
Di dalam mobil yang sudah keluar dari perkarangan hotel, terlihat Emeli menangis tersedu-sedu. Leo hanya bisa menatap iba pada gadis pujaan hatinya itu. Ia tak tau harus berbuat apa selain membiarkan Emeli mengeluarkan isi hatinya melalui tangisan kekecewaannya.
Aku sudah menduga dari awal Mentari, jika kau dan Justin tengah ada masalah. Jika kau tidak memiliki masalah dengan Justin, mana mungkin kau bisa pergi sejauh ini. Batin Leo dengan mata yang sesekali melirik Emeli.
"Hiks, aku membencimumu Jus!" teriak Emeli setelah berada di depan danau besar yang cukup sepi. Ya, Leo sengaja mengajak Emeli ke tempat itu agar gadis itu bisa lebih tenang.
"Aku mem-benci-mu, hiks," tangisnya dengan tubuh yang sudah duduk di kursi yang berada di belakangnya.
"Mentari," panggil Leo membuat Emeli langsung menatap ke arah es krim yang di sodorkan Leo padanya. "Ambillah, sesuatu yang dingin mungkin dapat memadamkan api amarah di dalam hatimu," ucap Leo dengan penuh perhatian membuat Emeli tersenyum sembari mengangguk dengan air mata yang masih menetes.
"Terimakasih Leo, hiks," ucap nya yang langsung di angguki Leo dengan senyum manisnya.
"Jangan menangis lagi, bukankah aku sudah memberikanmu es krim?" ucap Leo yang seketika mendatangkan tawa bagi keduanya.
__ADS_1
Di kamarnya, terlihat Justin mengutuki dirinya sebab tak bisa menahan diri untuk tidak menemui Emeli. "Maafkan aku Ceria," ucap nya dengan tangan yang berulang kali memukul tembok. Bahkan kini Justin menyandarkan kepalanya di sana.
"Tring," Justin menolehkan matanya ke arah handphone nya yang berbunyi. Dengan cepat Justin pun mengangkat telpon itu.
"Halo Pa," ucap Justin sembari menahan suaranya yang terdengar seperti tak baik-baik saja.
"Halo Nak, Papa dengar kamu sudah menemui keberadaan Emeli istri mu?" tanya Hendra terdengar serius.
"Benar Pa, Justin sudah menemukan keberadaan Emeli," ucapnya dengan kepala yang menunduk memperhatikan tangannya yang terluka.
"Sekarang Emeli berada di California Pa, Justin dan Riko sudah menyusulnya kesini," ucapnya dengan jujur membuat Hendra mengangguk kan kepalanya pelan di ujung sana.
"Apa kalian sudah bertemu?" tanya Hendra lagi.
__ADS_1
"Sudah Pa," ucap Justin dengan suara serak nya.
"Nak, berusahalah mengambil hatinya kembali. Dia marah dan menjauhimu sebab ia sangat kecewa dengan dirimu Nak. Berjuanglah sebelum semuanya terlambat," nasehat Hendra yang langsung di angguki oleh Justin.
"Iya Pa, Justin akan terus berusaha membawa Emeli kembali kedalam pelukan Justin. Doakan ya Pa, agar Emeli mau memaafkan dan menerima Justin kembali." ucap Justin sembari memegang pangkal hidungnya.
"Tentu saja Papa akan selalu mendoakan kebaikan untuk kalian Nak," ucap Hendra sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Masih di Danau, terlihat Emeli melirik handphonenya yang mengeluarkan suara notifikasi. Ia melihat beberapa pesan dari Justin. "Maafkan aku sayang, maafkan aku, aku menyesal, tolong kembalilah menjadi Emeli yang selalu ceria, bahagia dan mencintaiku dengan tulus, aku sangat membutuhkanmu sayang, aku sangat mencintaimu," pesan Justin yang berhasil membuat Emeli kembali meneteskan air matanya.
"Kau menangis lagi Mentari?" tanya Leo sembari menghapus air mata di pipi Emeli.
"Jangan menangis lagi," ucapnya ikut merasakan kesedihan Emeli.
__ADS_1
"Jika kau ingin bercerita, maka ceritalah Mentari, aku siap mendengarkanmu," ucap Leo yang tanpa izin menarik Emeli ke dalam pelukannya.