
Setelah selesai dengan kegiatannya yang tak bermanfaat, Clara segera turun ke lantai bawah untuk menemui kedua orang tuanya. Saat ini, Nino maupun Erika sudah menunggu Clara untuk menikmati makan malamnya. Senyum keduanya mengembang ketika sudah melihat sosok Clara yang sudah muncul di ruang makan.
Clara menampilkan senyum manisnya ketika melihat Nino dan Erika yang menyambutnya dengan hangat. Tak ingin berlama-lama, Clara segera mendudukkan tubuhnya di kursi yang tak jauh dari Erika dan Nino. Karena sudah lapar, mereka pun menyantap makanannya dengan tenang.
Di ruang makan itu terlihat hening membuat Clara tersenyum dan memulai dramanya di sana. "Pa, izinkan Clara menikah dengan Justin," ucapnya memulai dengan nada rendah yang penuh pengharapan. Nino tak mengeluarkan suaranya sedikit pun, ia masih fokus menikmati makan malamnya.
"Tolonglah Pa, Clara rela menjadi istri kedua Justin jika-," ucap Clara yang seketika membuat Nino mengebrak meja di depannya.
"Sudah cukup Clara! Papa tak akan pernah setuju dengan keinginanmu itu! Berhentilah mengganggu rumah tangga orang lain dan lupakanlah Justin!" ucapnya dengan sangat tegas lalu pergi meninggalkan Clara dan Erika di meja makan. Clara langsung mengeluarkan air mata buayanya membuat Erika segera menghampirinya. Tak ada yang bisa wanita paru baya itu lakukan selain menenangkan Clara.
Hari telah berganti, perjuangan Clara tak sampai di situ; ia berusaha terus membujuk Justin untuk segera menikahinya dan menjadikannya istri kedua. Karena Justin sudah sangat mencintai Clara, membuatnya tak bisa berfikir jernih dalam mengambil keputusan. Ia pun mewujudkan keinginan wanita yang dicintainya itu. Hingga tiba saatnya di mana hari menegangkan itu tiba.
__ADS_1
Justin dan Clara memberanikan diri untuk menemui Erika dan Nino di kediamannya. Di sana, keduanya tengah bersimpuh di hadapan Nino dan Erika. Erika tak bisa menahan air matanya melihat perjuangan anaknya dan mantan calon menantunya itu. Ia pun melirik suaminya dengan mata penuh pengharapan.
"Papa, tolong restui hubungan kami, hiks, kami mohon," ucap Clara dengan tangan yang sudah terkatup rapat. Nino seperti enggan memandang sepasang manusia di depannya. Walaupun begitu, ia tetap mendengarkan permohonan keduanya.
"Om, saya mohon om, izinkan saya menikahi Clara, saya akan berusaha bersikap adil terhadap kedua istri saya om," ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Apa yang bisa kau berikan pada anakku? Apa kau bisa membuktikannya padaku jika kau serius dengan ucapanmu?" tanya Nino dengan wajah datar nan tegasnya.
Luluhlah, Pa, Clara mohon, batin Clara penuh harap sembari melirik ekspresi Papa nya yang tak bisa terbaca.
"Baiklah, Papa merestui hubungan kalian," ucap Nino membuat Justin, Clara, dan Erika tersenyum bahagia dengan keputusan Nino. "Tapi dengan satu syarat," ucap Nino lagi membuat senyum semuanya memudar.
__ADS_1
"Katakan, Pa?" tanya Clara dengan wajah sendu nan bingungnya.
"Menikahlah di waktu dekat ini," ucap Nino membuat perasaan semua nya merasa lega.
Clara yang sangat senang segera memeluk Justin lalu beralih memeluk Nino dan Erika.
"Terima kasih, Pa, aku mencintaimu," ucapnya membuat Erika menghapus air mata kebahagiaannya.
"Sama-sama sayang, Papa juga mencintaimu," ucapnya lalu memberikan satu kecupan di kepala Clara.
Flashback off.
__ADS_1