
Masih di rumah sakit, terlihat Clara baru sadar dari pingsannya, ia memegang kepalanya yang terasa sakit. Saat ini wanita licik itu sudah berada di ruang khusus pasien. Ketika matanya terbuka sempurna, Clara langsung terkejut dan mematung di tempatnya ketika mendapatkan satu tamparan di pipi kirinya. Wajah Clara masih miring ke kanan dengan tangan yang memegang bekas tamparan di pipinya. Ia mengarahkan wajah dengan pelan melihat orang yang telah menamparnya.
"Pa-papa?" wajah Clara terlihat syok dengan tindakan Papa-nya yang sejarahnya baru kali ini berani bermain tangan padanya.
"Kenapa? Kau ingin Papa menampar Pipimu yang sebelah lagi?" ucap Nino dengan nafas memburuk di sertai mata yang menatap tajam pada Clara.
"Sudah Pa," ucap Erika sembari memegang tangan Nino agar tak menyakiti pisik anaknya lagi.
"Ada apa Pa? kenapa Papa menampar Clara? salah Clara apa?!" ucapnya yang terlihat emosi. Clara benar-benar menunjukkan sifat aslinya pada Nino dan Erika.
"Siapa yang menghamilimu?" tanya Nino pada intinya membuat Clara refleks menutup mulutnya.
__ADS_1
Huh! apakah aku hamil? tapi bagaimana bisa? bukankah aku sudah menggunakan KB ya? Batinnya bertanya-tanya.
Nino semakin marah ketika melihat Clara tak menjawab pertanyaannya namun malah melamun. "Maksud Papa apa? Clara nggak mengerti? dan dimana suami Clara?" tanyanya dengan wajah yang di buat sebingung mungkin.
"Jangan berpura-pura lagi! dan jangan menyebut Justin dengan kata suami, sebab dia bukan suamimu! menikahlah dengan pria yang menghamilimu! dan jangan anggap aku Papamu lagi," ucap Nino kembali membuat Clara syok dengan semua fakta yang ia dengar. "Huh! aku tidak mengerti dengan anak luar biasamu ini Erika, kau urus dia, dan jangan biarkan dia kembali ke rumah sebab dia bukan anakku lagi!" ucap Nino dengan tegas dan sontak membuat Clara langsung turun dari ranjangnya. Hal itu membuat impus di tangannya terlepas dan membuat tangannya bersimbah darah.
"Sayang," ucap Erika panik melihat Clara yang terlihat tak memikirkan tubuh dan janinnya.
"Menjauh dariku!" bentak Nino menghempaskan tubuh Clara dengan keras. "Ayo Ma," ajak Nino sembari menarik Erika agar ikut pulang bersamanya.
Wajah sendu Clara kini berganti dengan wajah penuh amarah. Ia mengepalkan tangannya sebab semua rencananya sangat berantakan. "Sial!" umpatnya sembari memukul lantai dengan keras.
__ADS_1
"Awh," rintihnya ketika merasakan tangannya sakit.
Karena tak punya tempat tinggal dan pilihan lain, akhirnya Clara memutuskan untuk menghubungi Patrick kekasihnya. "Tring," Patrick menoleh ke arah handphonenya yang berbunyi.
"Siapa sih Sayang, mengganggu saja!" ucap Nita yang tak lain selingkuhan Patrick.
"Biarkan saja sayang, paling tidak penting, mari kita lanjutkan kegiatan kita yang tertunda," ucap Patrick yang di angguki wanita yang saat ini tengah berada di atasnya. Mereka pun kembali menikmati hubungan haramnya tanpa memperdulikan siapapun termasuk Clara.
"Tring,,," lagi-lagi Patrick dan Nita di buat kesal dengan nada panggilan masuk yang sangat menggangu itu. Nita yang sangat emosi segera mengambil handphone Patrick yang tak jauh darinya. Wanita itu tersenyum devil ketika melihat nama yang tertera di layar handphone Patrick.
"Siapa sayang," ucap Patrick sembari menggantikan pekerjaan Nita yang berhenti. Kini posisi mereka telah berbalik.
__ADS_1
"Lihatlah," ucap Nita sembari memperlihatkan layar handphone ke wajah Patrick.