
"Sudah aku katakan bukan, jika aku tidak menginginkan anak itu!" Bentak Patrick kembali membuat jantung Clara seakan tertusuk tombak yang sangat runcing dan tajam
"Kau, begini balasanmu padaku? kemana cintamu itu Patrick? aku melakukan segala cara agar kau bisa bahagia, tapi apa ini? kau hanya sekedar memanfaatkanku atau apa!" Bentaknya membuat Patrick tertawa di tempatnya.
"Jika tau, kenapa bertanya? makanya jadi perempuan itu jangan bodoh dan murahan!" ucap Patrick penuh penekanan.
"Patrick, tolong jangan berkata seperti itu, Aku sangat mencintaimu, apakah kau sudah tak mencintaiku lagi?" tanya Clara dengan tatapan memohonnya.
__ADS_1
Bukan menjawab, justru Nita keluar dari persembunyiannya lalu mewakili Patrick untuk menjawab pertanyaan Clara, dengan senyum sinisnya Nita memeluk tubuh Patrick yang bertelanjang dada dengan sangat manja dan posesifnya.
"Ya, dia tidak mencintaimu lagi jal*ng, sebab sekarang akulah wanita yang sangat di cintainya. Jadi pergilah dan jangan nampakkan wajah jelekmu di hadapan kami lagi, sekalian bawa anak haram mu itu pergi!" ucap Nita dengan senyum penuh kemenangannya.
Karena emosi yang merasuki tubuh nya, dengan cepat Clara menyerang Nita habis-habisan dan sangat beringas. Saking kuatnya tenaga Clara hingga membuat Patrick sangat kesusahan untuk memisahkan keduanya. Walaupun mendapat satu tamparan dari Patrick, setidaknya Clara sangat puas sebab berhasil membuat wajah Nita bonyok. Bukan hanya wajah, bahkan perut, tangan, leher Nita di penuhi cakaran dari kuku panjang Clara. Rambut Nita juga banyak yang rontok sebab jambakkan kuat Clara. Tak lupa kewanitaan wanita itu sempat di tendang Clara sebanyak tiga kali hingga menimbulkan sakit yang teramat sangat bagi Nita.
"Apa kalian kira aku sedih dengan perselingkuhan kalian? oh tidak! aku Queen Clara, dan aku bisa mendapatkan pria yang jauh lebih segala-galanya dari pria brengsek sepertimu. Ambillah pria sampah ini jal*ng! dan satu hal, carilah lawan yang sesuai dan seimbang denganmu agar kau tak kalah,,," teriak Clara di sertai ejekan sebelum pergi dari apartemen Patrick.
__ADS_1
"Sudah, mari kita obati lukamu," ucap Patrick yang di angguki Nita dengan pelan.
"Gendong, hiks," ucapnya sangat manja sembari memegang kehormatannya yang sangat sakit. Mau tak mau Patrick pun menggendong Nita ala bridal style dan Nita pun mengalungkan kedua tangannya di leher Patrick.
Kembali ke California, saat ini Emeli dan Leo sudah tiba di wisata salju. Keduanya pun sudah mengenakan baju dingin dan peralatan ski. Leo tak henti-hentinya mengawasi Emeli sebab ia takut wanita itu terjatuh atau meluncur secara tiba-tiba, sebab mereka sudah berada di salju yang tak terlalu rata. Bisa di bilang sedikit miring. "Apa kau akan tetap ingin bermain ski Mentari?" tanya Leo yang mendapat senyum ragu dari Emeli.
Belum bermain saja ia sudah ketakutan, bagaimana jika benar-benar bermain. Mungkin ia akan pingsan sebab takut jatuh dan cedera. "Aku ingin tetap bermain Leo, bisakah kau mengajariku sebentar?" tanya Emeli.
__ADS_1
"Tentu saja Mentari, dengan senang hati aku akan mengajari mu, ayo kita cari lereng yang sedikit lebih aman," ucap Leo yang di angguki Emeli dengan penuh semangat.
Kini Emeli menggerakkan skinya dengan bantuan dua tongkat di tangannya. Walaupun Emeli berjalan dengan sangat pelan, Leo tetap sabar menunggu gadis itu hingga tiba di lereng yang sesuai dengan yang mereka inginkan.