Cinta Aby

Cinta Aby
Eps.191


__ADS_3

Tidak perduli betapa berat cobaan yang ingin mengoyahkan


hubungan keduanya, namun keduanya masih berusaha mempertanyakannya, bahkan


membuat ikatan cinta mereka semakin erat, dan cara yang paling mudah untuk


mengetahui apakah kita cocok dengan orang tersebut atau tidak, adalah ketika


kita merasa lupa dengan waktu.


Dan seperti itu yang tengah Abdy rasakan saat ini menjaga


Lisa setiap hari dan setiap waktu bahkan ia sampai melupakan hari dan waktu,


karna yang ada di dalam pikirannya ada Lisa seorang.


Abdy selalu berdoa, semoga orang tunya dan orang tua Lisa


segera menetapkan hari pernikahannya, karna jujur Abdy tidak bisa jauh-jauh


lagi dari Lisa.


Seiring berjalangnya waktu kondisi Lisa semakin membaik, dan


rencana kedua anggota keluarga siang ini Lisa akan segera kembali ke rumahnya,


Abdy yang melihat Lisa akan di bawah ke rumahnya berkata.


“Om, Tante akan lebih baik jika Lisa di bawa ke rumah orang


tua aku saja.” Abdy tersenyum senang ketika mengatakan itu.


Lisa yang mendengar ucapan Abdy hanya tersenyum, tidak


mengatakan apapun karna saat ini kedua orang tuanya berada di sampinnya.


Sementara Clarisa yang mendengar ucapan Abdy berkata, “Tidak


boleh Abdy, seorang gadis menginap di rumah seorang pemuda tampa adanya ikatan


apapun.” Calrisa menjelaskan.


“Tapi kan Tante, aku tidak bisa jauh dari Lisa.” Abdy nampak


sedikit sedih ketika mengatakan itu.


“Sabar Abdy, sebentar lagi kalian akan segera menikah,


setelah menikah kamu bebas membawa Lisa kemanapun yang kamu mau.”


Abdy yang mendengar ucapan calon ibu mertuanya lansung


beraka, “Baiklah kalau begitu nikahkan aku besok saja.” Wajah Abdy nampak


sangat berseri-seri ketika mengatakan itu.


Nabila yang mendengar ucapan putranya tersenyum, karna


merasa lucu dengan apa yang barusan Abdy katakan.


“Abdy tinggal dua minggu lagi kalian akan segera menikah


selama itu kalian tidak boleh bertemu, apa kamu sanggup? Jika kamu sanggup Mama


akan memberikan kamu sebuah kado pernikahan.” Nabila tersenyum melihat ke arah


Lisa ketika mengatakan itu.


Abdy yang mendengar ucapan mamanya dengan segera berkata, “Aku


tidak butuh kado Ma, yang aku butuhkan cuman Lisa titik.” Setelah mengatakan


itu Abdy mengankat tubuh Lisa keluar dari dalam ruangan perawatannya,


sebenarnya Lisa sudah bisa berjalan dengan benar namun itulah yang Abdy


inginkan, hingga Mama dan ke dua orang tua Lisa tidak bisa berkata apapun lagi


kecuali pasrah melihat ke inginan Abdy.


Abdy mengankat tubuh Lisa  dan berlalu meninggalkan mama dan kedua calon


mertunya.


Nabila yang melihat tersenyum sambil berkata, “Benar-benar sipat


keras kepala Doni menular kepada putraku yang satu ini.”


Nabila melihat ke arah Rendi ketika mengatakan itu,


sementara Randi yang mendengar ucapan Nabila tersenyum, tidak mengatakan apapun


lagi.


“Kalau cinta sudah melekat siapapun tidak akan pernah bisa


menghalangi.” Ucap pelan Clarisa.


Clarisa mengatakan itu sambil melihat ke arah Rendi dan


Nabila, dan itu membuat Rendi dan Nabila tertawa mengingat masa muda mereka


yang memiliki pasangan yang benar-benar mencintai dan terlalu posesif


kepadanya.


Dan Rendi juga masih mengingat semua sikap posesifnya kepada


Clarisa istrinya, yang tidak membiarkan siapapun bertegur sapa dengan istrinya


apalagi jika seorang pemuda Rendi akan sangat marah jika seorang pemuda


mengajak istrinya berbicara.


