadari


kalau saat ini tangannya masih melingkar sempurna di leher Abdy.


Abdy yang mendengar ucapan Lisa terkekeh pelan, ia mengecup


seluruh wajah Lisa dan setelah melakukan hal itu. Abdy pun berkata.


“Esss, Lisa ingin rasanya aku memakanmu saat ini juga. Kenapa


kamu tidak berhenti membuatku tergoda seperti ini.” Abdy mengecup lembut bagian


montok Lisa ketika mengatakan itu.


Melihat Lisa tidak melepas lingkaran tangannya di lehernya,


Abdy mengecup lembut bagian montok Lisa hingga membuat tanda kemerahan di sana,


dan itu membuat Lisa sedikit meringgis karna Abdy mengecup bagian montoknya


terlalu lama.


“Auuu, Abdy sakit” meringgis sambil melepas tangan yang


melingakra di leher Abdy lalu memukul pelan kepala Abdy.


Pukulan yang membuat Abdy mengankat wajahnya sekaliguss


mengankat tubuh dari atas tubuh Lisa.


“Maaf, hehehe.” Terkekeh “Karna membuat gambar indah itu.” Menunjuk


sekaligus meletakkan tangan di atas bagian montok Lisa.


“Apaan sih Dy.” Memayumkan bibir karna merasa sangat malu


dengan apa yang baru saja Abdy lakukan kepadanya.


Abdy bangun lalu duduk di atas tempat tidur, begitupun


dengan Lisa ikut bangun sambil merapikan rambutnya.

__ADS_1


“Aku pulang ya Lis, mama menungguku.” Kembali mengecup dahi


dan bibir Lisa “Sampai ketemu besok di pelaminan, istriku.”


__ADS_2