
Setelah panggilan telepon terputus, Justin pun segera berpamitan pada Leo lalu pergi menuju mobilnya untuk pulang. Di sepanjang perjalanan Justin terlihat cemas. Dia sangat khawatir dengan keadaan Emeli.
"Yang Allah, apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya pelan sembari menghela nafasnya.
Beberapa meniti membela jalan, kini Justin pun tiba di kediaman Riya. Dia memarkirkan mobilnya lalu keluar dengan terburu-buru. "Assalamu'alaikum," ucapnya sembari terus berjalan mencari Emeli.
"Wa'alaikumusalam," jawab Bibi yang terlihat sedang bersih-bersih.
"Bi, dimana istri saya?" tanya Justin pada Bibi.
"Non Emeli berada di kamarnya Tuan," ucap Bibi yang di angguki Justin.
Tak ingin membuang waktu, Justin pun segera menyusul Emeli ke kamarnya yang berada di lantai dua. Setibanya di dalam kamar, Justin pun mendekati Emeli lalu memeluknya. Riya yang tak ingin mengganggu memutuskan keluar dan membiarkan suami istri itu berduaan.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Justin tanpa melepaskan pelukannya.
"Hiks," bukannya menjawab Emeli justru kembali menangis.
__ADS_1
"Sts,,, tenanglah sayang ada aku di sini," ucap Justin lalu memberikan satu kecupan pada Emeli.
"Ceritalah sayang, aku akan mendengarmu," ucap Justin dengan sangat lembutnya membuat hati Emeli luluh.
"Sayang, aku sangat merasa bersalah pada Clara, aku takut sayang. Aku takut Clara membenciku sebagaimana tante Erika membenciku. Aku bahkan baru saja memimpikan Clara. Di dalam mimpiku dia membentak ku sembari menangis. Aku tidak ingin hubungan kami buruk seperti dulu. Aku tidak ingin Clara membenciku sayang, hiks," jelas Emeli sembari menutup wajahnya yang di penuhi air mata.
"Tenanglah sayang, dia tidak akan membencimu, jika saja dia membencimu, tidak mungkin dia mengorbankan dirinya hanya untuk menyelamatkanmu dan bayi kita," ucap Justin yang berhasil membuat Emeli sedikit membaik.
"Sayang, aku ingin bertemu Clara dan meminta maaf secara langsung padanya," lirih Emeli dengan kepala yang bersandar pada Justin.
"Ya sudah, istirahat lagi ya. Bukannya kau masih mengantuk-kan?" tanya Justin yang di angguki Emeli.
"Ya sudah, ayo tidur lagi," ucap Justin lalu membantu Emeli membaringkan tubuhnya dan menyelimutinya.
"Sayang," panggil Emeli sembari memegang tangan Justin.
"Hm," dehemnya sembari mengelus rambut Emeli.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku," pinta Emeli dengan sangat manjanya.
"Tidak akan sayang," ucap Justin tersenyum hangat.
"Janji?" tanya Emeli sembari memperlihatkan jari kelingkingnya pada Justin.
"Janji," sahutnya menyambut kelingking itu.
Karena sudah merasa tenang dan nyaman, Emeli pun mulai menutup matanya dan masuk ke dunia mimpinya. "Selamat tidur sayang," ucap Justin tersenyum melihat wajah teduh Emeli lalu memberikan beberapa kecupan di bagian wajahnya.
Setelah memastikan Emeli tidur, Justin pun segera menjauh dan segera menghubungi Riko. "Rik, pergilah ke rumah sakit dan temani sih brengs*k itu," pinta Justin yang di turuti Leo.
Brengsek-brengsek begitu anda tetap lengket dan perhatian padanya kan Tuan. Batin Riko tersenyum di ujung sana.
"Baik Tuan," ucap Riko lalu segera pergi setelah sambungan teleponnya terputus.
Karena kurang tidur dan juga lelah, Justin pun memilih mengikuti jejak Emeli yang sudah masuk ke alam mimpi. Sebelum menutup matanya, Justin pun memeluk Emeli dan perlahan mata tajam itu mulai menutup sempurna hingga dengkuran ringan pun terdengar. Justin benar-benar sudah masuk ke alam mimpinya.
__ADS_1