
"Ya sudah, kamu istirahat dulu sama Mama di kamar, besok Papa akan mengurus keberangkatan mu ke luar negeri," ucap Bowo berhasil membuat Emeli tenang. Karena merasa tubuh Emeli sangat lemas, membuat Bowo harus menggendong tubuh Emeli ke kamarnya. Malam ini Bowo membiarkan Riya istrinya untuk menemani Emeli yang saat ini tengah tidak baik-baik saja.
Saat ini di kamarnya terlihat Justin tengah fokus melihat isi pesannya bersama Emeli. Ia terlihat kesal ketika Emeli tak membalas pesannya melainkan hanya melihatnya saja. Justin yang saat ini tengah duduk di pinggir ranjang refleks menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal menggunakan kedua tangannya.
Harus bagaimana lagi aku mengatakannya padamu Emeli,,, aku menyayangimu dan Clara, aku tak bisa melepaskan salah satu dari kalian. Batin justin lalu bangkit dari ranjangnya dan memutuskan untuk merendam tubuhnya di malam yang dingin ini.
Di dalam kamar mandi tak henti-hentinya dia memikirkan Emeli yang terlihat enggan berbicara dan menemuinya. Ntah Kenapa ia merasakan perasaan yang aneh dan hal itu kembali membuatnya gelisah. Berendam dalam air atau tidak tetap sama saja baginya. Akhirnya kini justin memutuskan untuk menyelesaikan kegiatan berendamnya. Setelah mengenakan baju tidur, Justin segera kembali ke atas ranjang lalu mencoba menutup matanya.
__ADS_1
Beberapa menit telah berlalu, namun Justin terlihat gelisah di sana dengan mata yang sulit di pejamkan. "Kenapa aku tidak bisa tidur? padahal besok aku akan menikah dengan Clara," gumamnya sembari menatap langit-langit kamarnya. "Huh, rasa bersalahku pada Emeli membuat hatiku menjadi tak tenang," ucap Justin dengan wajah sendunya.
Mau gimanapun, aku harus berusaha memejamkan mataku, besok aku akan menikah dan aku nggak boleh mengecewakan wanita yang aku cintai. Batin Justin lalu setelah itu berusaha tidur dengan fikiran yang di kosongkan. Dan benar saja, lima belas menit berusaha, kini Justin berhasil masuk ke alam mimpinya.
Pagi telah tiba, kini Justin telah bangun dari tidurnya. Pagi ini kebahagiaan dan kesedihan bercampur menjadi satu di dalam hati dan fikirannya. Kini Justin tengah bersiap-siap untuk pergi KUA untuk melangsungkan pernikahannya bersama Clara. Setelah merasa rapi dan puas dengan penampilannya, kini justin segera keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju mobilnya.
"Apakah semuanya sudah siap Tuan?" tanya penghulu pada Nino Papa Clara.
__ADS_1
Sebelum menjawab, Nino pun menghampiri Justin dan Clara. Ketika semuanya sudah siap, Nino dan Justin pun di arahkan untuk duduk di meja yang sudah di sediakan penghulu. Saat ini posisi Nino menghadap ke arah Justin dengan penghulu di sampingnya. Sedangkan Justin duduk berdampingan dengan Clara. Sebelum mengucapkan ijab kabul, Justin maupun Nino di anjurkan untuk membaca bismillah dan menenangkan diri agar kelangsungan pernikahan berjalan mulus.
Setelah Justin maupun Nino sudah sama-sama siap, kini penghulu pun mulai mengarahkan Justin dan Nino untuk saling berjabat tangan. "Baik, mari kita mulai akad nikahnya," ucap penghulu yang langsung di angguki Nino dan justin.
Nino menghebuskan nafasnya lalu menghirup udara kembali, setelah itu, Nino pun mengucapkan ikrar pernikahan pada Justin, "Saudara Justin Steven Massive bin Hendra Massive, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya Clara Aurora bin Nino Wijaya dengan mahar Lima belas gram emas dan seperangkat alat shalat, tunai," ucap Nino dengan tegas dan lantang sembari menghentakkan tangannya dan Justin.
"Saya ter-"
__ADS_1