
Karna terlalu mencintai kekasihnya, takut terjadi sesuatu
yang buruk terhadap orang yang sangat yang di cintainya terkadang membuat orang
lupa berpikir dengan jernih, dan lupa segala batasan untuk dirinya dan juga
untuk orang yang ia cintai.
Itulah yang saat ini Abdy lakukan, ia tidak berpikir dengan
jernih, karna merasa sangat takut terjadi sesuatu yang buruk dengan orang yang
sangat di cintainya.
Abdy berlari kecil menuju ke arah mobilnya, lalu
melajukannya keluar dari pintu gerbang rumah kakaknya menuju arah rumah Lisa,
Abdy mematikan mesin mobilnya ketika ia sampai di perapatan jalan yang tidak
jauh dari rumah orang tua Lisa.
Abdy keluar dari dalam mobilnya, lalu berjalan ke arah depan
rumah Lisa, dan mencari cara agar ia bisa menyelinap masuk dan menhampiri kamar
Lisa, dan bukan Abdy namanya kalau tidak bisa menemukan cara untuk menyelinap
masuk.
Abdy mulai memanjat pagar rumah Lisa dengan sangat pelan,
dan di saat Abdy hampir sampai di dalam tiba-tiba lengan terkena goresan pagar
dan itu membuat terluka hingga berdarah, Abdy yang tidak mengenakan jaketnya
dan hanya mengenakan baju kaos putih dan membuat darah di lengannya menempel di
daerah perut baju yang ia kenakan.
“Ah.” Abdy melihat lengannya yang tergore dengan ujung pagar
yang kini tengah mengeluarkan darah “Semua ini untuk cintaku.”
Abdy kembali berjalan dengan cara mengedap-ngedap agar tidak
ada seorang pun yang mengetahui kalau saat ini ia masuk ke dalam rumah Lisa
sudah seperti pencuri, iya pencuri hati.
Abdy mulai melihat ke atas di lantai dua dimana kamar Lisa
berada, Abdy kembalim memikirkan cara bagaimana ia bisa sampai di balkom kamar
Lisa, dan bukan Abdy lagi namanya kalau ia tidak menemukan ide cemerlan untuk
naik di balkom kamar yang di tempati Lisa.
Karna terlalu mencintai Lisa, Abdy sampai melakukan semua
itu, ia tidak memikirkan lagi apa yang akan di katakan orang tua Lisa ketika
melihatnya berada di dalam kamar putrinya, namun satu yang ada di dalam pikiran
Abdy saat ini, ia ingin melihat keadaan orang yang begitu sangat pengtin dalam
kehidupannya.
Abdy kembali memanjat, di jendela rumah Lisa, lalu melompat
untuk meraih besi penghalang yang ada di balkom rumah Lisa, sekali melompat
tangan Abdy lansung memegan erat besi penghalang tersebut dan itu memudahkannya
untuk segera naik di atas balkom.
Setelah sampai di balkom kamar Lisa, Abdy berjalan mendekat
ke arah pintu kaca yang menghalangi antara balkom dan kamar Lisa.
Abdy melihat Lisa tengah memeluk bantal gulingnya sambil
menangis melihat ke arah layar hapenya dan Abdy tidak tau apa yang tengah Lisa
lihat yang jelasnya Abdy melihat Lisa tengah menangis.
“Lis” Abdy mengetuk pelan kaca pembatas antara kamar Lisa
dan balkom yang di tempatinya saat ini.
Lisa yang mendengar suara ketukan dari balik pintu balkomnya
dengan segera melihat ke arah sana, dan melihat Abdy tengah melambaikan
tangannya.
“Abdy.” Lisa bangun lalu berangjak dari atas tempat tidurnya
dan segera berjalan ke arah pintu pembatas untuk segera membukakan pintu untuk
Abdy orang yang sangat di cintainya.
Lisa membuka pintu kamarnya dan mendapatkan Abdy tengah
berdiri di hadapannya, Lisa yang melihat itu dengan segera berhambur memeluk
tubuh Abdy dengan sangat kuat.
Hiks, hiks, hiks.
Lisa memeluk erat tubuh Abdy sambil menangis, sementara Abdy
yang mendapat pelukan erat dari orang yang di cintainya ikut membalsanya dengan
sangat erat juga.
