
Kembali ke kamar Emeli, saat ini gadis itu sudah bersih dan terlihat lebih segar dari sebelumnya. Meski tidak sesedih tadi, ia masih merasakan sesak di dadanya. Mata sendu dan kosongnya kini beralih melirik handphonenya yang berbunyi. Dengan keadaan lemah, Emeli meraih handphonenya lalu melihat nama sang penelepon.
Walau masih sedih, Emeli berusaha menerbitkan senyumnya sebelum mengangkat telepon dari Riya, Mamanya. Emeli segera menggeser tombol merah dan seketika itu panggilan telepon pun terhubung. "Halo, sayang," ucap Riya dengan nada khawatirnya.
"Halo, Ma," ucapnya dengan nada yang dibuat seceria mungkin. "Sayang, bagaimana kabarmu di sana? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Riya langsung ke intinya.
Kenapa aku merasa Mama mengetahui keadaanku yang tengah rapuh ini? batin Emeli, sedikit merasa heran dengan ucapan Riya setelah mendengar nada khawatirnya. "Emeli baik-baik saja, Ma," ucapnya dengan pelan sembari memegang dadanya yang seakan ingin mengeluarkan segala isi yang menyakitinya.
"Beneran kamu baik-baik saja, sayang? Kenapa suaramu serak dan lemah begitu? Apakah kamu sakit, Nak?" tanya Riya lagi yang tanpa sadar menimbulkan setitik kebahagiaan di hati rapuh Emeli.
__ADS_1
"Emeli baik-baik saja, Ma. Emeli cuma kelelahan saja sebab beberapa hari belakangan ini lembur terus," ucap Emeli, seperti tak ingin mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Ya Allah, Nak, Mama khawatir banget loh sama kamu. Mama kira terjadi sesuatu sama kamu. Mama sampai nggak jadi masak ini loh," ucap Riya menjelaskan.
Mama benar, Ma, Emeli sedang tidak baik-baik saja di sini, Batin Emeli kembali menerbitkan senyumnya.
Setelah menghapus air matanya, ia mengatakan, "Mungkin ikat batin kita begitu kuat, Ma, sehingga Mama bisa merasakan keadaan Emeli walaupun kita tidak bertemu. Mama terlalu cinta sama Emeli."
"Iya, Mama. Ku sayang," ucap Emeli dengan senyum simpulnya.
__ADS_1
"Oya, sayang, bagaimana hubunganmu dengan Justin? Kalian baik-baik saja kan di sana?" Tanya Riya sembari menikmati segelas Jus di tangannya.
Bagaimana ini, apakah aku harus mengatakan semuanya pada Mama? Bagaimana jika keadaan semakin memburuk? Aku takut Mama dan Papa syok mendengar hal ini. Apa aku biarkan saja mereka semua mengetahui hal ini dengan sendirinya? Ah, mungkin begitu lebih baik. Aku tak ingin mengambil risiko jika hal-hal yang tak diinginkan terjadi, Batin Emeli yang berperang dengan pikirannya sendiri.
"Sayang," suara Riya berhasil membuyarkan lamunan Emeli.
"Eh, iya, Ma?" tanya Emeli seperti orang linglung yang habis dihipnotis.
"Apa kamu benar-benar baik-baik saja di sana?" tanya Riya lagi, seakan tak percaya dengan keadaan Emeli.
__ADS_1
"Hhhh, Mamaku ini sangat khawatir sekali yang kelihatannya. Emeli dan Justin baik-baik saja, Ma. Mama nggak usah memikirkan kami ya. Emeli mau Mama dan Papa menjaga kesehatan di sana, jangan memikirkan sesuatu yang Tidak-tidak dan jangan memikirkan sesuatu hal yang belum tentu terjadi, Ma," ucap Emeli, membuat Riya tersenyum.
Anak dan ibu itu pun terus mengobrol dengan asiknya tanpa melihat waktu. Setelah merasa lelah dan bosan, keduanya pun memutuskan untuk mengakhiri sambungan teleponnya.