Cinta Aby

Cinta Aby
Eps.178


__ADS_3

Karna terlalu mencintai kekasihnya, takut terjadi sesuatu


yang buruk terhadap orang yang sangat yang di cintainya terkadang membuat orang


lupa berpikir dengan jernih, dan lupa segala batasan untuk dirinya dan juga


untuk orang yang ia cintai.


Itulah yang saat ini Abdy lakukan, ia tidak berpikir dengan


jernih, karna merasa sangat takut terjadi sesuatu yang buruk dengan orang yang


sangat di cintainya.


Abdy berlari kecil menuju ke arah mobilnya, lalu


melajukannya keluar dari pintu gerbang rumah kakaknya menuju arah rumah Lisa,


Abdy mematikan mesin mobilnya ketika ia sampai di perapatan jalan yang tidak


jauh dari rumah orang tua Lisa.


Abdy keluar dari dalam mobilnya, lalu berjalan ke arah depan


rumah Lisa, dan mencari cara agar ia bisa menyelinap masuk dan menhampiri kamar


Lisa, dan bukan Abdy namanya kalau tidak bisa menemukan cara untuk menyelinap


masuk.


Abdy mulai memanjat pagar rumah Lisa dengan sangat pelan,


dan di saat Abdy hampir sampai di dalam tiba-tiba lengan terkena goresan pagar


dan itu membuat terluka hingga berdarah, Abdy yang tidak mengenakan jaketnya


dan hanya mengenakan baju kaos putih dan membuat darah di lengannya menempel di


daerah perut baju yang ia kenakan.


“Ah.” Abdy melihat lengannya yang tergore dengan ujung pagar


yang kini tengah mengeluarkan darah “Semua ini untuk cintaku.”


Abdy kembali berjalan dengan cara mengedap-ngedap agar tidak


ada seorang pun yang mengetahui kalau saat ini ia masuk ke dalam rumah Lisa


sudah seperti pencuri, iya pencuri hati.


Abdy mulai melihat ke atas di lantai dua dimana kamar Lisa


berada, Abdy kembalim memikirkan cara bagaimana ia bisa sampai di balkom kamar


Lisa, dan bukan Abdy lagi namanya kalau ia tidak menemukan ide cemerlan untuk


naik di balkom kamar yang di tempati Lisa.


Karna terlalu mencintai Lisa, Abdy sampai melakukan semua


itu, ia tidak memikirkan lagi apa yang akan di katakan orang tua Lisa ketika


melihatnya berada di dalam kamar putrinya, namun satu yang ada di dalam pikiran


Abdy saat ini, ia ingin melihat keadaan orang yang begitu sangat pengtin dalam


kehidupannya.


Abdy kembali memanjat, di jendela rumah Lisa, lalu melompat


untuk meraih besi penghalang yang ada di balkom rumah Lisa, sekali melompat


tangan Abdy lansung memegan erat besi penghalang tersebut dan itu memudahkannya


untuk segera naik di atas balkom.


Setelah sampai di balkom kamar Lisa, Abdy berjalan mendekat


ke arah pintu kaca yang menghalangi antara balkom dan kamar Lisa.


Abdy melihat Lisa tengah memeluk bantal gulingnya sambil


menangis melihat ke arah layar hapenya dan Abdy tidak tau apa yang tengah Lisa


lihat yang jelasnya Abdy melihat Lisa tengah menangis.


“Lis” Abdy mengetuk pelan kaca pembatas antara kamar Lisa


dan balkom yang di tempatinya saat ini.


Lisa yang mendengar suara ketukan dari balik pintu balkomnya


dengan segera melihat ke arah sana, dan melihat Abdy tengah melambaikan


tangannya.


“Abdy.” Lisa bangun lalu berangjak dari atas tempat tidurnya


dan segera berjalan ke arah pintu pembatas untuk segera membukakan pintu untuk


Abdy orang yang sangat di cintainya.


Lisa membuka pintu kamarnya dan mendapatkan Abdy tengah


berdiri di hadapannya, Lisa yang melihat itu dengan segera berhambur memeluk


tubuh Abdy dengan sangat kuat.


Hiks, hiks, hiks.


Lisa memeluk erat tubuh Abdy sambil menangis, sementara Abdy


yang mendapat pelukan erat dari orang yang di cintainya ikut membalsanya dengan


sangat erat juga.


