
Bahkan saat ini Rendi sangat malu melihat ke arah wajah
Abdy, pemuda yang telah ia hina dan ia penjarakan.
Abdy yang melihat wajah menyesal ayah Lisa, tersenyum sambil
berkata “Tidak masalah Om, aku sudah melupakan dan memaafkan semuanya.”
Abdy mengatakan semua itu dengan wajah yang terlihat tulus,
Clarisa yang mendengar itu angkat bicara.
“Nabila ternyata kedua putramu sangat baik, mereka berdua
memiliki sipat yang sama sepertimu, suka memaafkan.”
Nabila yang mendengar ucapan Clarisa hanya tersenyum karna
memang benar yang di katakan Clarisa, atas semua didikannya putra-putranya kini
tumbuh menjadi anak-anak yang patuh dan juga menghormati orang tua.
Doni yang mendengar ucapan Clarisa melihat ke arah kedua
putra-putranya, namun tampa sengaja ia melihat bekas memar yang ada di pinggir
bibir Abdy putranya.
“Wajah kamu kenapa Dy?” menatap wajah putranya yang kini
tengah menghitam di pinggir bibirnya.
Abdy yang mendengar pertanyaan Ayahnya, memegan pinggir
bibirnya dengan tangannya sambil tersenyum melihat ke arah ayahnya.
Sementara yang lainnya mulai merasa tegan, mendengar
pertanyaan Doni kepada putranya, terlebih Nabila ia sangat takut mendengar
pertanyaan suaminya, pertnyaan yang akan membatalkan semua rencana yang telah
Aby buat.
Jika sampai Doni mengetahui semua yang telah terjadi dengan
putranya tentu ia akan sangat marah, marah jika mengetahui orang lain memukul
putranya, karna ia sendiri selaku ayahnya tidak pernah hal itu, mulai putranya
kecil hingga dewasa Doni tidak pernah mengankar tangan untuk anak-anaknya.
Wajah Rendi sangat pucat ketika mendengar ucapan Doni, karna
ia juga merasa sangat takut, takut jika Doni mengetahui yang sebenarnya.
“Hem, ini Yah.” Tersenyum “Tadi di kantor aku tidak sengaja
menabrak pintu ruangan bos.” Abdy sengaja berbohong karna ia tau jika ayahnya
sampai tau ia di pukul oleh Rendi, tentu ayahnya akan sangat marah dan
kemungkinan besar ia tidak akan jadi menikahi Lisa, dan Abdy tidak ingin itu
terjadi.
Dan untuk menghindari hal itu, Abdy sengaja berbohong. Maafkan aku ayah, bukan maksud aku ingin berbohong keadamu. Abdy membatin.
Nabila yang mendengar ucapan putranya mengelus dada karna ia
sangat takut, takut jika Abdy mengatakan yang sebenarnya.
Doni yang mendengar ucapan putranya berkata. “Apa kamu sudah
mengobatinya? Kompres dengan air hangat, agar memarnya menghilang, kan sayang
wajah tampanmu menghitam seperti itu.” Doni tertawa setelah mengatakan itu.
Hahaha.
Membuat semua yang ada di dalam ruangan itu ikut tertawa,
karna merasa lucu dengan apa yang baru saja di katakan oleh Doni selaku ayah
Aby dan Abdy.
Suasana di dalam ruangan tamu, mulai kembali terasa hangat ketika mereka semua mendengar
suara tawa Doni.
Dan kini Aby mulai membicarakan soal pernikahan dan tidak lupa ia meminta pendapat dan
persetujuan kedua orang tuanya, karna pernikahan ini harus melibatkan kedua
belah pihak.
Doni dan Rendi mulai
sibuk membahas soal pernikahan putra dan putri mereka yang akan di lansungkan
lima hari lagi. Nabila yang mendengar pernikahan terburu-buru putranya agak
sedikit tidak setuju, karna Nabila menginginkan putranya menikah dengan upacara
dan adat yang lengkap.
Sebagai seorang ibu wajar ia mengatakan semua itu, karna ia
menginginkan semua yang terbaik untuk putranya. Namun di saat Aby menjelaskan
yang sebenarnya, akhirnya Nabila mengerti dan menyetejui semua yang telah di
rencanakan dengan satu syarat.
