
Tidak perduli betapa berat cobaan yang ingin mengoyahkan
hubungan keduanya, namun keduanya masih berusaha mempertanyakannya, bahkan
membuat ikatan cinta mereka semakin erat, dan cara yang paling mudah untuk
mengetahui apakah kita cocok dengan orang tersebut atau tidak, adalah ketika
kita merasa lupa dengan waktu.
Dan seperti itu yang tengah Abdy rasakan saat ini menjaga
Lisa setiap hari dan setiap waktu bahkan ia sampai melupakan hari dan waktu,
karna yang ada di dalam pikirannya ada Lisa seorang.
Abdy selalu berdoa, semoga orang tunya dan orang tua Lisa
segera menetapkan hari pernikahannya, karna jujur Abdy tidak bisa jauh-jauh
lagi dari Lisa.
Seiring berjalangnya waktu kondisi Lisa semakin membaik, dan
rencana kedua anggota keluarga siang ini Lisa akan segera kembali ke rumahnya,
Abdy yang melihat Lisa akan di bawah ke rumahnya berkata.
“Om, Tante akan lebih baik jika Lisa di bawa ke rumah orang
tua aku saja.” Abdy tersenyum senang ketika mengatakan itu.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy hanya tersenyum, tidak
mengatakan apapun karna saat ini kedua orang tuanya berada di sampinnya.
Sementara Clarisa yang mendengar ucapan Abdy berkata, “Tidak
boleh Abdy, seorang gadis menginap di rumah seorang pemuda tampa adanya ikatan
apapun.” Calrisa menjelaskan.
“Tapi kan Tante, aku tidak bisa jauh dari Lisa.” Abdy nampak
sedikit sedih ketika mengatakan itu.
“Sabar Abdy, sebentar lagi kalian akan segera menikah,
setelah menikah kamu bebas membawa Lisa kemanapun yang kamu mau.”
Abdy yang mendengar ucapan calon ibu mertuanya lansung
beraka, “Baiklah kalau begitu nikahkan aku besok saja.” Wajah Abdy nampak
sangat berseri-seri ketika mengatakan itu.
Nabila yang mendengar ucapan putranya tersenyum, karna
merasa lucu dengan apa yang barusan Abdy katakan.
“Abdy tinggal dua minggu lagi kalian akan segera menikah
selama itu kalian tidak boleh bertemu, apa kamu sanggup? Jika kamu sanggup Mama
akan memberikan kamu sebuah kado pernikahan.” Nabila tersenyum melihat ke arah
Lisa ketika mengatakan itu.
Abdy yang mendengar ucapan mamanya dengan segera berkata, “Aku
tidak butuh kado Ma, yang aku butuhkan cuman Lisa titik.” Setelah mengatakan
itu Abdy mengankat tubuh Lisa keluar dari dalam ruangan perawatannya,
sebenarnya Lisa sudah bisa berjalan dengan benar namun itulah yang Abdy
inginkan, hingga Mama dan ke dua orang tua Lisa tidak bisa berkata apapun lagi
kecuali pasrah melihat ke inginan Abdy.
Abdy mengankat tubuh Lisa dan berlalu meninggalkan mama dan kedua calon
mertunya.
Nabila yang melihat tersenyum sambil berkata, “Benar-benar sipat
keras kepala Doni menular kepada putraku yang satu ini.”
Nabila melihat ke arah Rendi ketika mengatakan itu,
sementara Randi yang mendengar ucapan Nabila tersenyum, tidak mengatakan apapun
lagi.
“Kalau cinta sudah melekat siapapun tidak akan pernah bisa
menghalangi.” Ucap pelan Clarisa.
Clarisa mengatakan itu sambil melihat ke arah Rendi dan
Nabila, dan itu membuat Rendi dan Nabila tertawa mengingat masa muda mereka
yang memiliki pasangan yang benar-benar mencintai dan terlalu posesif
kepadanya.
Dan Rendi juga masih mengingat semua sikap posesifnya kepada
Clarisa istrinya, yang tidak membiarkan siapapun bertegur sapa dengan istrinya
apalagi jika seorang pemuda Rendi akan sangat marah jika seorang pemuda
mengajak istrinya berbicara.