Cinta, cinta, terkadang orang merasa sangat bahagi bisa


bersama orang yang sangat di cintainya, dan juga terkadang sangta menyakitkan


jika cintai itu sulit untuk di persatuhkan itulah yang tengah di rasakan Lisa


dan Abdy, mereka berdua saling mencintai namun ada dindin pemisah yang begitu


sangat tinggi berdiri di hadapan mereka.


“Abdy, hiks, hiks, hiks.” Menangis “Bawa aku pergi dari sini


Dy, aku tidak bisa melewati hariku tampa menatap wajahmu, aku mohon Dy, lakukan


ini untukku.” Lisa memohon kepada Abdy agar Abdy ingin membawanya pergi.


“Tidak Lis.” Melepas pelukan “Aku tidak akan melakukan hal


itu, karna aku tidak ingin orang tuamu berpikir buruk tentangku dan kedua orang


tuamu akan tambah membencik jika aku melakukan hal ini.” Abdy memegan wajah


Lisa dengan kedua tangannya ketika mengatakan itu.


“Tapi Dy, bagaimana jika pernikahan ini sampai terjadi? Aku akan


mati Dy, aku bersumpah akan mela?...”


Lisa mebghentikan ucapannya ketika bibir Abdy menutup


mulutnya dengan cara mengecup lembut bibirnya, cukup lama mereka berciuman


hingga pautan bibir mereka berdua terlepas.

__ADS_1


“Aku tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi Lis,


selama aku masih hidup! Aku tidak akan pernah membiarkanmu menjadi milik orang


lain.” Menatap wajah Lisa dengan penuh cinta “Dan satu lagi, jangan pernah mengatakan


hal nekat itu lagi Lis, karna aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan


semua itu.” Abdy kembali memeluk dan mengecup lembut dahi Lisa setelah selesai


mengatakan itu.


“Aku percaya padamu Dy.”


“Kalau kamu percaya padaku” mengusap air mata Lisa “Jangan


menangis lagi, lihat matamu sudah seperti bakpao.”


Abdy terkekeh setelah mengatakan itu dan itu juga membuat


Lisa ikut terkekeh. Lisa melepas pelukannya, lalu berjalan ke arah tempat


tidurnya karna ia merasa lelah berdiri, namun sebelum ia melangkah terlalu jauh


Lisa kembali berbalik melihat ke arah abdy dan terkejut melihat bekas noda


darah yang ada di baju yang Abdy kenakan.


“Darah!” Lisa kembali berjalan mendekat ke arah Abdy lalu


melihat noda darah yang ada di bagian perut baju kaos yang Abdy kenakan “Dy


kamu terluka?” Lisa mengankat baju kaos yang Abdy kenakan lalu meraba bagian


perut Abdy.


Sementara Abdy yang melihat Lisa meraba perutnya berkata. “Ao,


ao Lis, hentikan.” Abdy mengatakan itu karna ia merasa sangat geli.


Dan itu membuat Lisa salah faham, dengan melihat reaksi yang


di tunjukkan Abdy, karna ia berpikir Abdy meringgis kesakitan di saat ia meraba


perutnya.


“Bagian mana yang sakit Dy? kenapa aku tidak menemukan


lukanya?” Lisa kembali meraba perut Abdy dan itu membuatnya terkekeh.


“Ao, ao, ao, Lis hentikan, aku merasa tidak tahan jika kamu


melakukan itu padaku.” Abdy berusaha melepas tangan Lisa dari perutnya dan itu


memebuat Lisa merasa bingun.


“Jawab Dy bagian mana yang sakit? kamu jangan membuat aku


panik seperti ini” Lisa menatap wajah Abdy ketika selesai mengatakan itu.


“Di sini yang sakit Lis.” Menunjuk arah hatinya “Namun yang


terluka di sini.” Abdy memperlihatkan lengan yang terluka kepada Lisa.


Dan itu membuat Lisa merasa sangat terkejut, terkejut


melihat luka goresan yang begitu sangat dalam di lengan Abdy.


“Ya, Tuhan!” meraih lengan Abdy lalu melihatnya “Kamu


terkena goresan ini di mana?” Lisa menanyakan itu sambil melihat ke arah wajah


Abdy.


