
Di kediaman Ela dan Hendra, terlihat Emeli sudah duduk bersama dengan kedua mertuanya. Kini mereka terlihat berbicara ringan di sana. "Kenapa Justin tak pulang bersamamu sayang?" tanya Ela namun orang yang di tanyakan sudah berada di hadapannya.
"Ma, Pa, Justin pulang," ucap Justin membuat kedua orang tua-nya tersenyum.
"Darimana saja sayang? kenapa tak pulang bareng istri-mu?" tanya Ela sembari menatap Justin yang saat ini sudah duduk di samping Emeli.
"Tadi Justin ada sedikit urusan Ma," ucapnya yang langsung di angguki Ela.
"Apakah kalian lelah, Nak?" tanya Ela menatap Justin dan Emeli secara bergantian.
__ADS_1
"Tidak terlalu Ma, memangnya kenapa Ma?" ucap Justin yang terus di perhatikan oleh Emeli.
"Mama dan Papa sudah membelikan rumah untuk kalian, jika kalian tak lelah segeralah pindah. Di sana kalian tinggal menempatinya saja. Lagian tak baik rumah baru di tinggalkan terlalu lama," ucap Ela membuat Justin sangat bahagia namun bedah halnya dengan Emeli. Di fikirannya saat ini sudah di penuhi berbagai fikiran negatif.
"Makasih Ma, sebentar lagi kami akan segera pindah ke sana. Tapi Kami mau bersih-bersih terlebih dahulu ya Ma, ayo Ceria," ucap Justin dengan tangan yang sudah menarik tangan Emeli.
"Emeli ke atas dulu ya Ma, Pa," ucap Emeli yang di angguki keduanya.
"Iya Ma," ucap Emeli yang sudah memeluk Ela dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Kalian hati-hati di sana, nanti jika ada waktu Papa dan Mama akan mengunjungi Kalian," ucap Hendra yang di angguki Emeli dan Justin.
"Iya Pa," ucap Justin sembari menatap Papanya.
Setelah pembicaraan singkat itu, kini keduanya segera pergi menuju rumah barunya. Justin yang belum tau letak rumahnya hanya bisa mengandalkan google maps. Sesuai dengan gambar yang di kirimkan Papanya, Justin segera menghentikan mobilnya di rumah minimalis modern dua lantai. Emeli sangat terpukau dengan keindahan rumah itu. Selain berpagar, halamannya juga luas dan indah, di belakang rumah itu juga terdapat kolam berenang mini yang pas untuk menyegarkan tubuh.
Justin maupun Emeli segera mengeluarkan kopernya lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Di rumah itu terdapat Empat kamar, dua kamar di lantai bawah dan dua kamar di lantai atas. Emeli maupun Justin memilih untuk tidur di kamar yang terpisah. Walaupun terpisah, namun kamar mereka tetap bersebelahan dan berada di lantai yang sama, tepatnya di lantai dua. Kamar keduanya juga terdapat balkon yang menyatu sehingga Emeli maupun Justin bisa mengunjungi satu sama lain melalui balkon tersebut.
Sudah ku duga, pasti hal ini akan terjadi. Ia tak akan mau sekamar denganku kecuali sedang berada tempat lain. Batin Emeli sudah mengeluarkan air mata kekecewaannya.
__ADS_1
Ia merasa Justin tidak peka dan tidak menghargainya. "Mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengannya, aku tidak boleh terlalu banyak bicara lagi dengannya. Kecuali di depan orang, aku akan berpura-pura bahagia dan Ceria seperti biasanya. Mau gimanapun, aku harus menjaga nama baiknya dan keluarga," gumamnya hampir tak terdengar dengan tangan yang menghapus air matanya.