
Sameera terlihat begitu sangat takut, takut ketika Aby
menatap tajam ke arahnya, tatapan yang seakan ingin memakannya mentah-mentah. Aby
terlihat begitu sangat marah, ketika mendengar semua kata yang keluar dari
mulut Sameera, karna semua yang Sameera katakan kepada orang yang di telponnya
semuanya Aby dan Abdy dengar. Dan Aby
mulai tau kalau Sameera adalah penyebab di balik kecelakaan yang di alami
istrinya.
Dengan wajah yang sangat marah, Aby berjalan mendekat ke
arah Sameera dan tampa berkata apapun Aby lansung memukul wajah Sameera dengan
begitu sangat kerasnya dan membuat Sameera meringgis kesakitan.
“Ahhh.” Sameera meringgis kesakitan sambil memegan wajahnya
yang terkena pukulan dari Aby. Dan Sameera juga nampak sangat terkejut dengan
apa yang tengah di lakukan Aby padanya “Apa yang kamu lakukan Aby? Kenapa kamu
memukulku?” Sameera masih mencoba pura-pura tidak tau dengan apa yang membuat
Aby memukulnya.
Sementara Abdy yang melihat Sameera mendapat pukulan dari
wajahnya, sangat terkejut, terkejut melihat Aby memukul seorang wanita. Karna selama
Abdy tau kakaknya memang selalu berkata datar dan dingin, namun ini pertama
kalinya Abdy melihat Aby memukul seseorang dan apalagi yang di pukulnya adalah
seorang wanita.
“Ihh, pasti sakit!” Abdy memegan wajahnya sambil menutup
matanya ketika melihat Sameera tekena bau tangan tangan kakanya “Rasakan! Rasanya
pasti enak, kan?” Abdy tersenyum sinis melihat ke arah Sameera yang kini tengah
memegan wajahnya. Wajah yang selalu berseri dan ceria kini berubah memerah
karna terkena bekas pukulan tangan Aby.
“Berani sekali kamu melakukan hal ini! Ha!” Aby menjambak
rambut Sameera dn itu membuat Sameera meringgis kesakitan.
“Aoo. Aby apa yang kamu lakukan?” mencoba melepas tangan Aby
yang kini tengah menjambak rambutnya dengan begitu sangat kasar “Aku tidak melakukan
apapun! Percayalah Aby, aku sungguh tidak melakukan apapun” Sameera masih
mencoba membela diri dan itu membuat Aby tersenyum sinis melihat ke arahnya.
Tampa menggubris apa yang tengah Sameera katakan, Aby memerintahkan
Abdy untuk menelpon Hans, Body Guard papanya, untuk membawa Sameera pergi dari
kantotrnya, karna Aby harus segera ke tempat di mana istrinya saat ini.
“Dy, Telpon Hans dan suruh segera ke sini untuk membawa
wanita sialan ini!” Aby terlihat begitu sangat marah, terlihat jelas dari
caranya memandang ke arah Sameera yang kini mulai terlihat sangat pucat.
Sameera yang mendengar ucapan Aby begitu sangat terkejut,
karna merasa begitu sangat terkejut Sameera membocorkan rahasianya sendiri “Maafkan
aku Aby.” Menangis “Aku melakukan ini karna aku sangat mengharapkanmu menjadi milikku
dan bukan milik Becca istrimu. Semua ini aku lakukan karna aku sangat
menginginkamu menjadi suamiku.” Karna begitu sangat takut Sameera tidak
menyadari apa yang tengah di katakannya.
Abdy yang mendengar kata yang keluar dari dalam mulut
sameera, begitu sangat syok dan juga marah dan itu membuatnya tidak menyadari
sampai tangannya tiba-tiba melayang di wajah Sameera.
Plakkk.
Satu pukulan kembali mendarat di wajah Sameera, Sameera yang
masih menahan rasa sakit, rasa sakit karna rambutnya masih di jambak kasar oleh
tangan Aby, kembali meringgis.
Auccc.
“Sakit!” Sameera kembali meringgis kesakitan ketika tangan
Abdy kembali melayan di wajahnya dan itu membuat kedua sisi bibirnya sobek dan
berdarah.