“Ah, sudahlah Lis itu tidak apa-apa di banding rasa sakit di


sini.” Abdy kembali menunjuk arah hatinya dan itu membuat Lisa kembali


“Aku juga merasakan itu Dy, sama seperti yang kamu rasakan


saat ini.”


Setelah mengatakan itu Lisa melepas pelukannya, lalu berdiri


dan berjalan ke arah lemarinya lalu mengeluarkan kotak obat untuk mengobati


luka goresan yang ada di lengan Abdy.


Abdy yang melihat Lisa tengah mengeobati lukanya, tersenyum


sambil berkata.


“Aku mencintaimuLis, sangat mencintaimu.”


“Aku juga sangat mencintaimu Dy, aku akan mati jika aku


harus berpisah darimu.”


Lisa kembali mengatakan kata kematian dan Abdy tidak suka


mendengar kata itu keluar dari dalam mulut Lisa, dan itu membuat Abdy menarik


Lisa masuk ke dalam pelukannya, dan memeluknya dengan sangat erat seakan ia


tidak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Lisa.


“Dengar Lis,aku minta padamu jangan pernah mengatakan


kata-kata itu lagi, aku tidak suka mendengarnya.” Abdy menekannkan kata-katanya


agar Lisa tidak mengatakan kata-kata itu lagi,karna ia tidak menyukai kata-kata


itu.


Waktu terus berlalu, Abdy merebahkan tubuhnya di atas tempat


tidur Lisa, sementara Lisa meletakkan kepalanya di dada bidang Abdy, mereka


berdua seperti larut dalam pemikiran masing-masing, hanya ada suara napas


mereka yang terdengar, dan tangan Abdy yang mengelus lembut bahunya sementara


Lisa melingkarkan tangannya di perutnya.


Mereka berdua seperti memikirkan jalan keluar untuk masalah


yang tengah mereka berdua hadapi, hingga tidak menyadri kalau saat ini jam


telah menunjukkan pukul lima pagi.


Para pelayan di rumah Lisa semuanya mulai bangun untuk


membersikan rumah dan juga menyiapkan makanan untuk majikannya, dan begitupun


dengan Rendi dan Clarisa istrinya mereka berdua sudah bangun dan berencana


ingin kekamar putrinya karna semalaman ia mengunci pintu kamar putrinya dan


tidak membiarkannya keluar.


Sementara di kamar dalam kamar Lisa, Abdy dan Lisa masih


setia saling berpelukan dan tidak menyadari kalau kedua orang tuanya tengah


berjalan ke arah kamar putrinya.


Dengan sangat pelan Rendi membuka kunci pintu kamar putrinya


dan mendapati Lisa tengah berpelukan dengan Abdy pemuda yang paling tidak di

__ADS_1


sukainya dan kata lain membencinya.


“Hei, apa yang kalian berdua lakukan!?” Rendi berteriak


ketika melihat putrinya tengah berpelukan dengan kekasihnya di atas tempat


tidur.


“Ayah.” Lisa yang mendengar teriakan Ayahnya dengan segera


ia melepas pelukannya dari tubuh Abdy lalu bangun, dan begitupun dengan Abdy


yang ikut bangun ketika mendengar teriakan Ayah Lisa.


Plakkk.


“Dasar anak kurang ajar!” berteriak “Tidak tahu diri!” Rendi


berjalan ke arah Abdy dan lansung kemukul wajahnya dengan begitu sangat


kerasnya dan itu membuat pinggir bibir Abdy mengeluarkan darah, bekas pukulan


Rendi di waktu sore belum hilang kini di tambah saat ini dan itu membuat Wajah


Abdy benar-benar menghitam karna terkena pukulan lagi dari calon ayah mertunya.


Lisa yang melihat Abdy mendapat pukulan dari Ayahnya kembali


berteriak, “Ayah, hentikan aku mohon, Mah, tolong hentikan Ayah.” Lisa melihat


ke arah wajah Ibunya ketika mengatakan itu.


Clarisa yang melihat putrinya berteriak dan menangis seperti


itu, ikut menangis karna tidak tega melihat putrinya tersiksa seperti itu.


