
Saat ini Justin maupun Emeli sudah tiba di kediamannya. Mereka tetap kekeh ingin pulang ke rumahnya sendiri daripada pulang ke rumah orang tua mereka. Walaupun di tinggal sebentar rasanya sudah seperti beribu tahun tidak pulang ke rumah. Memang benar, seindah apapun istana orang lain tak dapat mengalahkan kenyamanan istana sendiri.
Setibanya di kamar, Emeli langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan perlahan. Wajah sedih wanita hamil itu kini sudah kembali ceria. Dia mengayunkan kedua tangan dan kakinya merasakan kelembutan ranjangnya. "Sayang, bersih-bersih dulu baru berbaring," ucap Justin sembari melepaskan segala pernak-pernik yang menempel di tubuhnya.
"Sebentar lagi Jus sayang," ucap Emeli mulai kembali ke wujud aslinya. Justin yang tidak suka dengan panggilan itu berdecit kecil membuat Emeli terkekeh di tempatnya.
"Sayang, bisakah kau mengganti panggilan itu dengan yang lain? seperti Justam atau Jusnis?" ucap Justin membuat Emeli mengernyitkan dahinya heran.
"Apa itu Justam?" tanya Emeli dengan satu alis yang terangkat.
"Justin tampan," ucapnya dengan senyum percaya diri.
"Ih," Emeli tersenyum setengah mengejek.
"Lalu apa itu Jusnis?" tanya Emeli dengan posisi yang sudah bangkit dari baringnya.
__ADS_1
"Justin Manis," ucapnya seketika langsung tertawa membuat Emeli ikut tertawa.
"Ya Allah," ucap Emeli masih tertawa sembari memegang perutnya.
Sadar Emeli-sadar, ,jangan tertawa berlebihan, kasihan anakmu. Batin Emeli segera mengatur nafasnya agar berhenti tertawa.
"Jus,,," kesal Emeli membuat Justin langsung menghampirinya lalu meminta maaf.
"Sudah jangan ngambek, ayo kita berendam air hangat, aku yakin bayi kita akan merasa sangat nyaman di dalam sana," ajak Justin yang di angguki Emeli.
"Ayo," jawabnya tersenyum penuh semangat.
"Sayang, ayo," panggil Justin sembari menolehkan kepala ke arah ranjang.
Senyum mekar Justin berubah menjadi senyum simpul ketika mendapatkan Emeli masih bersantai di atas ranjang. "Sayang," ucap Justin membuat Emeli terkekeh kecil. "Kenapa masih di situ? ayo," ajak Justin lagi.
__ADS_1
Emeli merentangkan kedua tangannya pada Justin sembari berkata, "Gendong,,," pintanya dengan manja. Melihat kemanjaan Emeli membuat Justin menghela nafas sabar lalu melangkahkan kakinya mendekati Emeli lalu membawanya ke dalam gendongannya.
"Yey," teriaknya senang seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
Justin tersenyum melihat tingkah menggemaskan Emeli. Justin pun membawa Emeli untuk masuk ke kamar mandi. Seperti yang di inginkannya, kedua sejoli itupun berendam bersama sembari merilekskan tubuhnya.
Belum beberapa menit berendam namun Emeli sudah tak ingin berendam lagi. Justin yang merasakan pergerakan Emeli langsung membuka matanya. "Ada apa sayang?" tanya Justin sembari menegakkan tubuhnya.
"Aku sudah selesai sayang, kamu lanjut saja," ucap Emeli sembari mengenakan kimononya.
"Loh, kenapa? apa kau tidak nyaman sayang? apa airnya terlalu panas?" tanya Justin dengan wajah herannya.
"Tidak sayang, aku bosan saja berendam," ucap Emeli tersenyum tipis.
"Bosan? kita baru 3 menit loh berendam," ucap Justin masih tak habis fikir.
__ADS_1
"Sudah ah nggak usah di perpanjang, aku mau makan buah aja di dapur," ucap Emeli lalu segera meninggalkan Justin di kamar mandi sendirian.
Emeli sangat aneh semenjak hamil. Moodnya suka berubah-ubah padahal tadi dia sangat bersemangat sekali. Batin Justin menghela nafas pelan lalu kembali menyandarkan tubuhnya dengan mata yang kembali menutup.