
Abdy lansung terbangun, dan mengambil hapenya yang berada
tepat di sampinnya. Lalu mencari nomor Lisa, kemudian menghubunginya. Namun abdy
merasa sangat kesal, karna berkali-kali menghubungi nomor telpon Lisa sambungan
telponnya tak pernah tersambung.
“Ahh” berteriak “Kenapa terjadi seperti ini? Apa kamu tau
Lis? Aku juga mencintaimu! Tapi kenapa? Kenapa! Kamu meninggalkan aku.” Memeluk
buku Diari Lisa “Maafkan aku Lis, karna tak berkata jujur dengan apa yang
tengah aku rasakan terhadapmu. Aku memang bodoh! Bodoh karna tak mengerti dengan
perasaanmu padaku.” Menendang bantal yang ada di bawah kakinya “Andai waktu
bisa ku ulang kembali, di depan kedua orang tuaku aku akan mengatakan kalau aku
sangat mencintaimu. Dan soal Lara, aku tak memiliki hubungan apapun dengannya. Memang
aku akui kalau bebarapa hari ini, aku selalu dekat dengannya. Namun bukan
berarti aku menyukainya. Aku sungguh tak menyangka Lis, karna kedekatanku
dengan Lara membuatmu harus pergi meninggalkanku. Aku berjanji Lis, aku akan
mencarimu dimana pun kamu berada. Aku akan ke Paris setelah Aby kembali. Tunggu
aku Lis, dan jangan pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan pemuda lain,
aku tak akan membiarkan hal itu terjadi.”
Menyesal dan menyesal itulah yang tengah Abdy rasakan saat
ini. Di tinggalkan oleh gadis yang mulai mengetuk dinding hatinya, membuatnya
merasa sangat sakit hati. Namun semua itu Abdy telan sendiri, karna ulahnya
orang yang mencintainya dan juga Ia cintai kini telah pergi jauh darinya.
Dan benar kata orang di saat orang yang mencintai kita
selalu berada di dekat kita, terkadang kita tak pernah mengangapnya. Namun di
saat orang yang mencintai kita pergi menjauh. Baru kita akan menyadari betapa
berharganya dia yang selalu berada di dekat kita. Itulah yang saat ini ada di
dalam pikiran Abdy.
*****
Seminggu telah berlalu. Aby duduk termenung di atas tampat
tidur memandangi langit-langit di dalam kamar yang tengah Ia tempati bersama
istrinya. Pertemuannya dengan Sameera di Prancis membuatnya merasa tidak tenang.
Tiga hari yang lalu, setelah melakukan meeting dengan para
keliennya. Tampa sengaja Aby bertemu dengan Sameera di sebuah Restorand. Aby yang
melihat Sameera kebetulan lewat di hadapannya, pura-pura tak melihatnya. Namun apa
daya Aby Sameera yang melihat Aby tengah duduk sendiri sambil memegan sebuah
dokument di tangannya, dengan segera berkata.
“Aby.” Senang “kamu di sini juga?” duduk di kursi yang ada
di hadapan Aby “Oh, astaga aku tak menyangka kalau kita akan bertemu lagi di
sini. Oh.. atau mungkin? ini karna jantung Ameera yang masih selalu berdetak
untukmu.” Tersenyum senang melihat ke arah Aby.
“Maaf, aku harus segera pulang!” Aby berdiri dari duduknya
untuk segera pergi meninggalkan Sameera.
__ADS_1
Mendengar ucapan Aby dengan segera Sameera berkata. “Aby,
apa kamu tak ingin tau? Apa yang dikatakan Ameera sebelum menghembuskan nafas
terakhirnya” melihat ke arah Aby yang kini tengah berdiri di hadapannya.
Memdengar ucapan Sameera, tampa duduk Aby berkata. “Aku dan
Ameera sudah tak ada hubungan lagi. Dan untuk apa kamu membaeritahukan aku? Semua
itu tak ada gunanya lagi untukku.” Berkata pelan dan santai.
“Ini sangat penting! karna Ini adalah ucapan terakhir kakaku,
untukmu. Sudah bertahun-tahun aku mencarimu, namun baru sekarang aku
menemukanmu.” Sameera menatap wajah Aby dengan harapan Aby mau mendengar Amanah
terakhir dari kakaknya Ameera.
“Baiklah.” Kembali duduk “Aku akan mendengar apa kata
terakhir Ameera untukku.”
Setelah melihat Aby kembali duduk. Sameera terlihat sangat
senang, karna merasa sangat senang Sameera tak berhenti tersenyum melihat ke
arah Aby yang kini tengah duduk di hadapannya.
Sameera pun mulai bercerita. “Dengar Aby, sebelum Ameera
meninggal. Ameera berpesan padaku agar menyampaikan semua kata-katanya untukmu.”
Menarik nafas, kemudian melanjutkan ucapannya “Ameera sangat mencintaimu, karna
mencintaimu Ameera dengan senang hati memberikan jantungnya untukku. Karna saat
itu keadaan kami berdua sangatlah memperihatinkan, sejak lahir Dokter
menyarankan kepada orang tua kami, hanya satu di antara kami yang bisa hidup,
Demi menyelamatkan hidupku Ameera bersedia memberikan jantungnya untukku, karna
saat itu dia juga sedang sekarat, karna tidak menemukan donor ginjal yang cocok
untuknya.”
