
Abdy yang mendengar ucapan dokter merasa sangat sedih ia
merasa dunianya runtuh seketika, kejutan yang ingin ia berikan untuk Lisa kini
berakhir dengan rasa penyelasan dalam dirinya.
“Maafkan aku Lis. Bukan maksud aku ingin membuatmu seperti
ini.” Abdy berbalik melihat ke arah pintu, dan melihat berangka yang Lisa tempati
tidak sadarkan diri di dorong oleh para perawat keluar dari dalam ruangan
pemeriksaan tersebut.
Sedankan Aby dan Becca mulai mengurus kamar untuk Lisa
tempati di rawat setelah ia keluar dari ruangan pemeriksaan, karna itu saran
dokter agar mengambil kamar untuk pasien tempati di rawat.
Abdy yang melihat itu dengan segera meraih pinggir berangka
yang Lisa tempati tidak sadarkan diri, lalu ikut mendorong berangka menuju
kamar VVIP yang telah Aby pesan ketika dokter mengatakannya.
Aby sengaja memilih kamar khusus VVIP karna ia tau Abdy
tidak akan pernah meninggalkan Lisa biar untuk sedetikpun ia tidak akan mau,
hingga ia memilih kamar VVIP itu.
Kamar yang bisa di tempati oleh seluruh anggota keluarganya,
dan itu membuat mereka semua merasa nyaman meski berada di dalam rumah sakit.
Abdy tidak berhenti menatap wajah Lisa yang kini terlihat
sangat pucat, sambil mendorong berangka Abdy tidak pernah berpaling melihat
wajah Lisa meski sedikitpun.
Begitupun dengan Clarisa dan Rendi yang ikut mendorong
berangka rumah sakit yang di tempati putrinya tidak sadarkan diri.
“Lisa, anakku. Hiks, hiks, hiks.” Clarisa tidak berhenti
menengis ketika menatap wajah putrinya yang kini terlihat sangat pucat.
Nabila dan Doni ikut
berjalan, sementara Aby dan Becca telah menanti mereka di kamar yang telah di
siapkan oleh para perawat rumah sakit.
Di dalam hati Abdy tidak pernah berhenti meruntuki dirinya
sendiri karna ide konyolnya yang tidak ingin memberitahukan Lisa soal
pernikahan yang akan di jalankannya besaok, kini berakhir dengan tindakan Lisa
yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Setelah sampai di dalam kamar, Lisa ingin di pindahkan ke
atas berangka yang yang ada di dalam kamar VVIP, namun dengan segera Abdy
berkata.
“Biar aku saja yang mengankat tubuh calon istriku.”
Setelah mengatakan itu Abdy mulai mengankat tubuh Lisa,
tubuh yang tidak berdaya dan sangat lemah pindak ke atas berangka yang lainnya,
di bantu Becca memegan kepalanya, karna kepala Lisa tidak bisa...maaf ya
Autornya tidak tau bahasanya.
Hingga Becca hanya mengankat kepala Lisa, dengan sangat
pelan Abdy merebahkan tubuh Lisa di atas berangka, lalu menyelimutinya sebatas
dada.
Rendi yang melihat ketulusan Cinta Abdy, berjalan mendekat
ke arah Abdy sambil mengatupkan tangannya.
“Maafkan aku nak” menangis.
Abdy yang mendengar ucapan Rendi berbalik melihat, dan
mendapatkan Rendi tengah mengatupkan tangan dengan wajah yang basah karna
menangis.
“Karna aku telah mencaci maki dirimu dan juga mengataimu dan
bahkan aku sampai memukul wajahmu. Aku benar-benar minta maaf, hik, hiks, hiks.”
Setelah mengatakan itu Rendi ingin berlutut di kaki Abdy.
Namun sebelum itu dengan segera Abdy memegan kedua bahu
Rendi sambil berkata.
“Apa yang anda lakukan?” membantu Rendi berdiri seperti
semula “Aku telah melupakan dan memaafkan semua itu.”
Rendi berdiri dan masih mengatupkan tangannya di hadapan
wajah Abdy, dan itu membuat Abdy merasa sedikit berdosa dengan apa yang telah
Ayah Lisa lakukan padanya.