Meskipun upacara pernikahan telah di lansungkan Nabila ingin
mengelar resepsi besar-besaran untuk Aby dan juga Abdy.
Karna Nabila mengingat kalau Aby juga belum melakukan
resepsi pernikahannya dengan Becca karna terhalan oleh kecelakaan yang menimpa
Becca beberapa bulan lalu.
“Baiklah, aku terima persyaratan mama.” Aby tersenyum
melihat ke arah Becca ketika mengatakan itu, dan di balas senyuman oleh Becca.
Becca nampak sangat senang mendengar keinginan ibu mertuanya
di tambah persetujuan Aby yang ingin melakukan resepsi pernikahan tersebut
membuatnya merasa benar-benar sangat senang.
Acara pembahasan pernikahan telah selesai, kini Rendi dan
Clarisa sudah ingin pamit untuk kembali ke rumah mereka, namun sebelum itu Abdy
berpesan kepada Rendi agar tidak mengatakan hal ini kepada Lisa.
“Om, aku minta kepada Om, agar tidak mengatakan hal ini
kepada Lisa, karna aku ingin memberikan kejutan.” Abdy berdiri tepat di hadapan
Rendi ketika mengatakan itu.
“Baiklah.” Menepuk bahu “Aku tidak akan mengatakannya.” Rendi
tersenyum melihat ke arah wajah Abdy lalu berlalu keluar dari kediaman Atmaja.
Waktu terus berlalu hari pernikahan semakin dekat, Lisa
semakin gelisah karna selama tiga hari Abdy tidak pernah menghubungi, ataupun
__ADS_1
menelponnya.
“Is” Lisa sangat kesal ketika ia menghubungi nomor Abdy,
namun Abdy tidak pernah menjawab panggilannya.
Sementara Abdy yang melihat nama My loveli tertulis di layar
hapenya tersenyum, karna ia sengaja tidak menjawab panggilan Lisa karna
ingin memberikan Lisa kejutan dengan
datang menemuinya sebagai hadiah ulang tahun. Berhubung besok adalah hari ualan
tahung Lisa.
Abdy tidak berhenti menatap cincin berlian yang ada di
tangannya, dengan senyuman ceria yang ia sunggingkan di bibirnya.
“Lisa akan terlihat sangat cantik jika mengenakan cincin.”
Abdy kembali memasukkan cincin tersebut ke dalam kotaknya lalu memasukkannya
kedalam saku jas yang ia kenakan.
Lisa tidak berhenti merasa sangat gelisa, ia tidak berhenti
berjalan ke sana-kemari di dalam kamarnya, sambil melihat layar hapenya
berharap Abdy akan menghubunginya. Ia merasa sangat takut, karna pernikahannya
tinggal dua hari lagi dengan Romi itulah yang Lisa ketahui.
Karna kedua orang tuanya tidak mengatakan apapun atas permintaan
Abdy, namun kedua orang tua Lisa mulai bersikap baik, bahkan Rendi selaku
ayahnya selalu menyebut nama Abdy seperti sarapan tadi pagi Rendi tidak sengaja
menanyakan kabar Abdy.
“Oya, Lisa, apa Abdy sudah menelponmu?” tanya Rendi kepada
putrinya.
Lisa yang mendengar pertanyaan ayahnya merasa sangat bingun
sekaligus terkejut, karna setau Lisa ayahnya sangat tidak menyukai Abdy.
“Tidak pernah yah, Abdy tidak pernah menghubungiku.” Jawab
Lisa pelan.
Bingun dan heran itulah yang tengah Lisa rasakan saat ini
karna yang ia tau kalau ayahnya itu sangat membenci Abdy. Lisa merasa sedikit
aneh melihat kelakuan kedua orang tuanya, namun ia enggan untuk menanyakan hal
itu kepada mereka mengingat ayahnya sangat membenci Abdy.
Setelah selesai menikmati sarapan paginya Lisa kembali
kekamarnya, karna ia merasa sangat risih dengan semua orang yang lalu lalang di
dalam rumahnya.
Rumah Lisa mulai nampak sangat ramai, berhubung
pernikahannya dengan Romi tinggal dua hari lagi dan itu membuatnya tidak
berhenti merasa gelisah, gelisah karna Abdy tidak pernah memberi kabar tentang
dirinya, bahkan Lisa merasa kalau saat ini Abdy mulai menyerah dengan
perjuangannya.
