CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Dua Bumil


__ADS_3

Di taman kota, Emeli terlihat asik menikmati bakso kesukaan-nya. Stevia yang juga sedang mengandung terlihat lahap. Nafsu makan kedua wanita hamil itu benar-benar besar, bahkan Justin dan pedagang bakso saja sampai heran melihat beberapa mangkuk kosong yang di tumpuk menjadi satu. Justin yang baru beberapa suap memakan baksonya menelan Salivanya.


"Kalian ini seperti orang yang tidak pernah makan saja," ucap Justin dengan mata yang terus memperhatikan keduanya.


Stevia dan Emeli hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Justin. "Hm," dehem Justin lalu mengalihkan pandangannya menatap layar handphone.


Riko? Batinnya lalu segera menjawab panggilan telepon dari Riko.


"Halo," ucap Justin dengan handphone yang sudah berada di telinganya. "Gimana Rik?" tanyanya sembari memandang ke sembarang arah. Emeli dan Stevia saling pandang lalu memperhatikan Justin. Walaupun mereka sibuk menguping, namun mulut mereka tetap saja di penuhi dengan bakso dan mie.


"Tuan, saya sudah mengetahui siapa pelakunya," ucap Riko dari ujung telepon.


"Benarkah?!" sahut Justin terlihat tak percaya.

__ADS_1


"Benar Tuan," ucap Riko dengan nada santainya.


"Baiklah Rik, aku akan segera ke sana," ucap Justin lalu memutuskan sambungan teleponnya. "Apakah kalian sudah siap memakan baksonya?" tanya Justin yang hanya di jawab dengan anggukan. "Apa baksonya mau di bawah pulang?" tanya Justin namun hanya mendapatkan gelengan dari keduanya.


Para wanita ini menguras emosiku! sabar Justin, sabar. Batin Justin lalu menampilkan senyum hangatnya.


"Baiklah, mari kita pulang, setelah ini aku akan menemui Riko," ucap Justin yang lagi-lagi mendapatkan anggukan kecil.


Setelah pembicaraan singkat itu, kini Emeli, Justin dan Stevia pun pulang kekediaman Orang tua Emeli. Setelah tiba dan memastikan Emeli dan Stevia masuk dengan selamat, Justin pun kembali menginjak pedal mobilnya menuju kantornya.


"Silahkan Tuan, itu semua data-data yang di kumpulan orang suruhan kita," ucap Riko sembari menyodorkan map coklat pada Justin.


Justin yang penasaran segera mengambil map coklat itu lalu membukanya. Dengan seksama mata tajam Justin membaca setiap kalimat di berkas itu. "Patrick?" tanya Justin seakan tidak yakin dengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


"Benar Tuan, Mantan selingkuhan Nona Clara-lah yang telah mencampur racun tikus di hidangan. Pria itu membayar salah satu pelayan agar meminjamkan seragamnya untuk memuluskan rencananya," jelas Riko dengan sangat seriusnya.


"Berani sekali sih brengsek itu, aku benar-benar dendam padanya!" ucap Justin mengeraskan rahangnya dengan tangan yang terkepal.


"Bukan hanya itu saja Tuan, Menurut informasi yang kita dapatkan, Patrick berusaha agar anda dan Nona Emeli juga memakannya. Tuan ingat tidak dengan pelayan yang mengenakan topi?" tanya Riko yang langsung di angguki Justin.


"Pelayan itu adalah Patrick, dia selalu menawarkan berbagai makanan dan minuman yang tidak kita minta," jelas Riko membuat kebencian Justin pada selingkuh manta kekasihnya itu semakin membesar.


Brengsek! aku tidak akan melepaskanmu si*lan! Batin Justin dengan sangat geramnya.


"Kita harus menangkap sih bedeba itu Rik! aku tidak ingin dia bebas begitu saja!" ucap Justin yang di tanggapi Riko dengan anggukan pelan.


"Saat ini polisi belum menemukan keberadaannya tuan. Pria itu hilang seperti di telan bumi. Bahkan dia sudah tidak berkerja lagi di perusahaan xxx. Apartemen yang ia tempati sudah tidak berpenghuni." jelas Riko.

__ADS_1


"Brak!" Justin memukul meja dengan kuat membuat. "Brengsek! terus pantau dia!" perintah Justin dengan tegas.


"Baik Tuan," ucap Riko dengan anggukan pelan.


__ADS_2