
Lisa yang mendengar ucapan Becca tersenyum, karna rencana
kejutannya untuk Abdy akan segera ia wujudkan rencana yang akan mebuat tali
cinta mereka berdua bersatu.
Lisa kembali pura-pura belum sadar ketika ia mendengar suara
pintu kamar mandi di buka oleh Abdy, sementara Becca pura-pura merapihkan
selimut yang Lisa kenakan.
Abdy keluar dari dalam kamar mandi, sambil melihat ke arah
berangka yang di tempati Lisa, masih setia menutup kedua matanya.
Becca yang melihat Abdy keluar dari dalam kamar mandi, izin
pamit karna ia ingin memberi waktu berdua dengan Lisa.
“Dy, aku pamit, aku mau ke kantor Aby,” ucap Becca sambil
berdiri dari kursi yang ada di sampin berangka yang Lisa tempati.
“Baik kakak ipar, kakak ipar hati-hati di jalan ya. Kalau
sudah sampai jangan lupa memberitahukan aku.” Abdy sedikit khawatir, kalau
kakak iparnya pergi sendiri karna selama ini ia belum pernah keluar rumah tampa
ada pengawal yang menemaninya.
Dan ia juga sangat tau betapa khawatirnya Aby jika ia
mengetahui istrinya pulang tampa adanya pengawalan.
“Ok, aku pulang dulu ya, jaga Lisa dengan baik.”
Setelah mengatakan itu Becca keluar dari dalam ruangan rawat
inap yang di tempati Lisa, dan mulai berjalan ke luar dari dalam rumah sakit
manuju arah parkiran karna sebelumnya Becca telah memesan taxi online. Di dalam
perjalanan menuju arah perusahaan suaminya Becca mengabari kepada seluruh
anggota keluarganya dan juga ke dua orang tua Lisa, kalau saat ini Lisa telah
sadar.
Kedua belah pihak yang mendengar kabar baik tersebut ingin
segera ke rumah sakit, namun Becca melarang mereka semua karna Lisa ingin
mengatakan sesuatu kepada Abdy.
Kedua belah pihak yang mendengar itu mengerti, dengan apa
yang di maksud oleh ucapan Becca, hingga akhirnya mereka memberi ruang kepada
Abdy dan Lisa berdua.
Setelah Becca pergi,
Abdy berjalan ke arah sopa, lalu mengambil paper beg yang berisi makanan yang
Becca bawa untuk ia makan.
Abdy lalu mengambil makanannya lalu kembali berjalan ke arah
berangka di mana Lisa saat ini masih setia menutup kedua matanya.
Abdy duduk di kursi, tepat di sampin berangka yang di
tempati Lisa, Abdy mulai memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulutnya sambil
berkata.
“Lisa kapan aku bisa menyuapimu makan?” Abdy tersenyum
sambil memasukkan suapan ke duanya masuk ke dalam mulutnya.
Abdy membayangkan kalau saat ini ia tengah menyuapi Lisa
makan, sementara Lisa begitu sangat manjanya membuka mulutnya untuk memakan
makanan yang Abdy suapkan masuk ke dalam mulutnya.
Lisa yang mendengar ucapan Abdy tersenyum dalam hati,
mendengar apa yang baru saja Abdy katakan barusan.
Pelan-pelan Lisa membuka matanya dan melihat Abdy kini
tengah sibuk menikmati makanannya, yang ada di tangannya tampa melihat ke
arahnya.
“Makanannya sangat lezat ya?” tanya Lisa pelan.
“Iya ini sangat lezat.”
Abdy tidak menyadari kalau yang baru saja berbicara
dengannya adalah Lisa, dan ia masih setia memakan makanannya tampa melihat ke
arah Lisa.
Sambil memakan makanannya, Abdy mulai menyadari siapa yang
baru saja berbicara dengannya, Abdy menghetikan memakan makanannya lalu melihat
ke arah Lisa yang kini tengah tersenyum melihat ke arahnya.
“Lisa.” Abdy meletakkan pirin makanannya di atas meja yang
ada di sampin berangka dan lansung
memeluk tubuh Lisa dengan begitu sangat eratnya.