Dengan wajah di tekuk Lisa berjalan masuk ke dalam kamarnya
melalui jasa kurir.
Lisa memasukkan kanton obat tersebut ke dalam laci
lemarinya, lalu melihat ke arah layar hapenya, karna berharap Abdy akan
mengirim pesan kepadanya, namun Lisa kembali kecewa ketika ia tidak melihat
satu pesan pun dari Abdy.
“Huff.” Menarik napas “Mungkin Abdy benar-benar telah
menyerah.” Ucap Lisa lirih sambil meneteskan air matanya.
Lisa berjalan ke arah tempat tidurnya, sambil membawa
selembar kertas juga polpen lalu menulis sebuah surat untuk Abdy.
Abdy, aku mencintaimu.
Maaf ini tidaklah harus terjedi,namun harus terjadi karna
aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin menjadi milik orang lain karna aku hanya
milikku, Abdy aku mencintaimu.
Ma, Pa maafkan aku yang tidak bisa melakukan apa yang kalian inginkan.
Lisa menulis surat tersebut dalam keadaan menangis, meskipun
ia tidak ingin melakukannya, namun iaterpaksa karna ia tidak ingin menikah
dengan Romi, yang ia inginkan hanya menikah dengan Abdy namun itu semua hanya
tinggal dalam angannya saja, Ayah yang tidak merestui sementara Abdy mulai
tidak memperjuangkannya lagi.
Itulah yang ada di dalam pikiran Lisa saat ini, rasa sedih,
kecewa, dengan semua ini membuatnya tidak memiliki jalan keluar selain
melakukan hal nekat tersebut.
Dengan senyuman yang di paksakan Lisa turun ke lantai dasar
dimana Ayah dan Ibunya kini tengah berkumpul dengan sanak keluarganya yang
lain.
Lisa berjalan ke arah Ayah dan ibunya yang kini tengah duduk
berdampingan, lalu duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.
“Lagi membahas apa Ma, pa?” tanya Lisa melihat ke arah orang
tuanya secara bergantian.
“Membahas pernikahanmu yang akan di laksanakan besok.”
Clarisa menarik pelan hidung putrinya ketika mengatakan itu.
Meskipun merasa sangat sedih mendengar ucapan Mamanya, namun
Lisa sebisa mungkin memaksakan dirinya untuk tersenyum hangat melihat ke arah
mamanya.
“Ma, Pa, aku naik ke kamar dulu ya. Ini sudah sangat larut.”
Lisa pamit kepada kedua orang tuanya sambil memeluk erat mereka berdua.
Rendi dan Clarisa yang melihat senyuman ceria yang putrinya
__ADS_1
perlihatkan tersenyum karna ia mengira kalau Abdy telah mengatakan semuanya
kepada Lisa, sehingga ia terlihat senang seperti itu itulah yang orang tua Lisa
pikirkan.
Dan untuk merayakan acara ulang tahun putrinya malam ini
Clarisa telah menyiapkan semuanya, dengan sangat lengkap dan kini ia hanya
menanti kedatangan Abdy untuk memberikan kejutan kepada putrinya.
Jam telah menungjukkan 11.30 waktu setempat, berarti
setengah jam lagi umur Lisa akan memasuki usia yang ke 22tahun. Abdy beserta
seluruh anggota keluarganya saat ini tengah berkumpul di ruangan tamu keluarga
Lisa.
Sementara di dalam kamar, Lisa menangis sesegukan sambil
menyebut nama Abdy, lalu meminum sebotol racun mematikan yang telah ia pesan
tadi sore, racun yang akan membuatnya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Meninggalkan
semua orang di cintainya dan mencintainya.
Setelah selesai meminum racun tersebut Lisa tertawa sendiri
sambil mengeluarkan air mata. Racun mulai berekasi dan itu membuat tubuh Lisa
terasa lemah, hingga akhirnya ia terjatuh ke lantai dengan mengatakan.
“Ma—afkan aku A—ayah.” Nada suara terputus-putus “Ma---afkan
aku Ma. Ma---afkan a---ku Dy. A—aaaku sa—ngat men—cintitamuu. Huhuhu.”