Abdy membawa Lisa ke mobilnya, yang beberapa hari tengah


terparkir di rumah sakit, karna menjaga Lisa. Abdy membuka pintu mobilnya lalu


memasukkan tubuh Lisa secara pelan-pelan dan mendudukkannya di sampin tempat


kemudi, setelah memasukkan Lisa ke dalam mobil, Abdy menutup pintu lalu


mengitari mobilnya lalu ikut masuk dan menyalahkan mesin mobilnya.


Lisa yang melihat Abdy mulai melajukan mobilnya keluar dari


parkiran rumah sakit berkata.


“Dy, kenapa tidak menunggu Mama?” Lisa melihat ke arah Abdy


ketika menanyakan itu.


Sementara Abdy yang mendengar ucapan Lisa berkata, “Mereka


bertiga akan menggunakan mobil mereka sendiri.” Abdy mengatakan itu tampa


melihat ke arah Lisa karna saat ini ia tengah pokus melajukan mobilnya di


tengah kemacetan di depan rumah sakit.


“Dy, kamu ko gitu sih?” Lisa memanyumkan bibirnya ketika


mengatakan itu “Mereka semua itu orang tua kita kamu harus mendengarkan apa


yang mereka inginkan,”


Abdy yang mendengar ucapan lisa melirik sejenak lalu kembali


pokus melihat ke arah jalanan, “Aku akan mendengar semua yang mereka katakan,


namun tidak untuk melarangku bertemu denganmu selama dua minggu, itukan namanya


gila.”


Abdy tidak setuju dengan apa yang Nabila katakan padanya


yang melarangnya bertemu dengan Lisa selama dua minggu dan itu akan ia tukar


dengan kado yang akan Nabila berikan padanya, sungguh Abdy benar-benar tidak


setuju dengan hal itu.


Lisa yang mendengar ucapan Abdy, menarik napasnya lalu


membuangnya secara perlahan kemudian berkata, “Lalu sekarang kamu ingin membawaku


ke mana?” tanya Lisa tampa melihat ke arah Abdy.


“Aku ingin menculikmu, kita akan kembali sehari sebelum


pernikahan kita.” Abdy tersenyum jail melihat ke arah Lisa ketika mengatakan


itu.


Lisa yang mendengar ucapan Abdy kembali memanyumkan


bibirnya, lalu berkata “Ih, apaan sih Dy kamu itu rada-rada aneh ya.”


Lisa sengaja mengatakan itu karna ia kembali melihat sikap


jail dan sikap konyol Abdy yang sering sekali menggodanya dan bahkan yang Lisa


lihat saat ini Abdy semakin tidak waras karna mengetahui hari pernikahannya


tinggal dua minggu lagi.


Abdy yang melihat Lisa memanyumkan bibirnya seperti itu


kembali berkata, “Itu bibir kamu kenapa? Apa ia merindukan bibirku? karna bibirku


sangat merindukannya.” Ucap Abdy mengoda Lisa.


Lisa yang mendengar ucapan Abdy berkata, “Ih, kamu apaan si


Dy.” Memukul pelan lengan Abdy dengan tangannya “Kamu jangan aneh-aneh ya Dy,


kita ini belum resmi menikah” Lisa memperingati Abdy kalau status mereka masih


sama-sama lajang.


Abdy terkekeh pelan ketika mendengar ucapan Lisa yang terdengar


manja di telinganya, Abdy berbalik sejenak melihat ke arah Lisa lalu kembali


pokus melihat ke arah jalanan.


Abdy melajukan mobilnya memasuki kawasan perumahan yang


elit, Lisa yang melihat Abdy melajukan mobilnya masuk ke dalam kawasan


perumahan elit, melihat ke kiri dan kekanan, awalnya Lisa berpikir kalau Abdy


akan mengajaknya ke rumah Becca namun ternyata ia salah Abdy melewati rumah Becca


dan berhenti di depan sebuah rumah mewah yang tidak jauh dari rumah Aby dan


Becca cuman selisi dua rumah mewah yang membatasi rumah yang Abdy datangi saat


ini.