“Ayah, hentikan! Cukup!” Clarisa berdiri di depan suaminya


ketika mengatakan itu “Apa Ayah sadar? Kalau saat ini kita telah menyiksa putri


kita sendiri, ingat Yah, Lisa itu putri kita satu-satunya, kebahagiannya adalah


kebahagian kita juga.” Clarisa mencoba menenangkan suaminya yang kini tengah


sangat marah melihat putrinya bersama dengan seorang pemuda yang sangat di


bencinya.


Clarisa adalah orang pertama yang menentang keinginan


suaminya yang ingin menikahikan putinya dengan Romi, karna ia tau semua


keburukan Romi setelah Lisa memperlihat vidio mesum Romi dengan selingkuhannya


dan itu membuat pertunangannya batal karna Romi tidak setia terhadap putrinya.


Namun karna Rendi terlalu takut jatuh bangktut dan miskin


hingga akhirnya ia menerima permintaan Romi dan kedua orang tuanya untuk


menikahkan Lisa dengan putranya dengan jaminan semua utang-utangnya lunas dan


jug bersedia untuk membantu memajukan perusahaannya yang kini mengalami


kebangkrutan.


“Aku tidak perduli Ma! Yang jelasnya Lisa harus menikah


dengan Romi, apa kata tetangga dan orang-orang kalau mengetahui semua itu. Undangan


telah di sebar kemana-mana apa kita masih bisa mengundur pernikahan ini.” Rendi


ikut berteriak di hadapan istrinya dan itu membuat Clarisa memeluk putriny


dengan sangat erat.


“Maafkan Mama Lisa, Mama tidak tau harus mengatakan apalagi


kepada Ayahmu yang egois ini, Ayahmu yang terlalu takut dengan kemiskinan


membuatnya harus mengorbankanmu seperti ini.” Dengan deraian air mata Clarisa


mengatakan semua itu kepada putrinya dan Abdy ikut mendengar semua yang di


ucapkan Mama Lisa.


Sementara Rendi yang mendengar ucapan istrinya, bukannya


merasa bersalah justru ia keluar dari dalam kamar putrinya lalu menelpon kantor


polisi dan membuat laporan atas pencurian yang di lakukan seoarang pemuda di


rumahnya, dan itu membuat beberapa polisi datang ke rumah Lisa untuk menangkap


Abdy.


Setelah setengah jam, para polisi datang ke rumah Rendi


untuk membawa Abdy ke penjara, Lisa yang melihat hal itu kembali menangis dan


menjerit dengan apa yang telah di lakukan Ayahnya kepada orang yang sangat di


cintainya.


“Apa yang Ayah lakukan?” Lisa berteriak ketika melihat


tangan Abdy di borgol.


Sementara Abdy yang melihat tangannya di borgol hanya


tersenyum, sambil melihat ke arah Lisa dan mamanya. Tampa perlawanan Abdy


mengikuti langkah para polisi yang kini tengah memborgol tangannya, namun


sebelum ia keluar dari dalam kamar Lisa, Abdy meminta kepada polisi untuk


membiarkannya mengatakan sesuatu kepada oranga yang di cintainya.


“Maaf Pak, tolong izinkan saya berbicara kepada orang yang


sangat aku cintai.”


“Baiklah silahkan.”


Setelah mendapat izin dari polisi Abdy berjalan ke arah Lisa


dengan senyuman yang ia sunggingkan agar bisa menjadi kekuatan untuk Lisa


itulah yang ada di dalampikiran Abdy saat ini.


“Lisa, kamu jangan pernah melakukan apapun yang akan


membuatku merasa sangat terluka.” Mengusap wajah Lisa yang penuh dengan air


mata “Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk denganmu, kamu percayakan


padaku? Hem” mengecup lembut dahi Lisa di hadapan Clarisa Ibunya dan itu


membuat Clarisa tersenyum melihat ke arah putrinya dan juga kekasihnya “Aku


akan melepaskanmu dari jeratan pernikahan ini”


Setelah mengatakan itu Abdy juga berpesan kepada Clarisa


selaku ibu Lisa untuk menjaga Lisa dengan baik.


“Tolong! Jaga Lisa tante, jangan biarkan ia merasa sendiri


dengan semua kejadian ini.” Abdy tersenyum hangat setelah mengatakan itu kepada

__ADS_1


Ibu Lisa.


__ADS_2