CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Merawat Ela


__ADS_3

"Sayang, bukan begitu maksudku, aku sangat senang kau memakan makanan milikku," ucap Justin dengan nada lembut nan rendahnya. Ia berusaha bersikap sebaik mungkin agar Emeli luluh dan kembali ke sikap sebelumnya.


"Makan saja itu untukmu," ucap Emeli masih dengan mode ngambeknya.


Sabar Justin, begini lah sikap wanita yang muda ngambek. Kau hanya perlu belajar peka dan membaca apa yang di inginkannya. Batin Justin lalu menyerahkan makanannya pada Emeli dan mengambil makanan Emeli untuknya.


Tanpa Justin sadari, Emeli tersenyum tipis melihat sikap Justin yang sangat paham dengan keinginan nya. "Makanlah sayang, aku tak akan menggangumu," ucap Justin lalu berniat pindah ke tempat lain.


"Mau kemana?" tanya Emeli dengan tangan yang sudah menahan tubuh Justin agar tetap duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Mau pindah sayang, aku tak ingin mengganggumu," ucap Justin dengan tubuh yang sudah kembali ke tempatnya.


"Tetaplah di sini Jus, aku tidak merasa terganggu dengan kehadiranmu," ucap sederhana Emeli berhasil membuat hati Justin berbunga-bunga. Ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya lagi. Sepanjang menikmati makanannya, Justin terus saja tersenyum. Hal itu mengundang perhatian Leo yang sendari tadi memperhatikannya bersama Emeli.


Andai saja aku yang berada di posisi dia, pasti aku juga akan merasakan kebahagiaan yang sama. Batin Leo lalu meneguk air mineralnya dengan cepat.


"Pelan-pelan Tuan, jangan sampai tersedak sebab Tuan Justin akan senang dan mentertawakan mu," ucap Riko dengan senyum smirknya.


Waktu telah berlalu, kini Ela sudah di izinkan pulang kekediamannya. Walaupun begitu, dokter tetap menyarankan Ela agar tetap melakukan perawatan di rumahnya. Bukan hanya Obat saja yang ia bawah, namun alat bernafas dan infus juga ikut ia bawa. Semenjak sakit ini Ela memanfaatkan keadaannya agar menantunya Emeli selalu menjaganya dan tentunya hal itu agar keadaan hubungan Emeli dan Justin membaik. Ia ingin sekali anak menantunya itu hidup bahagia dan rukun tanpa ada saling benci, kecewa dan saling marah. Sudah cukup akhir-akhir ini ia bersedih dan stres memikirkan hubungan keduanya yang sudah di ujung tanduk.

__ADS_1


"Ma," panggil Emeli yang baru saja datang dari dapur dengan membawa jus dan bubur untuk Ela.


Ela memalingkan wajah tersenyumnya pada Emeli. Ia selalu senang dengan kehadiran Emeli yang selalu siap siaga dan perhatian padanya. Bahkan kasih sayang wanita paru baya itu semakin besar pada menantunya itu. "Sayang, kenapa kamu ke dapur? bukankah Mama sudah mengatakan jika membutuhkan sesuatu mintalah pada bibi," ucap Ela dengan wajah teduh nan lesunya sebab faktor tubuhnya yang belum pulih seratus persen.


"Tidak apa Ma, Emeli senang kok bisa menyiapkan sendiri keperluan Mama," ucapnya yang membuat Ela kembali menerbitkan senyum bahagianya.


"Terimakasih sayang, beruntung Mama memiliki menantu penuh kasih sayang dan baik hati seperti kamu," ucap Ela dengan tangan yang sudah mengelus ubun-ubun Emeli.


"Mama bisa saja, Emeli juga senang dan beruntung tau bisa menjadi menantu Mama," ucap Emeli yang langsung tertawa kecil bersama Ela. Emeli selalu saja bisa menghidupkan suasana di manapun ia berada termasuk bersama Ela mertuanya.

__ADS_1


"Makan dulu yuk Ma, siap itu kita minum obat ya,,," ucap Emeli yang di setujui Ela dengan anggukan kecil. Emeli tersenyum melihat mertuanya yang menurut. Tak ingin membuang waktu, Emeli menyuapi Ela sedikit demi sedikit hingga bubur di tangannya habis.


__ADS_2