Abdy mematikan mesin mobilnya lalu melepas seat belt yang

__ADS_1


mengikat di tubuhnya lalu turun dari mobilnya, Lisa yang melihat Abdy melepas


seat beltnya ikut melepasnya lalu turun dari mobilnya.


Lisa berdiri di sampin Abdy lalu melihat rumah mewah yang


ada di hadapannya saat ini, Lisa yang melihat itu berkata.


“Ini rumah siapa Dy? Ini sangat mirip dengan rumah kak Aby.”


Tanya Lisa pelan melihat ke arah Abdy yang kini tengah melihat ke arah rumah


mewah yang ada di hadapannya.


“Kamu akan tau siapa pemilik rumah ini dan untuk saat ini


kamu ikut aku masuk ke dalam.”


Setelah mengatakan itu Abdy mengengam tangan Lisa lalu


berjalan ke arah pintu utama rumah mewah tersebut. Setelah sampai di depan


pintu utama tampa mengetuk pintu Abdy membuka pintu rumah mewah tersebut.


Abdy dan Lisa berjalan masuk lalu melihat sekelilin ruangan


yang kini penuh dengan barang-barang yang terlihat masih sangat baru, mengapa


ia mengatakan masih sangat baru karna kursi dan beberapa perabot laninya masih


terbungkus pelastik bening.


“Ini rumah siapa Dy?” Tanya lisa kembali sambil melihat ke


arah Abdy yang kini masih sibuk melihat sekeliling ruangan rumahnya.


Abdy yang mendengar pertanyaan Lisa, beralih melihat ke arah


Lisa yang kini tengah melihat ke arahnya, dengan santai Abdy berkata.


“Rumah kekasih hatiku.”


Setelah mengatakan itu Abdy kembali melihat sekeliling


ruangan tamu yang terlihat begitu sangat luas dan tidak menyadari kalau saat


ini Lisa sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan.


Lisa salah paham dengan apa yang baru saja Abdy katakan


kepadanya dan itu membuatnya merasa sedih seluruh tubuhnya terasa sangat lemah


bahkan untuk berdiri di atas kakinya Lisa merasa sangat lemas di tambah saat


ini ia baru saja keluar dari rumah sakit kaki dan tangan Lisa bergetar keringat


dingin mulai memenuhi tangan dan dahinya karna mendengar ucapan Abdy yang


mengatakan kalau ini adalah kekasih hatinya.


“Apa!” terkejut dan juga merasa sedih “Ini rumah kekasihn


hatimu?” tanya Lisa pelan melihat ke arah Abdy.


“Iya ini rumah kekasih hatiku.” Ucap Abdy santai dan tidak


melihat ke arah Lisa yang saat ini wajahnya semakin pucat karna tidak bisa


menahan dan menerima apa yang baru saja Abdy katakan padanya.


Lisa mulai menarik napasnya, lalu membuangnya secara kasar


karna merasa dadanya sesak ia merasa dadanya ingin meledak ketika mendengar


ucapan Abdy yang mengatakan kalau Abdy memiliki kekasih hati selain dirinya.


Lisa kembali berpikir kalau Abdy memang akan menikahinya dan


mereka akan tinggal bertiga di bawah satu naungan, itulah yang ada di dalam pikiran


Lisa saat ini.


Lisa memegan erat bahu Abdy karna merasa sudah tidak tahan


lagi berdiri di atas kakinya, seluruh tubuhnya terasa lemah.


Abdy yang melihat Lisa berpegan erat di bahunya berbalik


melihat ke arah Lisa yang kini tengah berkeringat seluruh wajahnya basah oleh


keringan dingin yang bercucuran di wajahnya.


“Lis, kamu kenapa?” tanya Abdy panik.


Tampa banyak bertanya Abdy lansung mengankat tubuh Lisa


menuju tempat duduk yang ada di ruangan tamu yang ia tempati saat ini, lalu


merebahkan tubuh Lisa yang terasa lemah.


Abdy nampak sangat penik melihat ke adaan Lisa yang seperti


itu, setelah merebahkan tubuh Lisa di atas kursi memanjang, Abdy berlari masuk


ke dapur untuk mengambil air, dengan sangat cepat Abdy keluar dari dapur dengan


membawa sebotol air mineral yang telah ia siapkan sebelumnya.


