
Wajah Albert nampak begitu sangat pucat, karna takut apa
yang akan Hamish lakukan padanya.
“Dimana putramu Ryo?” Hamish kembali mengeluarkan nada
datarnya, dan itu membuat tubuh Albert bergetar takut.
“Aku disini Om.” Ryo tersenyum melihat ke arah Hamish,
berusaha menutupi ketakutannya, meskipun sebenarnya dirinya begitu sangat
ketakutan “Ada apa mencariku Om? Apa ada sesuatu yang ingin Om sampaikan?” Ryo
berjalan mendekat ke arah Hamish yang kini mulai menatap tajam ke arahnya.
Melihat tatapan Hamish yang begitu sangat mematikan, melihat
ke arahnya membuat tubuh Ryo bergetar takut, takut jika Hamish sampai
mengetahui semuanya.
Dengan senyuman yang di paksakan Ryo tersenyum melihat ke
arah wajah Hamish yang kini ada di hadapannya. Hamish melingkarkan tangannya di
leher Ryo, dan itu membuat Ryo merasa begitu sangat ketakutan.
“Ryo.” Hamish menepuk bahu Ryo dengan sangat kasar dengan
tangannya yang kini tengah melingkar di bahu Ryo.
Karna menarasa begitu sangat ketakukan, dengan segera Ryo
menjawab ucapan Hamish. “Iya, Om. Ada apa?” Ryo melirik sejenak melihat ke arah
wajah Hamish yang kini tengah melihat ke arah wajahnya.
“Kamu tau kan? Kalau aku memiliki hewan peliharaan di
rumahku.” Hamish mengeluarkan pertanyaan yang begitu sangat mematikan membuat
bibir Ryo bergetar.
“Iya, Om, aku tau kalau Om memiliki binatan buas yang Om
pelihara.”
“Hem, bagus kalau kamu tau, dan apa kamu tau? Kalau sampai
aku mengetahui dan memiliki bukti siapa penyebab dari kecelakaan putriku dan
membuatnya harus meninggalkanku untuk selamanya. Aku tak akan segan-sagan
memberikan tubuhnya kepada hewan peliharaanku itu. Kamu tau kan? kalau hewan
peliharaanku begitu sangat menyukai memakan dagin manusia. Kamu tau itu kan?”
Setelah mengatakan itu, Hamish beserta anak buahnya keluar
dari kediaman Albert. Sementara Albert tak bisa berdiri dari duduknya karna
begitu sangat ketakutan, kaki dan lututnya terasa begitu sangat kaku, tubuhnya
masih bergetar mendengar semua peringatan yang keluar dari mulut Hamish.
Sementara Ryo tak bisa berkata apa-apa lagi. Ryo yang hanya
selalu mendengar ucapan Daddynya yang mengatakan kalau Hamish adalah orang yang
begitu sangat kejam, tak segan-sengan melenyapkan nyawa seseorang yang berani
menggangu ketenangannya dan ketenangan seluruh anggota keluarganya, kini
__ADS_1
membuktikannya sendiri.
“Ahh, Dad. Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat takut
dengan ucapan Om Hamish. Apakah yang di ucapkannya akan selalu di lakukannya?”
Ryo menatap ke arah wajah Daddynya yang kini masih terlihat masih sangat pucat
karna takut.
“Iya, Hamish akan selalu membuktikan semua kata-katanya, dan
untuk menghilangkang jejak orang yang telah di habisinya Hamish akan memberikan
tubuh orang yang di lenyapkannya kepada ketiga Harimaunya.
Sebulan telah berlalu, kini Aby kembali ke kota tempat
tinggalnya, dan memilih tinggal di Apartemennya dengan alasan ingin mengenang
cinta kasihnya bersama istrinya, istri yang sangat di cintainya, istri yang
begitu sangat dirindukannya, karna di Apartemennya itu awal dari kisa cinta
mereka di mulai.
Nabila yag melihat putranya terus bersedih dan berduka
seperti itu, merasa tak tega hingga akhirnya mereka semua memilih pindah di
Apartemen Aby dan tinggal bersama di sana. Tiap malam Aby selalu memandangi
poto istrinya, berharap istrinya akan segera kembali dan memeluknya dengan
sangat erat.