Abdy merasa sangat
senang melihat orang yang di cintainya kini tengah tersenyum hangat melihat ke
arahnya. Perasaan takut yang ada di dalam hatinya kini telah hilang seketika
ketika melihat Lisa tersadar dari masa kritisnya.
“Aku mencintaimu” Abdy melepas pelukannya lalu mengecup tiap
inci wajah Lisa, mungkin karna terlalu merasa senang dan bahagia hingga Abdy
melakukan semua itu.
Setelah melakukan semua itu Abdy membantu Lisa untuk bangun
lalu duduk dengan bersandar di bantal yang telah Abdy siapkan untuknya, karna
mengingat kalau saat ini kondisi Lisa masi sangat lemah.
Lisa yang mendengar dan melihat semua tingkah Abdy
tersenyum, karna ia juga merasa sangat senang dan bahagia melihat cinta Abdy
untuknya.
“Aku juga mencintaimu Dy,” ucapa pelan Lisa “Dan aku juga
minta ma...?”
Ucapan Lisa terhenti ketika jari telunjuk Abdy kini tengah
berada di bibirnya.
“Uss, kita tidak usah membahas semua itu, kita lupakan semua
__ADS_1
yang pernah terjadi” setelah mengatakan itu Abdy kembali mengecup lembut dahi
Lisa ketika mengatakan itu.
“Aku minta maaf Lis, semua yang terjadi ini karna aku, karna
aku yang tidak mengatakan yang sebenarnya kepadamu ini tidak akan terjadi jika
aku dan Ayah tidak menyembunyikan hal ini.”
Abdy terlihat sangat sedih ketika mengatakan itu, dan Lisa
bisa melihat penyesalan yang ada di dalam mata Abdy, penyesalan yang sangat
mendalam itulah yang Lisa lihat saat ini di pancaran mata Abdy.
“Aku juga minta maaf Dy, karna tidak mendengar apa yang kamu
katakan.” Lisa meneteskn air matanya ketika mengatakan itu.
Karna tidak mendengar apa yang Abdy katakan padanya, karna
kekonyolan yang ia lakukan rencana pernikahan yang seharusnya di laksanakan
seminggu yang lalu kini telah batal karna ulahnya sendiri.
“Huss.” Abdy menaruh kembali jari tangannya di bibir Lisa,
agar Lisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri, karna dalam hal itu keduanya
sama-sama bersalah.
Sama-sama tidak mempercayai pasangan masing-masing, hingga
akhirnya mereka berdua harus menghadapi hal seperti ini, hal yang hampir saja
memisahkan mereka berdua untuk selama-lamanya.
“Aku mencintamu Dy.” Memeluk tubuh Abdy dengan sangat erat “Aku
sangat mencintaimu, hiks, hiks, hiks.”
Lisa memeluk erat tubuh Abdy sambil menangis, ia
melampiaskaskan semua rasa yang ada di dalam hatinya dengan cara memeluk erat
tubuh Abdy.
Abdy yang mendengar suara tangisan Lisa, berusaha
menenangkan agar Lisa berhenti menangis.
“Sudah ya sayang, kamu jangan menangis lagi, aku berjanji mulai
hari ini, detik ini kita akan selalu bersama.” Abdy mengusap lembuat rambut
Lisa ketika mengatakan itu.
Sementara Lisa terus memeluk erat tubuh Abdy seakan ia tidak
mau melepaskannya lagi, karna ia merasa semangat hidupnya kembali lagi setelah
beberapa hari ia tidak bertemu dengan orang yang sangat di cintainya.
“Aku juga sangat mencintaimu Lis, sangat mencintaimu.” Melepas
pelukan “Dan mulai hari ini aku tidak ingin melihatmu menangis lagi.” Abdy
mengusap lembut wajah Lisa yang terlihat masih sangat pucat karna melihat
beberapa butir air mata yang ada di wajah Lisa.
Rasa cinta untuk Lisa sangat dalam, Abdy tidak pernah
mendunga kalau Lisa yang akan menjadi sandaran hatinya, Abdy si playboi kocak
yang tidak bisa menahan pesona dari kecantikan Lisa, kini telah melabuhkan
hatinya untuk Lisa seorang.
berdua, Abdy dan Lisa di kejutkan oleh seluruh anggota keluarganya yang sedari
tadi berdiri di luar, depan kamar ruangan perawatan yang Lisa tempati.