Setelah mengatakan itu mulut Lisa mulai mengeluarkan busa,
dan juga darah, hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
Sepuluh menit lagi jam 12, Abdy berserta dengan semua
anggota keluarganya dan anggota keluarga Lisa berjalan ke arah kamar Lisa
sambil membawa kue tar dengan lilin angka 22 di atas kue ulang tahun.
Dengan senyuman ceria Abdy membuka pintu kamar Lisa sambil
berkata “Selama---t?”
Ucapan Abdy terhenti ketika melihat ke arah Lisa yang kini
tengah tergeletak di lantai sambil mengeluarkan darah dan juga busa dari dalam
mulutnya.
“Lisa!” teriak Abdy sambil berlari ke arah Lisa yang kini
tengah tidak sadarkan diri, sementara kue ulang tahun yang Abdy bawa jatuh
begitu saja kelantai.
Semua keluarga merasa sangat terkejut ketika melihat Abdy
berteriak sambil berlari ke arah Lisa yang kini tengah tergeletak di lantai,
dan yang lebih terkejut kedua orang tua Lisa, karna ia tidak mengharap putrinya
akan melakukan hal nekat seperti ini.
Karna ketika Lisa
menemui mereka berdua Lisa nampak sangat senang dan bahagia tidak seperti orang
yang ingin melakukan hal seperti ini.
Abdy mengakat wajah Lisa naik ke atas pangkuannya, lalu
menepuk pelan wajah Lisa.
“Lis, Lisa!” menepuk pelan wajah Lisa “Bangun Lisa, bangun”
Abdy berusaha membangunkan Lisa dengan cara tidak berhenti menepuk pelan wajah
Lisa.
Abdy terlihat sangat panik, dan juga sangat takut terjadi
sesuatu yang buruk dengan Lisa, melihat keadaan Lisa yang seperti ini dalam
keadaan mengeluarkan busa dan juga darah dari dalam mulutnya membuat seluruh
tubuh Abdy mengeluarkan keringat dingin seluruh tubuhnya bergetar karna merasa
sangat cemas dan takut.
Becca yang melihat sebuah botol yang berguling-guling tidak
jauh dari tempat Lisa tak sadarkan diri dengan segera mengambil botol tersebut
lalu melihatnya.
“Apa!” syok sekaligus terkejut “Abdy cepat angkat tubuh
Lisa, kita harus segera membawanya ke rumah sakit sebelum terlambat.”
Becca nampak sangat panik ketika mengatakan itu kepada Abdy
karna ia tau racun yang telah Lisa telan sangat berbahaya dan itu bisa
merenggut nyawa Lisa jika tidak segera mendapatkan pertolongan.
Abdy yang mendengar ucapan Becca berkata “Memangnya apa yang
terjadi dengan Lisa kakak ipar? Kenapa ia sampai seperti ini?”
Rasa takut mulai menyelimuti hati Abdy, setelah selesai
mendengar apa yang baru saja Becca katakan.
“Sudah Dy, aku tidak ada waktu untuk menjelaskan ini! Yang jelas
saat ini Lisa harus segera dapat pertolongan dari dokter kalau tidak kita akan
kahilangan Lisa untuk selama-lamanya.”
Abdy merasa sangat takut, ketika mendengar apa yang Becca
ucapkan, dan tampa berkata lagi Abdy mengankat tubuh Lisa keluar dari dalam
kamarnya lalu membawanya turun dan berlari menuju arah mobilnya dengan mebawa
tubuh Lisa dalam ke adaan tidak sadarkan diri.
Di dalam perjalanan menuju ke arah rumah sakit Becca tidak
berhenti mengontrol detak jantung Lisa lewat nadinya. Detak jantung yang sangat
lemah menurut Becca.
Dua puluh lima menit telah berlalu mobil yang Aby gunakan
untuk membawa Lisa kerumah sakit kini telah mulai memasuki Area rumah
sakit, Abdy mematikan mesin mobil ketika
telah sampai di depan pintu utama rumah sakit.
Setelah mesin mobil yang Abdy tumpangi mati, dengan sangat
buru-buru Abdy turun dan lansung keluar dari dalam mobil sambil mengendong
__ADS_1
tubuh Lisa berjalan masuk ke dalam rumah sakit.