
Setelah puas membersihkan dirinya, Emeli segera turun ke lantai dasar untuk menemui kedua orang tuanya. Baru beberapa hari tak bertemu rasanya sudah seperti satu abad tak bertemu. Emeli benar-benar sudah sangat merindukan kedua orang tuanya. Gadis itu tersenyum setelah berada di ruang keluarga, saat ini posisi Emeli sedang berada di belakang Riya dan Bowo. "Ma, Pa," kedua orang tua itu langsung menolehkan wajahnya menatap ke asal suara.
Senyum keduanya mekar begitu indahnya seperti bunga yang mekar di malam hari. "Sayang," ucap Riya setelah Emeli sudah berada di depannya. Bowo yang melihat itu hanya mengelus kepala anak semata wayangnya itu. "Gimana bulan madunya sayang?" tanya Riya setelah melepas pelukannya pada Emeli.
"Mama tau kami berbulan madu?" tanya Emeli terlihat tak percaya sebab keberangkatan bulan madunya sangat mendadak.
"Tentu saja kami tau, Nak," ucap Bowo dengan sangat lembut.
"Maaf Ma, Pa, Emeli lupa untuk menghubungi kalian," ucap Emeli dengan senyum penuh penyesalan.
"Tidak apa sayang, kami sangat makhlum dengan kalian. Jangan lupa berikan Mama dan Papa cucu ya, kami sudah tidak sabar ingin menggendong bayi," ucap Riya yang di angguki Bowo.
__ADS_1
Maaf Ma, Pa, sepertinya keinginan kalian takkan pernah terwujud, sebab Emeli dan Justin tidak bisa seperti suami istri pada umumnya. Di antara kami seakan tercipta tembok sangat besar dan Kokoh. Salah satu dari kami sangat kesulitan untuk melewati tembok itu, batin Emeli dengan mata yang menatap kosong ke arah Mamanya.
"Sayang," suara lembut Riya berhasil meruntuhkan lamunan Emeli.
Emeli menampilkan senyumnya kembali agar Mama dan Papanya tidak curiga dengan hubungannya dengan Justin, "Iya Mama ku sayang, doa kan ya biar Emeli cepat punya baby," ucap Emeli tanpa rasa malu sedikit pun. Lagian buat apa dia malu? toh dia sudah menikah, dan hubungannya bersama Justin di Ridha Allah. Mau mereka berbuat apapun selain itu tak merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum Allah, maka tidak ada yang berhak melarangnya.
"Dtr," suara perut Emeli berhasil membuat Riya dan Bowo tertawa. Dengan penuh kasih sayang keduanya mengajak Emeli untuk makan malam bersama. Kebetulan Riya dan Bowo juga belum mengisi perutnya malam ini.
Aduh, apa ya yang harus aku katakan pada Papa? batin Emeli sembari berfikir.
"Justin sedang ada urusan Pa, Karena kami sudah banyak libur, jadinya pekerjaan di kantor menumpuk," ucap Emeli memberikan alasan yang logis membuat Bowo percaya padanya.
__ADS_1
Bowo menganggukan kepalanya pertanda mengerti dengan kondisi Justin. "Berarti Nak Justin tidak menginap di sini sayang?" tanya Riya membuat Emeli kembali berfikir keras.
"Kurang tau Ma kalau itu, yang pasti nanti Justin akan menghubungi Emeli jika ingin menginap disini," ucap Emeli sembari tersenyum. Ia menyembunyikan kegugupannya di balik wajah yang ceria namun tenang.
"Baiklah sayang, nanti kalau suamimu pulang, layani dia dengan baik ya, Nak," ucap Riya memberikan sedikit nasehatnya.
"Iya Ma," ucap Emeli sangat singkat agar pembahasan tentang Justin tidak terus berlanjut.
Setelah pembicaraan singkat itu, kini ruang makan kembali hening. Emeli, Riya, dan Bowo kembali fokus menikmati makananya. Karena tak puas memakan makanan selama berada di Prancis, membuat Emeli seperti balas dendam dengan cara memakan masakan Indonesia dengan sangat lahapnya. Riya dan Bowo hanya menggeleng pelan dengan senyum hangatnya. Walaupun begitu, mereka tetap bahagia melihat putri satu-satunya makan dengan lahapnya.
"Sayang, nanti kalau di rumah mertuamu atau di tempat lain, jangan seperti itu ya makannya. Malu sayang," ucap Riya yang hanya di balas dengan senyum malu Emeli.
__ADS_1
"Iya Mamaku sayang," ucap Emeli setelah berhasil menelan makanannya.