Rendi, beserta istri dan juga ke dua orang tua Abdy sedari
tadi menyaksikan apa yang tengah di lakukan oleh anak-anak mereka, beruntung
Abdy dan Lisa tidak melakukan hal yang akan membuat ke dua orang tua mereka
terkejut dengan melihat apa yang telah mereka berdua lakukan.
Nabila tersenyum melihat ke arah Rendi dan Clarisa yang kini
saling berpegangan tangan karna merasa sangat bahagia melihat putri mereka kini
tengah sadar dan berada dalam pelukan oleh orang yang sangat di cintainya lewat
kaca yang ada di pintu kamar ruangan rawat inap yang Lisa tempati.
Abdy dan Lisa melepas pelukan ketika melihat semua anggota
keluarganya masuk ke dalam ruangan yang di tempatinya, mereka berdua merasa
sedikit malu-malu karna ketahuan saling berpelukan, mereka layaknya seperti
pencuri yang kini tengah ketahuan mencuri ikan.
Lisa menundukkan wajahnya karna merasa sangat malu di lihat
oleh seluruh anggota keluarganya begitupun dengan Abdy. Nabila yang melihat
wajah malu-malu putanya berkata.
“Jadi bagaimana dengan rencana pernikahannya? Apa kita batalkan?
Atau kita lanjutkan?” Nabila tersenyum melihat ke arah Lisa dan Abdy yang
kini tengah menundukkan kepalanya karna
merasa sangat malu.
Abdy dan Lisa yang mendengar ucapan Nabila, sedikit terkejut
karna terkejut mereka berdua dengan segera berkata.
“Lanjutkan Ma, lanjutkan tante,” ucap Abdy dan Lisa
bersamaan.
Karna Abdy dan Lisa ingin rencana pernikahan mereka berdua segera
di lanjutkan, Abdy tidak ingin jauh-jauh lagi dari Lisa dan begitupun
sebaliknya.
Seluruh anggota keluarga yang mendengar itu, tersenyum karna
melihat ke lakuan putra dan putri mereka yang terlihat sangat lucu menurutnya.
Clarisa mendekat ke arah putrinya lalu memeluknya dengan
sangat erat, karna ia begitu sangat senang melihat putrinya kini dalam keadaan
baik-baik saja.
“Lisa jangan pernah lakukan hal konyol ini lagi, Mama sangat
takut nak, takut sesuatu yang buruk terjadi denganmu.” Clarisa begitu sangat
taku takut jiak putrinya melakukan hal konyol itu lagi.
Abdy yang mendengar ucapan Clarisa dengan segera berkata. “Lisa
tidak akan melakukan hal itu lagi, karna aku tidak akan pernah membiarkannya
__ADS_1
melakukan hal konyol itu lagi.” Abdy dengan lantangnya mengatakan hal itu lagi.
Karna memang benar setelah hari ini ia tidak akan pernah
membuat Lisa sendiri lagi, karna Abdy ingin Lisa selalu bersamanya dan tidak
ingin jauh-jauh dari Lisa lagi.
Doni yang mendengar ucapan putranya, berjalan mendekat ke
arah Rendi yang kini tengah melihat ke arah putinya dan juga Abdy.
Rendi sangat terkejut ketika Doni memukul wajahnya dengan
begitu sangat kerasnya.
Plakkk.
Satu tamparan mendarat ke arah wajah Rendi, semua yang ada
di dalam ruangan melihat ke arah mereka berdua.
Abdy dan Lisa merasa sangat terkejut ketika melihat ke arah kedua ayah mereka yang kini tengah
saling berhadapan, sementara Nabila yang melihat itu, berjalan menhampiri Doni
suaminya yang kini tangah melihat ke arah Rendi.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Nabila pelan.
Nabila merasa sangat bingun melihat suaminya tiba-tiba
menmukul wajah Rendi tampa sebab.