Karna menurut ajaran yang Nabila ajarkan kepada
putra-putranya, perbanyaklah minta maaf kepada orang yang lebih tua darimu,
meskipun orang itu berbuat tidak baik kepadamu, jangan pernah merasa dendam
ataupun membenci karna itu semua tidak akan gunanya jika kamu tidak membuka
hati yang lapang untuk memaafkan.
“Ayah.” Abdy memanggil Rendi dengan sebutan ayah dan itu
membuat seluruh yang ada di dalam ruangan melihat ke arah mereka berdua.
Rendi yang mendengar Abdy memanggilnya Ayah, merasa sangat
terharu, karna merasa terharu Rendi menangis seperti anak kecil di hadapan
Abdy.
Dan itu membuat Nabila berjalan ke arah Rendi sambil
berkata. “Ren, kamu jangan menangis.” Menepuk pelan bahu Rendi.
“Apakah ayah mengangapku putramu? Jika ayah mengangapku
putramu berhenti melakukan ini.” Abdy menggengang tangan Rendi yang kini tengah
mengatup di depan wajahnya.
Rendi yang mendengar ucapan Abdy, melihat ke arah Nabila
yang kini tengah berdiri di sampinnya.
__ADS_1
“Aku salut dengan didikanmu Nabila, aku sungguh bangga
melihat didikanmu kepada kedua putramu, kamu telah mendidiknya dengan sangat
baik, hingga ia memiliki sipat pemaaf seperti ini.”
Rendi tidak berhenti memuji dan mengagumi didikan yang
Nabila berikan kepada kedua putra-putranya.
Nabila yang mendengar sanjungan Rendi hanya tersenyum, karna
memang yang semua Rendi katakan benar adanya.
“Mulai hari ini aku serahkan tanggun jawabku kepadamu Abdy.”
Rendi menepuk pelan bahu Abdy ketika selesai mengatakan itu.
“Dengan senang hati aku menerima tanggun jawab ini Ayah, aku
akan sangat bersyukur jika ayah mempercayaiku untuk menjaga Lisa dengan baik.”
Setelah mengatakan itu Abdy melihat ke arah Lisa yang kini tengah
terbaring di atas berangka rumah sakit ,masi dalam keadaan keritis dengan
bantuan pernapasan yang masih menempel di bagian mulutnya.
Abdy meraih tangan Lisa lalu mengecupnya dengan sangat
lembut tampa merasa malu kepada seluruh anggota keluarga yang tengah melihat ke
arahnya.
“Cepat bangun Lis, setelah itu kita akan segera menikah.”
Abdy mengecup lembut dahi Lisa ketika selesai mengatakan itu.
Seluruh anggota keluarga yang mendengar dan melihat Abdy
memperlakukan Lisa dengan begitu sangat baik, tersenyum karna merasa sangat
bahagia.
Abdy melihat ke arah Clarisa ibu dari Lisa yang kini tengan
menatap wajah putrinya lalu melihat ke arah Rendi yang kini tengah berdiri
menyandarkan tubuhnya di dindin ruangan sambil melihat ke arah wajah putrinya.
Abdy pun berjalan ke arah Clarisa, lalu berkata. “Ma, apa
mama menyanyangiku?” tanya Abdy pelan.
Clarisa yang mendengar pertanyaan Abdy, berdiri dari
duduknya sambil melihat ke arah Abdy yang kini tengah melihat ke arahnya.
“Iya, nak aku sangat menyangimu, sama seperti aku
menyanyangi Lisa putriku.” Clarisa melihat ke arah wajah putrinya ketika
selesai mengatakan itu.
Abdy menarik, napasnya lalu membuangnya secara perlahan lalu
berkata.
“Tolong maafkan Ayah, ayah melakukan semua ini karna ia
sangat menyanyangi Lisa, ia ingin putrinya mendapatkan pendampin yang layak dan
bisa membuat bahagi. Aku sangat mengerti kenapa ayah melakukan hal itu, karna
ia ingin putrinya hidup bahagi.
Clarisa yang mendengar ucapan Abdy melihat ke arah suaminya
“Aku akan memaafkan jika putriku telah sadar dan melewati
masa keritisnya ini.” Clarisa kembali melihat ke arah wajah putrinya ketika
selesai mengatakan itu.