“Jadi ini semua ulah kamu?” Abdy menatap tajam ke arah wajah Sameera yang
kini terlihat memar kiri kanan “Karna kamu seluruh angota keluargaku berduka
dan hampir membuat Ibuku meninggal karna terkejut dan membuatnya jantungan, dan
membuat kakakku berduka, bersedih hingga saat ini.” Abdy terlihat begitu sangat
marah. Abdy yang tidak pernah memukul seorang wanita kini ikut memukul wanita
yang ada di hadapannya sama yang tengah Aby lakukan.
“Sudah Bos, hubungi Om Hamish, biar dia yang memberi
hukuman kepada wanita sialan ini.” Abdy berjalan
mundur ketika selesai mengatakan itu, dan mulai menghubungi nomor Hamish dan
bukannlah menghubungi Body Guar papanya.
Setelah sambungan telponnya terputus dengan Hamish. Abdy kembali
berjalan mendekat ke arah Aby yang kini masih memegan rambut Sameera, sambil
berkata.
“Body guard kepercayaan Om Hamish ada di kota kita ini. Dan sebentar
__ADS_1
lagi akan segera sampai di atap kantor, karna mengunakan kapal Helli kopter. Dan
Om Hamish juga menyarankan agar kita menggunakan kapal Helli kopternya untuk
pergi menjemput kakak Ipar. Dan bahkan saat ini Om Hamish tengah bersiap akan
pergi menemui putrinya di Paris. Dan untuk wanita sialan ini, kita serahkan
kepada Body Guar Om Hamish, biar mereka yang menentukan apa yang akan mereka
lakukan kepada wanita ini!” Abdy terlihat sangat kesal dan marah ketika
mengatakan itu kepada Aby yang kini tengah menatap ke arahnya.
“Baiklah.” Aby melepas pegangan tangannya dari rambut
Sameera dan itu membuat Sameera jatuh tersungkur di lantai.
Sameera pun menangis, tidak tau apa yang harus di lakukannya
lagi. Namun karna merasa begitu sangat ketakutan, Sameera memeluk paha Aby yang
ingin berjalan menjauh darinya.
“Aby, tolong maafkan aku” memohon “Aku tidak akan
melakukannya lagi.” Memeluk erat paha Aby, berharap Aby akan berbaik hati
padanya.
Namun ternyata Aby begitu sangat terluka ketika mendengar
semua yang di katakan Sameera dengan orang suruhannya itu, di tambah ketika
Abdy menceritakan semua soal kakak iparnya yang kini tidak mengenal siapapun,
dan juga calon anaknya yang kini telah tiada.
Rasa marah dan benci iya, itulah yang tengah Aby rasakan
saat ini. Rasa sakit yang tidak bisa di ungkapkan dengan sebuah kata-kata. Melihat
jari istrinya berdarah, Aby merasa begitu sangat panik dan juga takut, apalagi
mengetahui kondisi istrinya saat ini yang tidak mengenali siapapun bahkan Aby
mengetahui kalau tubuh istrinya terlihat begitu sangat kurus.
Namun Aby begitu sangat bersyukur, meskipun belum melihat
lansung wajah istrinya. Namun mengetahuinya masih hidup itu membuat Aby merasa
begitu sangat senang, karna ke ajaiban yang selalu Aby tunggu kini telah
terjadi.
Satu jam telah berlalu, kini Aby dan Abdy kini telah berada
di atas kapal Helli kopter. Sementara Sameera di bawa pergi oleh para Body Guar
Hamish.
Di dalam kapal Aby tidak berhenti bertanya, kepada pilot
yang tengah membawanya ke Paris. Namun jawabannya selalu sama. Yaitu menyuruh
Aby untuk bersabar, karna nantinya pasti akan sampai.
Sementara abdy tidak berhenti tersenyum sendiri, karna
kesenangannya daubels akan bertemu dengan kakak iparnya dan juga akan bertemu
Dengan wajah Ceria Abdy melihat ke arah jendela pesawat dan
melihat semua pemandangan yang ada di hadapannya. Higga tidak menyadari dirinya
tengah terlelap sama dengan Aby.
