
Kembali ke Indonesia, saat ini terlihat Bowo dan Riya tengah membahas tentang Emeli dan Justin. "Bagaimana Pa? apakah Papa masih ingin Justin dan anak kita bersama?" tanya Riya sembari fokus menatap mata Bowo.
Bowo terlihat menghela nafasnya, ia menatap penuh kasih sayang pada istrinya itu. "Papa sudah memaafkannya Ma, jikapun anak kita ingin kembali padanya, pasti Papa akan tetap mendukung sebab keduanya sudah menjalin hubungan sendari kecil. Papa hanya ingin melihat keteguhan pria bodoh itu untuk mendapatkan hati anak kita kembali. Papa sengaja melakukan ini semua agar dia bisa berfikir dan enggan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya." Jelas Bowo membuat Riya merasakan kelegaan di dalam hatinya. Ia benar-benar senang dengan keputusan suaminya itu untuk memberikan sedikit pelajaran pada Justin menantunya.
"Apa sebaiknya kita hubungin Hendra dan Ela saja Pa, biar semuanya jelas dan mereka pun bisa bersikap lebih tegas pada Justin," ucap Ela yang langsung di angguki Bowo.
Akhirnya kini keduanya pun segera bersiap-siap untuk pergi menemui Hendra dan Ela. Karena takut Justin berada di kediaman Ela dan Hendra, Bowo pun memutuskan untuk melakukan pertemuan di sebuah lestoran yang berada tak jauh dari kediamannya.
Di apartemen Patrick, kini terlihat Clara sudah berdiri di sana. Ia mengetuk pintu dengan begitu kerasnya. Patrick yang sudah menyelesaikan kegiatannya segera menyembunyikan Nita selingkuhannya dan menghadap Clara dengan sikap seperti biasanya. Ia menyambut Clara dengan begitu hangatnya. "Kamu kenapa sayang?" tanyanya sembari memperhatikan penampilan Clara dari atas hingga bawah. Clara yang sudah menahan air mata nya sendari tadi langsung masuk kedalam pelukan Patrick sembari menangis.
"Sayang,,, pernikahanku dan Justin batal, hiks," ucap Clara membuat Patrick langsung melepaskan pelukan Clara dari tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa bisa sayang? apa ada masalah?" tanya Patrick dengan wajah tak percayanya.
Clara hanya mengangguk lemah dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku hamil sayang," ucap Clara kembali membuat Patrick terkejut bukan main.
"Hamil?" tanyanya yang langsung di angguki Clara.
"Bagaimana bisa?" ucapnya lemah dengan tubuh yang perlahan turun kebawah.
"Aku tidak tau sayang, sepertinya KB yang aku pasang bocor," ucap Clara sembari mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
__ADS_1
"Sudah berapa bulan usia kandunganmu Clara?" tanya Patrick dengan mata yang menatap kosong ke arah depan.
"Baru tiga Minggu sayang, hiks," ucapnya di iringi tangisan.
Bagaimana ini, aku belum siap untuk menjadi seorang ayah, aku masih ingin bersenang-senang dan terbang bebas kemanapun yang aku mau. Aku tidak ingin menikah dengan wanita yang sudah rusak sepertinya. Seburuk apapun aku, aku tetaplah menginginkan wanita yang baik dan masih suci tentunya. Batin Patrick masih sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Sayang bagaimana ini? aku ingin kita segera menikah," ucap Clara yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Patrick.
"Aku tidak menginginkan anak itu, jika kau tak ingin merawatnya, maka gugurkan saja dia!" ucap Patrick membuat mata Clara melotot tak percaya dengan penuturan pria yang sangat ia cintai selama ini hingga rela melakukan apa saja untuk menyenangkannya.
"Apa maksudmu Patrick!" bentak Clara dengan mata yang sudah memanas di sertai air mata. Mau seburuk apapun dia, dia tak akan tega membunuh darah dagingnya sendiri.
__ADS_1