Cinta Aby

Cinta Aby
Eps.184


__ADS_3

Bahkan saat ini Rendi sangat malu melihat ke arah wajah


Abdy, pemuda yang telah ia hina dan ia penjarakan.


Abdy yang melihat wajah menyesal ayah Lisa, tersenyum sambil


berkata “Tidak masalah Om, aku sudah melupakan dan memaafkan semuanya.”


Abdy mengatakan semua itu dengan wajah yang terlihat tulus,


Clarisa yang mendengar itu angkat bicara.


“Nabila ternyata kedua putramu sangat baik, mereka berdua


memiliki sipat yang sama sepertimu, suka memaafkan.”


Nabila yang mendengar ucapan Clarisa hanya tersenyum karna


memang benar yang di katakan Clarisa, atas semua didikannya putra-putranya kini


tumbuh menjadi anak-anak yang patuh dan juga menghormati orang tua.


Doni yang mendengar ucapan Clarisa melihat ke arah kedua


putra-putranya, namun tampa sengaja ia melihat bekas memar yang ada di pinggir


bibir Abdy putranya.


“Wajah kamu kenapa Dy?” menatap wajah putranya yang kini


tengah menghitam di pinggir bibirnya.


Abdy yang mendengar pertanyaan Ayahnya, memegan pinggir


bibirnya dengan tangannya sambil tersenyum melihat ke arah ayahnya.


Sementara yang lainnya mulai merasa tegan, mendengar


pertanyaan Doni kepada putranya, terlebih Nabila ia sangat takut mendengar


pertanyaan suaminya, pertnyaan yang akan membatalkan semua rencana yang telah


Aby buat.


Jika sampai Doni mengetahui semua yang telah terjadi dengan


putranya tentu ia akan sangat marah, marah jika mengetahui orang lain memukul


putranya, karna ia sendiri selaku ayahnya tidak pernah hal itu, mulai putranya


kecil hingga dewasa Doni tidak pernah mengankar tangan untuk anak-anaknya.


Wajah Rendi sangat pucat ketika mendengar ucapan Doni, karna


ia juga merasa sangat takut, takut jika Doni mengetahui yang sebenarnya.


“Hem, ini Yah.” Tersenyum “Tadi di kantor aku tidak sengaja


menabrak pintu ruangan bos.” Abdy sengaja berbohong karna ia tau jika ayahnya


sampai tau ia di pukul oleh Rendi, tentu ayahnya akan sangat marah dan


kemungkinan besar ia tidak akan jadi menikahi Lisa, dan Abdy tidak ingin itu


terjadi.


Dan untuk menghindari hal itu, Abdy sengaja berbohong. Maafkan aku ayah, bukan maksud aku ingin berbohong keadamu. Abdy membatin.


Nabila yang mendengar ucapan putranya mengelus dada karna ia


sangat takut, takut jika Abdy mengatakan yang sebenarnya.


Doni yang mendengar ucapan putranya berkata. “Apa kamu sudah


mengobatinya? Kompres dengan air hangat, agar memarnya menghilang, kan sayang


wajah tampanmu menghitam seperti itu.” Doni tertawa setelah mengatakan itu.


Hahaha.


Membuat semua yang ada di dalam ruangan itu ikut tertawa,


karna merasa lucu dengan apa yang baru saja di katakan oleh Doni selaku ayah


Aby dan Abdy.


Suasana di dalam ruangan tamu, mulai kembali  terasa hangat ketika mereka semua mendengar


suara tawa Doni.


Dan kini Aby mulai membicarakan soal pernikahan  dan tidak lupa ia meminta pendapat dan


persetujuan kedua orang tuanya, karna pernikahan ini harus melibatkan kedua


belah pihak.


 Doni dan Rendi mulai


sibuk membahas soal pernikahan putra dan putri mereka yang akan di lansungkan


lima hari lagi. Nabila yang mendengar pernikahan terburu-buru putranya agak


sedikit tidak setuju, karna Nabila menginginkan putranya menikah dengan upacara


dan adat yang lengkap.


Sebagai seorang ibu wajar ia mengatakan semua itu, karna ia


menginginkan semua yang terbaik untuk putranya. Namun di saat Aby menjelaskan


yang sebenarnya, akhirnya Nabila mengerti dan menyetejui semua yang telah di


rencanakan dengan satu syarat.