Abdy membawa Lisa ke mobilnya, yang beberapa hari tengah
terparkir di rumah sakit, karna menjaga Lisa. Abdy membuka pintu mobilnya lalu
memasukkan tubuh Lisa secara pelan-pelan dan mendudukkannya di sampin tempat
kemudi, setelah memasukkan Lisa ke dalam mobil, Abdy menutup pintu lalu
mengitari mobilnya lalu ikut masuk dan menyalahkan mesin mobilnya.
Lisa yang melihat Abdy mulai melajukan mobilnya keluar dari
parkiran rumah sakit berkata.
“Dy, kenapa tidak menunggu Mama?” Lisa melihat ke arah Abdy
ketika menanyakan itu.
Sementara Abdy yang mendengar ucapan Lisa berkata, “Mereka
bertiga akan menggunakan mobil mereka sendiri.” Abdy mengatakan itu tampa
melihat ke arah Lisa karna saat ini ia tengah pokus melajukan mobilnya di
tengah kemacetan di depan rumah sakit.
“Dy, kamu ko gitu sih?” Lisa memanyumkan bibirnya ketika
mengatakan itu “Mereka semua itu orang tua kita kamu harus mendengarkan apa
yang mereka inginkan,”
Abdy yang mendengar ucapan lisa melirik sejenak lalu kembali
pokus melihat ke arah jalanan, “Aku akan mendengar semua yang mereka katakan,
namun tidak untuk melarangku bertemu denganmu selama dua minggu, itukan namanya
gila.”
Abdy tidak setuju dengan apa yang Nabila katakan padanya
yang melarangnya bertemu dengan Lisa selama dua minggu dan itu akan ia tukar
dengan kado yang akan Nabila berikan padanya, sungguh Abdy benar-benar tidak
setuju dengan hal itu.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy, menarik napasnya lalu
membuangnya secara perlahan kemudian berkata, “Lalu sekarang kamu ingin membawaku
ke mana?” tanya Lisa tampa melihat ke arah Abdy.
“Aku ingin menculikmu, kita akan kembali sehari sebelum
pernikahan kita.” Abdy tersenyum jail melihat ke arah Lisa ketika mengatakan
itu.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy kembali memanyumkan
bibirnya, lalu berkata “Ih, apaan sih Dy kamu itu rada-rada aneh ya.”
Lisa sengaja mengatakan itu karna ia kembali melihat sikap
jail dan sikap konyol Abdy yang sering sekali menggodanya dan bahkan yang Lisa
lihat saat ini Abdy semakin tidak waras karna mengetahui hari pernikahannya
tinggal dua minggu lagi.
Abdy yang melihat Lisa memanyumkan bibirnya seperti itu
kembali berkata, “Itu bibir kamu kenapa? Apa ia merindukan bibirku? karna bibirku
sangat merindukannya.” Ucap Abdy mengoda Lisa.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy berkata, “Ih, kamu apaan si
Dy.” Memukul pelan lengan Abdy dengan tangannya “Kamu jangan aneh-aneh ya Dy,
kita ini belum resmi menikah” Lisa memperingati Abdy kalau status mereka masih
sama-sama lajang.
Abdy terkekeh pelan ketika mendengar ucapan Lisa yang terdengar
manja di telinganya, Abdy berbalik sejenak melihat ke arah Lisa lalu kembali
pokus melihat ke arah jalanan.
Abdy melajukan mobilnya memasuki kawasan perumahan yang
elit, Lisa yang melihat Abdy melajukan mobilnya masuk ke dalam kawasan
perumahan elit, melihat ke kiri dan kekanan, awalnya Lisa berpikir kalau Abdy
akan mengajaknya ke rumah Becca namun ternyata ia salah Abdy melewati rumah Becca
dan berhenti di depan sebuah rumah mewah yang tidak jauh dari rumah Aby dan
Becca cuman selisi dua rumah mewah yang membatasi rumah yang Abdy datangi saat
ini.
Abdy mematikan mesin mobilnya lalu melepas seat belt yang
__ADS_1
mengikat di tubuhnya lalu turun dari mobilnya, Lisa yang melihat Abdy melepas
seat beltnya ikut melepasnya lalu turun dari mobilnya.