Abdy mulai membuka tutup botol air mineral lalu membantu


Lisa untuk minum, setelah selesai membantu Lisa minum Abdy mengusap keringat


“Ya, ampun Lis, kamu kenapa? Apa kamu merasa tidak enak


badan? Akan lebih baik kalau kita kembali ke rumah sakit.” Abdy berdiri tepat di


sampin tempat duduk yang Lisa tempati saat ini.


Abdy nampak sangat panik dan juga khwatir melihat ke adaan


Lisa seperti ini, Abdy takut jika Lisa kembali sakit dan masuk ke dalam rumah


sakit lagi, sungguh Abdy tidak menginginkan hal itu.


Lisa yang mendengar semua ucapan abdy, menarik napasya, lalu


membuangnya secara kasar lalu berkata.


“Kamu tidak perlu terlalu peduli dengan aku Dy. Hiks, hiks,


hiks.” Lisa menangis ketika mengatakan itu kepada Abdy “Jika kamu tidak


mencintaiku akan lebih baik kalau kita membatalkan pernikahan kita yang tinggal


dua minggu lagi, aku tidak sudi tinggal serumah denganmu dan kekasihmu.”


Lisa mengatakan itu dalam keadaan menangis sesegukan di


hadapan abdy karna tidak tahan mendengar semua yang Abdy katakan padanya.


Sementara Abdy yang mendengar semua ucapan Lisa mengerutkan


dahi, tidak mengerti dengan apa masksud dari perkataan Lisa yang ingin


membatalkan pernikahannya begitu saja, pernikahan yang selama ini Abdy nantikan


kini Lisa ingin membatalkannya begitu saja.


“Maksud kamu apa Lis? Aku tidak mengerti dengan apa yang


kamu ucapkan.” Abdy nampak sangat bingun dengan apa yang baru saja Lisa katakan


padanya.


“Kamu tidak usah pura-pura lupa dengan apa yang baru saja


kamu katakan.” Lisa nampak sedikit kesal melihat Abdy yang melupakan apa yang


baru saja ia katakan.


“Memangnya apa yang baru saja aku katakan?” Abdy mulai


mengingat apa yang baru saja ia katakan dan itu membuat Lisa hampir saja


pinsang karna tidak tahan mendengarnya.


Abdy melihat ke arah Lisa karna tidak menemukan kesalahan


yang telah ia katakan barusan kepada Lisa. Lisa yang melihat itu berkata.


“Bukankah tadi kamu mengatakan kalau ini adalah rumah


kekasih hatimu? Jika memang ini rumah kekasih hatimu untuk apa kamu mengajak


aku kesini? Kamu jahat Dy, sangat jahat. Hiks, hiks, hiks.” Lisa kembali


menangis ketika selesai mengatatakan itu karna marasa tidak tahan dengan semua


ini “Aku mau pulang dan tidak ingin bertemu lagi denganmu.”


Lisa bangun lalu duduk, kemudian menurunkan ke dua kakinya


klarna ia ingin segera meninggalkan rumah kekasih Abdy.


Sementra Abdy yang mendengar semua kata yang keluar dari


dalam mulut Lisa, tersenyum mengerti kalau saat ini Lisa tengah salah paham


dengan apa yang telah ia katakan.


Abdy yang melihat Lisa menurunkan kedua kakinya dengan


segera duduk di sampin Lisa dan lansung memeluk hangat tubuh Lisa dengan sangat


eratnya, Lisa yang mendapat pelukan hangat itu dari Abdy berusaha melepas


tangan Abdy yang kini tengah melingkar sempurna di tubuhnya.


“Lepaskan aku Dy, kamu tidak perlu bersikap manis kepadaku,


karna itu hanya akan menyakiti hatiku.” Lisa nampak sangat kesal ketika


mengatakan itu.


Abdy yang mendengar ucapan Lisa, bukannya melepas pelukan


justru ia mengeratkan pelukannya dan berbisik pelan di telinga Lisa sambil


berkata.


“Aku mencintaimu Lis, sangat mencintaimu dan kamu telah


salah mengartikan ucapanku.”


