
Beberapa menit menunggu, kini pesanan keduanya pun tiba. Mereka segera menikmati makan siangnya dengan tenang. Saat menikmati makanannya, tiba-tiba saja Justin ingin membuang air kecil. Karena tak tahan ia segera pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alamnya. Setelah selesai, Justin pun melangkah lkan kakinya dengan pelan menuju mejanya. Tanpa sadar, pandangan Justin melihat sosok wanita yang ia kenali. Ia mencoba memicingkan matanya agar objek yang ia lihat terlihat lebih jelas.
Mata itu langsung terbelalak dengan netra yang sangat tajam. Tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya. Tak ingin tinggal diam, Justin segera melangkahkan kakinya mendekati Emeli dan Leo yang saat ini saling berhadapan. Dengan perasaan kesal, Justin segera meraih tangan Emeli dan menariknya dengan paksa. Emeli yang tak siap hampir terjatuh dengan wajah yang terlihat kaget. Tak hanya Emeli, Leo juga ikut kaget dengan tarikan spontan itu.
Masih dalam keadaan membungkuk, Emeli mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang telah berani menariknya, "Deg," jantung Emeli berdetak seketika. Emeli menelan salivanya, ia tak menyangka jika Justin dan dirinya berada di tempat yang sama.
Gawat! pasti dia salah paham lagi, batinnya masih setia menatap mata tajam Justin.
__ADS_1
"Ada apa jus?" tanya Emeli mencoba menetralkan dirinya.
Leo segera bangkit dan ikut berdiri di samping Emeli. Mata tajam Justin menatap Emeli dan Leo secara bergantian. "Kenapa kau tidak izin pada ku jika ingin menemui orang asing," tanyanya pelan namun dapat membuat Emeli menegang di tempatnya.
"Leo bukan orang asing, dia temanku, bukankah kau juga tau?" tanya Emeli berusaha menguasai dirinya. Saat ini mereka berada di tempat umum sehingga Emeli mencoba mengambil sikap sebaik mungkin.
Lirikkan Leo dan Emeli jatuh pada Riko. Mereka melihat pria berwajah datar nan dingin itu sudah berada di belakang Justin.
__ADS_1
"Tunggu Mentari," ucap Leo yang sudah memegang pergelangan tangan Emeli. Justin terlihat semakin cemburu mendengar panggilan romantis Leo pada istrinya itu. Bukan hanya itu, kini mata tajam Justin menatap tangan Leo yang menggenggam tangan Emeli. "Kenapa kau bersikap kasar dan memaksa? Kau tidak punya hak untuk mengatur hidup Emeli!" ucap Leo sembari membalas tatapan sengit Justin padanya.
"Kau tanya apa hak-ku atas wanita ini?" ucapnya penuh penekanan dan menusuk. "Dengarkan aku baik-baik," ucapnya lagi masih dengan nada yang sama, "Wanita yang kau panggil dengan sebutan Mentari ini adalah sahabat ku! dan asal kau tau, kami berdua sudah menikah beberapa hari yang lalu. Apa kau tidak bisa melihat cincin yang tersemat indah di jari manisnya," ucap Justin sembari mengangkat tangan Emeli untuk menunjukkan cincin pernikahannya bersama Emeli.
"Deg," Leo langsung menatap kecewa ke arah Emeli. Jantungnya saat ini terasa seperti di hantam belati.
'Kenapa kau tidak memberi tahuku jika kau sudah menikah Emeli?' itulah yang sekiranya yang di tangkap Emeli dari sorot mata Leo.
__ADS_1
Maafkan aku Leo, aku kira kau sudah tau tentang pernikahanku dengan Justin. batin Emeli dengan wajah yang menunduk sendu.
"Aku tidak tau apakah kau ketinggalan berita atau memang matamu yang rabun sehingga tidak bisa membedakan wanita yang sudah bersuami atau belum," ucap Justin sangat menusuk di hati Leo. Karena tak ingin membuat keributan di sana, Justin segera menarik tangan Emeli untuk pergi dari cafe itu. Leo hanya terpaku menatap kepergian Emeli bersama Justin. Ia tak bisa melakukan apapun untuk mencegah Justin yang membawa Emeli. Dirinya tidak berhak sedangkan Justin sangat berhak terhadap Emeli.