CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Baru menyadarinya


__ADS_3

Saat ini para wanita berkumpul di kamar Riya. Dengan sangat telatennya Ela menyapu minyak angin di pelipis dan di dada Riya. Bau minyak angin yang menyengat masuk ke penciuman wanita paru baya itu. Samar-samar matanya mulai membuka secara perlahan.


"Mama," panggil Emeli dengan cemas sembari menggenggam lengan Riya.


"Sts,,, ada apa ini?" tanyanya masih belum sadar sepenuhnya.


"Mama jangan banyak bergerak dulu, nanti kepalanya bertambah pusing," ucap Emeli sembari membantu Riya agar kembali berbaring.


Ela mengambil segelas air lalu memberikannya pada Emeli, "Ma, di minum dulu airnya," ucap Emeli yang di angguki Riya.


"Terimakasih sayang," ucapnya yang langsung di angguki Emeli.


Sama halnya seperti Riya, Clara pun mulai sadar dari pingsannya. "Kak Clara sudah sadar?" tanya Stevia sembari membantu Clara untuk duduk.

__ADS_1


"Di minum dulu kak air hangatnya," ucapnya yang di angguki Clara.


"Bagaimana keadaan suami kakak Stevia?" tanya Clara dengan raut wajah cemasnya.


"Tenanglah Kak, Kak Nardo sudah di bawah ke rumah sakit dan sudah di tanganin oleh dokter. Tadi Stevia dapat kabar juga dari kak Riko jika kak Nardo sudah sadar dan membaik," ucap Stevie membuat Clara merasa sedikit lega.


Syukurlah suamiku baik-baik saja. Terimakasih ya Allah. Batin Clara menghela nafas lega.


"Kakak mau kemana?" tanya Stevia ketika melihat Clara Hendak bangkit.


"Kak, kita istirahat dulu ya, lihatlah wajah kakak. Masih pucat," ucap Stevie khawatir.


Clara menggenggam kedua tangan Stevia dengan binar penuh harap. "Stevia, kakak baik-baik saja, sekarang ayo antar kakak ke rumah sakit," bujuk Clara membuat Stevia tidak tega untuk menolak. Akhirnya dengan berat hati Stevia pun menuruti keinginan Clara.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kakak bersikeras, tapi sebelum pergi, kakak minum vitamin dulu ya biar nggak lemas." ucap Stevie yang di balas dengan anggukan.


Setelah memasukkan sesuap vitamin sirup ke mulutnya, Clara pun langsung bergegas menarik Stevia dan keluar dari kamar tamu itu. Di saat menuruni tangga, tak sengaja kedua wanita itu berpapasan dengan Emeli. Emeli segera melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati Clara dan Stevia. "Kalian mau kemana? kenapa terburu-buru sekali?" tanya Emeli dengan raut wajah seriusnya.


"Kita mau menyusul kak Nardo ke rumah sakit kak," ucap Stevia dengan tangan yang terus menggenggam Clara.


"Tapi Clara, kamu terlihat pucat," ucap Emeli terlihat sedih.


"Aku baik-baik saja Emeli, kamu nggak usah khawatir ya." ucap Clara tersenyum tipis.


"Beneran kamu baik-baik saja?" tanya Emeli yang di balas dengan anggukan lemah Clara.


"Baiklah, kalau begitu aku akan ikut bersama kalian," ucap Emeli yang di angguki keduanya.

__ADS_1


Kini ketiga wanita itupun segera pergi menuju rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, terlihat Clara terus mencubit kecil ujung bajunya. Hatinya terlihat sangat tidak tenang saat ini. Ia benar-benar sangat khawatir. Ia merasa takut kehilangan pria yang tak lama ini masuk ke dalam kehidupannya. Rasa ini melebihi rasa sakit ketika dia di khianati Patrick mantan pacarnya.


Tunggu aku Nardo, aku akan segera menemuimu. Maafkan aku yang selama pernikahan kita selalu bersikap cuek dan kurang ajar terhadapmu. Aku baru menyadarinya sekarang, jika aku sudah mencintaimu. Aku sangat menyayangimu Nardo, jangan tinggalkan aku, hiks. Batin Clara menangis pilu.


__ADS_2