
Mendengar ucapan putra -putranya. Doni tersenyum melihat ke arah Nabila.
"Lihatlah sayang, kamu ngak bisa masak. Namun lihatlah menantu, dan calon menantu kita mereka semua pintar memasak. jadi kamu tak perlu khawatir lagi. Mereka semua akan masak buat kita." Doni tersenyum lembut melihat ke arah istrinya lalu beralih ke arah anak -anaknya.
"Tapi, mas aku malu pada mereka semua, aku setua ini, tapi ngak tau masak, apa kata mereka nanti?."
Becca berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekat ke arah Nabila dan Doni.
"Mama, tak perlu khawatir kalau soal itu, karna aku, menantu mama tak akan membiarkan mama menyentuh peralatan dapur sama sekali, aku janji ayah." Becca melihat ke arah Doni dan juga Nabila. Nabila pun memegan wajah Becca lalu berkata.
"Aku, sungguh beruntun mendapatkan menantu sebaik kamu, dan maafkan mama, soal kejadian kemarin, karna mama kamu celaka."
"Sudahlah, ma, yang lalu, biarlah berlalu, ngak perlu di ungkit lagi, masalah kemarin aku telah melupakannya."
__ADS_1
Melihat kebahagian keluar Abdy. Lisa pun tersenyum dan itu di perhatikan oleh Abdy.
"Kenapa kamu tersenyum?." tanya Abdy sambil melihat ke arah Lisa.
"Aku, senang melihat kebahagian di dalam keluarga ini, kalian semua saling menyayangi satu sama lain, aku salut pada semua anggota keluargamu Dy."
"Jika, kamu mau, kamu juga bisa masuk dalam keluargaku sebagai menantu," ucap Abdy pelan. Namun ucapannya itu masih terdengar jelas di telinga Lisa.
"Hem, enggak, aku tak mengatakan apapun, aku hanya ingin mengatakan pada semuanya, sebaiknya kita makan. karna makanannya hampir dingin." Abdy mengelak dari ucapannya.
Abdy pun mengambil pirin dan juga sendok lalu mengetuknya. Ting, ting, ting. Suara ketukan pirin itu membuat yang lain melihat ke arah Abdy.
"Abdy berisik," Ucap semua yang ada di dalam ruangan makan. Mereka semua pun berjalan ke arah meja makan, karna mereka mengerti maksud Abdy mengetuk pirin. Selesai menikmati makan siang. Lisa membereskan semua bekas makanan yang ada di meja makan dan di bantu oleh Abdy.
__ADS_1
"Ngak perlu, Dy, di sini ada bi Lastri yang membatuku." Lisa menatap Abdy sambil tersenyum.
"Tak, apa, aku juga sering melakukan ini bersama bi Lastri, iya kan Bi." Tanya Abdy sambil melihat ke arah Lastri.
"Iya, Non, Bibi selalu di bantu oleh tuan muda, cuman ya, kaya gitu, tuan muda selalu bertingkah konyol pada Bibi, dan itu selalu membuat Bibi tertawa."
"Benarkah?."
"Benar sekali Non, tuan muda Abdy itu orang yang sangat konyol dan juga humoris, selain itu tuan muda juga sangat baik, walaupu terkadang suka bikin Bibi kesel dengan tingkahnya." Lastri menjelaskan ke Lisa sambil menatap ke arah Abdy.
"Bibi, apaan sih, jangan bocorin rahasia aku dong, kan malu Bi." ucap Abdy sedikit konyol dan itu membuat Lisa tertawa besar. Ha, ha, ha, suara tawa Lisa.
"Abdy, Abdy, kamu ada -ada saja, kamu lucu banget sih kalau bicara seperti itu." Lisa terus saja tertawa. Membuat Abdy berjalan ke arah Lisa, lalu berhenti pas di hadapan, lalu menatap tajam ke arah wajah Lisa. Lisa pun berhenti tertawa sambil menutup mulutnya dengan ke dua tangannya. Abdy menatap tajam mata Lisa, dan merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.
__ADS_1