
"Sabar Pa," ucap Riya sembari menenangkan suaminya dengan mata yang sudah sembab.
"Maafkan kami Bowo, kami gagal mendidik anak kami satu-satunya," ucap Hendra sembari memeluk besan sekaligus sahabatnya itu.
Bowo tersenyum sembari mengelus punggung Hendra memberi ketenangan pada pria itu. "Tak apa Hendra, ini semua buka salahmu dan Ela," ucap Bowo yang berhasil membuat pertahanan Hendra runtuh juga di bahunya.
"Maaf," ucapnya dengan tubuh yang sudah tak memeluk Bowo. "Lalu bagaimana, apa rencanamu Bowo, kami terima semua keputusanmu," ucap Hendra sembari melirik Emeli sekilas yang terlihat sudah meneteskan air matanya.
"Aku akan menyerahkan semua keputusan pada Emeli, mau bagaimanapun ini pernikahannya dan dia yang akan menjalaninya," ucap Bowo yang di angguki Hendra.
Setelah pembicaraan singkat itu kini semuanya kembali fokus pada Emeli yang terlihat masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. "Sayang, Maaf kan Mam Nak," ucap Ela sembari memeluk Emeli yang hanya diam mematung. Emeli seperti kehilangan dirinya. Wajahnya kembali pucat.
__ADS_1
"Tak apa Ma, ini bukan salah Mama," ucap Emeli dengan nada lesu nan lemahnya. Hati, fikiran, dan tubuhnya benar-benar di uji dengan rasa sakit.
"Terimakasih sayang," ucap Ela yang langsung mendapat anggukan kecil dari Emeli.
"Sayang jangan terlalu di fikirkan, cepatlah sembuh maka kami akan membantumu menyelesaikan masalah ini, apapun keputusanmu, kami akan selalu mendukungmu Nak," ucap Bowo sembari menarik Emeli ke dalam pelukannya.
Mau sekuat apapun seseorang, jika sudah berhadapan sama orang tua yang baik dan penuh kasih sayang, pasti akan runtuh juga pertahanannya. Emeli menumpahkan semua air matanya di dada Bowo. Saking banyaknya air mata itu membuat kemeja yang di kenakan Bowo sangat basah. Tangis pilu Emeli berhasil mengguncang hati para orang tua itu. Riya dan Ela tak henti-hentinya menangis. Riya memeluk Emeli dan suaminya, sedangkan Ela memeluk Hendra suaminya.
"Tapi sayang, kamu kan belum sembuh total," ucap Bowo sembari mengelus kepala Emeli yang masih setia memeluknya.
"Emeli sudah baikan Pa, Emeli mau menginap satu malam di rumah Papa boleh?" tanyanya yang seketika membuat semua orang tertawa.
__ADS_1
"Kamu ini lucu sekali sayang, tentu saja boleh!" ucap Riya membuat Emeli menerbitkan senyum manisnya.
Seperti keinginannya Emeli, kini gadis itu ikut pulang kekediaman orang tua nya, sedangkan Ela dan Hendra juga kembali kekediamannya. Di kamarnya terlihat Emeli menyandar manja di kepala ranjang. Ia terlihat seperti sedang melakukan dan memikirkan sesuatu.
"Masih berani kamu datang ke sini setelah menyakiti anak saya! Pergi kamu!" bentak Bowo pada Justin yang kini sudah menerobos masuk ke kediamannya.
"Pa, tolong Pa, biarkan Justin berbicara dan melihat keadaan Emeli sebentar," ucap Justin memohon namun tak di setujui oleh Bowo.
Emeli yang mendengar keributan itu segera keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah. "Ada apa Pa?" tanya Emeli seketika mematung di tempatnya ketika melihat Justin yang sudah berada di hadapannya. Tatapan Emeli benar-benar sangat dalam bahkan Justin bisa merasakan apa yang Emeli rasakan.
"Ceria," panggil Justin hendak mendekati Emeli namun Bowo menahan tubuh tegap nan kokohnya.
__ADS_1
"Pergi!" bentak Bowo namun Justin menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia menatap Emeli seakan berharap bantuan gadis itu.