CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Menjemput Emeli


__ADS_3

"Cklek," setelah pintu kamar tertutup, Emeli langsung berlari ke arah ranjang. Ia menjatuhkan tubuhnya dalam keadaan tengkurap. Dia sudah tak bisa lagi menahan air matanya yang sendari tadi ia tahan.


"Hiks," tak ada yang mendengar suara itu karena Emeli menyusupkan wajahnya ke dalam bantal. "Hm, hiks," lirihan tangis itu Benar-benar sangat menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarkannya.


Kenapa kau tak mau berpihak padaku air mata! kenapa kau jatuh! berhentilah keluar dari sana. Hiks, batinnya semakin menangis dengan tangan yang memukul dadanya yang sangat sesak.


Sore telah tiba, Justin baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Setelah membereskan semuanya, ia melangkahkan kakinya menuju lantai bawa dengan asisten pribadi yang selalu mengikutinya di belakang. Sebelum pulang kediaman orang tuanya, Justin memutuskan untuk menjemput Emeli di kediaman mertuanya.


"Tin," Emeli sudah tau suara klakson mobil siapa itu. Ia terlihat memperhatikan mobil Justin dari lantai dua kamarnya. Matanya sangat sembab. Tak ingin ada yang mengetahuinya, Emeli segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya untuk yang ke dua kalinya.


"Eh, Nak Justin," sapa Riya yang baru saja tiba di ruang tamu.


"Sore Ma," sapa nya terlihat tidak canggung.

__ADS_1


"Sore sayang," balas nya dengan senyum manis.


"Dimana Ceria Ma?" tanya Justin menatap mata berbinar Riya.


"Sudah kangen ya sayang sama Emeli, hhhh, naiklah ke atas, Emeli berada di kamarnya," ucap Riya sembari menepuk pundak kokoh Justin.


Justin tak terlalu menanggapi godaan Mertuanya itu, ia segera menyusul Emeli di kamarnya setelah meminta izin dengan Riya. Justin memutar knop pintu berulang kali tetapi sayang pintu tak kunjung terbuka. "Tumben sekali dia mengunci pintu kamarnya?" gumamnya bertanya-tanya.


"Tok-tok-tok," suara ketukan pintu membuat Emeli tak fokus membersihkan tubuhnya.


"Cer-" belum sempat nama itu terucap sempurna, Emeli sudah terlebih dahulu membuka pintu kamarnya. Karena terburu-buru membuat Emeli belum sempat mengenakan pakaiannya. "Glek," Justin menelan salivanya dengan kasar. Ntah kenapa tiba-tiba saja kebanggaannya bereaksi ketika melihat penampilan segar nan sexy Emeli.


Kenapa dia bisa sangat sexy begini? dan ada apa denganku? dulu aku tak merasakan hal aneh seperti ini walaupun kami tidur di tempat yang sama. Apa mungkin karena kami sudah menikah, makanya merasakan hal ini? batin Justin terlihat heran dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jus," Justin menatap mata Emeli dengan sedikit gugup.


"Iya?" tanya nya bingung seakan melupakan tujuan untuk datang ke kamar itu.


"Masuklah," ajak Emeli lalu kembali melangkahkan kakinya masuk ke kamar.


Justin mengikuti langkah kaki Emeli masuk ke dalam. Tak lupa ia mengunci pintu. Kini Justin duduk santai di ranjang Emeli, sedangkan Emeli sibuk mencari beberapa pakaian yang ingin ia kenakan. "Tunggu sebentar ya Jus, aku ingin berganti baju dulu," ucap Emeli yang di angguki Justin.


"Ya, cepatlah Ceria," ucapnya lalu kembali fokus memainkan handphone di tangannya.


Beberapa menit mengenakan pakaiannya, kini Emeli keluar dari kamar mandi dan menyamperi Justin. "Apakah kita akan tinggal bersama Mama Ela?" tanya Emeli dengan wajah datar namun masih terlihat ceria.


"Iya Ceria, jangan lupa bawah pakaian dan barang-barang yang kau perlukan," ucap Justin sudah menatap mata bening Emeli.

__ADS_1


Jangan menatap matanya Emeli, jangan sampai cintamu padanya semakin besar dan membara. Jaga hatimu! batin Emeli sudah memalingkan pandangannya ke arah lemari.


__ADS_2