CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Apakah Aku Tidak Boleh Bahagia


__ADS_3

"Nak, Papa percaya padamu, selesaikan semua ini dengan cepat. Jangan biarkan istrimu menjadi bulan-bulanan masyarakat yang begitu mudahnya menerima informasi tanpa tau kebenarannya seperti apa," ucap Hendra sembari menguatkan Justin dengan cara menepuk pundaknya.


"Iya Pa, Justin akan menyelesaikan semuanya dengan cepat," ucapnya dengan mata yang memerah sebab menahan marah dan sedih.


"Dan untukmu Nak, tetaplah bertahan walaupun badai selalu menghampiri rumah tangga kalian. Hal seperti ini akan sering terjadi, apalagi di awal pernikahan," Nasehat Hendra yang langsung di angguki Emeli.


"Tenanglah sayang,,," ucap Ela ikut bersedih melihat hubungan rumah tangga anak menantunya itu. Baru saja hubungan kedua kembali baik, tetapi sekarang kembali memburuk.


"Sayang, tunggulah disini, aku dan Riko akan pergi sebentar, aku akan kembali secepatnya," ucap Justin yang di angguki Emeli dengan isakan yang belum reda. "Much," tanpa persetujuan Emeli, Justin mengucek kening Emeli dengan lembut dan penuh cinta. Siapapun yang melihatnya pasti bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang pria itu pada Emeli.


"Hati-hati sayang," ucap Ela yang di angguki Justin.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Justin pun pergi bersama Riko meninggalkan mansion itu, sedangkan Emeli memilih menyendiri di kamarnya dan Justin. "Hiks,,,hiks,,," Emeli tak bisa menahan isakannya yang tak kunjung berhenti. Ia kembali mengingat berita yang baru saja ia lihat, dan tak lupa ia juga mengingat orang-orang yang menatapnya sinis waktu di mall tadi.


Sudah aku duga, hiks, pasti ada yang tidak beres. Kenapa di saat hubunganku dan dia sudah membaik, kini kembali hancur. Apa salahku ya Allah, apakah aku tidak boleh bahagia? Batinnya dengan tangan yang sudah memeluk kedua lututnya.


"Mama, Emeli rindu,,, hiks," lirihnya dengan mata yang menatap kosong ke arah depan.


"Tok-tok-tok," Emeli menghapus air matanya lalu menoleh ke arah pintu. "Sayang, bukan dulu pintunya," ucap Riya yang seketika membuat Emeli tersenyum.


"Sts,,, tenanglah sayang, Mama berada disini," ucap Riya sembari mengelus rambut Emeli. Punggung gadis itu terlihat bergetar.


"Bawalah Emeli ke dalam kamarnya Riya, saya akan memerintahkan bibi untuk mengantar minuman dingin," ucap Ela yang di angguki Riya. Kini Riya pun menggiring Emeli ke dalam kamarnya tanpa berniat melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Di kediaman Clara tepatnya di ruang keluarga, terlihat Nino, Erika dan Clara fokus mendengarkan berita di depannya. Clara terlihat tersenyum samar melihat berita di depannya. Anak buahnya bekerja dengan sangat baik. Tak sia-sia ia mengeluarkan banyak uang untuk membuat berita viral ini. Nino mengalihkan tatapan penuh amarahnya ke arah Clara. Clara yang melihat Papanya terlihat menelan salivanya sebab takut. Tapi mau setakut apapun, dia tetap berusaha bersikap tenang di sana.


"Kenapa Papa menatap Clara seperti itu?" tanya nya dengan ekspresi seakan tak tau apa-apa.


"Semua ini ulah kamukan?" tanya Nino dengan nada yang sangat tak bersahabat. Clara menatap Erika seakan meminta pembelaan dari wanita paru baya itu.


"Apa maksud Papa? kenapa Papa bertanya seperti itu pada anak kita? Papa menuduh anak kita yang melakukan itu?" tanya Erika dengan nada kesalnya. Dalam hati terlihat Clara meras menang melihat Papanya tak berkutik di hadapan Mamanya.


"Bukan begitu Ma, Mamakan tau sifat anak ini gimana! apa Mama tidak ingat bagaimana dia ingin menghancurkan rumah tangga Justin dan istrinya? apakah Mama tidak ingat dengan perilaku menyimpannya dan kabur dari acara pernikahannya sendiri?" ucap Hendra dengan wajah serius sembari menatap sinis ke arah Clara yang terlihat diam mematung.


"Cukup Pa, itu hanya masa lalu, sekarang anak kita sudah berubah. Apakah Papa tidak bisa melihat perubahan putri kita ini?" tanya Erika sembari menatap Clara dengan wajah sendunya.

__ADS_1


__ADS_2