Cinta Aby

Cinta Aby
Eps. 129


__ADS_3

"Sangat, aku sangat menyukainya." setelah mengatakan itu Lisa berbalik melihat ke arah Abdy yang kini tengah duduk di atas ayunan.


"Duduk sini Lis." Abdy menepuk ayunan yang tengah Ia duduki.


Mendengar panggilan Abdy, Lisa berjalan ke arah Abdy, lalu duduk di sampinnya.


Ayunan gantung yang tadinya hanya sedikit bergoyang, kini bergoyang lebih sedikit cepat.


Membuat keduanya duduk berdekatan, sangat dekat tampa ada jarak di antara mereka.


Bahu mereka saling berdempetan, dan jika berbalik wajah mereka sangatlah dekat.


Dan itu membuat keduanya merasakan hal yang tak pernah rasakan sebelumnya.


Untuk menghilangkang jarak itu. Abdy memilih merebahkan tubuhnya di atas ayunan, sambil melihat ke arah Lisa.


"Oya, Lis, bagaimana dengan tanganmu?" tanya Abdy pelan.


Lisa melihat pergelangan tangannya, lalu memperlihatkannya pada Abdy.


"Ini. Warna merahnya tak ada lagi." tersenyum "Yang tertinggal hanya warna hitamnya."


Mendengar itu Abdy meraih tangan Lisa, lalu melihat pergelangan tangannya. Dan memang benar tangan Lisa terlihat hitam, karna memar.


Melihat tangan Lisa, Abdy kembali merasa sangat kesal.


Melihat itu dengan segera Lisa berkata.


"Ini tidak apa-apa Di." menatap "Luka ini tak sebanding dengan luka yang ada di dalam hatiku dulu. Tapi sekarang semuanya telah hilang, semua karna kebaikan dirimu."


Lisa mengatakan itu sambil memegan tangan Abdy.


Lisa tak ingin, kalau Abdy sampai berurusan dengan Romi.


Perlahan mata Lisa mulai teras berat, karna waktu tengah menunjukkan dini hari, dan Abdy juga merasakan hal yang sama.


"Dy, aku samgat mengantuk." menguap sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Aku juga."

__ADS_1


Mendengar kata Abdy, Lisa ingin beranjak dari duduknya. Namun belum sempat Lisa berdiri.


Abdy menarik tangan Lisa, dan itu membuat Lisa jatuh di atas dada bidang Abdy.


Bukk.


"Au, Abdy." Lisa menatap ke arah Abdy setelah Ia berada di atas dada bidanya.


"Kita tidur di sini." Abdy melingkarkan tangannya di pinggul Lisa, dan itu membuat Lisa merasa sedikit aneh.


"Disini." kembali menatap wajah Abdy "Di atas tubuhmu? apa itu tak akan membuatmu kelelahan, dan itu akan membuat seluruh tubuhnmu merasa sangat pegal." Lisa mencoba mencari alasan agar Ia tak tidur di atas tubuh Abdy.


"Yang benar saja. Aku tidur di atas tubuh Abdy. Yang ada sampai pagi, aku tak akan tertidur, di tambah mendengar detak jantungku dan juga detak jantung Abdy. Ah, sumpah, kenapa aku harus berada dalam situasi seperti ini sih." Itula kata yang terlintas dalam fikiran Lisa saat ini.


Mendengar alasan Lisa. Abdy pun berkata. "Tidurlah, itu tak akan membuatku kelelahan." menepuk pelan bahu Lisa "Tubuhmu sangatlah kecil, dan itu tak akan membuatku merasa pegal. Kalaupun iya. Berarti kamu siap-siap pijitin seluruh tubuh aku." Abdy mulai menutup matanya.


Namun tidak dengan Lisa. Pelan-pelan Lisa merebahkan wajahnya di dada bidang Abdy, sambil mendongakkan wajahnya, melihat ke arah wajah tampan Abdy.


Dalam diam, Lisa tak berenti menatap wajah tampan Abdy yang kini tengah menutup kedua wajahnya.


"Dy. Apa kamu udah tidur? udah tidur ya? Hem." menarik nafas "Padahal tadinya aku juga sangat mengantuk, lalu kenapa?" berbicara sendiri "Mata aku tak bisa tertutup ya?" setelah mengatakan itu Lisa menarik nafasnya, lalu mengbuangnya pelan.


