CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Pertengkaran


__ADS_3

Saat ini Emeli sudah berada di depan kamar Justin, ia begitu bimbang untuk masuk ke dalam sana. "Sayang," Emeli segera mengalihkan pandangan ke asal suara. "Kenapa berdiri di sini sayang?" tanya Ela dengan tangan yang memegang teko kosong. Sepertinya wanita tua itu ingin menyetok air minum di kamarnya.


"Apa Justin mengunci pintunya?" tanya Ela membuat Emeli panik karena tak tau mau menjawab apa.


"Tidak Ma, Emeli segan saja untuk masuk ke kamar Justin," jujurnya membuat Ela langsung paham dengan situasi.


"Kenapa harus segan sih sayang, kamu ini seperti orang lain saja," ucap Ela tersenyum lucu melihat sikap Emeli. Karena kasihan, Ela segera memanggil Justin untuk membukakan pintu.


"Tok-tok-tok,"


"Sayang, buka pintunya," panggil Ela yang berhasil membuat Justin membuka pintu kamarnya.


"Cklek," mata pria itu menatap dua wanita di depannya secar bergantian.

__ADS_1


"Ada apa Ma?" tanya bingung karena tak biasanya pintu kamarnya di ketuk seperti itu.


"Jika Emeli belum masuk, pintunya jangan di kunci dong sayang," ucap Ela membuat Justin mengerutkan dahinya bingung.


"Maksud Mama Emeli tidur bersama Justin di sini?" tanya yang langsung di angguki Ela,


"Bukankah Emeli sudah mempunyai kamarnya sendiri?" tanyanya lagi yang lagi-lagi mendapat anggukan.


"Kaliankan sudah menikah sayang, jadi sudah seharusnya tidur bersama. Lagian kamar istrimu ini sudah Mama kunci. Apa kamu tak melihat sayang jika di dalam sana sudah terdapat barang Emeli?" ucap Ela membuat Justin mati kutu di tempatnya.


Karena tak tau harus berbuat apa, akhirnya Emeli memilih untuk segera tidur. Sebelum ia benar-benar menutup matanya, tiba-tiba saja Justin mengeluarkan suaranya. "Kenapa kau menerima keinginan Mama dan Papa untuk berbulan madu," Emeli segera bangun dari tidurnya. Suara berat nan datar Justin membuat hatinya seakan di aduk-aduk.


"Aku tak ingin melihat mereka kecewa Jus," ucapnya berusaha menetralkan dirinya agar tidak terpancing emosi.

__ADS_1


"Tak ingin mereka kecewa atau memang kau yang menginginkan bulan madu ini!" nada suara pria itu membuat Emeli kaget di tempatnya. Selama bersahabat dengan Justin, baru kali ini pria ini melayangkan nada tinggi padanya. Walaupun sering bertengkar, tapi Justin selalu menjaga sikap agar Emeli tak sakit hati dengan perbuatannya.


"Kenapa Jus? apa kau merasa keberatan dengan hadiah yang di berikan Papa dan Mama?" tanya Emeli yang sudah berada di depan Justin.


"Tentu saja aku keberatan! kau tau kan aku menginginkan bulan madu ini bersama Clara. Walaupun pernikahan kami tak terjadi tetapi tak bisa ku pungkiri jika aku masih mencintainya," ucapnya dengan suara yang sudah berubah menjadi sendu.


"Deg," jantung Emeli seakan mau lepas dari tempatnya.


"Kenapa kau masih mencintainya Jus, bukankah dia sudah pergi meninggalkanmu? kenapa kau masih memikirkannya sedangkan dia saja tidak memikirkanmu. Apa kau sudah gila?" ucapnya dengan sangat santai dan ekspresi datarnya. Walaupun begitu sudah terlihat jelas jika matanya sudah memerah menahan tangis.


"Apa yang kau tau tentang kekasihku! apa kau merasa dirimu lebih baik darinya?" ucap Justin tepat di depan wajah Emeli. Mata keduanya sama-sama memerah. Yang satu memerah disebabkan menahan tangis, dan yang satu memerah disebabkan kecewa bercampur marah. "Kenapa kau diam? jawab!" ucapnya dengan penekanan di ujung kalimat.


"Suatu saat kau akan paham Jus," ucap Emeli memilih tak memperpanjang perdebatan. Ia segera naik ke atas ranjang lalu menutupi seluruh tubuhnyanya dengan selimut berwarna abu-abu, persis dengan warna yang disukai Justin.

__ADS_1


Melihat itu Justin membuang nafasnya dengan kasar lalu memilih keluar dari kamar untuk menjernihkan pikirannya. Ia memilih duduk santai di ruang tv dengan segelas kopi di depannya. Banyangannya bersama Clara dan perlakuannya terhadap Emeli berputar begitu jelas di kepalanya.


__ADS_2