Waktu terus berlalu tidak terasa negara yang mereka kunjungi
saat ini telah sampai di bandara. Aby dan Abdy yang masih ketiduran tidak
menyadri akan hal itu. Namun setelah di bangunkan dengan segera keduanya
terbangun. Mungkin karna tujuan keduanya sama dan itu membuat keduanya dengan
segera membuka matanya ketika di bangunkan.
Dengan wajah ceria Aby dan Abdy turun dari pesawat dan
berjalan keluar dari dalam bandara dan mendapati Lisa telah menunggu kedatangan
keduanya. Lisa tau kalau Abdy akan segera sampai di negara yang di tempatinya
karna sebelum memasuki kawasan bandara Bandara Paris. Hape Abdy berdering namun
saat itu Abdy tengah tertidur dan tidak menyadari hapenya tengah berdering yang
di simpan di atas meja mini yang ada di dalam pesawat yang di tumpanginya dan
itu membuat pilotnya mengankat panggilan tersebut dan menjawabnya dan
mengatakan kalau kapal Helli kopter mereka akan segera sampai di bandara.
Lisa yang mengetahui itu dengan segera mengajak Adi kakak
sepupunya untuk pergi ke bandara untuk menjemput suami dari wanita yang tengah
berada di dlam kamarnya. Namun sebelum Lisa pergi meninggalkan rumah neneknya
Lisa berpesan kepada neneknya agar tidak membiarkan wanita yang berada di dalam
kamarnya keluar.
Jantung Lisa mulai berdetak dengan begitu sangat kencang
ketika mobil kakak sepupunya mulai memasuki areaparkiran bandara. Adi yang
melihat Lisa terlihat begitu sangat gugup berkata.
“Kamu kenapa Lis? Kenapa wajahmu berubah tegan seperti itu? Apa
kamu takut menemui pemuda yang telah membuatmu patah hati.” Adi terkekeh
setelah mengatakan itu kepada Lisa. Meskipun Lisa tidak pernah mengatakan kalau
ia menyukai Abdy, namun Adi dapat mengetahui kalau Lisa menyukai pemuda itu. Terlihat
jelas dari caranya menyebut nama Abdy.
“Aku tidak kenapa-napa Kak.” Lisa tersenyum melihat ke arah
Adi yang kini tengah melihat ke arahnya.
“Ayo kita turun. Mungkin Abdy dan kakaknya sudah menunggumu.”
__ADS_1
Adi tersenyum jail melihat ke arah Lisa yang kini mulai memperlihatkan wajah
pucatnya.
Lisa pun turun dari mobil di ikuti oleh Adi di belakangnya. Mereka
berdua berjalan masuk ke dalam bandara dan mulai mencari keberadaan Aby dan
Abdy.
Lisa sangat terkejut ketika seorang pemuda tiba-tiba
memeluknya dengan begitu sangat erat. Namun di saat Lisa mencium bau parpum
pemuda yang tengah memeluknya, Lisa tau kalau itu adalah Abdy, orang yang
begitu sangat dirindukannya.
“Abdy.” Berusaha melepas pelukan “Lepaskan aku. Kamu jangan
memelukku seperti ini!” Lisa masih berusaha melepas pelukan Abdy, meskipun
sebenarnya Lisa juga begitu sangat merindukan orang yang telah memeluknya saat
ini.
“Aku sangat merindukanmu Lisa.” Abdy mempererat pelukannya
dan itu membuat Aby dan Adi tersenyum melihat ke arah mereka berdua.
Aby yang melihat tingkah adiknya hanya mengelengkan
kepelanya. Namun Aby juga mengerti dan mungkin akan sangat mengerti, di
tinggalkan oleh orang yang begitu sangat kita cintai ternyata begitu sangat
menyakitkan dan setelah bertemu rasanya ia tidak ingin melepaskannya lagi,
itulah yang tengah terlintas dalam pikiran Aby saat ini. Karna dirinya masih
selalu membayankan apa yang akan di lakukannya jika dirinya bertemu dengan
istrinya nanti, apakah akan memeluk, memangku, mengendong atau bahkan tinggal
dalam balutan selimut selama dua puluh empat jam, itulah yang tengah Aby
pikirkan saat ini.