Meskipun upacara pernikahan telah di lansungkan Nabila ingin


mengelar resepsi besar-besaran untuk Aby dan juga Abdy.


Karna Nabila mengingat kalau Aby juga belum melakukan


resepsi pernikahannya dengan Becca karna terhalan oleh kecelakaan yang menimpa


Becca beberapa bulan lalu.


“Baiklah, aku terima persyaratan mama.” Aby tersenyum


melihat ke arah Becca ketika mengatakan itu, dan di balas senyuman oleh Becca.


Becca nampak sangat senang mendengar keinginan ibu mertuanya


di tambah persetujuan Aby yang ingin melakukan resepsi pernikahan tersebut


membuatnya merasa benar-benar sangat senang.


Acara pembahasan pernikahan telah selesai, kini Rendi dan


Clarisa sudah ingin pamit untuk kembali ke rumah mereka, namun sebelum itu Abdy


berpesan kepada Rendi agar tidak mengatakan hal ini kepada Lisa.


“Om, aku minta kepada Om, agar tidak mengatakan hal ini


kepada Lisa, karna aku ingin memberikan kejutan.” Abdy berdiri tepat di hadapan


Rendi ketika mengatakan itu.


“Baiklah.” Menepuk bahu “Aku tidak akan mengatakannya.” Rendi


tersenyum melihat ke arah wajah Abdy lalu berlalu keluar dari kediaman Atmaja.


Waktu terus berlalu hari pernikahan semakin dekat, Lisa


semakin gelisah karna selama tiga hari Abdy tidak pernah menghubungi, ataupun

__ADS_1


menelponnya.


“Is” Lisa sangat kesal ketika ia menghubungi nomor Abdy,


namun Abdy tidak pernah menjawab panggilannya.


Sementara Abdy yang melihat nama My loveli tertulis di layar


hapenya tersenyum, karna ia sengaja tidak menjawab panggilan Lisa karna


ingin  memberikan Lisa kejutan dengan


datang menemuinya sebagai hadiah ulang tahun. Berhubung besok adalah hari ualan


tahung Lisa.


Abdy tidak berhenti menatap cincin berlian yang ada di


tangannya, dengan senyuman ceria yang ia sunggingkan di bibirnya.


“Lisa akan terlihat sangat cantik jika mengenakan cincin.”


Abdy kembali memasukkan cincin tersebut ke dalam kotaknya lalu memasukkannya


kedalam saku jas yang ia kenakan.


Lisa tidak berhenti merasa sangat gelisa, ia tidak berhenti


berjalan ke sana-kemari di dalam kamarnya, sambil melihat layar hapenya


berharap Abdy akan menghubunginya. Ia merasa sangat takut, karna pernikahannya


tinggal dua hari lagi dengan Romi itulah yang Lisa ketahui.


Karna kedua orang tuanya tidak mengatakan apapun atas permintaan


Abdy, namun kedua orang tua Lisa mulai bersikap baik, bahkan Rendi selaku


ayahnya selalu menyebut nama Abdy seperti sarapan tadi pagi Rendi tidak sengaja


menanyakan kabar Abdy.


“Oya, Lisa, apa Abdy sudah menelponmu?” tanya Rendi kepada


putrinya.


Lisa yang mendengar pertanyaan ayahnya merasa sangat bingun


sekaligus terkejut, karna setau Lisa ayahnya sangat tidak menyukai Abdy.


“Tidak pernah yah, Abdy tidak pernah menghubungiku.” Jawab


Lisa pelan.


Bingun dan heran itulah yang tengah Lisa rasakan saat ini


karna yang ia tau kalau ayahnya itu sangat membenci Abdy. Lisa merasa sedikit


aneh melihat kelakuan kedua orang tuanya, namun ia enggan untuk menanyakan hal


itu kepada mereka mengingat ayahnya sangat membenci Abdy.


Setelah selesai menikmati sarapan paginya Lisa kembali


kekamarnya, karna ia merasa sangat risih dengan semua orang yang lalu lalang di


dalam rumahnya.


Rumah Lisa mulai nampak sangat ramai, berhubung


pernikahannya dengan Romi tinggal dua hari lagi dan itu membuatnya tidak


berhenti merasa gelisah, gelisah karna Abdy tidak pernah memberi kabar tentang


dirinya, bahkan Lisa merasa kalau saat ini Abdy mulai menyerah dengan


perjuangannya.


