
Kesal, kecewa, marah, itulah yang tengah Lisa rasakan saat
ini. Baginya menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosangkan. Menunggu dan
menunggu, Itulah yang selalu Lisa alami ketika membuat janji dengan Abdy.
Kejenuhan mulai menghampiri relung hati Lisa, di saat
memimpikan menikah dengan kekasihnya, kekasihnya malah berkhianati dirinya,
memiliki sahabat, teman, yang jelas Lisa tidak tau dengan hubungan yang tengah
Ia jalani bersama dengan Abdy. Berciuman, berpelukan, bahkan tidur bersama
dengan Abdy semuanya pernah ia lakukan. Terkadang Abdy berlaku sangat baik
padanya, dan itu membuat Lisa merasa kalau Abdy mencintainya. Namun di saat
melihat Abdy bersama dengan wanita lain, Lisa merasa kalau Abdy hanya
mengangapnya sebagai seorang sahabat tak lebih.
“Ah, kenapa hidupku menjadi seperti ini?” menendang batu
yang ada di hadapannya “Apa yang harus aku lakukan? Agar diriku tidak terbebani
seperti ini.” Dudukdi pinggir pantai menikmati dinginnya malam menusuk seluruh
tubuhnya, karna saat ini Lisa hanya mengenakan baju kaos biasa tampa mengenakan
jaket.
Cukup lama Lisa duduk di pinggir pantai. Namun sebuah jas
menutupi tubuhnya, Lisa brbalik melihat ke arah orang yang tengah memakaikannya
jas.
“Abdy.” Berdiri dari duduknya.
Dengan segara Abdy berkata. “Maaf, ya, Lis. Aku terlambat
menemuimu karna aku harus mengantar Lara pulang kerumahnya.” Tersenyum melihat
ke arah wajah Lisa yang mulai taidak senang mendengar ucapan yang keluar dari
mulutnya.
Mendengar kata yang keluar dari mulut Abdy, seperti tamparan
buat Lisa. Ternyata Abdy memilih mengantar secertaris kakaknya, dan
membiarkannya menunggu selama hampir satu jam lebih. Lisa menarik nafasnya
melihat ke arah Abdy. Lalu berkata.
“Abdy apa kamu menyukai Lara.” Tersenyum, walaupun
pertanyaannya sangat menyakitkan baginya.
Mendengar pertanyaan Lisa, Abdy menggaruk telinganya yang tidak
gatal, lalu berkata “Bagaimana aku harus menjelaskannya. Lara itu cantik, baik.
tapi jujur sih aku suka semua yang ada pada Lara.” Tersenyum melihat ke arah
Lisa “Memangnya kenapa kamu bertanya soal itu?” menaikkan alis melihat ke arah
Lisa yang berdiri tepat di hadapannya.
Mendengar kata yang keluar darimulut Abdy. Membuat Lisa
__ADS_1
yakin, kalau selama ini Abdy hanya mengangapnya sebagai sahabatnya saja tak
lebih. Meskipun merasa sakit hati mendengar semua kata yang di ucapkan Abdy,
Lisa tetap berusaha menyembunyikan rasake cewanya itu.
Lisa tersenyum tipis, lalu berkata. “Tidak ada apa-apa, aku
cuman pengen tau saja, kalau sahabatku ini tengah jatuh cinta dengan secertaris
kakaknya.” Tersenyum manis melihat ke arah Abdy. Meskipun sebenarnya Lisa
sangatlah bersedih dengan ini semua.
Abdy yang tak mengerti dengan maksud ucapan Lisa hanya
tersenyum, tak menanggapi karna Abdy hanya berfikir Lisa hanya bercanda
mengucapkan itu.
“Baiklah Dy, aku sudah mau pulang.” Tersenyum “Ini sudah
sangat larut, aku juga sudah mulai sedikit mengantuk.” Setelah mengatakan itu
Lisa mulai berjalan.
Melihat Lisa berjalan menjahuinya, Abdy pun berkata. “Lis,
kamu mengajakku kesini untuk apa?” berlari di belakang Lisa.
Mendengar pertanyaan Abdy, Lisa mnghentikan langkahnya, lalu
berbalik melihat ke arah Abdy. Lisa pun berkata. “Aku cuman ingin mengajakmu
makan malam berdua saja.” Tersenyum “Namun untuk saat ini perutku sudah kenyang
karna banyak makan angin. Jadi makan malamnya kita tunda dulu.”
Setelah mengatakan itu Lisa memeluk erat tubuh Abdy sambil
lalu mengecup lembut pipi Abdy.
