
Di kediaman Riya, tepatnya di kamar Emeli, terlihat wanita hamil itu melamun sendari tadi di pinggir jendela. Dia tidak bisa melupakan apa yang telah terjadi sebelumnya. Riya yang baru tiba dengan nampan di tangannya terlihat menghela nafas dengan senyum simpulnya. "Sayang," panggil Riya sembari meletakkan nampan yang ia pegang di atas meja.
"Iya Ma?" tanyanya seperti tak bersemangat.
"Ada apa Nak?" tanya Riya yang sudah menghampiri Emeli dan mengelus kepalanya dengan lembut.
Emeli menggeleng pelan sembari tersenyum sebagai jawaban. Bukan seorang ibu namanya jika tidak peka atas apa yang di rasakan anaknya. Riya tersenyum lalu membawa Emeli untuk duduk di sopan yang berada di kamar itu.
"Ayo kita makan dulu, kasihan cucu Mama sudah lapar," ucap Riya sengaja membawa-bawa nama cucunya agar Emeli segera makan.
"Sebentar lagi ya Ma, Emeli belum berselera," tolaknya dengan lembut.
"Sayang, kalau gak berselera kamu harus tetap makan. Kasihan cucu Mama di dalam sana kan, apalagi kamu sempat pendarahan waktu di rumah sakit," ucap Riya berhasil membuat Emeli tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Maafkan Mama Nak, Mama hampir saja mencelakakan mu untuk yang ketiga kalinya, Batin Emeli sembari mengelus perutnya dengan lembut.
"Emeli mau makan, tapi di suap Mama ya?" ucap Emeli dengan mode manjanya.
"Sudah menikah masih manja juga sama Mama," goda Riya dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Namanya Mama, Mamanya Emeli," ucap Emeli sedikit ngambek membuat Riya terkekeh kecil.
"Iya sayang, Maaf ya," ucap Riya mengelus pipi Emeli. "Ya sudah, ayo makan," ucap Riya lalu memberikan satu suapan nasi ke mulut Emeli.
"Mau ayamnya Ma," pinta Emeli sembari menunjuk ayam goreng kesukaannya.
"Iya sayang, hm, ini Makan," ucap Riya menyuapkan potongan daging ayam.
"Enak," ucapnya tersenyum senang seperti anak kecil.
"Jelas enak dong, orang Mama yang masak!" ucap Riya deng bangganya.
Setelah selesai makan, Emeli pun segera meminum obatnya. Seperti ibu hamil pada umumnya yang mudah mengantuk, kelang beberapa menit menunggu makanannya turun, Emeli pun tertidur.
"Emeli, aku membencimu di sepanjang hidupku! kau perusak hubungan ku! kau wanita munafik yang berpura-pura baik. Kau menghancurkan hidupku! aku benci kau Emeli,,,, aku membencimu,,, aku benci kau Emeli,,, hiks, hiks, hiks," teriak Clara sembari menangis membuat Emeli segera bangun dari tidurnya.
Emeli terbangun dalam keadaan yang tidak tenang, keringat sudah membasahi keningnya, nafasnya tidak teratur seperti biasanya. "Hiks, hiks, hiks," Emeli mulai menangis sebab takut dengan mimpinya sendiri.
"Maafkan aku Clara, maafkan aku, hiks," tangisnya mengundang perhatian Riya yang masih berada di sekitar kamarnya.
__ADS_1
"Cklek," Riya membuka pintu lalu mendekati Emeli dengan raut cemasnya.
"Sayang, kamu kenapa? apa yang terjadi Nak?" tanya Riya sembari mengecek seluruh tubuh Emeli.
Emeli hanya menggeleng pelan sembari terus menangis. "Tenanglah sayang, Mama ada di sini," ucap Riya menenangkan Emeli sembari memeluknya. "Mama telepon suamimu ya," ucap Riya yang di angguki Emeli. "Tunggu sebentar," ucap Riya sembari mengambil handphone lalu membukanya.
Setelah melihat nama kontak Justin, Riya pun langsung menekan logo panggilan. Tak berapa lama menunggu, kini Justin pun mengangkat panggilan dari Riya.
"Halo Nak," ucap Riya sembari terus memperhatikan Emeli.
"Ada apa Ma?" jawab Justin dari ujung sana.
"Pulanglah Nak, istrimu sedang tidak baik-baik saja, dia menangis ketakutan," ucap Riya membuat Justin cemas di ujung sana.
"Baiklah Ma, Justin akan segera pulang," ucap Justin dengan nada cemasnya.
"Baiklah Nak, Hati-hati di jalan," ucap Riya menasehati.
"Baik Ma," ucap Justin lalu memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1