“Ma, jangan berkata seperti itu. Lisa pasti akan sadar dan
sembuh.” Abdy nampak sangat yakin meskipun sebenarnya ia juga merasa sangat
khawatir dengan keadaan Lisa saat ini.
“Lisa akan sangat sedih jika mengetahui mama dan Ayah
bertengkar seperti ini. Lisa itu begitu sangat menyayangi kalian berdua.”
Setelah mengatakan itu Abdy berjalan ke arah Rendi lalu
meraih tangan Rendi berjalan ke arah istrinya yang kini tengah menatap ke
arahnya.
“Aku ingin kalian berdua tidak bertengkar lagi” Abdy meraih
tangan Clarisa lalu menyimpan di atas tangan Rendi “Kalian saling memaafkan dan
berdoa untuk kesembuhan Lisa.”
Abdy tersenyum ketika
selesai mengatakan itu, sambil menatap wajah kedua orang tua Lisa yang kini
tengah menatap ke arahnya.
Karna menurut Abdy mendamaikan keduanya akan sangat baik,
agar kekompakan dalam dua keluarga bisa terus terjaga, karna jika salah satu
merasa tidak nyaman maka yang lainnya akan merasa lebih tidak nyaman, itulah
yang ada di dalam pikiran Abdy saat ini.
“Kamu memang anak yang sangat baik Abdy,” ucap pelan Clarisa
.
“Siapa dulu donk.” Abdy melihat ke arah Nabila dan Doni.
“Putra aku lah.” Jawab Nabila dengan senyuman hangannya.
Dan itu membuat mereka semua tersenyum dan melupakan sejenak
rasa sedih yang tengah mereka rasakan saat ini.
Malam semakin larut, semua anggota keluarga telah kembali ke
rumah masing-masing atas permintaan paksa Abdy, karna Abdy hanya ingin menemani
dan menjaga Lisa seorang diri.
Meskipun Clarisa menolak karna ia juga ingin merawat
putrinya yang kini masih dalam keadaan keritis.
“Biarkan mereka semua kembali. Aku ingin tinggal merawat dan
menjaga putriku” Tolak Clarisa ketika Abdy menyuruh mereka untuk pulang untuk
beristirahat.
“Aku mohon ma, mama percaya kan kepadaku? Aku akan menjaga
Lisa dengan segenap jiwa dan ragaku” Abdy memegan tangan Clarisa ketika
__ADS_1
mengatakan itu.
Clarisa terdiam sejenak sambil melihat ke arah wajah Clarisa
ketika selesai mendengar apa yang baru saja Abdy katakan kepadanya
“Baiklah” tersenyum “Aku akan kembali dengan Ayah Lisa, tapi
besok pagi aku akan ke sini lagi dengan membawa pakaian ganti untuk Lisa.”
Abdy yang mendengar itu tersenyum hangat, karna ia ingin
mereka semua kembali ke rumah untu istirahat karna menurutnya cukup ia saja
yang menjaga dan menemani Lisa dan tidak membutuhkan yang lainnya.
Setelah ke dua orang Lisa pulang, Abdy berjalan ke arah Lisa,
lalu duduk di samping berangka yang telah di siapkan oleh pihak rumah sakit
sambil menatap wajah pucat Lisa.
Abdy meraih tangan Lisa, lalu berkata, “Cepat pulih ya
sayang” mengusap wajah Lisa “Agar kita bisa melanjutkan pernikahan kita yang
tertunda.” Abdy mengecup lembut punggun tangan Lisa ketika selesai mengatakan
itu.
“Apa kamu tau?” tersenyum sendiri “Kalau aku telah
menyiapkan kado untukmu, namun kamu ternyata lebih dulu memberiku kado.” Abdy
meneteskan air matanya ketika selesai mengatakan itu.
Karna ia merasa sangat menyesal dengan apa yang telah
terjadi dengan Lisa saat ini, karna ingin memberi kejutan yang indah untuk Lisa
kini justru ia yang mendapat kejutan yang terburuk dari Lisa.
“Maafkan aku sayang, semua ini karnaku karna ulahku,
sehingga kamu melakukan hal nekat seperti ini, cepat sadar dan pulih ya sayang.
Aku sangat mencintaimu.” Abdy berdiri lalu mengecup lembut dahi Lisa ketika
selesai mengatakan itu.