Lisa berdiri di sampin Abdy lalu melihat rumah mewah yang
ada di hadapannya saat ini, Lisa yang melihat itu berkata.
“Ini rumah siapa Dy? Ini sangat mirip dengan rumah kak Aby.”
Tanya Lisa pelan melihat ke arah Abdy yang kini tengah melihat ke arah rumah
mewah yang ada di hadapannya.
“Kamu akan tau siapa pemilik rumah ini dan untuk saat ini
kamu ikut aku masuk ke dalam.”
Setelah mengatakan itu Abdy mengengam tangan Lisa lalu
berjalan ke arah pintu utama rumah mewah tersebut. Setelah sampai di depan
pintu utama tampa mengetuk pintu Abdy membuka pintu rumah mewah tersebut.
Abdy dan Lisa berjalan masuk lalu melihat sekelilin ruangan
yang kini penuh dengan barang-barang yang terlihat masih sangat baru, mengapa
ia mengatakan masih sangat baru karna kursi dan beberapa perabot laninya masih
terbungkus pelastik bening.
“Ini rumah siapa Dy?” Tanya lisa kembali sambil melihat ke
arah Abdy yang kini masih sibuk melihat sekeliling ruangan rumahnya.
Abdy yang mendengar pertanyaan Lisa, beralih melihat ke arah
Lisa yang kini tengah melihat ke arahnya, dengan santai Abdy berkata.
“Rumah kekasih hatiku.”
Setelah mengatakan itu Abdy kembali melihat sekeliling
ruangan tamu yang terlihat begitu sangat luas dan tidak menyadari kalau saat
ini Lisa sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan.
Lisa salah paham dengan apa yang baru saja Abdy katakan
kepadanya dan itu membuatnya merasa sedih seluruh tubuhnya terasa sangat lemah
bahkan untuk berdiri di atas kakinya Lisa merasa sangat lemas di tambah saat
ini ia baru saja keluar dari rumah sakit kaki dan tangan Lisa bergetar keringat
dingin mulai memenuhi tangan dan dahinya karna mendengar ucapan Abdy yang
mengatakan kalau ini adalah kekasih hatinya.
“Apa!” terkejut dan juga merasa sedih “Ini rumah kekasihn
hatimu?” tanya Lisa pelan melihat ke arah Abdy.
“Iya ini rumah kekasih hatiku.” Ucap Abdy santai dan tidak
melihat ke arah Lisa yang saat ini wajahnya semakin pucat karna tidak bisa
menahan dan menerima apa yang baru saja Abdy katakan padanya.
Lisa mulai menarik napasnya, lalu membuangnya secara kasar
karna merasa dadanya sesak ia merasa dadanya ingin meledak ketika mendengar
ucapan Abdy yang mengatakan kalau Abdy memiliki kekasih hati selain dirinya.
Lisa kembali berpikir kalau Abdy memang akan menikahinya dan
mereka akan tinggal bertiga di bawah satu naungan, itulah yang ada di dalam pikiran
Lisa saat ini.
Lisa memegan erat bahu Abdy karna merasa sudah tidak tahan
lagi berdiri di atas kakinya, seluruh tubuhnya terasa lemah.
Abdy yang melihat Lisa berpegan erat di bahunya berbalik
melihat ke arah Lisa yang kini tengah berkeringat seluruh wajahnya basah oleh
keringan dingin yang bercucuran di wajahnya.
“Lis, kamu kenapa?” tanya Abdy panik.
Tampa banyak bertanya Abdy lansung mengankat tubuh Lisa
menuju tempat duduk yang ada di ruangan tamu yang ia tempati saat ini, lalu
merebahkan tubuh Lisa yang terasa lemah.
Abdy nampak sangat penik melihat ke adaan Lisa yang seperti
itu, setelah merebahkan tubuh Lisa di atas kursi memanjang, Abdy berlari masuk
ke dapur untuk mengambil air, dengan sangat cepat Abdy keluar dari dapur dengan
membawa sebotol air mineral yang telah ia siapkan sebelumnya.