Cinta, cinta, terkadang orang merasa sangat bahagi bisa
bersama orang yang sangat di cintainya, dan juga terkadang sangta menyakitkan
jika cintai itu sulit untuk di persatuhkan itulah yang tengah di rasakan Lisa
dan Abdy, mereka berdua saling mencintai namun ada dindin pemisah yang begitu
sangat tinggi berdiri di hadapan mereka.
“Abdy, hiks, hiks, hiks.” Menangis “Bawa aku pergi dari sini
Dy, aku tidak bisa melewati hariku tampa menatap wajahmu, aku mohon Dy, lakukan
ini untukku.” Lisa memohon kepada Abdy agar Abdy ingin membawanya pergi.
“Tidak Lis.” Melepas pelukan “Aku tidak akan melakukan hal
itu, karna aku tidak ingin orang tuamu berpikir buruk tentangku dan kedua orang
tuamu akan tambah membencik jika aku melakukan hal ini.” Abdy memegan wajah
Lisa dengan kedua tangannya ketika mengatakan itu.
“Tapi Dy, bagaimana jika pernikahan ini sampai terjadi? Aku akan
mati Dy, aku bersumpah akan mela?...”
Lisa mebghentikan ucapannya ketika bibir Abdy menutup
mulutnya dengan cara mengecup lembut bibirnya, cukup lama mereka berciuman
hingga pautan bibir mereka berdua terlepas.
__ADS_1
“Aku tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi Lis,
selama aku masih hidup! Aku tidak akan pernah membiarkanmu menjadi milik orang
lain.” Menatap wajah Lisa dengan penuh cinta “Dan satu lagi, jangan pernah mengatakan
hal nekat itu lagi Lis, karna aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan
semua itu.” Abdy kembali memeluk dan mengecup lembut dahi Lisa setelah selesai
mengatakan itu.
“Aku percaya padamu Dy.”
“Kalau kamu percaya padaku” mengusap air mata Lisa “Jangan
menangis lagi, lihat matamu sudah seperti bakpao.”
Abdy terkekeh setelah mengatakan itu dan itu juga membuat
Lisa ikut terkekeh. Lisa melepas pelukannya, lalu berjalan ke arah tempat
tidurnya karna ia merasa lelah berdiri, namun sebelum ia melangkah terlalu jauh
Lisa kembali berbalik melihat ke arah abdy dan terkejut melihat bekas noda
darah yang ada di baju yang Abdy kenakan.
“Darah!” Lisa kembali berjalan mendekat ke arah Abdy lalu
melihat noda darah yang ada di bagian perut baju kaos yang Abdy kenakan “Dy
kamu terluka?” Lisa mengankat baju kaos yang Abdy kenakan lalu meraba bagian
perut Abdy.
Sementara Abdy yang melihat Lisa meraba perutnya berkata. “Ao,
ao Lis, hentikan.” Abdy mengatakan itu karna ia merasa sangat geli.
Dan itu membuat Lisa salah faham, dengan melihat reaksi yang
di tunjukkan Abdy, karna ia berpikir Abdy meringgis kesakitan di saat ia meraba
perutnya.
“Bagian mana yang sakit Dy? kenapa aku tidak menemukan
lukanya?” Lisa kembali meraba perut Abdy dan itu membuatnya terkekeh.
“Ao, ao, ao, Lis hentikan, aku merasa tidak tahan jika kamu
melakukan itu padaku.” Abdy berusaha melepas tangan Lisa dari perutnya dan itu
memebuat Lisa merasa bingun.
“Jawab Dy bagian mana yang sakit? kamu jangan membuat aku
panik seperti ini” Lisa menatap wajah Abdy ketika selesai mengatakan itu.
“Di sini yang sakit Lis.” Menunjuk arah hatinya “Namun yang
terluka di sini.” Abdy memperlihatkan lengan yang terluka kepada Lisa.
Dan itu membuat Lisa merasa sangat terkejut, terkejut
melihat luka goresan yang begitu sangat dalam di lengan Abdy.
“Ya, Tuhan!” meraih lengan Abdy lalu melihatnya “Kamu
terkena goresan ini di mana?” Lisa menanyakan itu sambil melihat ke arah wajah
Abdy.
