
Karena rasa cintanya yang teramat besar pada Justin, membuat Emeli menganggukkan kepalanya sembari menahan air matanya. Persetujuannya membuat Justin sangat bahagia namun tidak dengan dirinya. Ia rela membunuh cintanya demi pria di hadapannya.
"Terimakasih Ceria," ucap Justin langsung memeluk Emeli dengan erat dengan bibir yang sudah menyentuh rambut Emeli.
Setelah puas memeluk Emeli, Justin melepaskan pelukannya dengan kedua tangan yang memegang pundak Emeli. Mata Justin terlihat memancarkan binar bahagia. "Sahabat?" ucap Justin sembari memberikan jari kelingkingnya ke hadapan Emeli. Dengan perasaan bercampur aduk Emeli menyambut tangan suaminya itu. Justin menghapus air mata Emeli. Dia mengira Emeli menangis haru dengan kebahagiaannya, namun siapa yang menyangka jika gadis itu menangisi nasib cintanya yang tak terbalaskan. Bagaimana Justin tidak beranggapan demikian jika Emeli mengeluarkan air mata dengan keadaan bibir yang melengkung indah.
"Sahabat," ucap Emeli pelan namun masih bisa di dengar oleh Justin.
"Kau benar-benar sahabat terbaik ku," ucap Justin dengan tangan yang menggenggam tangan Emeli.
"Kau juga sahabat terbaik ku jus," ucapnya sembari tertawa terpaksa agar Justin tak merasakan hatinya yang sedang kacau.
__ADS_1
Dua sejoli itu tertawa bersama bertepatan dengan matahari terbenam. Sunset di sore itu sangat indah dan mendukung suasana mereka saat ini. Tanpa ada yang sadari, Riko mengambil foto dua sejoli itu beberapa kali. Hal itu membuat Clara Terlihat iri dengan kebahagiaan Emeli.
"Sayang," panggil Clara menghancurkan momen dua sejoli itu.
Justin yang melihat wajah cemberut Clara segera melepaskan genggaman tangannya pada Emeli. Hal itu membuat jantung Emeli seakan di hantam sesuatu yang keras.
"Ada apa sayang?" tanya Justin yang sudah berada di samping Clara.
"Ayo," ucap Justin segera menarik tangan Clara untuk mencari posisi foto yang bagus.
Saking asiknya, mereka sampai melupakan Emeli yang masih berdiri mematung di sana. Emeli terus saja memperhatikan aktivitas sepasang kekasih itu dengan wajah sendunya.
__ADS_1
"Emeli," panggil Riko membuat lamunan gadis itu buyar. Emeli yang tak ingin Riko melihat air matanya, segera menghapusnya dengan cepat. Seperti biasanya, ia menampilkan wajah cerianya seakan tak ingin terlihat lemah.
"Iya Riko," sahut Emeli dengan senyum simpul nya.
"Ayo minum es kelapa," ajak Riko yang di angguki Emeli.
Riko tak banyak bertanya pada gadis itu sebab ia sudah tau semuanya. Bahkan ia sempat mendengar pembicaraan Emeli dan Justin. Ia cukup prihatin dengan gadis malang itu. Sebenarnya Riko adalah tipe manusia yang cuek dan tidak pedulian. Bahkan ia tak pernah mau berbicara atau mengajak seseorang untuk ikut bersamanya walaupun itu hanya sekedar duduk. Namun melihat Emeli, membuatnya tak bisa menjadi dirinya sendiri. Ia terlihat tak tega melihat istri dari bos-nya itu termenung seperti orang bodoh di tepi pantai.
"Apakah enak?" tanya Riko mencoba berbasa-basi. Ia tahu saat ini Emeli hanya butuh sedikit perhatian dan teman mengobrol.
"Tidak Rik, terima kasih ya atas traktirannya," ucap Emeli lalu tersenyum simpul.
__ADS_1
Riko hanya mengangguk kan kepalanya dengan bibir yang sedikit di tarik. "Mari foto bersama, sebentar lagi sunsetnya akan menghilang," Riko segera menarik Emeli tanpa persetujuan gadis itu. Hal sederhana yang di lakukan Riko berhasil menciptakan sedikit kebahagiaan di hati Emeli.