
"Silahkan Nyonya," ucap Leno yang sudah membuka pintu kursi penumpang untuk Erika dan Clara. Setelah memastikan majikannya sudah masuk, Leno pun segera masuk ke kursi kemudi lalu menjalankannya menuju rumah sakit terdekat.
"Cepat Pak Leno," ucap Erika dengan tangis histerisnya.
Tenanglah Mama ku sayang, anakmu ini baik-baik saja. Batin Clara mengulas sedikit senyum di bibirnya namun Erika maupun Leno tak menyadari hal itu.
Setibanya di rumah sakit, Clara langsung di periksa oleh dokter. Dokter terlihat menampilkan wajah sendu nya menatap ke arah Erika yang masih terlihat sangat khawatir. "Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Erika wajah sendunya.
"Putri anda baik-baik saja Nyonya, kondisinya cuma sedikit drob sebab terlalu banyak fikiran, lelah dan kekurangan gizi. Hal ini sangat berbahaya bagi janinnya. Bukan hanya itu saja Nyonya, namun sepertinya putri anda sudah tidak mengonsumsi makanan dari semalam," ucap sang dokter membuat Erika menutup mulutnya tak menyangka.
__ADS_1
Untung saja kemarin aku tidak mengonsumsi apapun, jadi rencanaku semakin berjalan lancar. Terimakasih kasih Nak sudah membuat Ibu tak berselera makan, Batin Clara ingin sekali mengelus perut sedikit buncitnya namun ia mengurungkan niatnya itu sebab tak ingin semua rencananya gagal.
Setelah selesai berbicara dengan dokter, Erika segera menghampiri Clara yang saat ini masih setia memejamkan matanya. "Sayang,,," panggil Erika dengan nada lirihnya namun masih bisa di dengar oleh Clara.
Iya Mama ku sayang, jawab Clara dalam hati.
"Maafkan Mama Nak tidak bisa menjagamu, hiks, Mama sungguh menyesal tidak bisa meluluhkan hati Papamu, tapi tenang lah sayang, Mama akan Paksa Papa mu agar mau memaafkan mu dan menerima mu kembali di rumah Nak. Cepatlah sadar Anak kesayangan Mama, hiks," ucap Erika membuat hati Clara sangat tersentuh. Ia ingin menangis namun ia berusaha tetap menahannya.
Karena Clara tak kunjung sadar, Erika segera menghubungi suaminya untuk datang ke rumah sakit di mana Clara di rawat. Sama halnya seperti Erika, Nino pun juga merasakan kekhawatiran. Mau semarah apapun dia pada Clara, tak bisa di pungkiri jika Clara adalah anak kandung nya. Rasa sayangnya pada Clara membunuh ego dan amarahnya.
__ADS_1
Beberapa menit membela jalan, kini Nino dan sang supir sudah tiba di rumah sakit. Dengan tergesa-gesa Nino memasuki ruang rawat Clara. Erika yang melihat kehadiran suaminya langsung memeluk nya dengan tangis yang sangat memilukan. "Sayang,,,hiks, anak kita,,," aduh Erika sembari membenamkan wajahnya di dada Nino. Nino melirik Clara sekilas sembari menepuk pelan punggung Erika.
"Tenanglah sayang, tak akan terjadi apa-apa dengan anak kita," ucap Nino yang di angguki Erika. Setelah puas menumpahkan air matanya di dada suaminya, Erika pun mengajak suaminya untuk mendekati Clara.
Apakah itu Papa? baguslah, berarti aku tidak perlu berlama-lama lagi menutup mata. Sungguh muak sekali punya mata tapi tak bisa melihat! batin Clara kesal.
"Sayang,,, sadarlah Nak, ini Papa," ucap Nino sembari mengelus rambut dan wajah tirus Clara secara bergantian. Perlahan tapi pasti, Clara mulai membuka matanya. Hal itu membuat Erika mengembangkan senyum indah nya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" ucap Erika sembari membelai pipi Clara dengan lembut.
__ADS_1
"Hm,,," gumamnya seakan benar-benar baru terbangun dari tidurnya.