Sementara Abdy yang melihat saudaranya berduka seperti berusaha
yang Abdy lakukan tidak ada yang membuat Aby tersenyum.
Tak tahan melihat saudara terus bersedih seperti itu. Abdy
berlari keluar dari kamar Aby dengan mengusap air matanya yang kini mulai
membasahi wajahnya.
“Ma.” Abdy memeluk Nabila sambil menangis “Aku tak tahan
melihat penderitaan kaka, aku bisa merasakan kesedihan yang tengah di rasakannya. Aku bisa ikut merasakan
kesedihan dan rasa sakit kaka.” Abdy menangis sambil memeluk tubuh Nabila
ketika mengatakannya.
Mendengar suara putranya manangis, Nabila ikut menangis,
karna jujur Nabila masih tak percaya kalau menantunya benar-benar telah tiada.
Sementara Sameera semakin gencar mendekati Aby, karna
menurutnya sudah tak ada halangan lagi, karna halangan terbesarnya hanya istri
Aby, yang kini masih terbaring koma, dan sebentar lagi akan segera meninggal
itulah yang ada dalam pikiran Sameera saat ini.
Karna ingin mendekati Aby, Sameera bahkan mengikuti Aby
sampai ke kota tempat tinggalnya, sampai mencari tau dimana Aby tinggal saat
ini. Seprti siang ini Sameera mengambangi Apartemens Aby, mengira disana Aby
hanya tinggal sendirian dan akan mulai melancarkan aksinya.
__ADS_1
Dengan pakaian yang begitu sangat terbuka, Sameera menekan
bel Apartmens Aby. Nabila yang mendengar suara bel Apartmens putranya berbunyi
segera berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
“Iya, maaf anda mencari siapa?” Nabila menatap penampilan
gadis yang ada di hadapannya, yang terlihat begitu sangat seksi menurutnya.
“Benar ini Apartemens Aby.” Sameera membuka kecamata yang di
kenakannya dan terlihat sok dan sombon dari cara berbicaranya.
“Benar. Ini Apartemens Aby.”
Tampa di persilahkan Sameera menerobos masuk, dan itu
membuat Nabila merasa begitu sangat terkejut dengan perlakuan gadis yang tengah
mencari putranya.
“Hei, apa yang kamu lakukan? Cobalah bersikap sopan Nak.” Nabila
mencoba berbicara lembut kepada gadis yang ada di hadapannya.
“Ya, ampun Bi, Bibi tidak tau ya, kalau aku ini calon istri
Aby Atmaja.” Dengan sombongnya Sameera mengatakan itu pada Nabila. Tampa mengetahui
bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah Ibu dari pemuda yang tengah di
carinya.
Nabila yang mendengar ucapan gadis yang ada di hadapannya
terkejut. “Apa! Calon istri. Istri Aby baru saja meninggal sebulan yang lalu,
bahkan sampai sekarang Aby belum berhenti berduka di dalam kamarnya, lantas
dari mana asal gadis ini mengaku calon istrinya Aby.” Nabila terlihat bingun
melihat ke arah wanita yang kini tengah mengenakan pakaian yang kekurangan
bahan itu.
“Aby ada di kamarnya. Kenapa? Apa kamu ingin menemuinya? Kalau
kamu mau menemuinya sebentar aku akan memanggilnya.” Nabila berkata pelan dan
lembut melihat ke arah gadis yang ada di hadapannya.
“Tidak perlu Bi, biar aku saja yang menemuinya, sekarang
Bibi tunjukkan kamar Aby di seblah mana.” Sameera berbalik melihat ke arah
kamar yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Mendengar ucapan gadis yang ada di hadapannya, Nabila
menyengitkan dahi tak suka dengan perilaku gadis yang ada di hadapannya itu,
karna menurutnya gadis yang ada di hadapannya ini terlalu tidak sopan, dan juga
berprilanya kurang baik. Nabila tak menyukai gadi yang seperti ini sama dengan
gadis yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.
“Maaf, saya tidak akan membiarkan siapapun masuk ke dalam
kamar aby.” Nabila sengaja tak mengatakan kalau Aby adalah putranya karn ingin
tau semua sipat gadis yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1