“Ah, sudahlah Lis itu tidak apa-apa di banding rasa sakit di
sini.” Abdy kembali menunjuk arah hatinya dan itu membuat Lisa kembali
“Aku juga merasakan itu Dy, sama seperti yang kamu rasakan
saat ini.”
Setelah mengatakan itu Lisa melepas pelukannya, lalu berdiri
dan berjalan ke arah lemarinya lalu mengeluarkan kotak obat untuk mengobati
luka goresan yang ada di lengan Abdy.
Abdy yang melihat Lisa tengah mengeobati lukanya, tersenyum
sambil berkata.
“Aku mencintaimuLis, sangat mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu Dy, aku akan mati jika aku
harus berpisah darimu.”
Lisa kembali mengatakan kata kematian dan Abdy tidak suka
mendengar kata itu keluar dari dalam mulut Lisa, dan itu membuat Abdy menarik
Lisa masuk ke dalam pelukannya, dan memeluknya dengan sangat erat seakan ia
tidak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Lisa.
“Dengar Lis,aku minta padamu jangan pernah mengatakan
kata-kata itu lagi, aku tidak suka mendengarnya.” Abdy menekannkan kata-katanya
agar Lisa tidak mengatakan kata-kata itu lagi,karna ia tidak menyukai kata-kata
itu.
Waktu terus berlalu, Abdy merebahkan tubuhnya di atas tempat
tidur Lisa, sementara Lisa meletakkan kepalanya di dada bidang Abdy, mereka
berdua seperti larut dalam pemikiran masing-masing, hanya ada suara napas
mereka yang terdengar, dan tangan Abdy yang mengelus lembut bahunya sementara
Lisa melingkarkan tangannya di perutnya.
Mereka berdua seperti memikirkan jalan keluar untuk masalah
yang tengah mereka berdua hadapi, hingga tidak menyadri kalau saat ini jam
telah menunjukkan pukul lima pagi.
Para pelayan di rumah Lisa semuanya mulai bangun untuk
membersikan rumah dan juga menyiapkan makanan untuk majikannya, dan begitupun
dengan Rendi dan Clarisa istrinya mereka berdua sudah bangun dan berencana
ingin kekamar putrinya karna semalaman ia mengunci pintu kamar putrinya dan
tidak membiarkannya keluar.
Sementara di kamar dalam kamar Lisa, Abdy dan Lisa masih
setia saling berpelukan dan tidak menyadari kalau kedua orang tuanya tengah
berjalan ke arah kamar putrinya.
Dengan sangat pelan Rendi membuka kunci pintu kamar putrinya
dan mendapati Lisa tengah berpelukan dengan Abdy pemuda yang paling tidak di
__ADS_1
sukainya dan kata lain membencinya.
“Hei, apa yang kalian berdua lakukan!?” Rendi berteriak
ketika melihat putrinya tengah berpelukan dengan kekasihnya di atas tempat
tidur.
“Ayah.” Lisa yang mendengar teriakan Ayahnya dengan segera
ia melepas pelukannya dari tubuh Abdy lalu bangun, dan begitupun dengan Abdy
yang ikut bangun ketika mendengar teriakan Ayah Lisa.
Plakkk.
“Dasar anak kurang ajar!” berteriak “Tidak tahu diri!” Rendi
berjalan ke arah Abdy dan lansung kemukul wajahnya dengan begitu sangat
kerasnya dan itu membuat pinggir bibir Abdy mengeluarkan darah, bekas pukulan
Rendi di waktu sore belum hilang kini di tambah saat ini dan itu membuat Wajah
Abdy benar-benar menghitam karna terkena pukulan lagi dari calon ayah mertunya.
Lisa yang melihat Abdy mendapat pukulan dari Ayahnya kembali
berteriak, “Ayah, hentikan aku mohon, Mah, tolong hentikan Ayah.” Lisa melihat
ke arah wajah Ibunya ketika mengatakan itu.
Clarisa yang melihat putrinya berteriak dan menangis seperti
itu, ikut menangis karna tidak tega melihat putrinya tersiksa seperti itu.