Setelah mengatakan itu Abdy melepas pelukannya lalu menatap


wajah Lisa yang nampak sangat pucat, Lisa yang mendengar ucapan Abdy yang


mengatakan kalau saat ini ia hanya salah paham menatap tajam ke arah Abdy


sambil berkata.

__ADS_1


“Maksud kamu apa? Mengatakan kalau aku hanya salah paham,


bukannya kamu sendiri yang mengatakan kalau rumah ini adalah rumah kekasihmu.” Ucap


Lisa dengan nada suara tinggi.


Abdy yang kembali mendengar ucapan Lisa tersenyum karna ia


tau kalau saat ini Lisa benar-benar marah dan juga merasa sangat kesal


kepadanya di tambah rasa cemburu yang Lisa miliki untuk Abdy membuatnya


benar-benar merasa sangat senang.


“Baiklah aku akan menjelaskan semuanya, namun sebelum ini


kamu tunggu aku disini oke, kamu jangan kemana-kemana, atau kamu mau ikut


denganku naik ke lantai atas? Karna di lantai atas aku menaruh barang itu.”


Abdy sedikit menjelaskan.


“Tidak! Aku menunggumu di sini saja.” Lisa melipata tangan


di dadanya ketika selesai mengatakan itu.


“Baiklah aku akan naik ke lantai atas dan akan segera


kembali, dan kamu harus berjanji denganku kamu tidak boleh kemana-mana oky.”


Setelah mengatakan semua itu kepada Lisa Abdy berlari naik


ke lantai atas, dan segera berlari turun dengan membawa sebuah maf yang


berwarna coklat ke pada Lisa.


Hua, hua, hua.


Dengan napas ngos-ngosan Abdy berdiri di hadapan Lisa lalu


menyerahkan maf amplop berwana coklat itu kepada Lisa, Abdy duduk di sampin


Lisa dan meminum air di dalam botol bekas Lisa yang tadi sempat ia minum.


Lisa mulai membuka dan melihat apa isi dari maf amplop


tersebut lalu melihat apa saja isi dari maf amplop tersebut.


“Apa ini?” tanya Lisa melihat ke arah Abdy yang kini tengah


meminum air bekas miliknya.


“Buka dan baca, setelah itu kamu akan tau maksud dari


ucapanku.” Setelah mengatakan itu Abdy kembali meminum air mineral yang ada di


dalam botol tersebut.


Dengan rasa yang sangat penasaran sekaligus ingin tau apa


yang sebenarnya maksud dari ucapan Abdy kepadanya, Lisa mulai membuka dan


melihat apa saja yang di maksud Abdy, dan jika ia membukanya ia akan tau yang


sebenarnya.


Lisa mulai membaca sampul dari buku yang ia keluarkan dari


dalam maf amplop tersebut.


Sertifikat Rumah


Itulah nama yang terterah di sampul buku tipis yang Lisa


pegan saat ini, Lisa mulai membuka lembaran demi lembaran sertifikat rumah


tersebut. Lisa membulatkan matanya terkejut ketika melihat namanya terterah di


dalam sertifikat rumah tersebut.


Lisa Baskoro pemilik sah dari rumah mewah bela, bela dan


selanjutnya.


“Abdy ini maksudnya apa?” Lisa melihat ke arah Abdy yang


kini tengah duduk di sampinnya sambil melihat ke arahnya.


Dengan senyuman Abdy menjawab, “Ini hadiah pernikahan dari


Om Hamish untukmu, Om Hamish telah mengangapmu sebagai putri keduanya, dan ia


meminta maaf karna tidak sempat datang menjegukmu sewaktu kamu di rawat di


rumah sakit karna ia sangat sibuk dengan semua pekerjaannya.” Abdy menjelaskan


secara dtail kepada Lisa karna ia tidak ingin Lisa kembali salah paham dengan


semua yang ia ucapkan nantinya dan cukup sekali ia salah paham dan hampir


membuatnya tidak sadarkan diri karna merasa sangat sedih dengan semua yang ia


katakan.


Sementara Lisa yang mendengar semua penjelasan Abdy merasa


tidak percaya, melihat apa yang ada di tangannya saat ini, rumah mewah yang ia


tempati saat ini adalah miliknya, hadiah yang pernikahan yang Hamish berikan untuknya.


