
"Kapan kita akan menikah sayang?" tanya Clara berharap kepastian dari Patrick.
"Tunggu waktu yang tepat sayang," ucapnya sembari mengelus punggung Clara. "Oya, apakah sayangku ini sudah pergi kontrasepsi? aku takut kita kecolongan dan kamu hamil sayang," ucap Patrick seakan tak terima jika Clara mengandung anaknya.
"Sudah sayang, baru saja semalam aku memasangnya." ucap Clara tersenyum senang.
"Apa tidak sakit sayang, kenapa tidak meminum pil saja?" tanya Patrick terlihat cemas dengan keadaan Clara.
"Tidak sayang, awal-awal memang sedikit tak nyaman tetapi lama-kelamaan jadi biasa," ucap Clara kaku mencium bibir Patrick seakan mengisyaratkan sesuatu.
Dan seperti biasanya, mereka melakukan hal yang sama setiap harinya tanpa ingin berfikir jika mereka bukanlah sepasang suami istri yang sah di mata hukum dan agama.
__ADS_1
Pagi telah tiba, kini sepasang pengantin baru masih terlihat setia menutup matanya. Jika saja alarm yang di pasang Emeli tak berbunyi, mungkin kedua pengantin baru itu akan tidur hingga siang. "Hm," Emeli mengusap matanya dengan mulut yang sedikit menguap. Badannya yang sudah merasa enakan segera ia renggangkan. "Plak," tangan Emeli tak sengaja jatuh ke pipi Justin dengan sedikit kuat. Justin yang merasa pipinya sakit segera membuka matanya dengan tangan yang memegang pipinya.
"Ceria!" bukannya mendapatkan kata-kata romantis di pagi hari, justru Emeli malah mendapatkan teriakan yang memekakkan telinganya.
"Kau ini ribut sekali pagi-pagi!" kesal Emeli yang sudah duduk di ranjangnya. Ia menatap mata tajam Justin yang juga menatapnya.
"Kenapa kau menatapku begitu? apa aku ini sangat cantik sehingga kau terpanah padaku?" ucap Emeli dengan sangat pd-nya membuat Justin tertawa.
Kenapa dia tertawa?! apakah ada yang lucu di sini? batin Emeli sembari melirik sekitarnya.
"Beraninya kau menertawakanku, rasakan ini," ucap Emeli kesal sembari memukul Justin menggunakan bantal yang ia gunakan di saat tidur.
__ADS_1
"Hhhhhh, tolong,,,ada singa ngamuk!" teriak Justin di iringi tawa tanpa suara.
"Ih,,, ngeselin banget sih," cubitan Emeli berhasil menghentikan tawa Justin.
Pria itu segera duduk dengan tangan yang memegang pinggangnya yang sakit. Ia menatap Emeli dengan tatapan penuh permusuhan. Dengan mata tajamnya ia mulai mendekati wajah Emeli yang sedang kesal. Ketiga hidung mereka menempel dan mata mereka saling menatap satu sama lain, tiba-tiba saya Justin kembali mengejeknya. "Wek," setelah melakukan itu Justin segera berlari menuju kamar mandi dengan Emeli yang mengumpatnya habis-habisan.
"Hhhhhh," tawa Justin terdengar hingga keluar kamar mandi.
"Dasar!" ucapnya dengan wajah ngambek. Dalam keadaan kesal Emeli memilih keluar dari kamarnya untuk memesan sarapan pagi.
Di dalam kamar, terlihat Justin baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Iya menatap heran ruangan yang terlihat sepi. Dengan tangan yang sibuk mengerikan rambut, Justin berjalan ke arah kaca yang berada di kamar hotel itu. "Kemana dia?" gumamnya bertanya- tanya dengan mata yang memperhatikan pantulan dirinya di cermin.
__ADS_1
Karena merasa kedinginan, Justin segera mengenakan pakaian kerjanya. Tak seperti pengantin pada umumnya yang memilih cuti beberapa hari, justru Justin memilih masuk ke kantornya hari ini. Sebenarnya tak masuk ke kantor selama sebulan tidak akan membuat perusahaan bangkrut.
"Cklek," Justin mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Di sana ia melihat Emeli bersama pelayan yang sedang mendorong meja yang berisi makanan.