
Karena kamar mereka bersebelahan, membuat Emeli bisa mendengar suara air dari kamar Justin. Emeli menundukkan kepalanya dengan tubuh yang sudah bersandar di dinding. Wanita itu duduk di lantai tanpa penghalang sedikit pun. Gadis itu membiarkan hawa dingin lantai menggerogoti kulitnya. Saat ini ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri. Ia belum tau keputusan apa yang akan ia ambil untuk kedepannya, yang pasti saat ini ia ingin menenangkan hati dan fikirannya terlebih dahulu.
Setelah menyelesaikan kegiatannya, Clara dan Patrick segera membenahi dirinya kembali. Kini keduanya tengah bermesraan dengan Clara yang duduk di pangkuan Patrick. "Bagaimana sayang?" tanya Patrick yang membuat Clara langsung paham arah pembicaraan.
"Rencana kita sedikit demi sedikit berhasil sayang, sebentar lagi aku akan menjadi nyonya justin, dan aku akan merayunya agar menyerahkan hartanya pada-ku," ucap Clara dengan senyum miringnya membuat Patrick kembali mendarat satu kecupan di sana.
"Kau memang pintar sayang," puji Patrick membuat Clara seperti terbang ke awan-awan. "Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Patrick dengan tangan yang kembali nakal.
__ADS_1
"Dalam waktu dekat ini sayang, besok aku dan Justin akan menemui kedua orang tua tak berguna itu!" ucapnya dengan lirikan mata yang tajam.
"Bagus sayang, buatlah drama yang sangat bagus sehingga mereka merasa itu bukanlah sebuah drama. Aku percaya padamu sayang," ucap Patrick lalu mendaratkan satu kecupan di leher Clara. Dan Ya, mereka kembali terbakar api gelora yang di benci Allah. Kini mereka kembali melakukan perzinahannya.
Di kamarnya, terlihat Justin baru saja selesai membersihkan dirinya. Saat ini ia hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Ia berdiri di depan cermin sembari memperhatikan wajahnya di sana.
"Huh," Justin menghela nafasnya dengan pelan. Hati dan fikirannya seakan tidak sejalan. "Besok sajalah aku fikirkan itu!" ucapnya lalu memutuskan untuk mengenakan pakaian kasualnya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan urusannya Justin segera turun kelantai bawah untuk mengambil susu di kulkas. Meminum susu dingin sebelum tidur seakan sudah menjadi candu baginya. Di saat sudah memijakkan kakinya di dapur, tak sengaja matanya dan Emeli bertemu. Saat ini Emeli terlihat tengah menikmati buah untuk mengganjal perutnya yang lapar. Karena perasaannya sedang tidak baik-baik saja membuatnya malas untuk memasak makan malam.
Emeli memutuskan pandangannya pada Justin, Justin hanya menghela nafas menghadapi sikap Emeli yang terlihat cuek dan tak perduli padanya. Setelah mengambil susu dingin di dalam kulkas, Justin segera melangkahkan kakinya menuju meja makan. Ia memutuskan untuk menikmati susunya di sana bersama Emeli. Saat ini posisi keduanya saling berhadapan. Tak ada yang mau membuka suara terlebih dahulu di sana.
Karena Justin tak suka dengan keheningan, ia pun memutuskan untuk mengalah dan mulai membuka pembicaraan bersama Emeli. "Kenapa kau tidak masak Ceria?" tanya justin namun tak di tanggapi oleh Emeli. "Kau bisa masuk angin jika hanya makan buah saja malam ini," ucapnya lagi setelah berhasil meneguk segelas susunya.
Emeli yang bad mood dan kesal, langsung menyimpan semua buah dan pisaunya. Justin terus saja memperhatikan tindakan Emeli. "Kenapa di simpan? bukan kah kau baru makan beberapa potong saja?" tanya Justin berusaha membuat Emeli membuka suaranya.
__ADS_1