
Setelah acara makan siang bersama telah usai, kini semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Para orang tua terlihat sibuk dengan geng-nya sendiri. Sedangkan yang muda sibuk dengan pasangannya masing-masing. Seperti yang diinginkannya, Emeli pun pergi ke halaman belakang bersama Justin. Mereka terlihat sangat mesra menjelajahi taman bunga yang cukup luas dan indah itu.
"Wah,,, cantik sekali bunganya," ucap Emeli tersenyum senang sembari berlari kecil. Justin membiarkan wanita itu berjalan dengan bebasnya di taman bunga itu.
"Jangan berlari sayang," tegur Justin membuat Emeli menghentikan langkahnya sembari tertawa kecil.
"Lihatlah, bunganya indah sekali kan?" ucap Emeli sembari mencoba meraih bunga yang tergantung cukup tinggi itu.
"Terus kenapa kalau indah?" pertanyaan konyol Justin dengan kedua tangan yang berada di saku celananya.
"Ambilkan,,," pintar Emeli dengan wajah sendunya.
Melihat itu Justin segera mengambil bunga yang di inginkan Emeli. "Senjata-mu selalu saja begitu!" ketus Justin yang membuat Emeli kembali terkekeh.
"Hhhhh, kau lucu sekali sayang," godanya sembari mencolek dagu Justin dengan penuh girangnya.
__ADS_1
"Semenjak Hamil, sih Seceria Mentari ini semakin aneh dan menggemaskan saja, ih, ku makan juga dia sekarang!" gumam Justin gemas dengan sahabat sekaligus istrinya itu.
"Jangan jauh-jauh sayang, nanti aku tidak bisa melihatmu," ucap Justin sembari melangkahkan kakinya menyusul Emeli yang sudah berjarak dengannya.
Di tempat yang sama, terlihat Clara dan Leo tengah menikmati pemandangan taman itu dengan mesranya. Clara yang memang sudah berpindah hati pada Leo terlihat tak mau mengangkat kepalanya yang saat ini bersandar manja di bahu Leo.
Saat ini Clara dan Leo tengah sibuk membahas hubungan mereka dengan sesekali tertawa kecil sebab di antara keduanya saling melontarkan candaan.
"Sayang, kamu tidak mau memberi Abel hadiah?" tanya Leo sembari mengambil sepucuk bunga lalu meletakkannya di telinga Clara.
"Cantik," puji Leo yang saat ini sudah berada di depan Clara sembari memandang wajah istrinya itu.
"Kamu bisa saja sayang," ucap Clara sembari mendorong dada Leo dengan pelan. "Oya sayang, kenapa tiba-tiba membahas tentang Hadiah?" tanya Clara sedikit penasaran. Saat ini Clara sudah membawa Leo untuk duduk di kursi taman yang di kelilingi bunga-bunga.
"Pingin bahas saja sayang, apalagi selama kita menikah, kita belum memberikan apapun pada Abel, tepatnya aku yang belum pernah memberikan apa-apa pada anak kita," ucap Leo membuat hati Clara terenyuh.
__ADS_1
"Sayang,,," rengek Clara semakin mengeratkan dekapannya pada lengan kekar Leo.
"Kenapa sayang?" tanya Leo dengan senyum penuh pesonanya.
"Terimakasih ya sudah menerimaku dan Abel, dan terima atas segalanya," ucap Clara dengan sangat tulusnya.
"Jangan berterima kasih sayang, sudah kewajiban ku untuk mencintai dan menyayangi kalian," ucap Leo sembari mengelus rambut indah Clara.
"Aku mencintaimu," ucap Clara dengan cepat.
"Aku juga mencintaimu," balas Leo lalu mengecup sekilas buah ceri Clara.
"Oya sayang, kira-kira kita berikan hadiah apa ya untuk Abel?" tanya Clara meminta pendapat Leo.
"Hm,,, apa ya??!!!" sahur Leo terlihat berfikir dan menimbang. "Bagaimana jika kita memberikannya adik?" ucap Leo yang kembali membuat Wajah Clara bersemu merah sebab malu dan terkejut.
__ADS_1
Clara yang malu hanya mengangguk pelan. Melihat itu Leo menjadi gemas dan langsung menggendong Clara ala bridal style. Clara yang benar-benar sangat malu dan salah tingkah langsung memeluk Leo dan menyembunyikan wajahnya. Leo pun segera membawa Clara ke istana yang sudah di sediakan untuknya.