“Abdy. Tolong lepaskan pelukan kamu. Jangan melakukan ini di
depannya, karna aku harus mengjaga perasaannya.” Lisa sengaja mengatakan itu
karna mulai merasa tidak nyaman dengan pelukan Abdy yang sudah sangat lama dan
seperti tidak ingin melepaskannya lagi.
Abdy yang mendengar kata yang keluar dari dalam mulut Lisa
begitu sangat terkejut. Dan segera melepas pelukannya dan menatap wajah pemuda
yang kini tengah berdiri di sampin Lisa.
Apa pemuda ini suami LIsa? atau kekasihnya? tidak! tidak!
*Lisa tidak boleh! menjadi milik orang lain! Lisa hanya akan menjadi milikku seorang. * Abdy membatin.
Abdy menatap wajah pemuda yang tengah berdiri di sampin Lisa
dengan penuh banyak pertanyaan, siapa dia? Dam kenapa Lisa sampai mengatakan
hal itu kepadanya. Dan pemuda yang Abdy tatap tidak berhenti tersenyum melihat
ke arahnya.
Pemuda itu mengulurkan tangan kepada Abdy, karnaingin
memperkenalkan dirinya. Namun Lisa lansung berkata.
“Oya, Aby, Abdy. Kenalkan Adi, calon suamiku.” Lisa
melingkarkan tangannya di lengan Adi ketika mengatakan itu.
Sedangkan Adi hanya tersenyum mendengar ucapan adik
sepupunya yang mengatakan kalau dia adalah calon suaminya. Dan terbukti dengan
jelas dengan apa yang ada di pikiran Adi saat ini. Kalau Lisa benar- benar
menyukai pemuda yang baru saja memeluknya dengan begitu sangat erat.
Aby yang melihat itu semua berkata “Akan lebih baik kalau
kita segera ke rumah nenek kamu Lis. Aku sangat ingin menemui istriku, karna
aku begitu sangat merindukannya.” Aby tersenyum ceria setelah mengatakan itu.
“Tentu saja Kak Aby. Akan lebih baik kalau kita segera ke
rumah nenek aku.” Setelah mengatakan itu Lisa merangkul tangan Adi berjalan
keluar dari dalam bandara.
Aby yang melihat wajah adiknya yang terlihat begitu sangat
kecewa berkata. “Sabar Dy.” Menepuk bahu “Kamu harus tetap berjuan untuk
mendapatkan cinta orang yang kamu cintai. Dan sebelum janur kunin dan tenda
biru menghias di depan rumah Lisa, itu berarti kamu masih memiliki kesempatan
untuk mendapatkan cintanya.” Aby sedikit berkata konyol dan ia juga tidak tau
entah dari mana ia menemukan kata-kata konyol itu keluar dari dalam mulutnya.
Aby merasa begitu sangat heran dengan dirinya saat ini, mungkin karna efek
terlalu bahagia karna sebentar lagi ia akan segera menemui istrinya, istri yang
begitu sangat di cintainya.
Dua puluh lima menit telah berlalu, kini Aby dan Abdy telah
sampai di depan rumah nenek Lisa. Aby yang mulai tidak bersabar ingin segera
bertemu dengan istrinya segera keluar dari dalam mobil dan lansung berlari ke
arah pintu utama rumah nenek Lisa.
Dengan senyuman merekah di bibirnya Aby kembali berkata. “Lisa.”
Memanggil “cepat buka pintunya.” Aby terlihat tidak sabar.
Lisa yang mendengar ucapan Aby tersenyum, mengerti dengan
apa yang tengah di rasakan Aby saat ini. “Iya, tunggu!” tertawa pelan “Sabar,
__ADS_1
istrimu tidak akan kemana-mana.” Lisa berjalan ke arah pintu dimana saat ini
Aby telah menunggunya.