CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Di Usir


__ADS_3

Dasar tua bangka sialan! aku harus mencari cara agar justin tak termakan omongan tua bangka ini! batin Clara merasa panas di dalam hatinya.


Setelah berfikir keras akhirnya Clara mulai memainkan dramanya. Ia segera menjatuhkan tubuhnya hingga berlutut di hadapan Hendra dan Ela.


"Hiks," Justin mengeraskan rahangnya ketika mendengar tangisan Clara yang terlihat sangat memilukan di bawah sana.


"Om, Maafkan Clara Om, tolong restui pernikahan kami, Clara rela menjadi istri kedua Justin Om, hiks," ucapnya terlihat sangat menyedihkan membuat Justin segera mensejajarkan tubuhnya di hadapan Clara.


Luluh lah tua bangka! batin Clara masih dengan tangisnya.


"Sampai kapan pun saya tak rela kalian bersama dan menyakiti hati menantu saya Emeli!" ucap Hendra dengan tegas yang sangat di setujui Ela.

__ADS_1


Setelah mengangkat Clara untuk kembali berdiri, Justin segera menatap Papanya dengan mata yang berapi-api, dengan lantang ia berkata, "Mau di restui atau tidak, kami akan tetap menikah!" ucap Justin membuat Ela membekap mulutnya tak percaya. Tak terasa air mana wanita paru baya itu jatuh kembali dan membasahi pipinya.


"Nak, jangan sakiti Emeli, Nak, jangan menikah lagi, kau tak akan mampu bersikap adil. Kau hanya akan menghancurkan dirimu sendiri," ucap Ela berusaha menasehati Justin namun pria itu seperti pura-pura tak mendengar permintaan Mama-nya itu.


"Tolonglah om, restuilah kami, hiks," ucap Clara dengan wajah yang di penuhi air mata.


"Pergilah," usir Hendra dengan nada membentaknya.


"Lusa kami akan melangsungkan pernikahan kami di KUA, mau datang atau tidak, itu urusan Papa dan Mama," ucap Justin lalu membalikkan tubuhnya dan Clara ke arah pintu keluar.


"Kami tak sudi hadir di pernikahan kalian! jangan pernah injakan kaki kalian di rumah ini lagi, karena sekarang anak kami cuma Emeli!" ucap Hendra lalu segera membawa Ela untuk pergi meninggalkan ruang tamu itu.

__ADS_1


Justin hanya bisa mematung di tempatnya dengan Clara yang tersenyum puas di dalam dekapannya. "Hiks," suara Isak tangis Clara berhasil membuat justin menatap iba pada nya.


"Sudahlah sayang jangan menangis lagi, mungkin inilah jalan takdir kita," ucap Justin yang langsung mendapatkan anggukan lemah dari Clara.


Tak ingin berlama-lama di sana, Justin maupun Clara segera pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran mereka.


Kembali ke kediaman Hendra dan Ela, kedua orang tua itu tengah merenung berdua di dalam kamarnya. Ela tak henti-hentinya menangis sendari tadi di dalam dekapan suaminya. Walaupun hati dan fikirannya tak baik-baik saja, Hendra tetap bersikap tegar dan menjadi penenang bagi Ela. "Hiks," tangis Ela lagi-lagi membuat Hendra hanya bisa menghela nafasnya. Untung saja kedua orang tua itu tak memiliki penyakit jantung, jika tidak, pasti akan menjadi penyesalan bagi Justin di kemudian hari nanti.


"Sudahlah Ma, biarkan anak kurang ajar itu pergi," ucap Hendra namun tak di tanggapi oleh Ela sebab wanita itu masih setia mengeluarkan air matanya.


Malang sekali nasibmu Emeli sayang, Maafkan Papa dan Mama atas semua kesakitan yang di berikan Justin padamu. Mama berharap kau kuat menghadapi semuanya dan Mama berharap kau tetap bertahan Nak. Batin Ela sembari membayangkan wajah ceria Emeli.

__ADS_1


__ADS_2