Melihat tingkah aneh Lisa, Abdy sedikit bingun, lalu
berkata. “Kamu baik-baik saja kan Lis?” memegan dahi Lisa, karna menurut Abdy
tingkah Lisa sangatlah aneh dan berbeda dari pada biasanya. Lisa yang biasanya
kebanyakan diam, namun sekarang Lisa tak berhenti bertanya ini dan itu, dan itu
membuat Abdy merasa sedikit bingun.
Lisa yang melihat kebingungan Abdy tersenyum, Lisa pun
berkata. “Sudahlah Dy, kamu tak perlu terlihat bingun sepertiitu.” Tersenyum sambil
mengibaskan tangannya di depan wajah Abdy “Sudah ya Dy, aku pulang dulu dan
kamu juga pulang ya. Kamu tak perlu mengantarku, karna aku membawa mobil
sendiri.”
Setelah mengatakan itu Lisa kembali melanjutkan langkahnya. Namun
tampa Lisa sadari airmatanya menetes membasahi wajahnya. Lisa mulai menyadari
kalau sebenarnya kalau Abdy hanya mengangapnya hanya sebagai seorang sahabat
tidaklah lebih. Dengan langkah cepat Lisa berjalan ke arah mobilnya, setelah
sampai di sampin pintu mobilnya tampa berbalik melihat ke arah Abdy, Lisa
__ADS_1
langsung membuka pintu mobilnya, lalu masuk.
Seminggu telah berlalu, semenjak pertemuannya malam itu
dengan Lisa. Abdy tak pernah mendapat telpon ataupun pesan dari Lisa. Abdy mulai
merasa ada yang aneh, dengan Lisa.
Abdy duduk bersandar di dalam ruangan yang telah di siapkan
untuknya, di dalam perusahaan Aby kakaknya. Meskipun Aby menyuruhnya untuk
menggunakan ruangan kerjanya. Namun Abdy tidak mau menggunakan ruangan kakaknya
karna merasa tidak pantas duduk di kursi kebesaran saudaranya itu. Abdy menarik
nafasnya, lalu mengbuangnya secara perlahan, melihat ke arah layar hapenya. Karna
Abdy mengharapkan ada panggilan ataupun pesan dari Lisa, namun ternyata salah
satu di antara keduanya tidak ada satupn yang tertulis layar hape Abdy.
Dengan perasaan kesal, Abdy pun berkata. “Kemana si
Lisa-Lisa ini? Sudah satu minggu aku tak pernah mendengar kabar darinya. Apa dia
baik-baik saja?”
Setelah mengatakan itu, Abdy mulai menghubungi nomor hape
Lisa. Namun jawaban yang Abdy dengar dari dalam operator hapenya cuman berkata.
“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktip.” Abdy mematikan panggilannya
setelah mendengar ucapan tersebut, lalu kembali melakukan panggilan yang sama,
namun jawabannya tetaplah sama. Dan itu membuat Abdy kembali berkata. “Ah, Lisa
kemana? Tidak biasanya dia mematikan hapenya seperti ini.”
Setelah pulang dari kantor. Abdy bukannya pulang ke rumah
orang tuanya melaingkan mendatangu rumah Lisa. Abdy melajukan mobilnya dengan
sangat cepat, karna yang Abdy pikirkan
saat ini, Lisa pasti sedang sakit, dan karna itu hapenya tidak di aktipkan. Setelah
sampai di pintu gerban rumah Lisa. Abdy masuk ke dalam pekarangan, lalu
berjalan ke arah pintu utama, kemudian memecet bei pintu.
Cukup lama Abdy berdiri di depan pintu utama rumah Lisa. Hingga
akhirnya pintu rumah Lisa terbuka. Seorang wanita paruh baya membuka pintu,
lalu tersenyum melihat ke arah Abdy, wanita itu pun berkata.
“Den, Abdy. Ada apa aden kemari?” tanya bingun pembantu
rumah tangga Lisa yang bernama Mbo Ere.
Dengan segera Abdy berkata. “Lisa ada Mbo?” tersenyum
melihat ke arah Mbo Ere.
Mbo Ere menyengitkan dahinya bingun ketika mendengar
pertanyaan yang keluar dari mulut Abdy. Dengan segera Mbo Ere menjawab
pertanyaan Abdy.
__ADS_1
“lho, memangnya aden tidak tau? Kalau beberapa hari yang
lalu Non Lisa ke Paris, ikut dengan kakek, neneknya.”