Abdy mulai membuka tutup botol air mineral lalu membantu
Lisa untuk minum, setelah selesai membantu Lisa minum Abdy mengusap keringat
“Ya, ampun Lis, kamu kenapa? Apa kamu merasa tidak enak
badan? Akan lebih baik kalau kita kembali ke rumah sakit.” Abdy berdiri tepat di
sampin tempat duduk yang Lisa tempati saat ini.
Abdy nampak sangat panik dan juga khwatir melihat ke adaan
Lisa seperti ini, Abdy takut jika Lisa kembali sakit dan masuk ke dalam rumah
sakit lagi, sungguh Abdy tidak menginginkan hal itu.
Lisa yang mendengar semua ucapan abdy, menarik napasya, lalu
membuangnya secara kasar lalu berkata.
“Kamu tidak perlu terlalu peduli dengan aku Dy. Hiks, hiks,
hiks.” Lisa menangis ketika mengatakan itu kepada Abdy “Jika kamu tidak
mencintaiku akan lebih baik kalau kita membatalkan pernikahan kita yang tinggal
dua minggu lagi, aku tidak sudi tinggal serumah denganmu dan kekasihmu.”
Lisa mengatakan itu dalam keadaan menangis sesegukan di
hadapan abdy karna tidak tahan mendengar semua yang Abdy katakan padanya.
Sementara Abdy yang mendengar semua ucapan Lisa mengerutkan
dahi, tidak mengerti dengan apa masksud dari perkataan Lisa yang ingin
membatalkan pernikahannya begitu saja, pernikahan yang selama ini Abdy nantikan
kini Lisa ingin membatalkannya begitu saja.
“Maksud kamu apa Lis? Aku tidak mengerti dengan apa yang
kamu ucapkan.” Abdy nampak sangat bingun dengan apa yang baru saja Lisa katakan
padanya.
“Kamu tidak usah pura-pura lupa dengan apa yang baru saja
kamu katakan.” Lisa nampak sedikit kesal melihat Abdy yang melupakan apa yang
baru saja ia katakan.
“Memangnya apa yang baru saja aku katakan?” Abdy mulai
mengingat apa yang baru saja ia katakan dan itu membuat Lisa hampir saja
pinsang karna tidak tahan mendengarnya.
Abdy melihat ke arah Lisa karna tidak menemukan kesalahan
yang telah ia katakan barusan kepada Lisa. Lisa yang melihat itu berkata.
“Bukankah tadi kamu mengatakan kalau ini adalah rumah
kekasih hatimu? Jika memang ini rumah kekasih hatimu untuk apa kamu mengajak
aku kesini? Kamu jahat Dy, sangat jahat. Hiks, hiks, hiks.” Lisa kembali
menangis ketika selesai mengatatakan itu karna marasa tidak tahan dengan semua
ini “Aku mau pulang dan tidak ingin bertemu lagi denganmu.”
Lisa bangun lalu duduk, kemudian menurunkan ke dua kakinya
klarna ia ingin segera meninggalkan rumah kekasih Abdy.
Sementra Abdy yang mendengar semua kata yang keluar dari
dalam mulut Lisa, tersenyum mengerti kalau saat ini Lisa tengah salah paham
dengan apa yang telah ia katakan.
Abdy yang melihat Lisa menurunkan kedua kakinya dengan
segera duduk di sampin Lisa dan lansung memeluk hangat tubuh Lisa dengan sangat
eratnya, Lisa yang mendapat pelukan hangat itu dari Abdy berusaha melepas
tangan Abdy yang kini tengah melingkar sempurna di tubuhnya.
“Lepaskan aku Dy, kamu tidak perlu bersikap manis kepadaku,
karna itu hanya akan menyakiti hatiku.” Lisa nampak sangat kesal ketika
mengatakan itu.
Abdy yang mendengar ucapan Lisa, bukannya melepas pelukan
justru ia mengeratkan pelukannya dan berbisik pelan di telinga Lisa sambil
berkata.
“Aku mencintaimu Lis, sangat mencintaimu dan kamu telah
salah mengartikan ucapanku.”
Setelah mengatakan itu Abdy melepas pelukannya lalu menatap
wajah Lisa yang nampak sangat pucat, Lisa yang mendengar ucapan Abdy yang
mengatakan kalau saat ini ia hanya salah paham menatap tajam ke arah Abdy
sambil berkata.