“Ayah, hentikan! Cukup!” Clarisa berdiri di depan suaminya
ketika mengatakan itu “Apa Ayah sadar? Kalau saat ini kita telah menyiksa putri
kita sendiri, ingat Yah, Lisa itu putri kita satu-satunya, kebahagiannya adalah
kebahagian kita juga.” Clarisa mencoba menenangkan suaminya yang kini tengah
sangat marah melihat putrinya bersama dengan seorang pemuda yang sangat di
bencinya.
Clarisa adalah orang pertama yang menentang keinginan
suaminya yang ingin menikahikan putinya dengan Romi, karna ia tau semua
keburukan Romi setelah Lisa memperlihat vidio mesum Romi dengan selingkuhannya
dan itu membuat pertunangannya batal karna Romi tidak setia terhadap putrinya.
Namun karna Rendi terlalu takut jatuh bangktut dan miskin
hingga akhirnya ia menerima permintaan Romi dan kedua orang tuanya untuk
menikahkan Lisa dengan putranya dengan jaminan semua utang-utangnya lunas dan
jug bersedia untuk membantu memajukan perusahaannya yang kini mengalami
kebangkrutan.
“Aku tidak perduli Ma! Yang jelasnya Lisa harus menikah
dengan Romi, apa kata tetangga dan orang-orang kalau mengetahui semua itu. Undangan
telah di sebar kemana-mana apa kita masih bisa mengundur pernikahan ini.” Rendi
ikut berteriak di hadapan istrinya dan itu membuat Clarisa memeluk putriny
dengan sangat erat.
“Maafkan Mama Lisa, Mama tidak tau harus mengatakan apalagi
kepada Ayahmu yang egois ini, Ayahmu yang terlalu takut dengan kemiskinan
membuatnya harus mengorbankanmu seperti ini.” Dengan deraian air mata Clarisa
mengatakan semua itu kepada putrinya dan Abdy ikut mendengar semua yang di
ucapkan Mama Lisa.
Sementara Rendi yang mendengar ucapan istrinya, bukannya
merasa bersalah justru ia keluar dari dalam kamar putrinya lalu menelpon kantor
polisi dan membuat laporan atas pencurian yang di lakukan seoarang pemuda di
rumahnya, dan itu membuat beberapa polisi datang ke rumah Lisa untuk menangkap
Abdy.
Setelah setengah jam, para polisi datang ke rumah Rendi
untuk membawa Abdy ke penjara, Lisa yang melihat hal itu kembali menangis dan
menjerit dengan apa yang telah di lakukan Ayahnya kepada orang yang sangat di
cintainya.
“Apa yang Ayah lakukan?” Lisa berteriak ketika melihat
tangan Abdy di borgol.
Sementara Abdy yang melihat tangannya di borgol hanya
tersenyum, sambil melihat ke arah Lisa dan mamanya. Tampa perlawanan Abdy
mengikuti langkah para polisi yang kini tengah memborgol tangannya, namun
sebelum ia keluar dari dalam kamar Lisa, Abdy meminta kepada polisi untuk
membiarkannya mengatakan sesuatu kepada oranga yang di cintainya.
“Maaf Pak, tolong izinkan saya berbicara kepada orang yang
sangat aku cintai.”
“Baiklah silahkan.”
Setelah mendapat izin dari polisi Abdy berjalan ke arah Lisa
dengan senyuman yang ia sunggingkan agar bisa menjadi kekuatan untuk Lisa
itulah yang ada di dalampikiran Abdy saat ini.
“Lisa, kamu jangan pernah melakukan apapun yang akan
membuatku merasa sangat terluka.” Mengusap wajah Lisa yang penuh dengan air
mata “Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk denganmu, kamu percayakan
padaku? Hem” mengecup lembut dahi Lisa di hadapan Clarisa Ibunya dan itu
membuat Clarisa tersenyum melihat ke arah putrinya dan juga kekasihnya “Aku
akan melepaskanmu dari jeratan pernikahan ini”
Setelah mengatakan itu Abdy juga berpesan kepada Clarisa
selaku ibu Lisa untuk menjaga Lisa dengan baik.
“Tolong! Jaga Lisa tante, jangan biarkan ia merasa sendiri
dengan semua kejadian ini.” Abdy tersenyum hangat setelah mengatakan itu kepada
__ADS_1
Ibu Lisa.