CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
Kegundahan Hati Emeli


__ADS_3

Di kamarnya saat ini, terlihat Justin terlelap dengan nyenyak-nya namun tidak dengan Emeli yang tak bisa menutup matanya. Wanita hamil itu terlihat gelisah dengan fikiran yang tidak tenang. Masalah tentang Clara belum kelar namun satu masalah bertambah lagi. Kepada wanita hamil itu sampai sakit di buatnya.


"Huh," perlahan-lahan Emeli mengatur nafasnya lalu menoleh ke Justin sekilas seakan tengah memperhatikan wajah teduh itu.


Kenapa perasaan ku sangat tidak enak, kenapa aku merasa sesuatu hal yang buruk akan terjadi. Aku tidak bisa membayangkan jika nanti aku dan kau berpisah, keadaan membahagiakan ini sudah lama aku idamkan. Aku ingin kita terus seperti ini. Bukan hanya sebatas sahabat, namun juga sebagai pasangan hidup hingga tua nanti dimana setiap saat kita bisa saling mencurahkan kasih sayang dan cinta. Dulu, seakan ataupun nanti, aku akan tetap mencintaimu, dan itu pasti! Batin Emeli sembari mengelus wajah Justin dengan lembut.


Dari sorot matanya sudah di pastikan jika Emeli benar-benar tulus mengatakan itu. Matanya mulai berkaca-kaca membayangkan sesuatu yang belum terjadi. Justin yang terganggu dengan sentuhan Emeli pun perlahan mulai membuka matanya. Wajah bantalnya tak memudarkan ketampanannya.


Emeli menatap mata Justin sembari tersenyum. Justin heran melihat Emeli tersenyum sembari meneteskan air matanya. Perlahan tangan kekar nan berurat itu menghapus air mata kesedihan itu.


"Sayang," lirih Justin sembari memegang wajah Emeli.


"Hm," dehem Emeli dengan sangat lembutnya.


"Kenapa kau menangis?" tanyanya dengan lembut dan penuh Kehati-hatian.

__ADS_1


Emeli menggeleng pelan dengan bibir yang masih setia tersenyum. "Aku baik-baik saja," ucapnya berbohong namun matanya tak dapat berbohong.


"Aku melihatmu sayang," ucap Justin dengan tatapan lembut nan tulusnya.


"Aku juga melihatmu," ucap Emeli ingin tertawa namun ia menahannya.


"Aku serius," ucap Justin tanpa berniat memindahkan tangannya dari wajah cantik Emeli.


Diam adalah senjata jika kita tak mampu mengeluarkan segala kegundahan hati. Emeli terus tersenyum tanpa berniat menjawab ucapan Justin. "Ada apa? katakanlah. Akhir-akhir ini kau banyak berubah dan tak seceria biasanya," ucap Justin membuat hati Emeli sedikit menghangat dengan perhatian itu.


Apa yang sebenarnya terjadi? itulah yang sekiranya terus berputar di kepala Justin.


"Aku akan terus memperhatikan mu," ucap Justin dengan nada yang sama.


"Kau janji?" tanya Emeli yang langsung mendapatkan anggukan Justin.

__ADS_1


"Iya sayang, much," ucap Justin gemas lalu mencium kening Emeli dengan penuh kasih sayang.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu? cerita-lah, aku akan mendengarkan mu," ucap Justin berusaha membujuk Emeli agar bercerita padanya.


Emeli sedikit ragu menceritakan isi hatinya sebab sebelumnya Justin tak percaya dengan apa yang di katakan-nya.


"Kenapa diam? cerita-lah," ucap Justin dengan satu tangan yang memangku kepalanya.


"Aku takut kau tak mempercayaiku Jus," ucap Emeli membuat Justin sedikit kesal sebab Emeli meragukannya.


"Kau tau kan aku ini seperti apa. Bahkan kita ini sudah bersahabat sejak lama," ucap Justin dengan nada datarnya.


"Aku tau Jus," ucap Emeli merasa tak enak hati dengan Justin. Emeli menunduk sedih dengan Justin yang terus memperhatikannya.


Anak ini jika tidak di desak-desak maka sampai kapanpun belum tentu mau cerita. Apa nunggu anugerah dari Allah dulu baru dia mau bercerita. Is,,, untung istriku, jika tidak sudah ku campakkan dia ke rawa-rawa! Batin Justin kesal bercampur gemas.

__ADS_1


__ADS_2