Dengan wajah di tekuk Lisa berjalan masuk ke dalam kamarnya


melalui jasa kurir.


Lisa memasukkan kanton obat tersebut ke dalam laci


lemarinya, lalu melihat ke arah layar hapenya, karna berharap Abdy akan


mengirim pesan kepadanya, namun Lisa kembali kecewa ketika ia tidak melihat


satu pesan pun dari Abdy.


“Huff.” Menarik napas “Mungkin Abdy benar-benar telah


menyerah.” Ucap Lisa lirih sambil meneteskan air matanya.


Lisa berjalan ke arah tempat tidurnya, sambil membawa


selembar kertas juga polpen lalu menulis sebuah surat untuk Abdy.


Abdy, aku mencintaimu.


Maaf ini tidaklah harus terjedi,namun harus terjadi karna


aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin menjadi milik orang lain karna aku hanya


milikku, Abdy aku mencintaimu.


Ma, Pa maafkan aku yang tidak bisa melakukan apa yang kalian inginkan.


Lisa menulis surat tersebut dalam keadaan menangis, meskipun


ia tidak ingin melakukannya, namun iaterpaksa karna ia tidak ingin menikah


dengan Romi, yang ia inginkan hanya menikah dengan Abdy namun itu semua hanya


tinggal dalam angannya saja, Ayah yang tidak merestui sementara Abdy mulai


tidak memperjuangkannya lagi.


Itulah yang ada di dalam pikiran Lisa saat ini, rasa sedih,


kecewa, dengan semua ini membuatnya tidak memiliki jalan keluar selain


melakukan hal nekat tersebut.


Dengan senyuman yang di paksakan Lisa turun ke lantai dasar


dimana Ayah dan Ibunya kini tengah berkumpul dengan sanak keluarganya yang


lain.


Lisa berjalan ke arah Ayah dan ibunya yang kini tengah duduk


berdampingan, lalu duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.


“Lagi membahas apa Ma, pa?” tanya Lisa melihat ke arah orang


tuanya secara bergantian.


“Membahas pernikahanmu yang akan di laksanakan besok.”


Clarisa menarik pelan hidung putrinya ketika mengatakan itu.


Meskipun merasa sangat sedih mendengar ucapan Mamanya, namun


Lisa sebisa mungkin memaksakan dirinya untuk tersenyum hangat melihat ke arah


mamanya.


“Ma, Pa, aku naik ke kamar dulu ya. Ini sudah sangat larut.”


Lisa pamit kepada kedua orang tuanya sambil memeluk erat mereka berdua.


Rendi dan Clarisa yang melihat senyuman ceria yang putrinya

__ADS_1


perlihatkan tersenyum karna ia mengira kalau Abdy telah mengatakan semuanya


kepada Lisa, sehingga ia terlihat senang seperti itu itulah yang orang tua Lisa


pikirkan.


Dan untuk merayakan acara ulang tahun putrinya malam ini


Clarisa telah menyiapkan semuanya, dengan sangat lengkap dan kini ia hanya


menanti kedatangan Abdy untuk memberikan kejutan kepada putrinya.


Jam telah menungjukkan 11.30 waktu setempat, berarti


setengah jam lagi umur Lisa akan memasuki usia yang ke 22tahun. Abdy beserta


seluruh anggota keluarganya saat ini tengah berkumpul di ruangan tamu keluarga


Lisa.


Sementara di dalam kamar, Lisa menangis sesegukan sambil


menyebut nama Abdy, lalu meminum sebotol racun mematikan yang telah ia pesan


tadi sore, racun yang akan membuatnya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Meninggalkan


semua orang di cintainya dan mencintainya.


Setelah selesai meminum racun tersebut Lisa tertawa sendiri


sambil mengeluarkan air mata. Racun mulai berekasi dan itu membuat tubuh Lisa


terasa lemah, hingga akhirnya ia terjatuh ke lantai dengan mengatakan.


“Ma—afkan aku A—ayah.” Nada suara terputus-putus “Ma---afkan


aku Ma. Ma---afkan a---ku Dy. A—aaaku sa—ngat men—cintitamuu. Huhuhu.”