Setelah mengatakan itu Sameera melihat ke arah Aby lalu
kembali melanjutkan kata-katanya. “Aby, Ameera menginginkan aku mencarimu, dan
menjelaskan semuanya, kenapa dia pergi tak memberi kabar untukmu. Ameera juga
menginginkan agar aku yang melanjutkan hubungan yang tertunda kalian. Ameera ingin
kamu menikahiku, sesuai dengan janji yang pernah kamu ucapkan waktu masih
kuliah dulu.”
Mendengar ucapan Sameera dengan segera Aby berkata. “Apa! Menagih
janji?” tersenyum sinis “Sementara dirinya sendiri pergi meninggalkanku tampa
memberi kabar sedikit pun. Ah, sudahlah semua ini hanya masa lalu. Dan soal
janji yang pernah aku katakan pada Ameera anggap semuanya sudah mati, bertepatan
di hari kematian Ameera. Aku sudah melupakannya, dan sekarang aku sudah hidup
bahagia bersama istriku, aku sangat mencintainya, bahkan sebentar lagi kami
akan segera memiliki anak.” Tersenyum bahagia ketika membahas soal istrinya.
Mendengar kata yang keluar dari mulut Aby. Sameera terlihat
tidak senang, Sameera kembali berkata. “Tapi Aby, ini adalah amanah Ameera. Apa
kamu tidak akan mengabulkan apa keinginan terakhir Ameera?” Sameera menekankan
kata Amanah.
__ADS_1
Mengerti kata-kata yang keluar dari mulut Sameera. Aby pun berkata.
“Apa kamu lupa! Atau pura-pura lupa, kalau saat ini aku sudah memiliki istri.” Menatap
tajam melihat ke arah Sameera.
Dengan segera Sameera menjawab ucapan Aby. “Aku tau kalau
kamu sudah memiliki istri. Namun untuk menjalangkan amanah ini, aku rela
menjadi istrimu yang kedua.”
Mendengar ucapan kata yang keluar dari mulut Sameera, dengan
rasa kesal Aby berkata tegas pada Sameera, aby pun berkata. “Dengar ya.” Nada suara
kesal dan marah “Sampai kapanpun! Aku tak akan pernah menikah lagi, karna aku
sangat mencintai istriku lebih dari siapapun. Karna, jika aku sampai melakukan hal
koyol itu sama halnya aku menyakiti hati orang yang sangat aku cintai. Dengar Sameera!”
menatap “Dulu aku memang sangat mencintai Ameera, itu hanya dulu. Namun sekarang
aku memiliki istri, istri yang sangat aku cintai, istri yang selalu membuatku
merasa sangat nyaman saat bersamanya. Dan keinginanmu yang ingin menjadi istri
keduaku, hemm” tersenyum mengejek “Anggap saja kamu tak pernah mengatakan hal
itu. Aku sendiri merasa sangat malu mendengar kata yang keluar dari mulutmu.”
Setelah mengatakan itu Aby berangjak dari duduknya. Namun sebelum
Aby melangkah terlalu jauh, Aby berbalik melihat ke arah Sameera yang kini
terdiam menatap ke arahnya, Aby pun berkata. “Dengar Sameera, soal amanah
Ameera, kita lipakan saja. Dan, ya.. carilah laki-laki yang tak memiliki istri,
lalu ajaklah dia menikah.” Setelah mengatakan itu Aby kembali melanjutkan
langkahnya.
Mendengar semua kata yang keluar dari mulut Aby, seperti
tamparan keras di wajah Sameera. Dengan kesal Sameera mengumpat sendiri di
tempat yang tengah Ia duduki.
“Dengar Aby suatu hari dan suatu saat, kamu akan menjadi
milikku.” Tersenyum sinis “Aku tak akan pernah lelah untuk mengejarmu. Meskipun
aku harus mempermalukan diriku sendiri, dan soal amanah itu?” tertawa “Ameera
tak pernah mengatakannya. Aku hanya mengarang semua cerita bohong itu. Namun Aby
tidak terpengaruh sama sekali dengan semua cerita bohongku itu. Hem.” Menarik nafas
“Aku akan mencari cara yang lain untuk membuatmu menjadi milikku.”
*****
Aby berbalik melihat ke arah istrinya yang kini tengah
tertidur sangat lelap, lalu melihat ke arah perut istrinya yang kini mulai
sedikit terlihat. Aby mengelus lembut perut istrinya lalu mengecupnya dengan
sangat lama. Setelah melakukan itu Aby merebakan tubuhnya di sampin istrinya,
lalu menarik tubuh Becca masuk ke dalam pelukannya. Namun sebelum Aby menutup
kedua matanya. Aby tak pernah lupa mengecup lembut dahi istrinya.
Setelah selesai mengecup lembut dahi istrinya, Aby pun
berkata, “Selamat malam istri kesayanganku.” Setelah mengatakan itu Aby ikut
terlelap sambil memeluk erat tubuh istrinya...
__ADS_1