
"Dengarkan aku Ceria," ucap Justin dengan wajah yang sendu penuh harap.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu di bicarakan lagi!" ucap Emeli dengan tegas. Justin bisa melihat dengan jelas perubahan Emeli yang semakin lama semakin asing padanya.
"Ceria, aku mohon berikan aku kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan semuanya, aku mencintaimu Ceria," ucap Justin yang membuat hati Emeli berdetak seketika.
Inilah yang aku harapkan darimu Jus, sudah lama aku menunggu ucapan cinta yang terlontar dari mulutmu. Tapi, tapi kenapa baru sekarang? kenapa di saat aku ingin melupakan dan merelakanmu pada Clara kau justru datang padaku dan dengan gampangnya mengatakan jika kau mencintaiku? Aku benar- benar bimbang dengan ucapanmu itu, apakah itu tulus atau hanya sekedar obat untuk hatiku agar sembuh dan menerimamu kembali. Batin Emeli menatap tak percaya mata Justin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang," panggil Justin sembari menyentuh pipi Emeli dengan kedua tangannya.
Apa ini? kenapa tiba-tiba kau berubah Jus? kenapa kau memanggilku sayang? jujur, aku sangat senang dengan semua ini, namun rasa sakit di hatiku membuatku membencimu Jus. Aku ragu dengan semua sikap dan perilakumu ini. Batin Emeli masih sibuk bertengkar dengan fikiran dan hatinya sendiri.
"Diam, jangan memanggilku dengan sebutan jelek itu!" ucap Emeli dengan nada tegas.
"Maafkan aku sayang, mau kau marah atau tidak, aku akan tetap memanggilmu dengan sebutan itu!" ucap Justin tak ingin kalah.
__ADS_1
"Aku membencimu Jus!" ucapnya dengan air mata yang sudah meleleh dan membasahi pipinya.
"Dan aku sangat mencintaimu," ucap Justin sembari mendaratkan satu kecupan di buah cery Emeli tanpa meminta persetujuan gadis terlebih dahulu.
"Mentari," panggil Leo membuat Emeli maupun Justin langsung menolehkan wajahnya ke asal suara.
"Lepas!" ucap Emeli sembari berusaha melepaskan tangannya dari genggaman kuat Justin.
"Aku tak akan melepaskanmu dan membiarkan kau pergi bersama pria itu!" ucap Justin dengan nada mengancam dan penuh penekanan.
"Jangan ikut campur," ucap Justin memberikan peringatan pada Leo dengan cara mengangkat jari telunjuknya.
"Leo tolong aku,,," ucap Emeli sembari menampilkan wajah sendunya.
"Lepaskan dia!" ucap Leo sembari mencoba melepaskan genggaman Justin di tangan Emeli.
__ADS_1
Emosi dan cemburu bercampur menjadi satu, Justin yang geram segera melayangkan satu pukulan di pipi Leo. Leo yang tak terima segera membalas pukulan Justin. Kini terjadi adu kekuatan antara Justin dan Leo. Keduanya saling memukul satu sama lain.
"Cukup,,," teriak Emeli namun tak di gubris oleh keduanya.
Riko yang sendari tadi mengikuti Leo terlihat terkejut melihat dua manusia di depannya. Dengan cepat ia menjadi penengah bagi Justin dan Leo. Walaupun berhasil di pisahkan oleh Riko tak membuat keduanya berbaikan melainkan saling bermusuhan dan melemparkan tatapan tajam satu sama lain.
"Kau," tunjuk Emeli pada Justin dengan mata yang sudah memerah menahan tangis. "Aku membencimu!" Bentaknya lalu segera menarik tangan Leo lalu pergi meninggalkan Justin dan Riko yang tengah fokus menatap punggung keduanya.
Justin mengepalkan kedua tangannya. "Bug!" tak dapat pelampiasan, tembok pun menjadi sasarannya.
"Tenanglah Tuan," ucap Riko dengan tangan yang hendak menyentuh pundak Justin namun tangannya langsung di tepis.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Justin kembali ke kamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia benar-benar sangat marah pada Leo dan kesal pada Emeli yang lebih memilih Leo daripada dirinya.
Aku sudah memperingatkanmu Tuan, namun kau sendiri yang membuat Nona Emeli semakin marah dan benci padamu. Batin Riko sembari menatap datar punggung Justin yang hampir menghilang di telan tembok.
__ADS_1