Abdy dan Lisa merasa sangat takut melihat ke arah Doni dan
Rendi, mereka sangat takut jika sampai Doni selaku Ayah Abdy keberatan dengan
rencana pernikahannya dengan Lisa yang akan segera mereka lansungkan itulah
yang ada dalam pikiran Abdy dan Lisa saat ini, bahkan Abdy mulai berpikir jika
memang ayahnya tidak merestui hubungannya dengan Lisa, maka dengan sangat
terpaksa ia akan membawa Lisa pergi, karna ia tidak bisa lagi menahan jika
harus menjalani kehidupannya tampa ada Lisa di sampinnya.
Sementara Rendi yang mendapat pukulan di wajahnya melihat ke
arah Doni yang kini tengah berdiri tegak di hadapannya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rendi sambil memegan
wajahnya.
Doni yang mendengar pertanyaan Rendi tersenyum sambil
berkata.
“Yang seharusnya aku lakukan ketika aku mendengar jika kamu
telah memenjarakan dan memukul wajah putraku. Apa kamu tau mulai dari ia lahir
hingga dewasa seperti ini, aku tidak perna, jangankan memukul, mencubit putraku
saja aku tidak pernah. Andai Lisa bukan putrimu maka saat ini juga aku akan
memenjarakanmu.” Suara datar Doni kembali terdengar di telinga Nabila, meskipun
selama bertahun-tahun ia tidak pernah mendengar kata datar itu lagi.
“Aku minta maaf, aku memang pantas mendapatkan semua ini.”
Rendi menundukkan wajahnya ketika mengatakan itu.
Abdy yang melihat itu ingin berjalan ke arah Ayahnya sambil
berkata, “Tapi Ayah.” Ucapan Abdy terhenti ketika melihat Doni menaikkan
tangannya, yang berarti Doni melarangnya mengatakan sepata katapun.
“Baiklah aku sudah memaafkanmu” tersenyum “Karna aku juga
telah membalas perlakuanmu kepada putraku, meskipun selama beberapa malam ini
mataku tidak bisa terpejam dengan nyaman memikirkan hal ini.” Doni mengatakan
semua yang telah ia pendam di dalam hatinya.
Karna benar adanya selama beberapa malam ini matanya tidak
bisa terpejam dengan nyaman mengingat semua yang telah ia dengar dari dalam
mulut Abdy putranya.
Di dalam ruangan perawatan Lisa yang tadinya terasa menakutkan
karna mendengar kata datar keluar dari dalam mulut Doni kini kembali ceria sama
seperti mereka semua masuk sebelumnya.
Rendi yang mendengar ucapan Doni tersenyum, karna memang ia
salah melakukan hal kasar itu kepada Abdy.
“Aku minta maaf Doni, karna telah melakukan ini kepada
putramu.” Rendi mengatakan itu dengan wajah yang sangat menyesal.
“Baiklah aku memaafkanmu, dan mari kita memulai kembali
merencanakan kapan acara pernikahan anak-anak kita di lansungkan, dan untuk ini
kita akan mengadakan acara pernikahan mereka dengan begitu sangat mewah, karna
Aby dan juga istrinya akan melakukan resepsi pernikahan mereka yang telah tertunda
selama beberapa bulan ini.” Doni mengatakan semua keinginannya yang ingin
menyelenggarakan acara resepsi pernikahan putra-putranya secara bersamaan.
“Wao, itu ide yang sangat baik ayah, aku sangat setuju”
tersenyum “Dan akan lebih baik jika pernikahanku akan segera di lakukan, kalau
bisa minggu depan.” Abdy mengatakan semua keinginannya yang ingin segera
menikahi Lisa minggu depan.
Dan itu membuat seluruh anggota keluarganya yang ada di
dalam ruangan terkejut, sementara Nabila yang mendengar ucapan putranya
berjalan ke arahnya.
“Dasar konyol apa kamu berpikir menyiapkan pernikahan mewah
cuman butuh waktu seminggu, ha.” Nabila menarik kuping putranya ketika
mengatakan itu.
Aoaoaao.
“Sakit Ma,” Abdy meringgis kesakitan ketika Nabila menrik
telinganya.
“dan apa kamu berpikir kalau saat ini kondisi Lisa telah
pulih? Ha”
Semua yang melihat itu tersenyum bahagia melihat Nabila
memarahi putranya, karna menurut semuanya ini sangat lucu.
__ADS_1