
Kembali ke rumah sakit. Saat ini terlihat Leo masih kalut dan cemas dengan keadaan Clara. Leo terlihat seperti orang merenungkan nasib sebab tak tau arah tujuan hidupnya.
"Cklek," melihat Dokter keluar membuat Leo langsung bangkit dari duduknya dengan mata yang masih sembab sebab menangis.
Leo menghampiri Dokter lalu memegang tangannya, "Dokter bagaimana keadaan istri saya, apakah saya sudah bisa melihatnya?" tanya Justin dengan sangat seriusnya.
Dokter yang melihat wajah sedih dan khawatir Leo pun tersenyum lembut. "Istri anda masih mengalami koma Tuan, dan anda sudah bisa menemui istri anda dengan syarat mengenakan pakaian yang telah di sediakan untuk pengunjung dan tidak boleh masuk lebih dari satu orang," ujar Dokter menjelaskan.
Leo mengangguk paham, "Baiklah Dokter, terimakasih atas penjelasannya, saya mau menemui istri saya dulu," ucap Leo yang di sambut dengan senyuman Dokter.
__ADS_1
"Silahkan Tuan," ucap Dokter mempersilahkan.
Setelah pembicaraan singkat itu, kini Leo pun bergegas masuk ke ruang ICU tempat Clara di rawat. Tak lupa Leo juga mengenakan pakaian yang di peruntukan untuk para pengunjung. Setibanya di depan hospital bad Clara, Leo pun memelankan langkahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia seakan tak sanggup dan tak tega melihat kondisi Clara yang dimana tubuhnya di pasang banyak alat.
"Sayang," panggilnya dengan lembut ketika sudah berada di samping Clara. Leo menarik kursi di belakangnya lalu mendudukinya. Tangannya yang sedikit gemetar sudah memegang tangan Clara dengan sangat lembutnya.
"Maafkan aku sayang, hiks," lirih Riko menyembunyikan wajahnya di tangan Clara.
"Hiks, hiks, betapa bodohnya aku membiarkan mu pergi waktu itu, aku menyesal, hiks," ucap Leo lagi dengan posisi yang sama.
__ADS_1
"Tidak mengapa sayang, jika saja waktu itu Emeli yang di tabrak makan aku tidak bisa merasakan cinta dan ketulusanmu padaku. Kata orang, seorang pria yang menangis karena wanita, maka sudah di pastikan jika pria itu benar-benar tulus, dan aku bisa melihatnya dalam dirimu," ucap Clara yang lagi-lagi hanya bisa berbicara dalam hati.
Clara pun berusaha menggerakkan tubuhnya namun ia tak sanggup melakukannya. Dari semua anggota tubuhnya, hanya beberapa jari yang berfungsi. "Ya Allah, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Semuanya seakan mati rasa selain beberapa jariku. Bahkan aku tidak merasakan sakit di tubuhku," batin Clara mulai mengeluarkan air matanya.
Leo yang merasakan tangan Clara bergerak segera membuka matanya, ia tersenyum melihat Clara yang sudah mulai sadar. "Sayang, apakah kau mendengarku, tolong buka matamu," ucap Leo sembari memegang pipi Clara dengan kedua tangannya.
"Aku tidak bisa membuka mataku Leo, ini sangat susah, aku tidak bisa merasakan apa-apa, tubuhku seakan mati rasa," ucap Clara dengan air mata yang keluar semakin deras.
"Sayang aku tau kau mendengarku, aku akan panggilkan Dokter, bersabarlah sebentar sayang," ucap Leo lalu bergegas memanggil Dokter.
__ADS_1
Sambil menunggu Dokter tiba, Leo pun segera menghubungi kedua orang tuanya dan mertuanya untuk menyampaikan kabar yang sedikit membahagiakan ini. Seperti yang di perkiraan Leo, semua orang tersenyum senang dan bergegas pergi menemuinya di rumah sakit.