__ADS_1
“Maksud kamu apa? Mengatakan kalau aku hanya salah paham,
bukannya kamu sendiri yang mengatakan kalau rumah ini adalah rumah kekasihmu.” Ucap
Lisa dengan nada suara tinggi.
Abdy yang kembali mendengar ucapan Lisa tersenyum karna ia
tau kalau saat ini Lisa benar-benar marah dan juga merasa sangat kesal
kepadanya di tambah rasa cemburu yang Lisa miliki untuk Abdy membuatnya
benar-benar merasa sangat senang.
“Baiklah aku akan menjelaskan semuanya, namun sebelum ini
kamu tunggu aku disini oke, kamu jangan kemana-kemana, atau kamu mau ikut
denganku naik ke lantai atas? Karna di lantai atas aku menaruh barang itu.”
Abdy sedikit menjelaskan.
“Tidak! Aku menunggumu di sini saja.” Lisa melipata tangan
di dadanya ketika selesai mengatakan itu.
“Baiklah aku akan naik ke lantai atas dan akan segera
kembali, dan kamu harus berjanji denganku kamu tidak boleh kemana-mana oky.”
Setelah mengatakan semua itu kepada Lisa Abdy berlari naik
ke lantai atas, dan segera berlari turun dengan membawa sebuah maf yang
berwarna coklat ke pada Lisa.
Hua, hua, hua.
Dengan napas ngos-ngosan Abdy berdiri di hadapan Lisa lalu
menyerahkan maf amplop berwana coklat itu kepada Lisa, Abdy duduk di sampin
Lisa dan meminum air di dalam botol bekas Lisa yang tadi sempat ia minum.
Lisa mulai membuka dan melihat apa isi dari maf amplop
tersebut lalu melihat apa saja isi dari maf amplop tersebut.
“Apa ini?” tanya Lisa melihat ke arah Abdy yang kini tengah
meminum air bekas miliknya.
“Buka dan baca, setelah itu kamu akan tau maksud dari
ucapanku.” Setelah mengatakan itu Abdy kembali meminum air mineral yang ada di
dalam botol tersebut.
Dengan rasa yang sangat penasaran sekaligus ingin tau apa
yang sebenarnya maksud dari ucapan Abdy kepadanya, Lisa mulai membuka dan
melihat apa saja yang di maksud Abdy, dan jika ia membukanya ia akan tau yang
sebenarnya.
Lisa mulai membaca sampul dari buku yang ia keluarkan dari
dalam maf amplop tersebut.
Sertifikat Rumah
Itulah nama yang terterah di sampul buku tipis yang Lisa
pegan saat ini, Lisa mulai membuka lembaran demi lembaran sertifikat rumah
tersebut. Lisa membulatkan matanya terkejut ketika melihat namanya terterah di
dalam sertifikat rumah tersebut.
Lisa Baskoro pemilik sah dari rumah mewah bela, bela dan
selanjutnya.
“Abdy ini maksudnya apa?” Lisa melihat ke arah Abdy yang
kini tengah duduk di sampinnya sambil melihat ke arahnya.
Dengan senyuman Abdy menjawab, “Ini hadiah pernikahan dari
Om Hamish untukmu, Om Hamish telah mengangapmu sebagai putri keduanya, dan ia
meminta maaf karna tidak sempat datang menjegukmu sewaktu kamu di rawat di
rumah sakit karna ia sangat sibuk dengan semua pekerjaannya.” Abdy menjelaskan
secara dtail kepada Lisa karna ia tidak ingin Lisa kembali salah paham dengan
semua yang ia ucapkan nantinya dan cukup sekali ia salah paham dan hampir
membuatnya tidak sadarkan diri karna merasa sangat sedih dengan semua yang ia
katakan.
Sementara Lisa yang mendengar semua penjelasan Abdy merasa
tidak percaya, melihat apa yang ada di tangannya saat ini, rumah mewah yang ia
tempati saat ini adalah miliknya, hadiah yang pernikahan yang Hamish berikan untuknya.
