
Lagi-lagi Justin tertegun dengan sikap Emeli yang tak seceria biasanya. Emeli benar-benar sangat dingin dan datar padanya. Karena tak ingin berfikir yang aneh-aneh, akhirnya pria itupun bersiap untuk menyusul Emeli ke lantai dasar. Sebelum itu justin menyamperi Clara di kamarnya. Setelah keduanya siap, mereka pun turun ke lantai dasar dengan tangan yang saling bergandeng mesra.
Saat ini di lantai bawah, sudah terlihat empat orang yang duduk di meja yang sama. Suasana terasa hening karena setiap orang sibuk menikmati makan malamnya. Justin terus memperhatikan Emeli yang sedang fokus menatap makanannya. Gadis Ceria itu terlihat layu seperti bunga yang kekurangan air. Clara memperhatikan Justin dan Emeli bergantian dengan cermat. Tidak tahu mengapa, ia sangat tidak suka melihat Justin lebih fokus pada Emeli ketimbang dirinya.
Lihatlah, bahkan saat makan begini, kau tetap menjadi pusat perhatian. Tapi lihatlah nanti ke depannya, apakah kau masih bisa menjadi pusat perhatian? Bersiaplah, karena kau akan merasakan patah hati yang bertubi-tubi. Aku akan membuat Justin membencimu! Batin Clara sambil menggenggam sendoknya dengan sangat erat.
"Hm," suara itu dengan berhasil mengalihkan perhatian tiga orang di sekitar meja pada Emeli yang telah selesai menikmati makan malamnya.
"Apa Nona sudah selesai?" tanya Riko dengan wajah dingin dan datarnya.
"Iya Riko. Aku sudah kenyang dan sekarang ingin kembali tidur," ucap Emeli yang diangguki olehRiko.
__ADS_1
"Apa Nona langsung kembali ke kamar?" tanya Riko lagi, yang langsung mendapatkan anggukan dari Emeli. "Baiklah, aku juga ingin kembali ke kamarku," ucap Riko sambil bangkit dari duduknya mengikuti Emeli.
"Aku duluan ya, Jus, Clara," pamit Emeli yang dianggukai Clara dengan senyum menghina di wajahnya.
Mengapa Justin terus menatapku seperti itu? Apakah dia marah dengan sikapku? Sudahlah, biarkan saja dia! Batin Emeli memilih mengabaikan Justin dan Clara.
Justin dan Clara terus memperhatikan dua orang di depannya. Clara tersenyum sinis dengan tangan bergelayutan manja di bahu Justin. "Kenapa, sayang?" tanya Clara polos.
"Tidak apa-apa, sayang. Aku hanya heran saja dengan sikap Emeli hari ini," ucap Justin tanpa menatap Clara.
Justin hanya mengangguk dengan senyum simpulnya, lalu ia melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda. "Sayang, kamu makan apa?" tanya Clara mencairkan suasana.
__ADS_1
Justin menyodorkan sepotong daging ke arah Clara. "Mau mencobanya?" tanya Justin, membuat Clara mengangguk cepat.
"Enak, sayang," ucap Clara, membuat Justin tersenyum simpul. Sekarang terlihat bahwa Justin tidak berselera dengan makanannya. Pria itu tak bersemangat seperti biasanya.
"Sayang, coba deh ini," ucap Clara sembari memasukkan sesuap mie ayam telur ke mulut Justin.
"Wek!" Justin langsung memuntahkan makanannya.
"Ada apa, sayang?" tanya Clara panik.
"Aku tidak tahan dengan bau telurnya, sangat amis," ucap Justin sembari membersihkan mulutnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, sayang," ucap Clara dengan wajah sedih. Justin memberikan kecupan di kening Clara agar ia tenang.
Di dalam kamar, Emeli terlihat menangis di balik selimutnya. Gadis itu menangis tanpa suara. Apa yang ia rasakan sekarang lebih sakit daripada sebelum menikah dengan Justin. Menangis sesaat dapat membuat hatinya sedikit tenang dan membaik. Bahkan, gadis itu tidur dengan nyenyak setelah menangis sesaat.