
Di dalam kamarnya, terlihat Emeli tengah duduk di sopa dengan banyak makanan di depannya. Perlahan ia mulai mengangkat salah satu menu yang tak lain ialah ipomie nyemek. Ia pun mulai memakannya dengan sangat lahap. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu, tetapi itu adalah pelampiasan dari emosinya terhadap hatinya yang sakit. Jika orang lain tak berselera makan jika bersedih, maka bedah hal nya dengan Emeli yang nafsu makannya semakin meningkat.
Beberapa menu makanan Emeli
Ipomie
Mie kuah
Bakso besar pedas
__ADS_1
Nasi bungkus
Teh manis dingin
Seakan tak kenyang-kenyang, Emeli melahap habis semua makanan di depannya. Ia tak peduli dengan rasa pedas di mulut dan di perutnya. Yang penting emosinya bisa tersalurkan. Wajah Emeli sudah penuh degan keringat. Bibir, telinga, tenggorokan, dan Perutnya merasakan pedas secara bersamaan.
Karena rasa pedas yang di rasakannya semakin menjadi-jadi, Emeli pun segera meminum teh manis dinginnya hingga habis. Masih dalam keadaan kepedasan, Emeli membersihkan semua bekas makannya. Saat ini dia sudah berada di dapur. Tiba-tiba saja Emeli memegang perutnya yang sangat sakit. Saking sakitnya membuat Emeli tak bisa menopang tubuhnya lagi.
"Mama, perut Emeli sakit," ucapnya dengan wajah yang sudah sangat pucat.
"Pa, Papa,,," panggil Ela pada suaminya yang saat ini tengah berada di ruang tamu.
__ADS_1
Hendra yang mendengar teriakkan istrinya pun segera menuju ke asal suara dengan cepat. "Ada apa Ma?" tanyanya setelah berada di pintu dapur.
"Pa tolong pa, anak kita sakit, hiks," ucapnya dengan tangis yang ketakutan.
Hendra segera mendekati Ela dan Emeli. Tak ingin membuang-buang waktu, Hendra segera mengangkat Emeli yang terlihat sudah tak sadarkan diri. Ela menangis di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Emeli langsung di bawah ke ruang UGD dan langsung di periksa.
"Pa bagaimana ini Pa, hiks," ucap Ela dengan tangis dan rasa khawatirnya yang belum juga reda.
"Sabar Ma, Mama duduk dulu ya, Papa mau menghubungi kedua orang tua Emeli," ucap Hendra yang di angguki Ela. Tak lama di hubungi, Riya dan Bowo langsung terjun ke rumah sakit di mana Emeli di rawat.
"Bagaimana dengan keadaan anak kami Dok?" tanya Hendra pada dokter yang baru saja selesai memeriksa Emeli.
Dokter menghela nafas sebelum menjawab, "Anak Bapak dan ibu mengalami masalah di lambungnya sebab memakan makanan pedas terlalu banyak dalam keadaan perut kekenyangan, Hal itu juga menghambat saluran pernafasannya, saran saya, tolong di jaga pola makannya, jangan biarkan Nona Emeli telat makan, kekenyangan dan memakan makanan yang pedas. Sebentar lagi suster akan mengantar obat yang haru di konsumsi Nona Emeli sebanyak tiga kali," ucap dokter yang di angguki semuanya.
"Terimakasih dokter atas penjelasannya," ucap Hendra sembari menjabat tangan sang dokter.
__ADS_1
"Sama-sama Tuan, permisi," ucapnya lalu pergi meninggalkan ruang rawat Emeli.
Tak lama dokter pergi, Emeli pun mulai sadar dari pingsannya. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing. Sesekali ia meringis sebab masih merasakan perutnya yang masih terasa sakit. "Kenapa aku menggunakan oksigen?" gumamnya pelan sembari memegang oksigen di hidungnya. Mata lesunya mengendar bingung memperhatikan sekitarnya.