"Wajah yang sangat tampan." menyentuh "Hidung yang sangat mangcun, Ah, tampannya." tersenyum.


Dan setelah tangan Lisa ingin menyentuh bibir Abdy.


Mata Abdy terbuka dan itu membuat Lisa sangat terkejut.


"Maaf." menarik tangannya "Aku fikir kamu tertidur." gugup.


Lisa mencoba untuk bangun, namun dengan segera Abdy menarik tubuh Lisa masuk dalam pelukannya. Awalnya Lisa hanya berada di atas dada bidang Abdy. Namun saat ini Lisa tengah berada di bawah tubuh Abdy.


Lisa merasa sangat terkejut, dengan apa yang tengah Abdy lakukan padanya. Hingga akhirnya Lisa berkata.


"Abdy apa yang kamu lakukan?" menatap wajah Abdy yang kini tengah berada di atas wajahnya.


Tampa menjawab pertanyaan Lisa. Abdy langsung menempelkan bibirnya di bibir ranum Lisa. Dan itu membuat Lisa sangat terkejut.


Lisa membulatkan matanya ketika Abdy mulai ******* bibirnya, dengan sangat lembut. Mendapat perlakuan lembut seperti itu, Lisa membalas ciuman lembut Abdy.

__ADS_1


Cukup lama pautan bibir mereka bersatu, hingga akhirnya Abdy menyadari kalau yang Ia lakukan pada Lisa, itu adalah hal yang salah. tak seharusnya Ia melakukannya, mengingat hubungannya dengan Lisa, hanya sebatas teman tak lebih.


Abdy takut, kalau sampai Lisa berfikiran buruk tentangnya. Apalagi sampai membuat Lisa menjauh darinya. Abdy tak ingin semua itu terjadi.


Pelan-pelan Abdy melepaskan pautan bibirnya dari pautan bibir Lisa. Lalu menatap wajah yang kini tengah berada di bawahnya.


"Maafkan aku Lis." memeluk "Bukan maksud aku ingin melakukan ini padamu, jangan marah ya Lis, aku sangat menyesal telah melakukan ini padamu." dengan nada suara pelan.


Mendengar permintaan maaf, keluar dari mulut Abdy. Lisa menepuk pelan bahu Abdy. Karna saat ini Abdy masih berada di atas tubuhnya.


"Sudahlah Dy, aku juga minta maaf, karna tak seharusnya aku membalas semua perlakuan lembutmu itu."


Mendengar kata yang keluar dari mulut Lisa. Abdy kembali mengankat wajahnya, lalu melihat wajah Lisa yang kini tengah tersenyum melihat ke arahnya.


"Benar, kamu tak marah denganku?" menempelkan hidungnya di hidung Lisa.


"Iya." tersenyum "Aku akan marah kalau kamu terus berada di atas tubuhku. Apa kamu sadar? tubuh kecil ini kesakitan di tindih oleh tubub kekarmu." setelah mengatakan itu Lisa tertawa kecil, menatap wajah Abdy.


"Baiklah, aku akan turun dari atas tubuhmu. biar kamu saja yang berada di atas tubuhku." setelah mengatakan itu Abdy memutar tubuhnya, dan kembali menaikkan tubuh Lisa di atas tubuhnya.


"Tidurlah." mengecup lembut dahi Lisa "Dan ingat, jari tangan kamu jangan kemana-mana." memperingati "Ok. tutup matamu." setelah mengatakan itu Abdy menepuk pelan bahu Lisa yang kini mulai menutup matanya di atas dada bidangnya, Hingga akhirnya keduanya terlelap sampai pagi.


*****


Setelah pulang dari bandara. Aby dan Becca berjalan ke arah ruangan tamu. Karna di sana Hamish tengah menanti kedatangan mereka berdua.


Melihat putri dan menatunya berjalan mendekat ke arahnya. Hamish pun tersenyum, lalu mempersilahkan keduanya duduk.


"Duduk." nada tegas.


Mendengar kata Hamish, Becca dan Aby duduk di kursi dan berhadapan lansung dengan Ayah mertunya.


"Dengar Aby! Apa kamu sudah siap dengan apa yang akan aku lakukan padamu?" menatap wajah menantunya.


"Aku sudah siap dengan semunya." Dengan langtang Aby mengatakan itu...


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2