CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Usil


__ADS_3

Tak ingin membuang waktu, Emeli segera mengemas semua keperluannya ke dalam koper berukuran sedang. Setelah selesai, ia kembali menyamperi Justin yang sendari tadi terus melihatnya. "Emeli," panggil Justin membuat Emeli mencoba menetralkan sikapnya yang sedikit canggung.


Tumben sekali dia memanggil namaku, apakah dia sedang marah? batinnya bertanya-tanya.


"Ada apa Jus?" tanya Emeli yang sudah menatap mata Justin dengan sekuat tenaga. Rasanya ingin sekali ia ingin menghindari kontak mata dengan Justin.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Justin dengan satu alis yang sudah terangkat.


"Tentu saja, Hhhh." ucapnya di iringi tawa terpaksa tetapi terlihat seperti asli.


"Baiklah, mari kita turun," ajak Justin sudah bangkit dari duduknya. Dengan penuh perhatian seperti biasanya, Justin berinisiatif untuk membantu Emeli untuk membawa kopernya.

__ADS_1


Setelah berada di bawah, keduanya langsung berpamitan dengan Riya dan Bowo Papa Emeli. "Mau pulang sekarang Nak, apa tidak mau duduk sebentar?" tanya Bowo dengan nada hangat nya.


"Maaf Pa, bukannya kami tak ingin tinggal lebih lama, tapi kami harus segera berangkat ke rumah Mama. Sepertinya ada hal penting yang ingin di sampaikan pada kami," jelas Justin membuat Bowo dan Riya mengangguk paham.


"Baiklah Nak jika begitu, hati-hati ya. Papa titip anak kesayangan Papa ini," ucap Bowo lalu mencium rambut Emeli dengan penuh kasih sayang.


"Tentu saja Pa," ucap Justin membuat semuanya tersenyum.


Setelah merasa sudah cukup berbincang, Justin maupun Emeli segera pergi meninggalkan rumah yang lumayan mewah itu. Karena Justin dan Emeli sudah berada di dalam mobil, Riko segera menghidupkan mobil lalu menjalankannya. Tak ada pembicaraan di dalam sana seperti biasanya. Semuanya seakan berubah. Ntah kenapa semenjak menikah Emeli menjadi canggung dan segan mengobrol dengan Justin.


"Apa kau mau membeli sesuatu Ceria, sebelum kembali ke rumah?" tanya Justin yang langsung mendapatkan gelengan lembut dari Emeli. "Baiklah," ucapnya lagi lalu kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, kini mobil yang di tumpangi keduanya sudah memasuki kawasan elit dimana kediaman orang tua Justin berada. Walaupun merasakan hal yang tak enak di hatinya, Emeli tetap menunggu Justin untuk masuk bersama. Emeli berusaha mengembangkan sikap cerianya. Dengan isengnya ia mencolek perut Justin dengan ekspresi datarnya. Justin refleks menoleh ke arah Emeli yang sudah tersenyum smirk ke arahnya.


"Kau ini angin-anginan, sebentar diam bentar jahil. Kalau masuk angin bilang," omel Justin sembari membalas kejahilan Emeli membuat gadis itu tertawa sembari kabur menjauhinya.


"Stop, dengar Jus, Buah semangka di makan rayap,,,Ulat bulu memakan kayu, Aku cantik kamu nggak tau, ya uda jangan jutek dulu! Hhhhhhh," tawa Emeli puas melihat wajah kesal Justin.


"Jaka sembung bawa golok, nggak nyambung goblok!" balas Justin membuat Riko yang sendari tadi memperhatikan mereka menahan tawanya. "Sejak kapan rayap makan semangka? dan sejak kapan ulat bulu makan kayu? matilah ulat bulu itu! ih,,, Ceria-ceria. Oleskan minyak angin ke tubuhmu, biar sehat kau!" ucapnya dengan senyum mengesalkan membuat Emeli geram lalu menyemprotkan sedikit air yang berada di sebelahnya ke wajah Justin.


"Ceria!" ucapnya sangat marah.


Emeli tertawa lalu segera kabur masuk ke dalam dengan Justin yang mengejarnya. Di dalam sana terlihat Ela dan Hendra sedang duduk santai di ruang tv. Emeli tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera masuk ke dalam dekapan Ela yang menatap heran padanya. Sedangkan Hendra menata heran melihat Justin yang berlari ke arah Emeli.

__ADS_1


__ADS_2