CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Panggilan


__ADS_3

Tak lama berjalan dan berlari, kini keduanya sudah sampai di pinggir danau. Dengan cepat Justin menyewa bebek karet untuk dua orang. Emeli sangat senang melihat Justin yang sudah membayar mainan bebeknya. "Kau ini sudah masuk saja, siapa yang bayar!" ucap Justin dengan nada godaan nya.


"Cepatlah jus, kau ini lamban sekali!" ucap Emeli membuat Justin menjambak rambut Emeli dengan gemas.


"Sakit tau!" aduhnya dengan tangan yang hendak mencubit pinggang Justin namun pria itu segera cepat menghindar.


"Lebay! kuat pun tidak aku menariknya," nyinyirnya seperti perempuan.


Justin adalah pria yang sangat dingin dan beribawa pada semua orang kecuali kepada kedua orang tuanya dan Emeli. Ia selalu bersikap apa adanya dan berhasil menjadi diri sendiri semenjak kenal dengan Emeli. "Kau ini ngeselin sekali ya, dari tadi hanya aku seorang yang mendayung," omel Emeli yang di sambut dengan tawa mengejek Justin.


"Cerewet!" ejeknya membuat Emeli memanyunkan bibirnya kesal dengan sahabat tak berakhlaknya itu.


"Sudah jangan banyak bicara, cepat dayung Jus," tekan Emeli membuat Justin segera mendayung bebek karetnya.


Malam sudah tiba, kini terlihat Emeli membuka pesan masuk dari Leo yang belum sempat ia buka. Dengan hati yang merasa tak enak, Emeli segera menekan ikon telepon. Tak lama memanggil, kini Leo telah mengangkat panggilan Emeli. "Halo Mentari," ucap Leo dengan nada biasanya tetapi tetap membuat Emeli merasa tak enak.


"Halo Leo," sahutnya sembari menggigit kuku-kukunya.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja Mentari, aku sangat khawatir padamu," ucapnya jujur membuat hati Emeli menghangat.


"Aku baik-baik saja Leo, terima kasih dan maaf ya," ucapnya dengan nada sendu.


"Maaf untuk apa Mentari?" tanya Leo berpura-pura tak tau.


"Maaf, belum membaca pesan dan maaf juga karena sewaktu di bioskop meninggalkanmu," ucapnya membuat Leo langsung tertawa membuat wajah sendunya kini berubah menjadi cemberut.


"Kenapa tertawa!" nada kesal Emeli semakin membuat tawa Leo pecah.


"Huh," Emeli membuang nafas lega. Kini sesuatu yang mengganjal di hatinya hilang sudah. Ketika Emeli ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja panggilan masuk dari Justin muncul.


Aduh bagaimana ini, aku sangat tak enak memutuskan sambungan telepon dari Leo namun aku juga takut Justin salah paham terhadapku. batin Emeli kembali bimbang.


"Halo mentari, apakah kamu masih bernafas?" goda Leo membuat Emeli menjawab dengan nada kesalnya.


"Kau ini!" Leo kembali tertawa sedangkan Emeli masih bingung dengan panggilan dari Justin untuk yang kedua kalinya. "Leo maaf sebelumnya, mungkin lain waktu kita lanjut lagi teleponnya," ucap Emeli membuat Leo mengernyitkan dahinya di ujung sana.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Mentari?" tanyanya sangat kepo.


"Ada urusan sebentar Leo," jawab Emeli tanpa ingin Leo mengetahui jika Justin sahabatnya menelponnya.


"Baiklah Mentari, sampai jumpa," ucapnya membuat Emeli menerbitkan senyumnya.


"Sampai jumpa," balasnya lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Setelah sambungan telepon Emeli dan Leo terputus, kini Emeli mengangkat panggilan masuk dari Justin untuk yang ketiga kalinya.


"Kau darimana saja Ceria! siapa yang menelponmu hingga kau mengacuhkan panggilan dariku!" ucap Justin langsung membuat Emeli terpaku di tempatnya lantaran kaget dengan suara Justin.


"Kau ini selalu saja membuatku kaget!" omel Emeli tetapi tak di tanggapi oleh Justin.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Ceria, beritahu aku, siapa yang kau telpon?" tanyanya membuat Emeli menghela nafasnya dengan pertanyaan sahabat posesifnya itu.


"Maaf jika aku lama mengangkat panggilan mu jus, tadi aku sedang berbicara dengan Leo," jujur Emeli membuat hati Justin kembali panas. Ntah apa yang di fikirkan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2