Lisa terdiam melihat sertifikat rumah yang ada di tangannya
saat ini, ia tidak sedikit tidak percaya dengan semua ini, hingga akhirnya ia
berkata kepada Abdy.
“Apa semua ini benar? Dan nyata?” Lisa melihat ke arah
sertifikat rumah yang ada di tangannya.
“Iya tentu saja semua ini benar dan nyata.” Abdy mengecup
pelan wajah Lisa dari sampin ketika selesai mengatakan itu “Dan bagaimana? Apa sekarang
kamu percaya kalau semua ini nyata?” Abdy terkekeh ketika selesai mengatakan
itu kepada Lisa.
Lisa yang mendapat kecupan di wajahnya mengusapnya dengan
sangat lembut, percaya kalau saat ini memang benar ia tidak bermimpi
mendapat hadiah sebesar itu dari Hamish
Daddy Rebecca.
Dan memang benar yang Abdy katakan kalau rumah ini memang
benar rumah kekasih hatinya, dan ternyata itu adalah dirinya sendiri, orang
yang sangat Abdy cintai.
“Maafkan aku Dy.” Menyandarkan kepala di bahu Abdy “Karna
aku telah salah paham dan tidak percaya kepadamu.” Ucapa Lisa pelan.
Abdy hanya tersenyum mendengar ucapan Lisa, lalu merangkul
bahu Lisa karna saat ini Lisa tengah bersandar di lengannya.
“Makanya kamu itu jangan terlalu cepat mengumpulkan yang
aneh-aneh di dalam pikiran kamu.” Abdy menarik hidung Lisa ketika selesai
mengatakan itu.
“Ya, maaf” nada suara manja “Aku kan cemburu Dy, wanita mana
yang tidak akan cemburu jika orang yang sangat di cintainya menyebut nama
kekasih di depannya, karna ini juga salahmu karna kamu tidak mengatakan
sebelumnya.” Lisa menarik tubuhnya dari rangkulan Abdy lalu memulai perdebatan
yang menyalahkan Abdy atas apa yang baru saja terjadi.
Lisa tidak berhenti mengomel di hadapan Abdy ia menyalahkan
semua yang terjadi dengannya barusan, dan Lisa saat ini seperti seorang istri
yang tengah menunggu suaminya pulang selama berjam-jam dan suaminya tidak
pulang-pulang.
Abdy yang mendengar omelan Lisa menutup matanya sebelah
karna merasa sedikit risih mendengar semua ocehan Lisa yang kembali berulang
kali hingga akhirnya ia menutup bibir Lisa dengan bibirnya dan itu membuat Lisa
berhenti mengoceh di hadapan.
Lisa membulatkan matanya terkejut ketika Abdy tengah
menempelkan bibirnya di bibi bibirnya, Lisa yang tadinya terus mengoceh kini
berhenti karna bibir Abdy membekap bibirnya.
Lisa berusaha melepas pautan bibir Abdy di bibirnya, namun
Abdy tambah memeluknya dengan sangat erat bahkan saat ini Abdy merebahkan tubuh
Lisa di atas kursi yang ada di ruangan tamu dan melanjutkan ciuman mereka.
Lisa yang tadinya berusaha menolak kini tengah menikmati sentuhan
bibir Abdy yang terasa sangat lembut menyentuh setiap sudut bibir, bahkan Lisa
mulai membalas setiap kecupan demi kecupan yang Aby lakukan di bibirnya.
Tidak sampai di situ saja, Abdy mulai menelusuri leher
jenjang Lisa, sementara tangannya mulai menyusup masuk ke dalam baju yang ia
Lisa kenakan, satu persatu kancin baju yang Lisa kenakan terbuka dan mulia
memperlihatkan bagian kenyal Lisa yang tertutup dengan bra yang Lisa kenakan.
Di sana Abdy mulai bermain ia merasa bagian kenyal Lisa
adalah tempat favoritnya dan mulai membuat tanda kemerahan di sana dan itu
membuat Lisa mengeluakan desahannya dengan apa yang tengah Abdy lakukan
kepadanya.
Abdy berhenti melakukan hal itu ketika mendengar suara
desahan Lisa karna ia takut akan melakukan hal yang lebih dari apa yang tengah
ia lakukan sekarang.
__ADS_1