
Setelah mobil datang, Leo segera mengangkat Clara ke dalam mobil dengan sedikit bantuan warga. Setelah berada di dalam mobil, Justin pun segera menginjak pedal mobilnya. Tak bisa di bayangkan betapa kencangnya mobil itu melesat membela jalan. Emeli yang duduk di samping Emeli saja sampai terguncang hebat. Sedangkan Leo seakan tak merasakan guncangan itu. Fokusnya kini hanya pada Clara seorang. Leo benar-benar sangat cemas dan takut jika terjadi hal yang tak di inginkan terjadi pada Clara. dia tak mau kehilangan wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
Leo baru menyadarinya jika saat ini istri yang ia sakiti ini sudah berhasil menggantikan posisi Emeli di hatinya. "Maafkan aku, hiks, Maafkan aku yang tidak peduli dengan perasaanmu sayang. Aku mohon bertahanlah, jangan tinggalkan aku," lirih Leo yang masih bisa di dengan oleh Justin dan Emeli.
Emeli menundukkan kepalanya mendengar isak kan pilu itu. Ia merasa bersalah sebab karena kecerobohan dirinyalah Clara seperti ini. Tanpa sadar, Emeli pun meneteskan air matanya kembali. Beberapa menit membela jalan, akhirnya Justin pun berhasil memarkirkan mobilnya di rumah sakit terdekat. Para tenaga medis segera membantu Leo memindahkan Clara ke atas Hospital Bed. Dengan sangat terburu-buru para tenaga medis membawa Clara ke ruang UGD.
"Maaf Tuan, tidak ada yang boleh masuk selain tenaga medis. Silahkan tunggu di luar terlebih dahulu," ucap salah satu suster lalu menutup pintu UGD dengan rapat.
__ADS_1
Leo yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menjatuhkan tubuh lemahnya. Justin segera mendekati Leo lalu merangkulnya untuk duduk di kursi tunggu.
,"Tenanglah, dia akan baik-baik saja," ucap Justin mencoba menguatkan Leo.
Tak berapa lama di rumah sakit, kini keluarga besar Justin dan Leo tiba juga di sana. Erika yang sudah sadar langsung histeris sembari memeluk Leo menantunya. Hendra mendekati Justin sembari menepuk bahunya seakan memberikan ketenangan.
"Apa yang sebenarnya terjadi Nak? kenapa hal seperti ini bisa terjadi?" tanya Hendra dengan sangat tenangnya.
__ADS_1
Mendengar cerita Justin, membuat Erika mengeraskan rahangnya dengan mata merah yang memancarkan kemarahan. Tanpa melihat tempat, Erika pun menyamperi Emeli dan memarahinya habis-habisan. Emeli hanya bisa menunduk diam sembari terus menangis.
"Ini semua salah kamu Emeli, seandainya saja kamu tidak menyebrang pasti Clara anak ku tidak akan kecelakaan seperti ini! kamu benar-benar wanita pembawa sial yang merusak kebahagiaan anakku!" bentak Erika yang membuat Justin mengeraskan rahangnya.
"Cukup Tante, jangan membentak istriku sebab ini semua bukan murni kesalahannya. Lihatlah menantu Tante, akar permasalahan ini berasal darinya!" ucap Justin dengan tegas sembari membawa Emeli ke dalam dekapannya. Emeli hanya bisa menangis sesenggukan di dada Justin.
"Sudah-sudah, ini semua sudah menjadi garis takdir Allah, tidak ada yang perlu di salahkan. Intinya sekarang kita do'akan saja agar semuanya baik-baik saja," ucap Nino dengan tegar-nya yang di setujui semuanya.
__ADS_1
"Maafkan Leo Pa," ucap Leo sembari memeluk mertuanya itu.
"Tenanglah Nak, semuanya pasti baik-baik saja," ucap Nino sembari menepuk punggung bergetar Leo.