
"Ayo mentari, jalankan ski mu secara perlahan, jadikan tongkat sebagai rem penahan tubuh mu," ucap Leo yang di angguki Emeli.
Emeli mulai memberanikan diri dengan cara memulai permainan ski nya. Karena belum terbiasa, Emeli pun sempat terjatuh beberapa kali namun hal itu tak membuat nya menyerah dan putus semangat untuk menjadi seorang yang ahli dalam bermain ski. Leo terlihat tersenyum kagum melihat Emeli yang cepat belajar bermain ski nya. Karena tak ingin berdiam diri saja, Leo pun mulai ikut bermain bersama Emeli. Kini mereka pun berlomba di lereng yang sedikit menguji nyali mereka. Saat ini Emeli benar-benar sudah tidak takut lagi bermain ski.
"Kau sangat keren Emeli, bahkan kau bisa mengalahkan ku yang sudah berpengalaman bermain ski," ucap Leo membuat Emeli tertawa malu.
"Kau bisa saja Leo," ucap nya sembari memukul bahu Leo membuat hati pria itu merasakan desiran hangat yang menenangkan hati.
Karena sudah terlalu lama bermain ski membuat keduanya lelah dan merasa sedikit kedinginan. Sebelum memutuskan untuk mencoba permainan yang lainnya, Leo pun mengajak Emeli untuk menikmati teh hangat dan cake di lestoran yang berada di wisata itu. Emeli maupun Leo memilih duduk di kursi yang paling dekat dengan api unggun. Tubuh kedinginan keduanya lenyap di telan api di depannya.
__ADS_1
"Bagaimana Mentari? apa kau puas dan bahagia bermain ski tadi?" tanya Leo membuka pembicaraan.
"Tentu saja Leo, terima kasih sudah membawaku ke tempat seindah dan semenyenangkan ini," ucap Emeli sembari menampilkan gigi rata dan putihnya.
"Baguslah jika kau senang Mentari," ucap Leo masih setia memperlihatkan senyum simpul manisnya.
Mereka pun terus bercerita dengan sedikit candaan. Sesekali salah satu dari mereka menikmati teh hangat dan cakenya. Setelah merasa tak kedinginan dan lelah lagi, Emeli maupun Leo memutuskan untuk bermain ice skating. Kini keduanya pun sudah berada di lapangan ice skating yang cukup luas dan ramai. Walaupun ramai, mereka masih tetap bisa bermain. "Jangan lepaskan genggamanmu dari tanganku Mentari, ini sangat licin, aku takut kau jatuh," ucap Leo memberi peringatan pada Emeli yang terlihat mengangguk takut.
"Aku tidak bisa Leo, kakiku seakan keluh untuk bergerak," ucapnya dengan dada yang sudah bergetar.
__ADS_1
"Kau pasti bisa Mentari," ucap nya terus menyemangati Emeli.
Dan benar saja, perlahan-lahan Emeli bisa meluncur di atas es tanpa bantuan dari Leo. Emeli terlihat mengembangkan senyumannya melihat kedua kakinya yang meluncur dengan bebas di atas es. "Aku bisa, aku bisa," ucapnya yang langsung mendapat tepuk tangan apresiasi dari Leo.
"Kau benar-benar hebat Mentari," ucap Leo yang sudah mengganti tepuk tangan dengan memberikan dua jempolnya pada Emeli.
"Ini semua berkat kebaikan Allah dan dirimu Leo," ucapnya sangat bersyukur. Walaupun Emeli adalah tipe orang yang tak terlalu taat dan paham soal agama, tetapi ia tak pernah melupakan sang penciptanya.
"Ayo kejar aku Mentari," ucap Leo yang membuat Emeli bersemangat untuk menangkap Leo.
__ADS_1
Kini mereka pun melakukan kejar-kejaran di atas lapangan Ice seperti anak kecil. "Kena, wek, kejar aku lagi," ucap Emeli yang berhasil menyentuh bahu Leo. Leo yang kalah langsung berbalik mengejar Emeli yang terlihat sangat lancar menggerakkan sepatu es nya.