Setelah mengatakan itu mulut Lisa mulai mengeluarkan busa,


dan juga darah, hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya.


Sepuluh menit lagi jam 12, Abdy berserta dengan semua


anggota keluarganya dan anggota keluarga Lisa berjalan ke arah kamar Lisa


sambil membawa kue tar dengan lilin angka 22 di atas kue ulang tahun.


Dengan senyuman ceria Abdy membuka pintu kamar Lisa sambil


berkata “Selama---t?”


Ucapan Abdy terhenti ketika melihat ke arah Lisa yang kini


tengah tergeletak di lantai sambil mengeluarkan darah dan juga busa dari dalam


mulutnya.


“Lisa!” teriak Abdy sambil berlari ke arah Lisa yang kini


tengah tidak sadarkan diri, sementara kue ulang tahun yang Abdy bawa jatuh


begitu saja kelantai.


Semua keluarga merasa sangat terkejut ketika melihat Abdy


berteriak sambil berlari ke arah Lisa yang kini tengah tergeletak di lantai,


dan yang lebih terkejut kedua orang tua Lisa, karna ia tidak mengharap putrinya


akan melakukan hal nekat seperti ini.


 Karna ketika Lisa


menemui mereka berdua Lisa nampak sangat senang dan bahagia tidak seperti orang


yang ingin melakukan hal seperti ini.


Abdy mengakat wajah Lisa naik ke atas pangkuannya, lalu


menepuk pelan wajah Lisa.


“Lis, Lisa!” menepuk pelan wajah Lisa “Bangun Lisa, bangun”


Abdy berusaha membangunkan Lisa dengan cara tidak berhenti menepuk pelan wajah


Lisa.


Abdy terlihat sangat panik, dan juga sangat takut terjadi


sesuatu yang buruk dengan Lisa, melihat keadaan Lisa yang seperti ini dalam


keadaan mengeluarkan busa dan juga darah dari dalam mulutnya membuat seluruh


tubuh Abdy mengeluarkan keringat dingin seluruh tubuhnya bergetar karna merasa


sangat cemas dan takut.


Becca yang melihat sebuah botol yang berguling-guling tidak


jauh dari tempat Lisa tak sadarkan diri dengan segera mengambil botol tersebut


lalu melihatnya.


“Apa!” syok sekaligus terkejut “Abdy cepat angkat tubuh


Lisa, kita harus segera membawanya ke rumah sakit sebelum terlambat.”


Becca nampak sangat panik ketika mengatakan itu kepada Abdy


karna ia tau racun yang telah Lisa telan sangat berbahaya dan itu bisa


merenggut nyawa Lisa jika tidak segera mendapatkan pertolongan.


Abdy yang mendengar ucapan Becca berkata “Memangnya apa yang


terjadi dengan Lisa kakak ipar? Kenapa ia sampai seperti ini?”


Rasa takut mulai menyelimuti hati Abdy, setelah selesai


mendengar apa yang baru saja Becca katakan.


“Sudah Dy, aku tidak ada waktu untuk menjelaskan ini! Yang jelas


saat ini Lisa harus segera dapat pertolongan dari dokter kalau tidak kita akan


kahilangan Lisa untuk selama-lamanya.”


Abdy merasa sangat takut, ketika mendengar apa yang Becca


ucapkan, dan tampa berkata lagi Abdy mengankat tubuh Lisa keluar dari dalam


kamarnya lalu membawanya turun dan berlari menuju arah mobilnya dengan mebawa


tubuh Lisa dalam ke adaan tidak sadarkan diri.


Di dalam perjalanan menuju ke arah rumah sakit Becca tidak


berhenti mengontrol detak jantung Lisa lewat nadinya. Detak jantung yang sangat


lemah menurut Becca.


Dua puluh lima menit telah berlalu mobil yang Aby gunakan


untuk membawa Lisa kerumah sakit kini  telah  mulai memasuki Area rumah


sakit,  Abdy mematikan mesin mobil ketika


telah sampai di depan pintu utama rumah sakit.


Setelah mesin mobil yang Abdy tumpangi mati, dengan sangat


buru-buru Abdy turun dan lansung keluar dari dalam mobil sambil mengendong

__ADS_1


tubuh Lisa berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


__ADS_2