Lisa terdiam melihat sertifikat rumah yang ada di tangannya


saat ini, ia tidak sedikit tidak percaya dengan semua ini, hingga akhirnya ia


berkata kepada Abdy.


“Apa semua ini benar? Dan nyata?” Lisa melihat ke arah


sertifikat rumah yang ada di tangannya.


“Iya tentu saja semua ini benar dan nyata.” Abdy mengecup


pelan wajah Lisa dari sampin ketika selesai mengatakan itu “Dan bagaimana? Apa sekarang


kamu percaya kalau semua ini nyata?” Abdy terkekeh ketika selesai mengatakan


itu kepada Lisa.


Lisa yang mendapat kecupan di wajahnya mengusapnya dengan


sangat lembut, percaya kalau saat ini memang benar ia tidak bermimpi


mendapat  hadiah sebesar itu dari Hamish


Daddy Rebecca.


Dan memang benar yang Abdy katakan kalau rumah ini memang


benar rumah kekasih hatinya, dan ternyata itu adalah dirinya sendiri, orang


yang sangat Abdy cintai.


“Maafkan aku Dy.” Menyandarkan kepala di bahu Abdy “Karna


aku telah salah paham dan tidak percaya kepadamu.” Ucapa Lisa pelan.


Abdy hanya tersenyum mendengar ucapan Lisa, lalu merangkul


bahu Lisa karna saat ini Lisa tengah bersandar di lengannya.


“Makanya kamu itu jangan terlalu cepat mengumpulkan yang


aneh-aneh di dalam pikiran kamu.” Abdy menarik hidung Lisa ketika selesai


mengatakan itu.


“Ya, maaf” nada suara manja “Aku kan cemburu Dy, wanita mana


yang tidak akan cemburu jika orang yang sangat di cintainya menyebut nama


kekasih di depannya, karna ini juga salahmu karna kamu tidak mengatakan


sebelumnya.” Lisa menarik tubuhnya dari rangkulan Abdy lalu memulai perdebatan


yang menyalahkan Abdy atas apa yang baru saja terjadi.


Lisa tidak berhenti mengomel di hadapan Abdy ia menyalahkan


semua yang terjadi dengannya barusan, dan Lisa saat ini seperti seorang istri


yang tengah menunggu suaminya pulang selama berjam-jam dan suaminya tidak


pulang-pulang.


Abdy yang mendengar omelan Lisa menutup matanya sebelah


karna merasa sedikit risih mendengar semua ocehan Lisa yang kembali berulang


kali hingga akhirnya ia menutup bibir Lisa dengan bibirnya dan itu membuat Lisa


berhenti mengoceh di hadapan.


Lisa membulatkan matanya terkejut ketika Abdy tengah


menempelkan bibirnya di bibi bibirnya, Lisa yang tadinya terus mengoceh kini


berhenti karna bibir Abdy membekap bibirnya.


Lisa berusaha melepas pautan bibir Abdy di bibirnya, namun


Abdy tambah memeluknya dengan sangat erat bahkan saat ini Abdy merebahkan tubuh


Lisa di atas kursi yang ada di ruangan tamu dan melanjutkan ciuman mereka.


Lisa yang tadinya berusaha menolak kini tengah menikmati sentuhan


bibir Abdy yang terasa sangat lembut menyentuh setiap sudut bibir, bahkan Lisa


mulai membalas setiap kecupan demi kecupan yang Aby lakukan di bibirnya.


Tidak sampai di situ saja, Abdy mulai menelusuri leher


jenjang Lisa, sementara tangannya mulai menyusup masuk ke dalam baju yang ia


Lisa kenakan, satu persatu kancin baju yang Lisa kenakan terbuka dan mulia


memperlihatkan bagian kenyal Lisa yang tertutup dengan bra yang Lisa kenakan.


Di sana Abdy mulai bermain ia merasa bagian kenyal Lisa


adalah tempat favoritnya dan mulai membuat tanda kemerahan di sana dan itu


membuat Lisa mengeluakan desahannya dengan apa yang tengah Abdy lakukan


kepadanya.


Abdy berhenti melakukan hal itu ketika mendengar suara


desahan Lisa karna ia takut akan melakukan hal yang lebih dari apa yang tengah


ia lakukan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2