
"Mama,,," ucapnya dengan suara lirih dengan mata yang sedikit menyipit.
"Mama di sini, Nak," ucap Erika sembari menghapus air mata di sudut matanya.
"Ini dimana Ma, dan kenapa Mama bisa berada di sini juga?" tanyanya dengan wajah yang memang sudah terlihat sangat memprihatinkan.
"Kamu pingsan sayang, hampir saja kamu di tabrak mobil. Untung saja Pak Leno menginjak rem dengan cepat. Mama bersyukur sebab Mama lah yang bertemu dengan mu bukan orang lain. Jaga dirimu, Nak, hiks, jangan pergi sendirian lagi," ucap Erika sembari memeluk Clara.
Mata Clara menatap Nino yang kini menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa di baca. "Ma, Papa," gumamnya pelan dengan pandangan yang langsung di tundukkan. Erika langsung melepaskan pelukannya di tubuh Clara lalu tersenyum pada putrinya itu.
"Tenanglah sayang, Papa sudah tidak marah lagi padamu, dan mulai sekarang, kamu boleh tinggal lagi bersama kami," ucap Erika membuat Clara langsung menatap mata Nino seakan meminta pembenaran.
Nino mendekati Clara dengan senyum teduhnya lalu menarik Clara ke dalam pelukannya. "Maafkan Clara Pa," ucap Clara dengan suara lirih ketika sudah berada di dalam pelukan Nino.
__ADS_1
"Sts,,, tenanglah sayang, Papa sudah memaafkanmu, yang lalu biarlah berlalu, Maafkan Papa juga karena telah membiarkanmu hidup dalam kesengsaraan," ucap Nino membuat Clara meneteskan air mata haru. Dan kali ini air matanya asli dan tidak di buat-buat.
"Terimakasih Pa, Clara sangat menyayangi Papa dan Mama," ucap Clara yang langsung mendapatkan anggukan dari kedua orang tuanya.
"Bagaimana dengan pria yang menghamilimu Nak?" tanya Nino setelah melepas pelukannya dari Clara.
Clara langsung menunduk diam, dia tak tau haru menjawab apa. Tanpa Clara menjawab, Nino pun langsung paham dengan kondisi Clara saat ini. Dengan berat hati, akhirnya ia pun memutuskan untuk merawat Clara dan calon cucunya itu.
"Sudahlah Nak, Papa dan Mama akan selalu ada untuk mu mulai sekarang. Cuma satu yang Papa pinta, berubalah Nak, Jangan menghancurkan dirimu sendiri!" ucap Nino yang langsung di angguki Clara.
"Tring," Justin yang tengah melamun memikirkan Emeli langsung mengalihkan pandangannya ke arah handphone Miliknya. Dalam keadaan Mood yang tak baik, Justin pun mengangkat panggilan telepon itu tanpa melihat nama sang penelepon. "Halo," ucap Justin dengan nada cuek nan datarnya.
"Halo Tuan," ucap Riko dari ujung telepon.
__ADS_1
"Ada apa Rik, jika kau hanya membahas hal yang tak penting lebih baik tidak usah menghubungi ku!" ucap Justin dengan nada yang terdengar kesal.
Huh, sabar Riko,,, memang beginilah sikap orang yang tengah patah hati! batin Riko sembari berusaha menahan dirinya agar tidak marah.
"Tuan, saya ada informasi penting untuk anda," ucap Riko yang membuat Justin langsung berdecit kesal.
"Ct, langsung saja pada intinya!" ucap Justin yang lagi-lagi membuat Riko harus menahan sabar.
"Maaf Tuan, sesuai informasi yang anak buah kita sampaikan, bahwa keberadaan Nona Emeli sudah di tem-" belum lagi menyelesaikan kalimatnya namun Justin sudah memotongnya lantaran tak sabaran mengetahui keberadaan sahabat sekaligus pujaan hatinya itu.
"Katakan!" ucapnya dengan nada yang penuh dengan penekanan.
"Nona sekarang sedang berada di Amerika serikat tepatnya di California, Dan-" belum sempat Riko melanjutkan kalimatnya, Justin pun langsung menyelanya lagi.
__ADS_1
"Persiapan semuanya, kita terbang ke California sekarang juga!" ucap Justin lalu langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Sial!" umpat Riko dengan sangat kesalnya. Jika saja Justin buka Bosnya, sudah pasti ia tak akan sudi membantu dan memberikan informasi mengenai Emeli walaupun sejatinya ia tau keberadaannya.