Di dalam kamar perawatan Lisa yang di tempati Abdy saat ini
begitu sangat sunyi, hanya ada suara napasnya dan juga suara napas Lisa.
Di dalam keheningan malam, Abdy menyandarkan tubuhnya di
sandaran kursi yang ada di sampin berangka yang di tempati Lisa saat ini.
Abdy mulai mengenang di mana ia bertemu untuk pertama
kalinya dengan Lisa, di mana Lisa telah meninggalkan bekas kukunya di lengan
Abdy ketika ia berada di dalam pesawat, karna saat itu Lisa naik pesawat untuk
pertama kalinya. Abdy tersenyum sendiri ketika ia mengingat hal itu.
Namun ketika ia mengingat dimana Lisa memilih
meninggalkannya untuk pergi ke Paris wajah Abdy kembali merasa sedih karna
waktu itu Abdy merasa sangat kehilangan, dan itu untuk pertama kalinya ia merasa
kehilangan seperti itu.
Abdy kembali tersenyum ketika mengetahui Lisa belum memiliki
kekasih, dan bertepatan hari itu dimana ia resmi menjadi sepasang ke kasih dan
melakukan hal yang romantisn bersama Lisa.
“Ah, begitu rumit kisah cinta kita Lisa. Aku tidak pernah
menduga kalau semuanya akan seperti ini.”
Abdy menarik napasnya lalu membuangnya secara perlahan
ketika selesai mengatakan itu, pelan-pelan Abdy mulai menguap karna waktu telah
menunjukkan pukul empat pagi, mungkin karna merasa sangat mengantuk Abdy
merebahkan kepalanya di di berangka yang di tempati Lisa sambil memegan tangan
Lisa hingga akhirnya ia terlelap.
Abdy terlelap sambil memegan tangan Lisa, karna ia berpikir
jika Lisa sadar ia akan lansung tau dari tangan Lisa yang ia pegan.
*"Lisa, Lisa tunggu aku" Abdy terus berlari mengejar Lisa *
yang tidak berhenti berlari.
sementara Lisa dengan tawa ceria terus berlari sambil berlata,
*"Ayo, Abdy kejar aku, jika kamu memang benar mencintaiku" dengan *
tawa ceria Lisa berlari sambil mengatakan itu.
dan hingga akhirnya Abdy bisa menangkap tubuh Lisa dan itu membuat Lisa berhenti berlari.
"sekarang kamu mau kemana?" Abdy melingkarkan tangannya di pinggul Lisa ketika mengatakan itu.
Lisa melingkarkan tangannya di leher Abdy lalu berkata, "Aku tidak akan kemana-mana, karna aku hanya akan selalu bersamamu untuk selamanya" Lisa menggesek-gesekkan hidungnya ketika selesai mengatakan itu kepada Abdy.
Abdy yang mendengar kata yang keluar dari dalammulut Lisa, tersenyum bahagia, hingga ia mendekatkan bibirnya di bibi rLisa dan mulai mengecupnya.
Namun sebelum ciuman itu berlanjut sebuah suara tengah
membangunkan Abdy dari dalam mimpinya.
“Maaf pak bangun.” Seorang suster membangunkan Abdy dengan
menepuk pelan bahunya “Kami ingin memeriksa keadaan pasien.” Ucap suster itu
sambil tersenyum.
Abdy yang mendengar ucapan pasien merasa sedikit terkejut
karan mendapat tepukan pelan di bahunya. Abdy bangun melihat ke arah perawat
yang kini tengah mulai memeriksa kondisi dan keadaan Lisa.
“Bagaimana keadaannya calon istri saya suster?” tanya Abdy
dengan nada suara seraknya.
“Detak jantungnya sedikit melemah, kami akan terus memantau
keadaannya karna saat ini kondisinya masih dalam keadaan keritis, mohon
bantuannya jika pasien mengalami sedikit kontaksi harap segera memencat bel
itu.” Suster menunjuk sebuah bel yang ada di atas kepala Lisa.
Setelah mengatakan hal itu kepada Abdy suster itu keluar
dari dalam ruangan kamar yang di tempati Lisa yang masih belum sadar. Meninggalkan
Abdy dengan wajah yang sangat pucat karna merasa sangat takut terjadi sesuatu
yang buruk dengan Lisa.
__ADS_1